Sepeda listrik ramah lingkungan merupakan inovasi teknologi

Teknologi semakin hari semakin maju, dengan makin banyaknya penemuan-penemuan baru, maupun inovasi baru. Banyaknya ahli-ahli dari berbagai negara, dan adanya usaha R&D (research and development) telah mengantarkan kita pada teknologi yang sangat maju, sangat memanjakan kita, dan bahkan juga yang sangat ramah lingkungan.

Salah satu inovasi baru adalah rencana diluncurkannya dan dipasarkannya mobil terbang. Mobil terbang telah direncanakan akan mulai dipasarkan pada tahun 2017. Para pembuat mobil terbang telah memperlihatkan model terbaru mereka pada Festival Teknologi di Austin, Texas – Amerika Serikat dengan menjanjikan akan membuat satu model yang siap dijual pada tahun 2017.

Berikut ini adalah contoh gambar mobil terbang :

Mobil terbang

Mobil terbang

Mobil Terbang

Mobil Terbang

Aeromobil,_perusahaan_otomotif_asal_Slowakia baru-baru ini memamerkan mobil terbangnya di konferensi South by South-west Interactive. Mobil terbang tersebut bertemat duduk dua orang, dan menggunakan bahan bakar bensin biasa dan dapat melintasi jalan raya dan udara. Bisa lepas landas dari landasan pacu rumput atau aspal sepanjang hanya 300 meter atau kurang dari itu.

Para pembuat mobil terbang itu mengatakan bahwa mobil terbang bisa masuk ke tempat parkir mobil dan jalur mobil biasa, dan mempunyai kecepatan terbang maksimal 200 km/jam, dan kecepatan di jalan raya (di jalanan) tertinggi sampai kira-kira 160 km/jam.

Perusahaan itu mengatakan model yang sekarang ini yang dinamakan dengan model Flying Roadster, akan dijual dengan harga ratusan ribu US dollar. Kalau Flying Roadster cukup laris, Aeromobil berencana mengembangkan model yang bisa terbang sendiri.

Maka dunia pun akan banyak pilihan untuk kendaraan yang bisa dipakai untuk memanjakan manusia dalam memenuhi keinginannya dalam bermobilisasi ataupun berpergian. Seperti halnya sepeda listrik yang memberikan kemudahan dalam bertransportasi, dalam berkendaraan jarak dekat menengah.

Sepeda listrik (sepeda electric) jelas memberikan kelebihan dibandingkan dengan sepeda kayuh biasa. Semua kebisaan sepeda kayuh biasa ada pada sepeda listrik, sehingga sepeda listrik bisa dipakai untuk sebagai alat transportasi dengan menggowes seperti sepeda biasa, bisa dipakai untuk bersepeda ria, ataupun dalam kegiatan fun-bike lainnya. Tetapi sepeda listrik sekaligus juga memiliki kelebihan berupa tenaga listrik dari aki kering yang terpasang pada sepeda listriknya, yang berfungsi untuk menjalankan sepeda listrik dengan setrum dari aki nya saja, sehingga sudah tidak diperlukan tenaga untuk menggowes, sehingga sama sekali terasa sangat ringan, tidak melelahkan, bahkan sangat ramah lingkungan, karena tidak mengeluarkan asap, tidak ada hasil pembakaran (karena bukan sepeda motor), tidak ada getaran, dan tidak ada suara.

Dibandingkan dengan sepeda motor yang mesti dilakukan perawatan secara rutin, seperti ganti oli, tune up dan banyak kerepotan lainnya, maka pada sepeda listrik (sepeda electric) tidak dibutuhkan perawatan khusus, yang penting cukup melakukan pengisian aki keringnya dengan mencas dengan charger yang telah tersedia secara rutin sampai penuh. Kita bisa melakukan cas aki baik pada malam hari saat kita pulang setelah beraktivitas dengan sepeda listrik, ataupun di kantor bila kita memakainya ke kantor tempat kita bekerja. Sepeda listrik juga sangat praktis karena tidak dibutuhkan SIM (surat ijin mengendarai) dan juga tidak ada STNK dan BPKB.

