Sepeda listrik ramah lingkungan merupakan inovasi teknologi

Teknologi semakin hari semakin maju, dengan makin banyaknya penemuan-penemuan baru, maupun inovasi baru. Banyaknya ahli-ahli dari berbagai negara, dan adanya usaha R&D (research and development) telah mengantarkan kita pada teknologi yang sangat maju, sangat memanjakan kita, dan bahkan juga yang sangat ramah lingkungan.

Salah satu inovasi baru adalah rencana diluncurkannya dan dipasarkannya mobil terbang. Mobil terbang telah direncanakan akan mulai dipasarkan pada tahun 2017. Para pembuat mobil terbang telah memperlihatkan model terbaru mereka pada Festival Teknologi di Austin, Texas – Amerika Serikat dengan menjanjikan akan membuat satu model yang siap dijual pada tahun 2017.

Berikut ini adalah contoh gambar mobil terbang :

Mobil terbang

Mobil terbang

Mobil Terbang

Mobil Terbang

Aeromobil,_perusahaan_otomotif_asal_Slowakia baru-baru ini memamerkan mobil terbangnya di konferensi South by South-west Interactive. Mobil terbang tersebut bertemat duduk dua orang, dan menggunakan bahan bakar bensin biasa dan dapat melintasi jalan raya dan udara. Bisa lepas landas dari landasan pacu rumput atau aspal sepanjang hanya 300 meter atau kurang dari itu.

Para pembuat mobil terbang itu mengatakan bahwa mobil terbang bisa masuk ke tempat parkir mobil dan jalur mobil biasa, dan mempunyai kecepatan terbang maksimal 200 km/jam, dan kecepatan di jalan raya (di jalanan) tertinggi sampai kira-kira 160 km/jam.

Perusahaan itu mengatakan model yang sekarang ini yang dinamakan dengan model Flying Roadster, akan dijual dengan harga ratusan ribu US dollar. Kalau Flying Roadster cukup laris, Aeromobil berencana mengembangkan model yang bisa terbang sendiri.

Maka dunia pun akan banyak pilihan untuk kendaraan yang bisa dipakai untuk memanjakan manusia dalam memenuhi keinginannya dalam bermobilisasi ataupun berpergian. Seperti halnya sepeda listrik yang memberikan kemudahan dalam bertransportasi, dalam berkendaraan jarak dekat menengah.

Sepeda listrik (sepeda electric) jelas memberikan kelebihan dibandingkan dengan sepeda kayuh biasa. Semua kebisaan sepeda kayuh biasa ada pada sepeda listrik, sehingga sepeda listrik bisa dipakai untuk sebagai alat transportasi dengan menggowes seperti sepeda biasa, bisa dipakai untuk bersepeda ria, ataupun dalam kegiatan fun-bike lainnya. Tetapi sepeda listrik sekaligus juga memiliki kelebihan berupa tenaga listrik dari aki kering yang terpasang pada sepeda listriknya, yang berfungsi untuk menjalankan sepeda listrik dengan setrum dari aki nya saja, sehingga sudah tidak diperlukan tenaga untuk menggowes, sehingga sama sekali terasa sangat ringan, tidak melelahkan, bahkan sangat ramah lingkungan, karena tidak mengeluarkan asap, tidak ada hasil pembakaran (karena bukan sepeda motor), tidak ada getaran, dan tidak ada suara.

Dibandingkan dengan sepeda motor yang mesti dilakukan perawatan secara rutin, seperti ganti oli, tune up dan banyak kerepotan lainnya, maka pada sepeda listrik (sepeda electric) tidak dibutuhkan perawatan khusus, yang penting cukup melakukan pengisian aki keringnya dengan mencas dengan charger yang telah tersedia secara rutin sampai penuh. Kita bisa melakukan cas aki baik pada malam hari saat kita pulang setelah beraktivitas dengan sepeda listrik, ataupun di kantor bila kita memakainya ke kantor tempat kita bekerja. Sepeda listrik juga sangat praktis karena tidak dibutuhkan SIM (surat ijin mengendarai) dan juga tidak ada STNK dan BPKB.

