Blusukan yang sedang nge-trend

Blusukan, bukanlah kata yang sakral, bukan juga kata yang boleh dipolitisasi.
Tapi kata ‘BLUSUKAN’ ini telah membuat seorang manusia biasa dari Solo menjadi dicintai oleh rakyat Indonesia, bahkan berhasil membawa Jokowi menjadi seorang Presiden Indonesia ke 7 yang pelantikannya telah dihadiri oleh banyak perdana menteri luar negeri secara terhormat, bahkan disambut amat sangat meriah pada pesta rakyat, yang merupakan kegembiraan rakyat yang telah memilih dan memutuskan pilihan yang tepat untuk negara Indonesia yang masih banyak dirundung berbagai masalah.

Apakah singkatan ini cocok untuk kata BLUSUKAN : Bekerja Langsung Untuk Semua Unsur Anak Nusa ?
Ya, saya ingin memanjangkan kata ‘Blusukan’ ini menjadi Bekerja Langsung Untuk Semua Unsur Anak Nusa.

Memang kata ‘Blusukan’ ini bukan hanya milik Pak Jokowi seorang, tetapi kata ini menjadi nge-trend karena Pak Jokowi. Itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

Kita juga tak layak berfikir apriori bahwa blusukan adalah untuk Pencitraan. Bagi para kritisi dan politisi abu-abu yang tidak senang dengan kegiatan blusukan, saya sangat menyayangkan kenapa mereka mesti apriori. Apakah karena mereka orang yang pemalas, sehingga anti blusukan, karena blusukan perlu ketahanan fisik dan juga rela kena panas matahari ataupun kena hujan sekalipun. Sehari melakukan blusukan berarti sehari melakukan kebaikan buat rakyat banyak, yang pasti banyak orang yang menjadi senang, banyak orang yang menjadi terhibur suasana hatinya. Itu adalah fakta yang harus kita akui.

Dibandingkan dengan seorang pejabat yang jalan-jalan keluar negeri, menghabiskan anggaran keuangan negara, makan enak di negara orang, menghindari masalah di dalam negeri, menghindari kemacetan lalu lintas di dalam negeri, menghindari banjir dan bencana alam di dalam negeri, menghindari melihat tumpukan sampah di dalam negeri, ataupun menjauh dari rakyat yang menderita baik karena beban ekonomi maupun korban kejahatan. Tentu Blusukan jauh lebih menyejukkan dan lebih berfaedah. Jalan-jalan melihat keindahan negara lain, menikmati makanan enak di negara orang, atau membawa souvenir dari negara lain tidaklah lebih baik dari ‘Blusukan’. Apalagi kalau keluar negeri untuk menyembunyikan harta kekayaan karena merasa tidak aman disimpan di negara sendiri, atau bertemu dengan kolega dan mitra bisnis di luar negeri untuk mengeruk dan membagi-bagi kekayaan negeri dengan orang asing atau pihak lain di luar negeri yang mungkin dirasa lebih aman karena tidak terdeteksi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ataupun oleh PPATK. Maka ditilik dari segi mana pun, Blusukan tentu jauh lebih terhormat, walaupun bukanlah sesuatu yang sakral.

Ada juga muncul orang-orang yang sok mengecam Blusukan dengan berbagai argumentasinya. Tetapi orang-orang sok ini tentu orang yang kurang beretika dan cuma orang yang merasa diri sendiri lebih baik daripada orang lain, padahal kalau kita teliti, mungkin saja orang ini bukanlah orang yang dihargai oleh rakyat, bukanlah orang yang disukai oleh teman dan lawan, cuma orang yang menutup kekurangan dirinya dengan cuap-cuap kosong yang tidak terarah. Apa dan siapa yang dirugikan dengan kegiatan Blusukan? Kan tidak ada. Tak menghabiskan banyak uang negara, tak banyak menggunakan fasilitas negara, bahkan sudah sangat pasti tidak ada kesempatan berbuat hal yang merugikan karena waktunya habis untuk melakukan kebaikan untuk orang banyak.

Kata ‘Blusukan’ bahkan telah menjadi trend dunia juga, sampai-sampai Boss Facebook datang ke Jakarta menemui Pak Jokowi untuk tahu lebih banyak apa arti dan bagaimana bentuk blusukan itu. Dan Boss pemilik Facebook bahkan diajak blusukan ke Pasar Tanah Abang yang tentu saja hal ini merupakan promosi gratis Pasar Tanah Abang di kancah dunia internasional. Jadi sekali Blusukan bersama Boss Facebook, menjadikan Pasar Tanah Abang makin dikenal baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Bahkan Pasar Tanah Abang dipromosikan melalui internet dan sosial media ke penjuru dunia. Luar biasa bukan ?