Sepeda listrik juga sangat hemat, karena tidak butuh bahan bakar minyak (bbm), jadi tidak butuh bensin, sehingga tidak perlu antri di POM Bensin (SPBU). Bisa dibayangkan betapa sulitnya membeli bensin di SPBU yang mesti antri panjang, seperti bisa kita lihat pada foto berikut ini :

antri bensin

antri spbu

 

Karenanya_merupakan_suatu_keberuntungan bagi kita dengan kehadiran sepeda listrik yang sangat ramah lingkungan (sesuai dengan semangat go green), dan cukup dengan merawat dan mengisi aki saja secara teratur bisa membuat perjalanan kita dilingkungan perumahan, di jalan raya, ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, belanja ke warung atau supermarket, beli makanan di restoran dan rumah makan, serta kegiatan perjalanan menjadi menyenangkan dan tidak merepotkan.

Berikut ini adalah foto-foto sepeda listrik ramah lingkungan Go Green import, sebagai berikut :

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

 Untuk_melihat_penjelasan_lebih_lengkap mengenai sepeda listrik Go Green Import ini, silakan lihat di website :  http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

ataupun website : http://angelasalim.biz/sepeda-listrik-sepeda-electric-go-green

Silakan hubungi : Pak Awi, Hp : 081389007000

untuk info dan pemesanan Sepeda Listrik Go Green Import tersebut di atas.

Iklan :

Untuk sepeda listrik type-type lain atau sepeda listrik merk Selis, silakan lihat website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric

atau : website : http://rukorumahtinggal.com/harga-jual-sepeda-listrik-selis-baru-berbagai-type

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Bajaj sebagai transportasi umum khas Jakarta

Bajaj merupakan kendaraan umum ukuran kecil yang masih didambakan oleh masyarakat kota Jakarta.

Bentuk Bajaj yang khas menjadikan kendaraan umum ini membedakan moda transportasi di dalam kota Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia.

Tetapi kendaraan umum Bajaj ini tidak diperkenankan melalui jalan-jalan protokol utama, karenanya bajaj lebih banyak memenuhi kebutuhan transportasi dalam jarak dekat atau jarak menengah, dan sering juga masuk ke dalam kompleks perumahan atau ke lingkungan jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar.

Berikut ini contoh-contoh bajaj yang dimaksud :

Bajaj-bajaj yang malang melintang di lalu lintas di kota Jakarta ini adalah warna merah atau merah oranye.

Tetapi belakangan ini sudah ada Bajaj yang berwarna biru, dan bajaj biru telah mulai berbaur dengan bajaj merah walaupun jumlah bajaj biru masih relatif sedikit.

Perbedaan mendasar dari Bajaj berwarna merah dan Bajaj berwarna biru ini adalah dari bahan bakarnya.

Sama-sama beroda tiga, bajaj berwarna merah menggunakan bahan bakar berupa bensin campur. Sedangkan bajaj berwarna biru menggunakan bensin, tetapi bisa juga menggunakan BBG (bahan bakar gas), atau bajaj biru ini ada yang bisa menggunakan bensin sekaligus juga bisa menggunakan BBG (bahan bakar gas), jadi maksudnya pada bajaj biru bisa memiliki sekaligus dua alternatif bahan bakar yang difungsikan pada bajaj berwarna biru tersebut.

Perbedaan bajaj merah dan bajaj biru selain dari bahan bakarnya, kalau kita perhatikan bentuk fisiknya, karena umumnya bajaj merah ini sudah berumur tua, maka sering bentuknya sudah tidak rapi. Tetapi bahan body bajaj warna merah umumnya dari bahan besi pelat yang lebih tebal sehingga lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan. Di samping itu karena bahan bakarnya adalah bensin campur dan karena jenis mesinnya, ternyata bunyi bajaj merah ini sangat berisik dan getaran nya pun sangat kasar, sehingga kurang disukai dibandingkan dengan bajaj biru yang suara mesinnya jauh lebih halus. Tetapi walaupun dengan suara berisiknya dan getaran yang kasar, bajaj merah ini tetap dibutuhkan oleh para penumpang umum di kota Jakarta yang merasakan sangat kurang mendukungnya kendaraan umum (transportasi umum) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berhubung Bajaj berwarna biru ini relatif lebih baru, maka uang setoran yang harus dibayar para supir bajaj kepada pemilik (pengusaha) bajaj biru lebih mahal sehingga sering mengenakan ongkos lebih mahal dibandingkan dengan bajaj berwarna merah. Para pengusaha yang mengoperasikan bajaj berwarna biru ini umumnya belum balik modal, belum mencapai BEP (break even point), maka memang setoran yang dikenakan kepada pengendara bajaj berwarna biru lebih tinggi dibandingkan dengan bajaj berwarna merah.