Sepeda listrik juga sangat hemat, karena tidak butuh bahan bakar minyak (bbm), jadi tidak butuh bensin, sehingga tidak perlu antri di POM Bensin (SPBU). Bisa dibayangkan betapa sulitnya membeli bensin di SPBU yang mesti antri panjang, seperti bisa kita lihat pada foto berikut ini :

antri bensin

antri spbu

 

Karenanya_merupakan_suatu_keberuntungan bagi kita dengan kehadiran sepeda listrik yang sangat ramah lingkungan (sesuai dengan semangat go green), dan cukup dengan merawat dan mengisi aki saja secara teratur bisa membuat perjalanan kita dilingkungan perumahan, di jalan raya, ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, belanja ke warung atau supermarket, beli makanan di restoran dan rumah makan, serta kegiatan perjalanan menjadi menyenangkan dan tidak merepotkan.

Berikut ini adalah foto-foto sepeda listrik ramah lingkungan Go Green import, sebagai berikut :

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

 Untuk_melihat_penjelasan_lebih_lengkap mengenai sepeda listrik Go Green Import ini, silakan lihat di website :  http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

ataupun website : http://angelasalim.biz/sepeda-listrik-sepeda-electric-go-green

Silakan hubungi : Pak Awi, Hp : 081389007000

untuk info dan pemesanan Sepeda Listrik Go Green Import tersebut di atas.

Iklan :

Untuk sepeda listrik type-type lain atau sepeda listrik merk Selis, silakan lihat website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric

atau : website : http://rukorumahtinggal.com/harga-jual-sepeda-listrik-selis-baru-berbagai-type

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Bajaj sebagai transportasi umum khas Jakarta

Bajaj merupakan kendaraan umum ukuran kecil yang masih didambakan oleh masyarakat kota Jakarta.

Bentuk Bajaj yang khas menjadikan kendaraan umum ini membedakan moda transportasi di dalam kota Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia.

Tetapi kendaraan umum Bajaj ini tidak diperkenankan melalui jalan-jalan protokol utama, karenanya bajaj lebih banyak memenuhi kebutuhan transportasi dalam jarak dekat atau jarak menengah, dan sering juga masuk ke dalam kompleks perumahan atau ke lingkungan jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar.

Berikut ini contoh-contoh bajaj yang dimaksud :

Bajaj-bajaj yang malang melintang di lalu lintas di kota Jakarta ini adalah warna merah atau merah oranye.

Tetapi belakangan ini sudah ada Bajaj yang berwarna biru, dan bajaj biru telah mulai berbaur dengan bajaj merah walaupun jumlah bajaj biru masih relatif sedikit.

Perbedaan mendasar dari Bajaj berwarna merah dan Bajaj berwarna biru ini adalah dari bahan bakarnya.

Sama-sama beroda tiga, bajaj berwarna merah menggunakan bahan bakar berupa bensin campur. Sedangkan bajaj berwarna biru menggunakan bensin, tetapi bisa juga menggunakan BBG (bahan bakar gas), atau bajaj biru ini ada yang bisa menggunakan bensin sekaligus juga bisa menggunakan BBG (bahan bakar gas), jadi maksudnya pada bajaj biru bisa memiliki sekaligus dua alternatif bahan bakar yang difungsikan pada bajaj berwarna biru tersebut.

Perbedaan bajaj merah dan bajaj biru selain dari bahan bakarnya, kalau kita perhatikan bentuk fisiknya, karena umumnya bajaj merah ini sudah berumur tua, maka sering bentuknya sudah tidak rapi. Tetapi bahan body bajaj warna merah umumnya dari bahan besi pelat yang lebih tebal sehingga lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan. Di samping itu karena bahan bakarnya adalah bensin campur dan karena jenis mesinnya, ternyata bunyi bajaj merah ini sangat berisik dan getaran nya pun sangat kasar, sehingga kurang disukai dibandingkan dengan bajaj biru yang suara mesinnya jauh lebih halus. Tetapi walaupun dengan suara berisiknya dan getaran yang kasar, bajaj merah ini tetap dibutuhkan oleh para penumpang umum di kota Jakarta yang merasakan sangat kurang mendukungnya kendaraan umum (transportasi umum) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berhubung Bajaj berwarna biru ini relatif lebih baru, maka uang setoran yang harus dibayar para supir bajaj kepada pemilik (pengusaha) bajaj biru lebih mahal sehingga sering mengenakan ongkos lebih mahal dibandingkan dengan bajaj berwarna merah. Para pengusaha yang mengoperasikan bajaj berwarna biru ini umumnya belum balik modal, belum mencapai BEP (break even point), maka memang setoran yang dikenakan kepada pengendara bajaj berwarna biru lebih tinggi dibandingkan dengan bajaj berwarna merah.