Lalu kenapa ke Pasar? Inilah pentingnya : Pasar merupakan tempat besar dan tumbuhnya kegiatan ekonomi yang memberikan kehidupan kepada para produsen dan konsumen. Semakin berhasilnya Pasar, tentu makin berhasil juga para produsen, yang berarti pekerja di pihak produsen bisa bekerja dan menghidupi keluarga. Dan konsumen pun mudah mendapatkan barang sesuai dengan keinginannya. Sehingga konsumen bisa mendapatkan produk untuk kebutuhannya, untuk kesenangannya ataupun untuk kegiatan usaha lainnya. Rincian mengenai Pasar ini masih terlalu sempit dalam uraian kata-kata tersebut di atas, yang jelas Pasar merupakan inti kehidupan ekonomi masyarakat. Maka blusukan ke pasar-pasar memang sangat tepat.

Para kritisi apakah rela blusukan dan masuk ke pasar-pasar yang sumpek, panas, mungkin juga kotor dan bau (bau amis ikan, bau tumpukan sampah yang belum dibuang, atau bau karena selama ini belum terurus)? Mungkin para kritisi cuma senang jalan-jalan dan belanja di Orchard Road di Singapore atau jalan-jalan di HongKong sehingga selalu punya cara pandang yang berbeda?

Kita semua senang bahwa Presiden terpilih yang dicintai rakyat Indonesia yaitu Pak Jokowi telah memulai program-program kerjanya. Dengan Kabinet Kerja tentu kita menaruh harapan besar untuk kemajuan Indonesia menuju Indonesia Hebat. Dan adalah tak masuk akal kalau ada orang-orang yang tiba-tiba sekonyong-konyong menanyakan soal janji-janji Pak Jokowi padahal Presiden dan Kabinet Kerja nya belum diberi waktu yang cukup. Belum genap sebulan kalau orang sudah bicara janji-janji maka itu adalah keterlaluan. Kami meletakkan keyakinan akan niat baik Kabinet Kerja. Dan ada satu program Pak Jokowi yang sangat saya nantikan, yaitu terwujudnya tol laut, sehingga terkonekinya angkutan laut mengelilingi seluruh wilayah teritorial Indonesia yang akan memudahkan mobilisasi orang dan barang ke seluruh Indonesia. Saya menantikan dengan sabar (memang harus sabar karena membangun deep sea-port dan armada laut tentu perlu waktu), dan setelah hari yang dinantikan itu tiba, saya berkeinginan jalan-jalan mengelilingi Indonesia dengan biaya murah, saya ingin ke Bunaken di Manado, saya ingin ke Raja Ampat di Papua, dan saya ingin ke Sabang di Aceh. Oh, alangkah senangnya saat tol laut telah terwujud nanti.

Saya juga ingin bisa mengirim barang-barang dengan mudah ke seluruh pelosok Indonesia. Barang dengan volume yang besar atau dengan berat yang besar tentu nantinya akan bisa dikirim dengan biaya murah ke seluruh Indonesia. Contoh produk yang memerlukan space yang besar dan berat antara lain Payung Taman (Payung Pantai) dengan kaki beton pemberatnya.

Berikut ini contoh Payung Taman Cantilever (Payung Pantai Cantilever) yang membutuhkan space yang besar dan juga berat karena adanya kaki pemberat :

Berikut_ini adalah contoh kaki pemberat dari Marmer dengan berat marmernya saja sudah 30 kg per buah.

Untuk_lebih_jelas mengenai Payung Taman atau Payung Pantai, bisa lihat website sebagai berikut :

http://awiprj.com    atau :    http://www.payungpantai.blogspot.com

Pekan Raya Jakarta (PRJ) ala Jakarta Fair Kemayoran (JFK)

Pekan Raya Jakarta atau disingkat PRJ memang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Jakarta, karena merupakan perayaan ulang tahun kota Jakarta dalam bentuk perayaan berupa bazaar atau pameran atau dalam bahasa Inggerisnya dipakai istilah fair.

Tetapi kata pekan yang artinya minggu, sehingga pekan raya yang berlangsung sebulan nampaknya sudah tidak tepat dengan kata yang digunakan, karena seharusnya pekan raya itu yang tepat adalah kalau hanya berlangsung dalam 1 (satu) minggu saja.

Mungkin lebih tepat kalau pakai istilah bulan menggantikan kata pekan.