Dengan makin menjamurnya sepeda motor di kota Jakarta ini, Bajaj dan sepeda motor saling berebut jalanan di jalan raya yang semakin menjadikan jalanan semakin semrawut. Para supir bajaj pun juga saat ini mesti bersaing dengan tukang ojek sepeda motor. Kapasitas bajaj ini bisa mengangkut 2 sampai 3 orang, walaupun kadang 4 orang pun kalau dipaksakan bisa saja masuk bila penumpangnya adalah 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak, dengan berpangkuan.

Sebagai kendaraan umum yang khas Jakarta, lukisan maupun miniatur bajaj sering menjadi koleksi yang diminati.

Mau lihat miniatur bajaj yang merupakan karya seni berupa handicraft dari bahan kuningan (bronze), bisa lihat di website : http://angelasalim.com/produk-miniatur-dari-sepeda-becak-bajaj

Miniatur Bajaj handicraft

Miniatur Bajaj handicraft

Sedangkan kalau Anda memerlukan kendaraan yang simple dan hemat serta bebas polusi, maka sepeda listrik / sepeda elektrik / sepeda electric / e-bike merupakan jawaban yang tepat, juga sangat cocok untuk kendaraan dalam kompleks perumahan atau di dalam lingkungan perumahan. Untuk sepeda listrik (sepeda electric), silakan lihat website sebagai berikut : http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Pameran Kendaraan Tempur TNI AD pada HUT ke 68

Saat ini masih berlangsung pameran kendaraan tempur TNI AD di Lapangan Monas – Jakarta Pusat.

Sebenarnya pameran kendaraan tempur dari TNI AD ini merupakan peringatan HUT TNI ke 68.

HUT TNI ke  – 68  ini akan jatuh pada hari Sabtu tanggal 5 Oktober 2013 ini.

Tema Hari TNI tahun ini menunjukkan, TNI berkomitmen untuk bisa menjadi profesional, militan, dan solid serta dekat dengan rakyat. Tanpa semua itu mustahil TNI akan kuat.

Dan pameran kendaraan tempur (alutsista) ini akan berlangsung sampai dengan hari Senin tgl. 7 Oktober 2013.

Pameran ini berlangsung di Lapangan Monas dan terbuka untuk umum serta gratis (tidak diperlukan tiket masuk).

Maka silakan datang dan lihat pamerannya selagi masih berlangsung.

Berikut ini merupakan sebagian saja dari foto beberapa kendaraan tempur (alutsista) yang dipamerkan :

Pameran ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat dari dekat dan menyentuh, memegang alat tempur berupa kendaraan lapis baja, tank baja, kendaraan angkut tentara, kendaraan angkut tank baja, serta kendaraan tempur lainnya.

Para pengunjung juga bisa naik ke atas tank baja,  duduk di atas tank baja (cocok kalau mengajak anak-anak) dan bisa mengabadikannya dalam foto-foto kamera.

Jenderal Besar Soedirman pernah mengatakan bahwa hubungan antara tentara dan rakyat ibarat ikan dengan air. Itu adalah diktum. Tanpa rakyat, TNI tidak eksis. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi TNI untuk selalu menyayangi dan berada di pihak rakyat.

Dan Selamat Ulang Tahun ke -68 TNI (Tentara Nasional Indonesia) : 5 Oktober 1945 – 5 Oktober 2013.

Pedagang Asongan di Jakarta

Seperti yang sering kita saksikan, di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang asongan, bahkan sepanjang jalur Pantura (Pantai Utara) yang membentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur juga sering kita temui para pedagang asongan. Bahkan tak jarang mereka mengejar bus-bus yang melintas yang hendak berhenti, yang hendak masuk ke pom bensin (SPBU), yang hendak masuk terminal dan yang sedang ngetem menunggu penumpang.

Kita batasi saja mengenai pedagang asongan di kota Jakarta saja. Berikut ini beberapa foto pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya :

Foto-foto(gambar-gambar) ini dengan sangat jelas menunjukkan kegiatan pedagang asongan sedang bereaksi di tengah jalan di kota Jakarta.

