Film bioskop The Iceman

Berikut ini adalah gambar poster film bioskop The Iceman :

The Iceman merupakan film dengan latar cerita yang diangkat dari kisah nyata.

The Iceman bukanlah manusia es, tetapi merupakan julukan seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin sedingin es, yang merupakan seorang pembunuh keturunan bangsa Polandia.

Pada awalnya ia bekerja sebagai pembuat film kartun untuk orang dewasa, yang saat pembuatan filmnya mendapat pesanan dari seorang penjahat yang akhirnya menawarkannya untuk menjadi seorang pembunuh bayaran.

Pertemuan dengan penjahat yang merekrutnya jadi pembunuh bayaran ini pertama-tama ia diuji untuk membunuh seorang gelandangan dengan sebuah pistol dan disaksikan oleh penjahat tersebut.

Mulailah Iceman menjadi seorang pembunuh bayaran dengan bayaran yang tinggi. Keinginan untuk membahagiakan dan mewujudkan impian istrinya yang menginginkan rumah besar yang mewah, ia coba memenuhinya dengan bayaran-bayaran dari profesi sebagai pembunuh bayaran.

Keluarganya yaitu istri dan dua anak perempuannya tidak tahu pekerjaan sebenarnya dari ayahnya ini.

Makin lama Iceman makin banyak membunuh, dan ada suatu kali ketika ia ditugaskan membunuh, sempat ada seorang gadis kecil mendengar dan menyaksikan perbuatannya. Tetapi karena Iceman punya prinsip tidak membunuh anak-anak dan wanita, akhirnya gadis tersebut ia lepaskan. Tentu saja hal ini sangat beresiko karena ada yang menyaksikan perbuatannya. Tetapi ia pikir gadis tersebut juga tidak ia kenal dan juga tidak mengenalnya, jadi ia mengabaikan bahaya resiko tersebut.

Iceman juga sempat diberhentikan sebagai pembunuh bayaran oleh penjahat yang biasa menggunakan jasanya.

Akhirnya ia bekerja untuk penjahat lain yang siap membayarnya. Dan ia sempat bersama temannya membunuh dengan cara meracuni korbannya dengan sianida, yaitu dengan menyemprotkan ke depan muka korban. Ia lakukan hal itu bahkan di depan umum saat keramaian umum di tengah-tengah hiruk pikuk kegiatan dansa di suatu club. Ini dilakukan karena ia akan dibayar lebih $1o ribu dollar menjadi $50 ribu dollar bila kematian korban dianggap sebagai kematian secara wajar.

Dalam sepak terjangnya sebagai pembunuh bayaran, akhirnya membawa ia dan keluarganya dalam bahaya juga. Iceman berusaha menjadi seorang ayah yang baik untuk kedua putrinya. Saat ia merayakan ulang tahun anaknya, sempat ia diancam oleh para penjahat.

Bahkan upah membunuh yang $50 ribu sempat tidak dibayar oleh orang yang memesan ia membunuh, sehingga Iceman membunuh juga pemesan itu dan mengambil emas dan uang yang ada di kantong walaupun nilainya hanya sedikit.

Anak perempuan nya sempat ditabrak lari secara sengaja. Dan karena keluarganya terancam, akhirnya Iceman juga banyak membunuh teman yang dicurigainya.

Untuk memenuhi pembayaran pembelian rumah untuk istrinya, akhirnya ia juga menerima pesanan membunuh dari orang baru yang belum ia kenal. Orang tersebut menanyakan cara membunuh dengan sianida, dan akhirnya ia pun ingin menyuruh Iceman membunuh dengan sianida. Iceman pun memesan sianida dalam jumlah  banyak, dan berencana membunuh dengan memberikan sianida pada roti yang akan diberikan kepada korbannya.

Saat sianida sudah diberikan pada Iceman, iapun menyiapkan roti dengan mengoleskan racun sianida tersebut. Saat ada seekor kucing yang mendekat ia juga memberikan satu sendok sianida kepada kucing tersebut, ternyata kucing tersebut tidak apa-apa (tidak mati), sehingga ia mulai menyadari kalau ada yang tidak beres. Tapi pada saat itu juga ia dikepung oleh polisi yang kemudian melumpuhkan Iceman dan memborgolnya.