Malam ini tgl. 7 Juli 2013 adalah hari terakhir kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2013 ini, yang merupakan perayaan HUT (hari ulang tahun) Jakarta yang ke 486.

Berikut ini beberapa foto kegiatan perayaan HUT Jakarta dalam bentuk PRJ (Pekan Raya Jakarta) yang dilangsungkan di Kota Baru Bandar Kemayoran yang telah berlangsung selama 1 (satu) bulan ini, sebagai berikut :

Gambar-gambar(foto-foto) tersebut merupakan sebagian kecil saja dari kegiatan yang berlangsung dalam perayaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) ala Jakarta Fair Kemayoran (JFK).

Disebut Jakarta Fair Kemayoran (JFK), karena pelaksanaannya di area Kemayoran. Karena sebenarnya aslinya atau asal muasal Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang dulu dikenal sebagai Jakarta Fair telah lama dilaksanakan dengan meriah di area Monas (Monumen Nasional).

Bagi generasi yang pernah ke Jakarta Fair di Monas zaman dulu, tentu telah merasakan kemeriahan perayaan Jakarta Fair, karena itu ingin mengulang ingatan lama dengan mengunjungi perayaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) saat ini yang berlangsung di Kemayoran.

Tetapi memang ada sesuatu yang berbeda dan makin hari makin berbeda. Kalau dulu Jakarta Fair lebih merupakan pesta rakyat dan banyak pameran-pameran produk-produk inovatif baru atau diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya memang belum pernah dipasarkan, maka Jakarta Fair Kemayoran yang sekarang lebih banyak berupa kegiatan jualan.

Bayangkan saja dengan sangat mahalnya sewa stand di dalam lokasi PRJ (Pekan Raya Jakarta) Kemayoran, tentu saja para peserta harus menjual sebanyak-banyaknya, bila perlu dengan harga yang mahal. Hal ini selain menjadikan penjualan makin sulit juga memicu inflasi, karena harga dipaksa untuk naik jadi mahal.

Lalu kalau para peserta dan penyewa stand di arena PRJ (Pekan Raya Jakarta) sudah membayar begitu mahal, untuk masuk ke dalam area Pekan Raya juga sangat mahal. Bahkan parkir mobil nya juga sangat mahal. Jadi sebenarnya pesta PRJ (Pekan Raya Jakarta) yang seharusnya merupakan pesta rakyat menjadi pusat penjualan.

Para pedagang yang sudah membayar mahal (maksudnya menyewa stand pameran dengan harga yang sangat mahal) tentu saja mengharapkan pengunjung yang ramai dan banyak. Tetapi harga tiket masuk yang mahal disertai dengan ongkos parkir yang mahal membuat banyak orang membatalkan niat mampir ke arena Pekan Raya Jakarta. Bisa dilihat di foto-foto di atas bahwa dalam banyak kesempatan ternyata pengunjung PRJ (Pekan Raya Jakarta) ini ternyata sepi-sepi saja. Memang kasihan buat pedagang-pedagang yang baru ingin mencoba atau yang baru ingin berkembang. Kalau buat perusahaan besar ataupun perusahaan raksasa, ajang Pekan Raya Jakarta ini lebih digunakan untuk branding merek, maksudnya sudah wajib rasanya ikut kegiatan PRJ ini, agar merk nya bisa tetap berkibar dan dekat dengan konsumen. Biaya yang dikeluarkan bisa saja dipakai untuk ajang promosi atau semacam iklan, yang kemudian nantinya akan diperhitungkan dalam biaya produksi, sehingga nantinya harga produk juga bisa dinaikkan.

Jadi sebenarnya siapa yang untung dan siapa yang rugi ?

Dalam foto di atas juga terlihat bahwa saat hujan sangat sulit sekali berjalan-jalan di area PRJ 2013 terutama di luar hall, bagi yang bawa payung mungkin bisa membantu, tapi bagi yang tidak membawa payung, memang cukup menderita, mesti berteduh dan berdesak-desakan di koridor-koridor yang tertutup. Jadi sebenarnya mahalnya tiket masuk ini tidak memberi kenyamanan yang memadai.

Lalu apakah perayaan Pekan Raya Jakarta 2013 ini bisa dikatakan gagal atau kurang berhasil. Memang sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang pasti, penyelenggaranya atau panitianya bahkan sudah mengambil keuntungan yang luar biasa besar saat PRJ itu sendiri belum dimulai. Para penyewa stand pameran semuanya sudah harus membayar lunas biaya sewa stand, walaupun belum memasuki hari penyelenggaraannya sendiri. Jelas kalau terjadi badai dan semua pedagang atau peserta rugi pun, penyelenggara sudah tidak perlu pusing lagi, karena sudah terima uang banyak dan untung banyak.