Mereka bukan hanya menjual rokok atau air minum mineral atau sekedar lap tissue ataupun koran, tetapi juga barang-barang yang sangat besar pun dijual di tengah jalan di antara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Kasur yang diisi angin dengan ukuran 1,00 M x 2,00 M bisa juga dijual di tengah jalan oleh para pedagang asongan ini. Karena kasurnya isi angin, tentu saja ringan beratnya sehingga mudah dibawa-bawa, tetapi ukuran nya yang besar yaitu 1,00 M x 2,00 M memang menjadi perhatian khusus. Barang sebesar itu juga dijual oleh para pedagang asongan, juga seperti sofa dari plastik yang berisi angin, berbagai lukisan dan gambar pigura, bermacam buku, majalah,  peta, patung, hiasan, mainan anak-anak pun dijual oleh para pedagang asongan.

Fenomena ini memang sangat berbeda dengan di negara maju, bahkan di negara tetangga sesama negara Asean pun sulit ditemukan pedagang semacam ini di jalanan. Lalu kemana para pejabat dan wakil rakyat, apakah mereka pernah memikirkan mengenai wajah jalanan yang seharusnya di ibu kota Jakarta ini. Kalau di jalanan kita mesti ketemu dengan para pedagang asongan yang seolah tidak takut ditabrak kendaraan, para pak ogah yang memasang badan di belokan atau pada putaran balik sehingga mobil terpaksa berjalan lambat sehingga ada alasan pak ogah minta uang persenan. Bahkan saat berhenti di lampu merah, para pengamen mulai mendekat, ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, ada yang pura-pura melap kap mobil, ada yang bernyanyi sebisanya, yang semuanya hanya ingin meminta uang kepada para pengemudi mobil yang ditemuinya.

Jadi selain para pengemudi kendaraan pribadi atau mobil pribadi mesti berjalan menerobos kemacetan lalu lintas, juga berebut jalan dengan sepeda motor yang sudah tidak ada aturan jalur lagi, dan akhirnya juga ketemu dengan berbagai jenis manusia di lampu merah. Memang tidak semua lampu merah ada para pengamen ini, tetapi apakah para pengemudi mobil tidak mempunyai hak privasi, atau tidak punya hak untuk tenang atau tidak punya hak untuk tidak diganggu sama sekali ?

Keberadaan pedagang asongan mungkin juga bagi sebagian kecil pengemudi dijadikan kegiatan iseng dengan menanyakan harga, atau menawar dan membeli, tetapi kehadiran pedagang asongan yang makin hari makin banyak menunjukkan selain kelemahan pemerintah dalam menertibkan kehidupan masyarakat, juga menunjukkan banyaknya penganggur yang terpaksa mencari nafkah dengan tidak menghargai nyawa dan keselamatan diri mereka sendiri.

Memang sangat ironis bila dibandingkan dengan koruptor di Indonesia yang hartanya mencapai triliunan atau ratusan milyar rupiah, padahal masih sangat banyak masyarakat yang hanya sekedar mencari nafkah untuk kelangsungan hidup (bukan untuk kaya) saja sudah dengan tidak menghargai nyawanya dan keselamatan diri mereka sendiri. Berdagang dengan berlarian di jalanan, ataupun terjepit di antara mobil yang melintas. Mungkin saat kendaraan macet berat, para pedagang asongan ini lebih mudah beroperasi dan menjajakan dagangannya.

Bahkan ada juga penjual bakpao yang kadang menempatkan gerobak dagangannya di median di tengah jalan dan berharap bisa berjualan kepada para pengemudi mobil yang terjebak di kemacetan yang bosan atau stress dengan kenyataan yang tak bisa dihindarkannya.

Mungkin masalah pedagang asongan bisa menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat untuk memikirkan dan membuat solusi nyata, sehingga masalah kemanusiaan berupa keselamatan dan kesejahteraan para pedagang asongan juga menjadi agenda pemerintah ke depannya. Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi bangsa, akan memberi lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak perlu membahayakan nyawa dengan berdagang di antara hilir mudik mobil yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan orang yang berkeluyuran di tengah jalan.

Kartu Jakarta Sehat (KJS)

Sesuai janji pasangan Jokowi – Ahok sejak sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jaya sudah dicanangkan mengenai Kartu Jakarta Sehat (JKS).