Rupanya orang yang memesan ia membunuh dengan sianida ini ternyata adalah seorang polisi atau mata-mata polisi. Iceman pun ditangkap dan diadili di pengadilan. Ternyata ia sudah membunuh lebih dari 100 orang. Dan pada vonis hakim ia dijebloskan ke penjara dengan hukuman dua kali hukuman seumur hidup.

Keluarganya yaitu istri dan kedua putri nya pun baru menyadari apa pekerjaan ayahnya yang sebenarnya. Sejak di penjara Iceman tidak pernah ketemu dengan keluarganya sampai akhirnya ia meninggal di penjara.

Penahanan KPK terhadap pejabat-pejabat utama negara

Pada hari ini, hari Kamis tanggal 17 Oktober 2013 kita bisa menyaksikan penahanan Mantan Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) Andi Alifian Mallarangeng oleh KPK di televisi-televisi tanah air. Berikut ini adalah foto yang kami ambil dari televisi yaitu : TV One dan Metro TV yang menyiarkan penahanan Andi Alifian Mallarangeng, sebagai berikut ini :

Andi Alifian Mallarangeng yang telah mengenakan baju tahanan KPK sudah lama ditetapkan sebagai tersangka pada kasus korupsi Hambalang yang merugikan keuangan negara, tetapi baru hari ini resmi ditahan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Menurut juru bicara KPK Johan Budi, tersangka Andi Alifian Mallarangeng ditahan demi untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi Sarana dan Prasarana olah raga Hambalang yang telah merugikan keuangan negara.

Maraknya korupsi di Indonesia, bisa dilihat dari banyaknya pejabat-pejabat tinggi yang telah ditangkap dan ditahan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Masih sangat segar di ingatan kita, Ketua SKK Migas Rudi Rubiandini yang ditangkap tangan oleh KPK dan telah dijadikan tersangka dan ditahan oleh KPK. Juga Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Akil Mochtar yang ditangkap tangan oleh KPK dan juga dijadikan tersangka.

Kalau pejabat tinggi setingkat Menteri, Ketua MK, Ketua SKK Migas sudah ditahan oleh KPK dengan bukti korupsi yang telah dimiliki oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), maka bisa kita nilai betapa rusaknya dan maraknya korupsi di negara kita ini. Sungguh sangat menyedihkan, pejabat yang bergaji tinggi, dengan fasilitas yang lebih dari cukup, dan digaji untuk melayani rakyat dan untuk membela kepentingan negara, tetapi ternyata hanya memikirkan diri sendiri dan lebih memilih memperkaya diri dengan korupsi, benar-benar sangat menyedihkan. Padahal di masyarakat masih sangat banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan untuk makan saja sulit.

Kita memang seharusnya menghargai kerja keras KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang telah berprestasi besar dengan berhasilnya KPK menangkap para koruptor-koruptor yang sangat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Rakyat ada di belakang KPK, karena rakyat memimpikan negara yang dipimpin oleh negarawan, dan bukan oleh koruptor-koruptor.

Babak selanjutnya tentu kita juga ingin menyaksikan hukuman yang berat yang dijatuhkan kepada para koruptor-koruptor yang sudah ditangkap, agar rakyat merasakan keadilan. Banyak pihak yang menyuarakan mengenai hukuman mati buat koruptor memang sudah mulai sering kita dengar. Bahkan mantan ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Jimly Assidiqie menyerukan agar jaksa penuntut mengajukan hukuman mati pada Akil Mochtar yang telah tertangkap tangan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Kita juga mengharapkan agar KPK kembali menangkap koruptor-koruptor lainnya yang masih terus menggeroti keuangan negara, yang telah menyebabkan banyaknya rakyat sulit lepas dari pengangguran dan kemiskinan. Yang kaya makin kaya, sedangkan yang miskin makin miskin. Karena yang kaya bisa membeli kebijakan negara dari pejabat korup, sedangkan yang miskin makin terinjak karena kebijakan yang menyimpang dari penjabat korup.

Walaupun pemberantasan korupsi ini seperti nya mengurai benang kusut, tetapi kalau KPK terus konsisten memberantas korupsi, maka hari demi hari diharapkan kondisi akan makin baik. Dan ini tentunya mesti disertai hukuman berat kepada para koruptor seperti pemiskinan koruptor, penyitaan harta benda pencucian uang, serta hukuman penjara seumur hidup kalaupun bukan hukuman mati.