Pedagang yang tidak mampu, seperti pedagang kerak telor, dengan terpaksa hanya berjualan di pinggir jalan di jalan sekitar dan menuju arena PRJ. Sebagian pedagang kerak telor musiman ini (yang hanya ada saat berlangsungnya PRJ saja) ini bahkan ada yang berjualan di atas got terbuka dengan menutup got cukup untuk menempatkan gerobak dan kompor serta bisa duduk sambil memasak di atas got yang ditutup setempat ini. Kalau pedagang kerak telor di jalanan ini menjual kerak telornya dengan harga misalnya Rp. 15.000,- maka pedagang kerak telor yang menyewa dan berjualan di dalam arena PRJ terpaksa menjual dengan lebih mahal misalnya Rp. 5.000,- karena mereka mesti menutupi biaya sewa tempat yang mahal.

Dan ketika Pemda DKI untuk ikut dalam ajang kegiatan PRJ Kemayoran ini diminta membayar mahal, membuat Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini yaitu Pak Jokowi dan Pak Ahok mempertanyakannya. Bahkan Pak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya berhasil dalam waktu singkat menggelar Pekan Produk Kreatif Daerah 2013 yang berlangsung sukses dan ramai dikunjungi oleh masyarakat Jakarta dengan gratis tiket masuk, dan juga peserta pameran pun tidak membayar sewa tempat.

Mudah-mudahan PRJ (Pekan Raya Jakarta) untuk tahun 2014 bisa dirumuskan dengan lebih baik, dan bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat banyak untuk merayakan HUT Jakarta secara murah juga tentunya.

Mau tahu mengenai Payung Pantai atau Payung Taman ?   Bisa lihat di website : www.PayungPantai.blogspot.com

Payung-payung berikut ini cocok untuk pedagang di pameran / ekshibisi / bazar / bazaar / dan keramaian lainnya :

Payung Pantai Pelangi Biru

Payung Pantai Pelangi Biru

Payung Taman beserta meja

Payung Taman beserta meja

Payung Taman Cantilever

Payung Taman Cantilever

Bila banjir dan macet jadi satu

Banjir merupakan hal yang tidak disukai, demikian juga dengan kemacetan lalu lintas. Dan kalau kedua kondisi ini menyatu, maka makin sengsaralah orang yang mengalaminya.

Pada sore hari ini Sabtu tanggal 22 Desember 2012 telah terjadi hujan dengan curah yang cukup tinggi, dan telah menyebabkan banyak genangan air, bahkan banjir di berbagai wilayah kota Jakarta.

Hal seperti ini bukan baru kejadian kali ini saja, tetapi merupakan peristiwa yang terus menerus berulang hampir setiap tahun. Dan berikut ini adalah foto kemacetan dalam suasana genangan air akibat hujan lebat di Jl. Jendral Sudirman – Jakarta Pusat sebagai berikut :

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Dalam foto tersebut terlihat dengan sangat jelas kemacetan total, disertai genangan air dan kesemrawutan lalu lintas, yang mana terdapat mobil-mobil pribadi yang masuk menyerobot ke dalam jalur bus way, baik karena menghindari macet maupun menghindari genangan air (banjir).

Gubernur baru DKI Jaya yaitu Bapak Jokowi baru saja beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI Jaya, tetapi memang berbagai tumpukan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur lama memang sangat fatal bahkan tidak manusiawi, sehingga memang kita heran apa saja yang dikerjakan oleh Gubernur lama sehingga juga tidak disukai oleh masyarakat kota Jakarta, sehingga pada pemilukada (pemilihan kepala daerah) DKI Jaya kalah dengan Bapak Jokowi yang bahkan bukan warga Jakarta dan tidak ber KTP (kartu penduduk) DKI Jaya. Walaupun didukung oleh mayoritas partai, tetapi rakyat sudah tidak bisa menerima kehadiran Gubernur lama yaitu Foke, sehingga dalam dua kali putaran pilkada DKI Jaya selalu kalah dengan Bapak Jokowi.

Kenapa penguasa bisa meninggalkan begitu banyak masalah kemanusiaan di dunia modern yang sebenarnya tidak semestinya terjadi ? Jawaban yang paling sederhana adalah bahwa pejabat yang digaji tidak bekerja untuk pekerjaannya seperti pegawai yang bekerja pada perusahaan. Seorang pegawai yang bekerja pada perusahaan mesti loyal pada misi dan visi perusahaan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk kemajuan dan kejayaan perusahaan. Kalau seorang pejabat yang sudah digaji bisa berfikir dan bekerja seperti pegawai perusahaan tersebut maka masalah kemanusiaan yang begitu parah tidak seharusnya terjadi.