Dengan makin menjamurnya sepeda motor di kota Jakarta ini, Bajaj dan sepeda motor saling berebut jalanan di jalan raya yang semakin menjadikan jalanan semakin semrawut. Para supir bajaj pun juga saat ini mesti bersaing dengan tukang ojek sepeda motor. Kapasitas bajaj ini bisa mengangkut 2 sampai 3 orang, walaupun kadang 4 orang pun kalau dipaksakan bisa saja masuk bila penumpangnya adalah 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak, dengan berpangkuan.

Sebagai kendaraan umum yang khas Jakarta, lukisan maupun miniatur bajaj sering menjadi koleksi yang diminati.

Mau lihat miniatur bajaj yang merupakan karya seni berupa handicraft dari bahan kuningan (bronze), bisa lihat di website : http://angelasalim.com/produk-miniatur-dari-sepeda-becak-bajaj

Miniatur Bajaj handicraft

Miniatur Bajaj handicraft

Sedangkan kalau Anda memerlukan kendaraan yang simple dan hemat serta bebas polusi, maka sepeda listrik / sepeda elektrik / sepeda electric / e-bike merupakan jawaban yang tepat, juga sangat cocok untuk kendaraan dalam kompleks perumahan atau di dalam lingkungan perumahan. Untuk sepeda listrik (sepeda electric), silakan lihat website sebagai berikut : http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Pedagang Asongan di Jakarta

Seperti yang sering kita saksikan, di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang asongan, bahkan sepanjang jalur Pantura (Pantai Utara) yang membentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur juga sering kita temui para pedagang asongan. Bahkan tak jarang mereka mengejar bus-bus yang melintas yang hendak berhenti, yang hendak masuk ke pom bensin (SPBU), yang hendak masuk terminal dan yang sedang ngetem menunggu penumpang.

Kita batasi saja mengenai pedagang asongan di kota Jakarta saja. Berikut ini beberapa foto pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya :

Foto-foto(gambar-gambar) ini dengan sangat jelas menunjukkan kegiatan pedagang asongan sedang bereaksi di tengah jalan di kota Jakarta.

Mereka bukan hanya menjual rokok atau air minum mineral atau sekedar lap tissue ataupun koran, tetapi juga barang-barang yang sangat besar pun dijual di tengah jalan di antara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Kasur yang diisi angin dengan ukuran 1,00 M x 2,00 M bisa juga dijual di tengah jalan oleh para pedagang asongan ini. Karena kasurnya isi angin, tentu saja ringan beratnya sehingga mudah dibawa-bawa, tetapi ukuran nya yang besar yaitu 1,00 M x 2,00 M memang menjadi perhatian khusus. Barang sebesar itu juga dijual oleh para pedagang asongan, juga seperti sofa dari plastik yang berisi angin, berbagai lukisan dan gambar pigura, bermacam buku, majalah,  peta, patung, hiasan, mainan anak-anak pun dijual oleh para pedagang asongan.

Fenomena ini memang sangat berbeda dengan di negara maju, bahkan di negara tetangga sesama negara Asean pun sulit ditemukan pedagang semacam ini di jalanan. Lalu kemana para pejabat dan wakil rakyat, apakah mereka pernah memikirkan mengenai wajah jalanan yang seharusnya di ibu kota Jakarta ini. Kalau di jalanan kita mesti ketemu dengan para pedagang asongan yang seolah tidak takut ditabrak kendaraan, para pak ogah yang memasang badan di belokan atau pada putaran balik sehingga mobil terpaksa berjalan lambat sehingga ada alasan pak ogah minta uang persenan. Bahkan saat berhenti di lampu merah, para pengamen mulai mendekat, ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, ada yang pura-pura melap kap mobil, ada yang bernyanyi sebisanya, yang semuanya hanya ingin meminta uang kepada para pengemudi mobil yang ditemuinya.