Semoga KPK makin berprestasi, kami menantikan kejutan lainnya dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Kasus suap MK dengan tersangka AM

Beberapa hari ini kita sangat kaget dengan berita tentang ditangkapnya para tersangka suap MK (Mahkamah Konstitusi) oleh pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dan kekagetan ini ternyata juga dialami juga oleh para pejabat dan pimpinan berbagai lembaga tinggi negara. Kenapa ? Karena yang tertangkap basah kasus suap adalah Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Akil Mochtar (AM). Lembaga tinggi negara yang dianggap setengah dewa karena keputusan yang dibuat oleh MK mengikat dan berlaku sebagai hukum di negara kita ini. Keputusan MK ini bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai mewakili Tuhan di dunia ini. Berikut ini beberapa gambar foto sehubungan dengan perkembangan kasus suap MK ini, sebagai berikut :

Tertangkap tangan di kantor dinas MK di Jl. Widya Chandra 3 No. 7 – Jakarta Selatan oleh pihak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) serta pemeriksaan terhadap yang bersangkutan, akhirnya Akil Mochtar (ketua MK) dijadikan tersangka dan telah memakai baju tahanan KPK yang berwarna oranye. Selain Akil Mochtar juga ditangkap pejabat lain dan pengusaha, dengan total ditangkap adalah 6 orang.

Bagaimana seorang RI- 9 yang artinya seorang pejabat sangat tinggi di atas tingkatan Menteri bisa tertangkap basah menerima uang suap terkait dengan penanganan kasus sengketa pilkada ? Tepatnya yaitu sengketa pilkada Gunung Mas (Kalteng) dan pilkada Lebak (Banten). Uang suapnya pun berupa uang dollar Singapura dan uang dollar Amerika Serikat. Menerima tamu yang bersengketa di rumah dinas saja sudah merupakan pelanggaran etika seorang hakim, apalagi menerima uang suap. Benar-benar keterlaluan. Makanya mantan ketua MK Jimly Asshiddiqie mengusulkan tuntutan hukuman mati buat Akil Mochtar, karena selaku penegak hukum dengan jabatan setinggi itu, melanggar hukum bahkan melakukan korupsi dan menerima uang suap, dan tertangkap tangan lagi, maka sudah tidak ada alasan untuk tidak diberhentikan sebagai ketua MK dan semestinya dituntut hukuman mati. Usulan Jimly Asshiddiqie ini kalau diterima oleh jaksa penuntut, maka akan menjadi sejarah baru, bahkan bisa membuka lembaran baru dalam menuntut pelaku korupsi yang sangat memuakkan dan merugikan kehidupan sendi-sendi bangsa ini dengan hukuman mati.

Mantan ketua Mahfud MD juga sangat kecewa dan melihat kasus suap Akil Mochtar ini akan membuat keputusan-keputusan hukum mendatang lembaga tinggi MK ini akan bisa dipermasalahkan oleh para pihak. Dan akan diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikan kewibawaan MK. “Sekarang sudah tinggal  MK yang secara institusional bisa dipercaya, MK sudah jatuh terjerembab dan hancur. Rakyat harus bangkit menghancurkan koruptor”.

Bahkan Presiden SBY dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun sudah memberikan komentarnya dan bisa kita lihat dan dengar di televisi. Berbagai ahli hukum dan para pengamat melontarkan perlunya hukuman maksimal terhadap Akil Mochtar ini.

“Betapa berbahayanya kalau putusan (MK) yang final dan mengikat itu ternyata tidak tepat dan tidak benar, apalagi prosesnya ada penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Sama halnya dengan memutus sengketa dalam pemilu atau pemilihan kepala daerah. Ini tentu akan merusak demokrasi kita, menggugurkan kebenaran dan keadilan yang sangat didambakan rakyat kita”, tutur Presiden SBY.

Ketua MPR Sidarto Danusubroto : “Power trends to corrupt. Komisi Yudisial sudah saatnya melakukan pengawasan karena Mahkamah Konstitusi (MK) ini sangat besar wewenangnya dan sangat rawan karena keputusan Mahkamah Konstitusi bersifat final”.