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok dalam Pilkada DKI Jaya dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya bukan hanya semata karena adanya wacana Kartu Jakarta Sehat ini, tetapi memang karena rakyat sudah tidak puas dan tidak bisa menerima dengan kepemimpinan petahana atau Gubernur lama yang ternyata tidak membangun sesuatu yang berarti untuk kota Jakarta. Tanpa pembangunan yang berarti sama saja membuat bom waktu dan menghancurkan masa depan karena tidak bisa menerima perkembangan jaman, perkembangan jumlah penduduk, berkembangnya lalu lintas manusia dan kendaraan di kota Jakarta yang sudah terlanjur macet dan diproyeksikan akan terjadi macet total pada waktunya, yang mana kendaraan akan tidak bisa bergerak lagi karena tidak ada perkembangan pembangunan yang memadai dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat kota Jakarta.

Untunglah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru yang mempunyai pemikiran yang sama dengan rakyat yang dipimpinnya, bahwa perlu langkah nyata untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat.

Kalau dalam hal lalu lintas, maka diambil langkah nyata untuk mempersiapkan dan membangun monorel, membangun MRT (Mass Rapid Transport), menyelesaikan seluruh jalur busway yang penyelesaiannya terkatung-katung disertai pembenahan busway dan operasionalnya.

Dalam hal mengatasi banjir musiman, juga telah diambil langkah nyata seperti merevitalisasi Waduk Pluit, dengan merelokasi penduduk ke rumah susun sederhana (rusun) Marunda, dan mengeruk,  menggali, serta mengembalikan Waduk Pluit supaya bisa menampung air dalam kapasitas yang semestinya sebagai salah satu solusi mengatasi banjir musiman, selain langkah-langkah pembangunan lainnya, seperti memperbaiki drainase kota, membuat banyak resapan air, serta berbagai langkah inovatif lainnya. Memang kita mesti menghargai semua kerja keras ini, karena semua pekerjaan ini adalah untuk kita dan keturunan kita yang akan bisa dirasakan di masa mendatang.

Walaupun rasanya semua pekerjaan ini sudah sangat terlambat dimulai, tetapi ada yang memulai itu benar-benar mesti diajungi jempol. Karena hanya ada langkah awal lah baru bisa ada langkah lanjutan, ada langkah yang benar dan ada langkah akhir. Tanpa mengerjakan apa-apa tetapi berkoar-koar mengenai ahlinya Jakarta itu hanyalah omong kosong tak berharga untuk jualan pada masyarakat yang sengaja dibikin bodoh saja.

Majunya teknologi informasi, baik berupa media sosial, handphone, blackberry, iphone, dan teknologi internet serta aplikasinya, telah membuat masyarakat menjadi melek dan tidak bisa dibodohi dengan slogan-slogan kosong yang tidak berharga, seperti mengaku ahlinya Jakarta padahal apapun tidak ada yang dikerjakan untuk kemajuan kota Jakarta.

Dalam hal kesehatan dan pengobatan, Gubernur Jokowi langsung memenuhi janjinya dengan meluncurkan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Langkah ini sangat bermanfaat untuk warga Jakarta, terutama untuk warga miskin ataupun warga yang rentan miskin. Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat tentulah menunjukkan bahwa selama ini memang banyak masyarakat miskin yang selama ini sakit tetapi tidak pernah berobat karena miskin. Melonjaknya pengguna Kartu Jakarta Sehat, dengan penuhnya puskesmas-puskesmas dalam melayani warga Jakarta yang sakit pengguna Kartu Jakarta Sehat membuktikan benarnya pemikiran dan analisa Pak Jokowi.

Pengguna Kartu Jakarta Sehat (JKS) bisa berobat gratis ke Puskesmas, dan bila penyakitnya agak berat dan mesti dirujuk ke rumah sakit, maka dari Puskesmas dokternya akan memberikan rujukan ke rumah sakit, sehingga pasien bisa berobat secara gratis.

Kalau ada yang berfikir negatif dan ingin menyalahkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini memang sangat tidak rasional. Membludaknya orang berobat ini karena mereka sakit, dan kalau sudah berobat dan sembuh, lama kelamaan akan terjadi keseimbangan, karena orang sakit tak mungkin mau antri di puskesmas atau di rumah sakit untuk berobat dan menerima obat untuk dikonsumsi. Karenanya pada saatnya tidak mungkin akan terjadi antri yang membludak lagi, karena sudah lebih banyak orang sehat dan bukannya seperti dulu lebih banyak orang sakit.