Jadi selain para pengemudi kendaraan pribadi atau mobil pribadi mesti berjalan menerobos kemacetan lalu lintas, juga berebut jalan dengan sepeda motor yang sudah tidak ada aturan jalur lagi, dan akhirnya juga ketemu dengan berbagai jenis manusia di lampu merah. Memang tidak semua lampu merah ada para pengamen ini, tetapi apakah para pengemudi mobil tidak mempunyai hak privasi, atau tidak punya hak untuk tenang atau tidak punya hak untuk tidak diganggu sama sekali ?

Keberadaan pedagang asongan mungkin juga bagi sebagian kecil pengemudi dijadikan kegiatan iseng dengan menanyakan harga, atau menawar dan membeli, tetapi kehadiran pedagang asongan yang makin hari makin banyak menunjukkan selain kelemahan pemerintah dalam menertibkan kehidupan masyarakat, juga menunjukkan banyaknya penganggur yang terpaksa mencari nafkah dengan tidak menghargai nyawa dan keselamatan diri mereka sendiri.

Memang sangat ironis bila dibandingkan dengan koruptor di Indonesia yang hartanya mencapai triliunan atau ratusan milyar rupiah, padahal masih sangat banyak masyarakat yang hanya sekedar mencari nafkah untuk kelangsungan hidup (bukan untuk kaya) saja sudah dengan tidak menghargai nyawanya dan keselamatan diri mereka sendiri. Berdagang dengan berlarian di jalanan, ataupun terjepit di antara mobil yang melintas. Mungkin saat kendaraan macet berat, para pedagang asongan ini lebih mudah beroperasi dan menjajakan dagangannya.

Bahkan ada juga penjual bakpao yang kadang menempatkan gerobak dagangannya di median di tengah jalan dan berharap bisa berjualan kepada para pengemudi mobil yang terjebak di kemacetan yang bosan atau stress dengan kenyataan yang tak bisa dihindarkannya.

Mungkin masalah pedagang asongan bisa menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat untuk memikirkan dan membuat solusi nyata, sehingga masalah kemanusiaan berupa keselamatan dan kesejahteraan para pedagang asongan juga menjadi agenda pemerintah ke depannya. Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi bangsa, akan memberi lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak perlu membahayakan nyawa dengan berdagang di antara hilir mudik mobil yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan orang yang berkeluyuran di tengah jalan.

Film bioskop Fast and Furious 6

Berikut ini adalah foto dari poster pada bioskop di Gajah Mada Plaza, sebagai berikut :

Film bioskop Fast & Furious 6 ini diputar sekaligus di 2 bioskop yang ada di Gajah Mada Plaza. Biasanya ada 2 film bioskop yang berbeda, tetapi minggu ini diputar hanya satu judul film saja.

Apa yang menarik dari Fast & Furious 6 ini ?

Seperti judul film yang memiliki kata Fast, yang dalam bahasa Indonesia berarti cepat, maka dalam film ini ditampilkan hal-hal yang berhubungan dengan cepat ini.

Kebut-kebutan mobil dalam kejar-kejaran untuk mengalahkan dan menangkap para kriminal merupakan adegan utama dalam film ini.

Dalam film ini, polisi terpaksa mengandalkan suatu regu mantan penjahat untuk membantu mengalahkan penjahat yang sangat lihay dan sulit untuk ditaklukkan karena kehebatan dan kecepatan mereka. Tentunya dengan imbalan regu mantan penjahat ini mendapatkan kebebasan bila mereka berhasil menangkap penjahat yang sangat lihay tersebut.

Di film ini, kebetulan perempuan mantan pacar dari pemimpin regu mantan penjahat ini justru diperalat oleh penjahat tersebut. Selama ini mereka mengira mantan pacarnya tersebut sudah tewas, tetapi ternyata belum tewas, tetapi sudah lupa ingatan, sehingga bekerja untuk penjahat lain tersebut, bahkan sempat menembak pemimpin regu mantan penjahat yang dulunya adalah pacarnya, karena ia sudah tidak mengenali dirinya dan masa lalunya.

Bagaimana cara dan jalan sehingga perempuan mantan pacar dari pemimpin regu mantan penjahat ini akhirnya bisa diingatkan kembali akan jati diri dan keluarganya menjadi hal menarik juga dalam film ini.

Dalam film ini kehebatan dalam kebut-kebutan mobil, digunakan untuk menangkap dan menaklukkan musuh yang sangat disegani yang merupakan penjahat yang bahkan menyerang konvoi militer dan berambisi menguasai peralatan militer canggih yang sangat membahayakan bila disalahgunakan.