Secara terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah M Din Syamsuddin menegaskan bahwa kasus ini merupakan nestapa nasional karena benteng terakhir penegakan hukum di negeri ini sudah jebol, “ini berbahaya”, ujarnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj juga menegaskan bahwa skandal MK ini bisa memperparah krisis kepemimpinan elite politik. Kasus ini membuat masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap hukum. “Bayangkan saja, jika ketua MK menerima suap, apalagi pejabat-pejabat lain di bawahnya, ini contoh yang buruk”, kata Said Aqil.

“Kasus (suap MK) ini mencerminkan moral sebagian penegak hukum sudah ‘bobrok’ karena hanyut oleh godaan materi. Ini sudah keterlaluan”, kata mantan ketua umum pimpinan pusat Muhammadiyah A. Syarif Maarif.

Seorang wartawan yang menanyakan soal potong jari tangan bagi koruptor kepada Akil Mochtar sempat ditampar oleh Akil Mochtar, padahal ucapan soal potong jari bagi koruptor itu justru adalah ucapan dari Akil Mochtar sendiri sebelumnya. Memang sangat sering kita mendengar berbagai pernyataan yang keluar dari pejabat yang berlagak suci dan siap dihukum atau diperlakukan seperti apa kalau bersalah, tetapi dalam kenyataannya setelah tertangkap ternyata tidak siap dengan hukuman sesuai ucapannya sendiri.

“Rusak sudah citra Indonesia di mata internasional. Mahkamah Konstitusi sebagai benteng terakhir penjaga konstitusi itu terkesan mudah dibeli,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi.

Media asing seperti dari Singapura (Straits Times), dari Malaysia (The Sun, Malaysiakinidotcom, dan Mysinchew media berbahasa Mandarin), dari Belanda (Volkskrant), dari Australia (Radio ABC), dari Rusia (The Voice of Russia), hingga dari Amerika Serikat (The New York Times) semua ini juga mengulas soal penangkapan Akil Mochtar oleh KPK (Komisi Pemberantas Korupsi).

Sudah sangat sering kita mendengar tentang pemiskinan koruptor, dan hukuman maksimal bagi para koruptor. Maka mari kita nantikan perkembangan kasus ini, dan benarkah koruptor akan dihukum berat sesuai dengan harapan dari masyarakat banyak.

Dan dalam kesempatan ini kita juga sangat menghargai kerja KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang telah menujukkan prestasi kerja yang luar biasa, walaupun korupsi dan koruptor masih sangat-sangat banyak sekali dan masih jauh dari harapan dalam pemberantasannya. Kita mesti mendukung KPK untuk semakin cepat dan makin banyak menangkap para koruptor yang sangat merugikan berbagai aspek kehidupan masyarakat, yang menjual wewenang demi uang suap dan menjual keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan yang merugikan negara, merugikan aset negara, dan merugikan serta menyebabkan kemiskinan masyarakat.

Hukuman buat Koruptor

Hukuman buat Koruptor memang sering menjadi pembahasan dan pembicaraan. Kenapa ? Karena banyak rakyat yang merasakan penderitaan ataupun merasakan efek dari aksi dari para koruptor yang selain merugikan negara, juga sangat merugikan kemanusiaan dan masa depan masyarakat yang dirasakan baik langsung maupun tidak langsung.

Berikut ini kami mengutip artikel dari Koran Kompas hari Selasa tanggal 9 Juli 2013 yang lalu dari tajuk “Kilas Luar Negeri” yang berjudul : “Mantan Menteri China Dihukum Mati”, sebagai berikut :

Liu Zhijun(60), mantan Menteri Perkeretaapian China, Senin (8/7), di Beijing dijatuhi hukuman mati dengan penanggguhan 2 tahun. Ia divonis mati oleh pengadilan di Beijing karena terbukti melakukan penyuapan dan penyalahgunaan wewenang selama menjabat sebagai menteri selama 8  tahun. Setelah dipuji sebagai “bapak” jaringan rel kereta berkecepatan tinggi di China, pada tahun 2011. Liu dipecat dan dilaporkan terlibat dalam skandal 800 juta yuan (130 juta dolar AS). Liu dihukum karena menerima suap sebesar 4,6 juta yuan sebagai bayaran karena telah membantu mengamankan kontrak dan mempromosikan 11 orang. Pengadilan menyatakan, Liu terlibat dalam kejahatan “sejumlah besar uang” yang menyebabkan kerugian aset publik serta melanggar hak-hak dan kepentingan negara dan rakyat China. Liu divonis hukuman mati dengan penangguhan 2 tahun. Di China, biasanya hukuman mati diubah menjadi hukuman seumur hidup. Di bawah hukum China, hukuman mati bisa dijatuhkan untuk penerima suap dengan nilai melebihi 100.000 yuan. (AFP/LOK).