Harapan besar masyarakat kota Jakarta sekarang bertumpu pada Bapak Jokowi, yang merupakan gubernur baru pilihan rakyat. Dengan dukungan rakyat yang besar kita berharap akan banyak kemajuan dan prestasi yang akan dihasilkan oleh Gubernur yang baru ini. Memang memperbaiki kerusakan fatal yang ditinggalkan oleh Gubernur lama bukanlah seperti membalikkan tangan, tentu perlu proses, perlu waktu, dan semoga Jakarta baru akan bisa terwujud dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Seorang pejabat selain harus berorientasi pada prestasi, juga mesti punya hati nurani dan memikirkan kepentingan rakyat banyak. Bila memungkinkan bahkan seharusnya bisa menghasilkan karya besar yang berguna dan bisa dikenang oleh umat manusia sepanjang masa. Kalau tidak bisa membuat karya besar tingkat dunia seperti Tembok Besar di China, atau Menara Eiffel di Perancis, atau Candi Borobudur di Magelang, ya minimal kelas nasional. seperti Monumen Nasional (Monas) karya mantan Presiden Soekarno. Prestasi Soekarno bisa kita ingat dan sangat membanggakan bangsa Indonesia, baik sebagai proklamator, sebagai presiden yang membuat negara Indonesia disegani di dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Maka kita tentu kita berharap bahwa Bapak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya pilihan rakyat akan juga membuat sesuatu karya besar yang akan diingat oleh warga DKI Jaya selamanya, dan mengatasi berbagai masalah rutin seperti kemacetan lalu lintas dan banjir.

Memang tantangannya tidak mudah dan tidak sederhana karena sudah jadi penyakit akut, tetapi kami yakin selama ada kemauan disertai hati nurani, maka pasti akan ada jalan. Karena semua keberhasilan dan kemajuan akan kita nikmati bahkan sangat bermanfaat buat anak cucu dan keturunan kita di masa mendatang.

Air untuk Kehidupan bisa juga menjadi Tsunami

Masih ingat akan ajaran Siddharta Gautama, terutama bagi umat agama Buddha, yang menerangkan mengenai Jalan Tengah. Bahwa segala sesuatu yang berlebihan (extrim) adalah tidak baik, dan yang seharusnya adalah Jalan Tengah. Dan kebijakan ajaran agama Buddha ini sudah ada sejak zaman dahulu yang berlaku universal.

Demikianlah seperti halnya mengenai AIR. Tanpa air tidak ada kehidupan, itulah yang biasa disimpulkan oleh orang-orang yang ke luar angkasa yang ingin mencoba menemukan kehidupan di luar planet bumi. Tanpa menemukan adanya air, maka para ahli luar angkasa menyimpulkan tiada kehidupan di orbit luar angkasa yang didatanginya. Bila ditemukan air di planet di luar bumi, maka harapan ditemukan kehidupan di planet ataupun gugus galaxy tersebut diharapkan bisa ditemukan kehidupan atau makhluk lain (makhluk luar angkasa). Setidaknya, manusia mencoba mencari lahan baru di luar angkasa yang suatu hari nanti bisa untuk dijadikan tempat untuk hidup.

Memang tanpa adanya air, kita tak mungkin hidup. Kekurangan air pun jadi masalah, orang bisa kehausan, atau tidak bisa melakukan aktivitas hidup secara normal, seperti untuk mandi, masak, mencuci dan sebagainya. Orang yang karena kesehatannya terganggu, sehingga terjadi dehidrasi, maka dalam tubuh akan kekurangan cairan, dan ini pun jadi masalah dan bisa membahayakan hidup.

Air jelas sangat penting untuk kehidupan. Tetapi kalau airnya berlebihan, juga bisa menjadi masalah. Hujan yang turun di atas batas normal, bisa sangat mengganggu. Air sungai yang meluap, genangan air, dan banjir tentu juga menjadi masalah buat manusia dan bisa menjadi musibah.