Sepanjang film, disuguhkan kecepatan bahkan juga adegan pesawat terbang yang akan dipakai oleh penjahat untuk kabur pun mesti dikalahkan oleh regu mantan penjahat yang memiliki kemampuan bergerak cepat dengan kemampuan mengendarai mobil secara kebut-kebutan.

Kebut-kebutan ini bukanlah untuk ditiru.

Kebut-kebutan yang ada di Indonesia yang sering melibatkan geng motor sangat jauh berbeda. Kalau geng motor ini hanya berlaku kasar, tidak terdidik dan menjadi sumber kriminal baru, maka geng motor tidak lebih dari suatu geng yang menjadi musuh masyarakat dan akan dibasmi oleh pihak berwajib.

Kemampuan kebut-kebutan ataupun kemampuan kebut dan melarikan diri setelah merampas dan menjambret tas-tas wanita yang belakangan marak di kota Jakarta, hanya menunjukkan sifat pengecut dari kriminal-kriminal jalanan yang sangat meresahkan para wanita pengguna kendaraan umum seperti bajaj atau yang berpergian membawa tas sesuai kebutuhan dan sifat dari wanita itu sendiri.

Menunggu bus di halte bus, berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan umum pun para wanita ini bisa menjadi sasaran dari penjahat jalanan yang selalu siap menjambret tas mereka.

Sudah seharusnya aparat penegak hukum lebih proaktif, dan kemampuan CCTV dalam merekam kegiatan jalanan sebaiknya mulai diterapkan, sehingga kejahatan-kejahatan jalanan ini bisa dideteksi dan bisa ditangkap dengan segera.

Kalau kemampuan kebut-kebutan hanya dipakai untuk tindakan kriminal dan kejahatan atau untuk melarikan diri, maka memang semua itu tidak ada artinya. Seharusnya justru kemampuan kebut-kebutan ini bisa dimanfaatkan secara baik misalnya dalam ajang perlombaan resmi yang bergenggsi, di lapangan yang memang disediakan khusus untuk itu.

Masyarakat mesti kompak dan selalu siap membantu menangkap para penjahat jalanan yang beraksi di tengah keramaian kota Jakarta tersebut, agar para penjahat tersebut bisa diberantas, dan para wanita akan merasa aman berpegian dengan kendaraan umum.

Jalanan Macet Parkir pun Sulit

Seperti yang kita ketahui, untuk kota Jakarta, saat ini parkir di gedung-gedung atau mall sudah mencapai Rp. 4.000,- per jam. Lewat 1 detik pun sudah mesti bayar tambahan jam. Jadi bila 1 jam 1 detik berarti sudah dihitung 2 jam, yang berarti Rp, 8.000,-. Padahal kadang-kadang dari pengambilan tiket parkir masuk sampai mendapatkan tempat parkir, mungkin saja kita mesti berputar-putar dalam keputusasaan sampai lebih dari setengah jam untuk mendapatkan tempat parkir yang kosong. Keluar dari tempat parkir pun tidak mudah, bisa juga mencapai setengah jam. Tetapi semua kesulitan dari mencari tempat parkir yang kosong dan keluar dari tempat parkir yang mesti antri panjang juga termasuk biaya yang harus dibayarkan saat bayar biaya parkir, di sini jelas ada ketidak adilan. Ada hal yang salah. Gedung parkir dan pengelolanya makin kaya sedangkan konsumen makin tertindas. Apakah ini adalah kebijakan yang baik dan adil ?

Lalu kenapa juga biaya parkir bisa juga dikenakan kepada pemilik rumah, pemilik ruko, pemilik kantor yang parkir di depan rumahnya, di depan rukonya, ataupun di depan kantornya? Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah pusat keramaian. Dimana-mana muncul tukang parkir yang tidak jelas bekerja untuk siapa, kemana saja uang parkir yang didapat, semua uang tersebut tidak jelas pengelolaannya dan berakhir dimana ?

Bahkan di depan sekolah, tempat les buat anak-anak, rumah sakit pun parkir disamakan, padahal tidak ada nilai tambah (tidak ada penghasilan) dari kegiatan menjemput anak di sekolahan, atau mengantar anak ke tempat les, atau berobat di rumah sakit. Bukankah semua ini hanya memberatkan masyarakat. Sepertinya semua orang asal sudah menjaga jalanan, sudah boleh jadi preman jalanan atau raja jalanan dan memungut uang parkir.