Dari kutipan Harian Kompas mengenai vonis hukuman mati bagi mantan menteri di China ini, terlihat dengan sangat jelas, bahwa walaupun mantan Menteri tersebut punya jasa besar sehingga sempat disebut sebagai “bapak” jaringan rel kereta berkecepatan tinggi, tetapi hukum tetap ditegakkan dan hukuman terhadap koruptor memang tidak bisa ditawar-tawar atau ditimbang-timbang, karena korupsi lebih jahat dari kejahatan phisik yang terlihat. Korupsi oleh seorang pejabat negara memang sangat serius dan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Menjual wewenang dengan menerima uang suap dan merugikan kepentingan negara, bangsa dan masyarakat luas, serta masa depan bangsa benar-benar harus dihukum keras.

Pejabat-pejabat tinggi bukanlah orang yang tidak berpenghasilan, ia sudah mendapatkan gaji, berbagai fasilitas dari negara baik berupa fasilitas perumahan, fasilitas mobil dinas, fasilitas perjalanan dinas, fasilitas serta tunjuangan-tunjangan lainnya, yang tentu sudah sangat cukup buat penghidupannya, karenanya bukan saja sangat tidak layak untuk melakukan pencurian uang negara, sangat tidak layak melakukan tindak kejahatan korupsi dan menerima uang suap dan menjual wewenang yang dipercayakan kepadanya.

Apalagi pejabat-pejabat yang sama sekali tidak memperlihatkan kinerja yang jelas dan melakukan korupsi dan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, memang harus dihukum sangat keras, supaya keadilan dan rasa keadilan bisa dirasakan oleh masyarakat.

Keberanian dan ketegasan pemerintah China dalam memberantas korupsi memang sangat di appresiasi dan dihargai oleh masyarakat China sendiri maupun masyarakat internasional, lalu bagaimana dengan negara kita Indonesia ? Apakah kita ingin tetap terpuruk dalam kehidupan yang tidak berkeadilan ? Dalam hukum yang tidak tegas ? Dan seolah hukum hanya berlaku tajam ke bawah dan tumpul ke atas ? Saat seorang pengangguran yang kelaparan mencuri ayam, begitu tertangkap langsung dijebloskan ke penjara dan berakhir di penjara. Sedangkan pejabat kaya raya yang mencuri uang negara dan uang rakyat dalam jumlah besar, hanya dijadikan aktor yang senyum-senyum di layar televisi dan menjadi headline-headline di surat khabar – surat khabar, serta tanpa kejelasan bagaimana proses hukum dan vonisnya. Dan ketika dijatuhkan vonis pengadilan hukumannya begitu ringan dan rakyat merasakan ketidakadilan dan seolah hukum bisa dibeli atau bisa dikendalikan oleh pejabat ataupun orang-orang yang berkantong tebal.

Bahkan ketika ada Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) dan Peringatan HUT RI 17 Agustus, para koruptor juga ikut menikmati remisi dan pengurangan hukuman. PP No. 99/2012 yang antara lain berisi mengenai pengetatan pemberian remisi atau pemotongan masa tahanan terhadap narapidana antara lain kasus korupsi, apakah sudah cukup ? Sewajarnya kalau hukuman buat koruptor adalah hukuman mati atau hukuman seumur hidup, maka kalaupun ada emisi maka hukumannya masih tetap berarti, tetapi kalau hukumannya hanya berupa vonis dalam satuan tahun atau bulan saja yang bahkan tidak lebih dari jumlah jari dalam satu tangan kita, maka remisi bisa membuat mereka seolah cuma bermain dengan hukuman itu sendiri. Apalagi selama di penjara kalau kemudian mereka bisa berjalan-jalan kemana-mana dengan seenaknya, apalah artinya hukuman itu ?