Dan kalau yang terjadi adalah TSUNAMI, maka musibah terhadap manusia bisa menjadi luar biasa. Gempa di dasar laut dapat menggerakkan air laut dan menyebabkan air laut bergejolak sedemikian sehingga menjadi ombak besar dan menyerang masuk ke daratan merupakan peristiwa Tsunami. Kalau skala gempa di dasar laut cukup besar sehingga menjadikan potensi tsunami, maka terjadilah musibah tsunami. Dan kalau manusia tidak siap menghadapi tsunami ini, maka musibah, bencana, dan korban tak bisa dielakkan. Walaupun manusia siap pun kalau tsunami terjadi, bencana dan kerugian pasti terjadi.

Saat tsunami terjadi, banyak bangunan dan infrastruktur di sepanjang garis pantai dan sekitarnya hancur diterjang tsunami. Dan kalau tsunami terjadi pada pantai yang ada manusianya, maka bencananya menjadi lebih besar. Rumah-rumah dan segala isinya hancur ataupun rusak diterjang tsunami. Bahkan berbagai kendaraan seperti mobil-mobil yang tak sempat diselamatkan dilumat oleh tsunami. Bahkan manusia yang tak sempat menyelamatkan diri juga akhirnya tewas akibat bencana tsunami ini. Masih segar ingatan kita akan Tsunami yang menghantam Aceh (di pantai Barat Sumatera bagian Utara), yang bahkan pengaruh tsunaminya juga sampai ke negara Srilangka dan Pukhet yang merupakan pantai negara Thailand. Ratusan ribu orang Aceh meninggal akibat tsunami tersebut dan juga kerusakan parah terjadi pada rumah berbagai fasilitas yang ada.

Tsunami yang terjadi di Jepang

Dan pada bulan Maret ini (tepatnya pada tanggal 11 Maret 2011), kembali Tsunami menyerang pantai Timur negara Jepang. Bisa kita lihat di berbagai berita surat khabar dan telivisi, sangat banyak bangunan yang hancur, mobil-mobil juga hanyut dibawa oleh air laut, dan juga memakan korban nyawa manusia juga. Walaupun jumlah korban (orang yang meninggal) tidak sebanyak saat tsunami di Aceh, tetapi kehilangan nyawa tetap terjadi. Bahkan ada satu hal yang sampai saat ini masih menakutkan, yaitu akibat lanjutan dari peristiwa tsunami yang sudah berlalu, yaitu rusaknya fasilitas reaktor nuklir pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Bocornya nuklir dan efek radiasi nuklir bisa menjadi lebih berbahaya, selain radiusnya bisa mencapai jarak yang sangat jauh, juga akibat dari terkena radiasi nuklir ini bisa menyebabkan berbagai penyakit dan cacat lainnya.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa memang air bisa sangat berguna untuk kehidupan, tetapi bila kekurangan bisa jadi masalah, kelebihan juga jadi masalah. Jadi JALAN TENGAH adalah yang seharusnya. Pengalaman dan berbagai kejadian dari masa ke masa akan menjadikan manusia menjadi makin dewasa dan dengan segala akal budinya, manusia akan mencari solusi dan berbagai teknik untuk menghadapi berbagai masalah yang bisa muncul dari air ini. Dimulai dari berkembangnya ilmu meramal cuaca, sampai alat-alat deteksi gempa dan alat-alat peringatan bahaya tsunami, walaupun saat ini belum sempurna dan masih selalu terkalahkan dengan kejadian mendadak di luar kendali manusia, tetapi manusia tetap harus optimistis, bahwa suatu saat bisa mendapatkan solusi dan kesiapan untuk menghadapi semuanya. Makin hari makin berkembang teknologi dan ilmu pengetahuan dan semoga suatu hari nanti, manusia akan siap dan bisa menghindarkan bencana akibat dari extrim yang diakibatkan oleh air ini. Setidaknya bisa meminimalisasi kerugian dan kerusakan, serta meminimalkan korban.

Bukan dalam arti manusia ingin melawan alam, tetapi manusia ada saatnya bisa mengelola alam dengan lebih baik. Juga bisa mengelola bencana alam dengan lebih baik. Sehingga air yang kita butuhkan untuk kehidupan kita, juga bisa menjadi sahabat yang baik untuk kita. Manusia saat ini sudah bisa membotolkan air agar mudah dibawa kemana-mana, membuat saluran irigasi yang memanfaatkan air untuk sawah dan tanamannya, juga membuat kincir air untuk menghasilkan energi, ataupun membuat waduk untuk pembangkit tenaga listrik (PLTA : pembangkit listrik tenaga air) ataupun untuk rekreasi air dan tempat wisata. Bahkan ombak laut pun sudah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Juga memanfaatkan air untuk transportasi, baik transportasi kanal (seperti banyak di negara Belanda), transportasi sungai, transportasi laut. Memanfaatkan air untuk olahraga, seperti renang, ski air, bahkan surfing. Terlihat disini bahwa air sudah lama dan banyak yang bisa dimanfaatkan. Air sudah menjadi sahabat manusia, dan agar saat bencana yang timbul akibat oleh air ini (baik curah hujan yang berlebih, sungai yang meluap, ataupun tsunami) bisa tetap menjadi sahabat bagi manusia, dan bukan memakan nyawa banyak manusia. Dan kita harapkan hal seperti ini waktunya akan tiba. Mungkin terdengar agak aneh dan berlebihan, tetapi kalau kita melihat kenyataan kemajuan teknologi yang luar biasa cepat belakangan ini, seperti dunia internet, dunia telekomunikasi, yang bisa mengalahkan waktu dan jarak (dalam arti orang yang berjauhan jaraknya, bisa berkomunikasi secara online secara real time). Maka tiada harapan yang tidak mungkin dalam soal pengelolaan air ini, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan di luar normal.