Kalau kebijakan menaikkan harga parkir mobil adalah untuk mengurangi mobil pribadi, maka itu sama saja seperti petinju yang sudah terdesak di pojok ring tinju yang tidak bisa mundur lagi dan terus dicecar dengan pukulan-pukulan mematikan, maka petinju itu hanya bisa bertahan tanpa berdaya. Maka demikianlah pengendara mobil pribadi ketika harga parkir dinaikkan hanya bisa bertahan saja seperti petinju yang sudah terpojok di sudut ring tinju. Mau beralih ke kendaraan umum, yang mana? Kan belum siap.

Semrawut dan Macet di Jakarta

Dari foto di atas terlihat di sebelah kanan ada busway (Bus Trans Jakarta) di jalur busway, dan di depan sebelah kiri sebuah bus (Bus Metro Mini) memotong di depan busway (Bus Trans Jakarta) tersebut, dan di belakang bus (Bus Metro Mini) tersebut ada mobil pribadi dengan jarak yang sangat dekat (mepet), dan antara mobil pribadi dan busway (Bus Trans Jakarta) ada sepeda motor sedang memaksa masuk di space sempit antara busway (Bus Trans Jakarta) dan mobil pribadi. Hal ini selain sangat membahayakan nyawa dan juga sangat beresiko pada kerusakan mobil yang akan tergores oleh stang sepeda motor, juga menjadikan jalan raya di Jakarta sangat semrawut.  Tidak ada pemisahan antara mobil dan sepeda motor dan sepeda motor boleh seenaknya menyelonong ke mana-mana. memang nyawa sepertinya kurang berharga dan sulit mempertahankan body dan cat mobil dalam keadaan mulus karena dengan mudahnya disenggol oleh sepeda motor.

Kalau selalu pemerintah atau pejabat berfikir bahwa pengguna mobil adalah orang kaya, maka itu jelas salah besar !

Kenapa salah besar ? Karena mobil di Jakarta bukanlah barang mewah untuk dipamerkan, tetapi kendaraan yang dibutuhkan karena kegagalan pemerintah dalam melayani rakyatnya dengan transportasi massal yang baik, yang murah, dan manusiawi.

Mobil juga ada kelas-kelas nya, baik dari merk nya, dari type nya maupun dari harga nya. Kalau mobil-mobil termurah dari merk-merk biasa dan bukan dari merk-merk yang dikenal sebagai mobil mewah, maka mestinya dikategorikan sebagai mobil biasa, dan tidak layak disamakan ataupun diklasifikasikan sebagai mobil mewah.

Pernah kita mendengar kata-kata sebagai berikut : bisa beli mobil, tetapi tidak sanggup beli bahan bakar minyak (bbm) nya. Jadi mungkin saja ada kelompok kelas masyarakat yang hanya mampu membeli mobil (mungkin juga masih kredit dan belum lunas), tetapi kesulitan membeli bbm (bahan bakar minyak) nya. Dalam kondisi transportasi massal belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa rakyat mesti membeli mobil walaupun beli dengan terpaksa sehingga menyulitkan likwiditas keuangan.

Memang negara bisa berpesta pora dengan pajak kendaraan yang begitu besar dan menggiurkan, tetapi masyarakat begitu tersiksa, apalagi saat sudah memiliki mobil, terpaksa jadi supir (dengan menyetir mobil sendiri) karena untuk membayar supir belum tentu mampu, lalu ketika masuk ke dalam hiruk pikuk jalanan, ternyata kadang untuk jarak tempuh pendek saja bisa memakan waktu berjam-jam, karena kemacetan yang luar biasa.

Jalanan begitu semrawut, sepeda motor bisa dengan seenaknya memotong di depan mobil, atau memepet dari sebelah kiri, memepet dari sebelah kanan, bahkan kadang kala ada sepeda motor yang dengan seenaknya berjalan berlawan arah arus jalan. Semuanya hanya mencari peluang atau kesempatan untuk berjalan lebih cepat, karena sudah terlalu banyak waktu habis di jalan, sedangkan sudah ditunggu orang, atau sudah terlambat dari janji atau terlambat dari jadwal. Orang-orang pada buru-buru dan cenderung emosional dan stress, hal yang tidak baik untuk kesehatan jiwa tentunya.