Adanya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) memang sangat dinantikan kinerjanya oleh masyarakat luas. Dengan keterbatasan personal dan usia lembaga KPK ini tentulah tidak bisa menuntaskan korupsi dalam waktu cepat. Tetapi niat dan itikad sudah ada untuk melakukan pemberantasan korupsi yang dimotori oleh KPK ini. Karenanya kita harapkan suatu hari nanti para pejabat kita bisa makin sadar, terutama setelah terjadinya regenerasi yang akan berjalan sejalan dengan berjalannya waktu.

Manusia punya akal budi, dan manusia merupakan makhluk paling sempurna di dunia ini, karenanya seharusnyalah hal-hal yang merupakan kejahatan kemanusiaan seperti korupsi ini bisa menjadi musuh dan momok yang seharusnya dihindarkan oleh seluruh manusia di bumi ini.

Korupsi dan Koruptor

Korupsi memang sudah merupakan musuh umat manusia di seluruh dunia. Korupsi selain merusak sendi-sendi kehidupan juga memiskinkan masyarakat. Korupsi menyebabkan kerugian yang tak terduga terhadap kemajuan suatu generasi manusia, sehingga uang yang seharusnya kembali ke masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat banyak, dicuri oleh para koruptor untuk kekayaan pribadi, kekayaan kelompok, ataupun untuk dibawa lari keluar negeri, dan juga disimpan di tempat yang tidak bermanfaat untuk kemajuan masyarakat sama sekali. Berikut ini adalah foto dari layar televisi pagi hari tanggal 28 Maret 2013 dari Metro TV yang bertajuk : Memiskinkan Koruptor.

Koruptor dan korupsi benar-benar sangat memuakkan, dan membuat rakyat kehilangan semangat untuk bekerja keras.

Bayangkan saja, koruptor begitu kaya raya, bahkan lebih kaya dari konglomerat yang bekerja keras berpuluh tahun mengumpulkan harta sedikit demi sedikit secara jelas dengan mempekerjakan banyak karyawan dan membayar pajak besar kepada negara. Koruptor ada yang masih sangat muda belia, tetapi sudah sangat kaya, dengan kerja dan kegiatan yang tidak jelas, hanya karena koruptor ini mempunyai jabatan di pemerintahan atau kekuasaan, dan mempunyai kewenangan untuk membuat keputusan penting di bidang yang menjadi kewenangannya saja.

Seorang koruptor bisa hidup mewah, memiliki berbagai rumah mewah, banyak mobil mewah, dan hidup senang. Dan hanya beberapa gelintir yang kebetulan sedang kesandung sial dan ketangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) lalu mulailah memasuki era baru, tiba-tiba menjadi aktor dan aktris (selebritis) yang mulai menjadi pusat pemberitaan, diwawancara kiri dan kanan oleh para wartawan, menjadi terkenal dan tetap saja kaya raya. Kemudian ketika banyak koruptor yang dihukum ringan, misalnya hukuman hanya 3 (tiga) tahun penjara dan hartanya hanya berkurang sedikit saja tanpa arti, maka rakyat pun mulai berfikir betapa enakya jadi koruptor.

Saat masih banyak rakyat yang miskin, masih banyak rakyat yang untuk makan besok saja harus bekerja besok dengan harapan ada cukup rejeki. Atau ada yang sudah bekerja keras tetapi tetap tidak cukup untuk menghidupi keluarga dan mesti bekerja lembur dengan pekerjaan yang berat lainnya. Maka kenyataan ini menjadikan rakyat makin jauh dari harapan hidup yang nyaman. Banyak orang yang mulai berfikir, kenapa tidak mereka saja yang korupsi, menjadi kaya, lalu dipenjara 3 (tiga) tahun, lalu keluar dan menjadi orang kaya.