Jalan Rusak Menambah Kemacetan Lalu Lintas

Terlampir ini adalah foto dari Harian “Warta Kota” terbitan hari Senin tanggal 7 Maret 2011 pada rubrik : Metropolitan, dan komentar di bawah foto tersebut adalah sebagai berikut : Jl. RE Martadinata, tepatnya di depan pintu 03 Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, mengalami kerusakan parah sehingga menimbulkan genangan saat hujan.

Jalan rusak

Fenomena seperti ini memang cukup banyak ditemukan di jalan-jalan di dalam kota Jakarta. Pada saat tak ada genangan air, lubang-lubang pada jalan, atau kerusakan jalan akan lebih terlihat bentuk dan ukurannya sehingga kendaraan lebih bisa menghindar dari lubang, itu pun kalau masih ada ruang untuk menghindar. Kalau tak ada ruang untuk menghindar, terpaksa kendaraan berjalan melalui lubang-lubang dengan berbagai resiko seperti rusaknya ban ataupun penyotnya bagian terbawah dari kendaraan. Dalam keadaan jalan sedikit sepi, lubang-lubang ini bisa sangat mematikan, karena pengendaraan yang sedang mencoba melintas dengan lebih cepat, bisa terbentur keras pada lubang tersebut, yang selain bisa menyebabkan pecahnya ban, atau rusaknya ban, juga bisa menyebabkan kecelakaan. Kadang-kadang pengendara tidak bisa menghindar, karena ada yang lubangnya baru kelihatan setelah kendaraan sangat dekat dengan lubang tersebut.

Banyaknya lubang dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, menyebabkan kendaraan melambat, sehingga menambah kemacetan lalu lintas. Dalam keadaan banjir, bukan hanya lubang ini yang tidak bisa diperkirakan oleh pengendara, bahkan kanstin pemisah jalur lambat dan jalur cepat, ataupun beton pemisah dengan jalur busway sama sekali tidak terlihat, dan menambah resiko bahaya bagi kendaraan yang mencoba melewati banjir. Bahkan got-got terbuka di pinggir jalan pun tak bisa diketahui persis posisinya sehingga menjadi sangat berbahaya. Masalahnya kalau ada hujan lebat yang agak lama saja, cukup banyak ruas jalan di Jakarta yang tergenang sampai batas-batas jalan itu tidak terlihat sama sekali. Dan kemacetan pun makin menjadi-jadi. Kadang-kadang pengendara bisa terjebak berjam-jam tanpa bergerak maju sama sekali.

Tentunya semua pihak menginginkan agar jalan-jalan umum bisa berfungsi baik, karena kecelakaan bisa menimpa siapa saja, kemacetan sangat melelahkan dan membuat stress. Lebih besar kerugian pada masyarakat baik yang rusak kendaraannya maupun yang mengalami kecelakaan dibandingkan dengan biaya perbaikan jalan itu sendiri. Banyaknya penganguran, seharusnya bisa direkrut tenaganya untuk dididik untuk bekerja dalam ikut melaksanakan perbaikan-perbaikan jalan. Memberikan pekerjaan kepada penganggur akan lebih bermanfaat dari pada memberikan uang tunai kepada orang miskin yang akan habis begitu saja, dan tidak produktif. Pekerjaan perbaikan dan perawatan jalan secara rutin yang memberikan penghasilan bagi pekerja, juga akan bermanfaat meningkatkan daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan konsumsi yang akan ikut berperan dalam menggerakkan roda perekonomian juga.