Mobil-mobil juga sering sangat berdekatan, kadang-kadang mobil di sebelah kiri atau pun di sebelah kanan bisa bersentuhan kaca spionnya atau bertabrakan kaca spionnya. Kemacetan membuat pengendara mobil sulit memprediksi waktu tempuh. Waktu yang dihabiskan di jalanan begitu lama sehingga membuat waktu produktif sangat tersita, sehingga membuat banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk berproduksi, untuk bekerja, untuk mencari penghasilan, dan untuk memiliki waktu bersama keluarga.

Menaikkan uang parkir dengan harapan pemakai kendaraan pribadi (mobil pribadi) beralih ke kendaraan umum itu adalah mustahil bila transportasi umum tidak memadai, tidak aman, dan tidak nyaman. Sering kita menyaksikan jalur busway yang kosong tanpa bus, sedangkan di luar jalur busway begitu macet luar biasa. Tentu hal ini sangat ironis sekali, bahkan banyak penumpang busway yang menumpuk dan antri untuk naik busway. Seharusnya jalur busway yang sudah mengambil lebar jalan sehingga menjadikan jalan makin sempit, agar bisa digunakan secara maksimal, busway mesti ditambah dan tidak seharusnya penumpang antri. Bukankah calon penumpang yang ada saja sudah antri, apalagi kalau pemilik kendaraan pribadi ikut naik busway, maka antrian akan tambah parah? Jadi mestinya busway cukup dan tidak terjadi antri yang menyulitkan di halte-halte busway supaya pengendara mobil pribadi mau beralih dan naik busway.

Pencanangan dimulainya pembangunan MRT (mass rapid transport) oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Jokowi merupakan langkah awal yang baik, walaupun sudah sangat terlambat. Tetapi bagaimanapun juga terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang kita bisa berharap pada Bapak Jokowi karena beliau memiliki pemikiran bahwa transportasi umum mesti lebih diprioritaskan, mesti ditata dan dibangun. Bukan seperti yang selama ini terjadi, rakyat dibiarkan mencari jalan pintas sendiri, sehingga bermunculan sepeda motor – sepeda motor yang membuat lalu lintas makin semrawut dan tidak keruan. Kecelakaan lalu lintas makin tinggi dan banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalanan dengan banyaknya sepeda motor, apalagi pengendaranya banyak yang asal bisa saja. Munculnya banyak sepeda motor juga sangat menyulitkan usaha mobil-mobil angkot (angkutan kota) yang menjadi kekurangan penumpang. Konsumsi bahan bakar minyak juga menjadi meningkat luar biasa, karena bila banyak sepeda motor maka konsumsi bahan bakar akan banyak juga, berbeda dengan kendaraan umum, yang tentunya jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan konsumsi bbm (bahan bakar minyak) yang sedikit sudah mampu mengangkut banyak orang. Jadi yang terjadi selama ini sangat bertolak belakang dengan keinginan menghemat bahan bakar minyak (bbm), dengan membiarkan sepeda motor makin banyak dan transportasi massal tidak dikembangkan dengan sewajarnya.

Di samping itu, banyaknya beton-beton pembatas jalan dari beton atau beton-beton yang cuma ditaruh begitu saja di jalanan, sebenarnya juga sangat membahayakan pengendara lalu lintas. Mestinya pembatas-pembatas jalanan menggunakan material-material yang manusiawi juga, sehingga bila secara tidak sengaja disenggol oleh mobil, maka mobilnya tidak rusak. Kita bisa melihat beton-beton pembatas yang tinggi-tinggi di ujung Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba, atau di Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading. Sedikit saja mobil menyentuh beton tersebut maka akan rusaklah mobilnya. Beton-beton pembatas jalan ini pun sangat membahayakan terutama saat terjadi banjir, karena beton-beton tersebut tidak terlihat dan tertutup genangan air banjir.

Memang lalu lintas begitu macet dan semrawut, tetapi kita masih berharap hadirnya Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi bisa membuka jalan untuk mengatasinya secara bertahap agar generasi mendatang bisa lebih mudah dalam berpergian, dengan lebih banyak alternatif kendaraan umum yang nyaman, aman dan layak serta manusiawi.