Ketika sebagaian orang mulai membayangkan betapa ketika kuliah keluar kota, misalnya orang daerah datang ke kota Bandung atau ke kota Yogyakarta, lalu kuliah di sana, meninggalkan orang tua dan sanak keluarga dan teman-teman di kampung halaman, tinggal di asrama atau tempat kost yang terpencil, dan mesti belajar keras selama lebih dari 3 (tiga) tahun untuk menyelesaikan kuliahnya dan menamatkan Sarjana Strata Satu (S1). Dan setelah tamat saja masih bingung mencari kerja entah dimana, sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan pendidikannya, karena selain banyaknya tenaga kerja terdidik yang menganggur, juga kurangnya lapangan kerja yang ada. Mengharapkan lapangan kerja dari pemerintah bagaikan mimpi saja karena minimnya perekrutan pegawai negeri dan ketatnya persaingan, dan satu-satunya jalan keluar yang lebih mudah adalah bekerja di perusahaan swasta, baik formal maupun informal. Hanya segelintir orang-orang tertentu yang punya jiwa enterpreneur saja yang bisa memulai usaha sendiri, dan itupun sulit karena pendidikan yang didapat di bangku kuliah hanyalah teori-teori yang tidak menyiapkan mereka untuk menjadi wirausahawan muda yang baru.

Maka sebagai berandai-andai bila saja ada lowongan menjadi koruptor dengan hukuman penjara 3 (tiga) tahun saja dan dijamin kaya raya setelah keluar dari penjara 3 (tiga) tahun mendatang, maka pasti sangat banyak sekali masyarakat yang akan melamar pekerjaan ini. Mungkin kalau diumumkan ada lowongan semacam ini dan diminta berkumpul di lapangan Monas, maka mungkin saja bisa ada sangat banyak pelamar yang mengantri dan berebut tempat sedepan mungkin dan siap berbaris antri dari Monas mungkin sampai bundaran HI (bundaran Hotel Indonesia), atau bahkan bisa sampai Blok M. Silakan para ahli membuat survey mengenai hal ini.

Masyarakat akan berfikir bahwa 3 (tiga) tahun dipenjara itu hampir sama atau lebih singkat dengan tinggal di asrama atau tempat kost di luar kota yang jauh dari orang tua dan sanak saudara dan teman-teman sekampung halaman. Bahkan bila tinggal di asrama atau tempat kost mesti bayar, sedangkan tinggal di penjara gratis, bahkan bisa dapat ransum makan gratis, dengan bayangan yang jelas bahwa begitu keluar dari penjara sudah jadi orang yang kaya raya. Bukannya seperti pelajar yang baru tamat kuliah dan masih bingung dengan masa depan dan harus mulai dari nol dengan bekerja dan mencari pengalaman.

Makanya kami sependapat dengan bahasan Metro TV yang merupakan Editorial Media Indonesia yang berjudul “Memiskinkan Koruptor”, bahwa koruptor mesti dimiskinkan, seluruh harta dari korupsi dan pencucian uang harus disita oleh negara dan dikembalikan kepada negara untuk kepentingan masyarakat banyak. Dan para koruptor juga mesti dihukum pidana penjara yang setimpal, sehingga tidak mempunyai sisa masa hidup bebas untuk menikmati hasil korupsi yang berhasil disembunyikan ataupun dilarikan keluar negeri ataupun sudah dialihtangankan dan diubah wujudnya.

Bahkan dari para penonton Metro TV yang menelepon dan menanggapi Editorial Media Indonesia mengenai “Memiskinkan Koruptor” ini mengusulkan agar para koruptor ini juga pada KTP (kartu tanda penduduk) dan kartu identitas lainnya agar diberi tambahan label misalnya ditambahkan huruf K sebagai singkatan dari Koruptor.

Ini menunjukkan betapa masyarakat sudah tidak bisa menerima kenyataan betapa banyaknya koruptor yang dihukum ringan, sedangkan pencuri ayam yang hanya mencuri karena lapar bisa mengalami dihakimi dan dihukum lebih berat.

Penerapan pasal Pencucian Uang dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) merupakan satu langkah maju yang mesti dihargai. Bahkan Pembuktian Terbalik juga seharusnya sudah harus diterapkan.

Semoga pemerintah juga bisa makin meningkatkan system online dan system computerized untuk penerimaan pembayaran dan pelayanan kepada masyarakat untuk menghindarkan banyaknya loket, tatap muka dan persentuhan masyarakat dengan para pejabat agar makin mengurangi kemungkinan praktek pemerasan, pungli, suap, dan korupsi. Semoga masyarakat juga bisa punya rasa malu dan rasa takut bila melakukan korupsi di masa yang akan datang.