Perbaikan jalan memang ada, tapi sangat lambat sekali, dan sangat menganggu pengguna jalan. Seharusnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat mengganggu kepentingan orang banyak ini, bisa dilakukan secara cepat dan express, maksudnya seharusnya pekerjaan dilakukan secara non-stop dalam 24 jam sehari, dan mengutamakan pekerjaan pada malam hari saat gangguan menjadi berkurang. Kami sangat yakin banyak pekerja yang siap bekerja malam hari, bahkan banyak pekerja yang siap bekerja lembur agar mendapatkan penghasilan lebih. Kalau menyangkut kepentingan umum, seharusnya sudah tidak boleh menghitung untung rugi atau besarnya biaya. Dan kalaupun biaya pekerjaan menjadi lebih mahal untuk membayar pekerja yang bekerja lembur atau bekerja tengah malam, seharusnya tidak ada kerugian juga buat otoritas, karena uangnya juga mengalir untuk pekerja rakyat negara kita. Bukankah ini lebih baik daripada membagi-bagikan uang kepada orang miskin, sehingga terjadi antrian orang miskin, dan banyak orang kemudian mengaku jadi orang miskin agar mendapat uang. Seharusnya kita bisa membangun rasa bangga kepada masyarakat karena mereka bisa bekerja dengan baik, bukan menerima uang dengan mengaku sebagai orang miskin, sehingga budaya malu untuk hal-hal yang bersifat negatif bisa membuat bangsa lebih berbudaya.

Perbaikan jalan pun sebaiknya mesti yang baik dan kuat, karena kerusakan berulang-ulang akan sangat merugikan juga. Sebagai contoh, jalur jalan busway yang baru dibangun belum lama saja sudah rusak lagi dan rusak lagi. Perbaikannya juga lama, dan berulang-ulang. Buswaynya pun terpaksa jalan ke luar jalur busway nya. Kalau dari awal perencanaan konstruksi jalannya sudah memperhitungkan faktor kekuatan yang semestinya dengan faktor keamanan yang cukup, mestinya hal ini tidak boleh terjadi. Memang beban busway yang penuh penumpang dengan kecepatan laju yang tinggi dan juga dengan pengereman yang mendadak memerlukan konstruksi yang kuat pada jalur jalan busway ini. Zaman sudah begitu maju, semua ini bisa diprediksi dan bisa dihitung, konstruksi jalan juga bisa direncanakan selayaknya dengan perhitungan yang matang. Dengan memperhitungkan kondisi tanah, kadar air tanah baik saat musim kemarau maupun musim hujan, daya dukung tanah dan jenis tanahnya, maka seharusnya semua jalur busway bisa dibuat yang kuat dan tidak mudah rusak. Bukankah lebih mahal kalau setelah rusak lalu harus dibongkar dan dibangun kembali. Jangankan hanya membuat jalur jalan busway yang kuat dan tahan, membangun runway pesawat terbang di atas rawa-rawa pun manusia sanggup melakukannya.

Bila saja kondisi tanah pendukung jalan ternyata kurang bagus, seharusnya dilakukan dulu perbaikan tanah (soil improvement). Berbagai teknik perbaikan tanah bisa diterapkan sesuai dengan keadaan tanah dan kondisi di lapangan. Bisa saja menggunakan perkuatan dengan cerucuk, atau perbaikan tanah dengan teknik injeksi, column stone, penggalian dan penggantian lapisan tanah pendukung, dan disertai pemadatan yang cukup. Sehingga benar-benar didapat lapisan tanah yang sudah mempunyai daya dukung dengan faktor keamanan yang cukup, sehingga bisa dibuatkan lapisan beton ataupun aspal hotmix di atasnya. Kalau perencanaan dan pelaksanaan dilakukan secara baik dan memenuhi syarat-syarat perhitungan teknis, seharusnya kerusakan jalan bisa diminimalisasi.

Kalau saja manajemen perbaikan dan perawatan jalan bisa berjalan baik dengan tingkat respon yang cepat, maka kerugian di pihak pengguna jalan akan berkurang, dan setidaknya bisa mengurangi kemacetan lalu lintas, walaupun ini bukanlah solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Tetapi yang terjadi saat ini, ketika ada kerusakan parah di jalan-jalan, masyarakat hanya bisa menggerutu dan putus asa, dan tak mengerti apa yang harus dilakukan agar perbaikan jalan itu bisa segera terealisasi. Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi jalan rusak yang dibiarkan berlama-lama membahayakan pengguna jalan dan juga menambah kemacetan lalu lintas. Harapan kita semua agar segalanya makin hari makin baik, karena manusia punya akal budi dan bisa merubah dunia dan keadaan yang jelek menjadi baik.