Dan kalaupun ada orang yang kelihatannya mampu, kemudian mau ikut antri berobat gratis, maka bukanlah kesalahan program Kartu Jakarta Sehat (JKS), tetapi berarti memang orang yang berobat itu bukanlah orang kaya, setidaknya bukan orang yang waktunya begitu berharganya karena rela antri, bahkan rela berdesakan bersama orang-orang sakit yang mungkin saja ada yang bisa menular.

Kalau kemudian ada rumah sakit yang tidak mendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini dengan alasan rugi dan alasan lainnya, maka memang sangat ironis. Bisnis rumah sakit tentu selama ini sudah cukup banyak untung, kalau merelakan sedikit waktu dan biaya untuk kemanusiaan, apakah tidak rela juga ?

Sedangkan pihak Pemda juga bersiap untuk selalu berdialog untuk mencari solusi “win – win solution”, solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, atau solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Ketika terjadi titik jenuh, terjadi keseimbangan atau equilibrium, maka tidak mungkin akan ada antrian luar biasa lagi orang di puskesmas, karena akan lebih banyak orang sehat yang tidak perlu ke puskesmas ataupun ke rumah sakit.

Dan pada saat itu hanya orang yang perlu berobat atau mendesak harus berobatlah yang akan memenuhi puskesmas dan rumah sakit, dan tentunya jumlah itu tidak akan sebanyak pada saat dimulainya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Orang yang sudah sehat kemudian akan bisa bekerja dan berproduksi serta menjadi produktif, dan kemudian akan meningkatkan taraf hidup, dan saat taraf hidup sudah cukup baik, mereka pun akan mencari kemewahan ataupun kemudahan lainnya, sehingga mungkin akan datang ke dokter dan rumah sakit sendiri tanpa memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) karena tidak butuh lagi pengobatan gratis yang bersifat massal ini.

Kita ambil contoh saja, walaupun mungkin contoh ini sangat jauh dari bahasan di atas. Saat film Iron Man diputar pertama kali di bioskop, orang-orang antri membeli tiket dan ingin cepat-cepat menontonnya. Tetapi ketika sudah masuk minggu kedua, minggu ketiga dan seterusnya, pasti peminatnya akan turun dan bahkan lama-kelamaan, gratis pun orang sudah mulai malas untuk menontonnya karena sudah pernah nonton, atau memang suasana hati dan minat sudah berubah, baik bosan karena sudah pernah nonton ataupun karena sudah ada film baru yang lebih menarik ataupun waktunya lebih sesuai dengan hal yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Jadi jelas Kartu Jakarta Sehat (KJS) merupakan langkah bagus yang harus didukung, dan kalaupun ada hambatan di dalam pelaksanaannya, maka seharusnya kita membantu mendukungnya untuk lebih sukses lagi, dan bukan dengan berwacana aneh-aneh hanya untuk menyalahkan saja tanpa berbuat apa-apa.

Kartu Jakarta Sehat merupakan bentuk pendekatan kemanusiaan yang mestinya kita hargai dan kita dukung bersama. Bila masyarakat sehat, maka kita ada di lingkungan orang sehat, maka kita pun akan lebih mudah mempertahankan diri tetap sehat.

Tidak ada yang sempurna, demikianlah kata-kata yang sering kita dengar, maka kalau ada sedikit plus minus dalam pelaksanaannya dalam tahap awalnya, justru kita yang harus membantu mendukung dan menyukseskannya. Yang penting inti dari semua yang ada, adalah niat baik dan kebaikan dari hati orang yang menjalankan program ini.

BUMN Innovation Expo & Award 2013

Pada hari Kamis tanggal 27 Juni 2013 sampai dengan hari Minggu tanggal 30 Juni 2013 akan berlangsung pameran bertema : “BUMN Innovation Expo & Award 2013”, belokasi di JCC (Jakarta Convention Center) – Jakarta.

BUMN merupakan singkatan dari Badan Usaha Milik Negara.

Berikut ini adalah foto panggung pameran tersebut :

Bila kita mendengar kata BUMN, apa yang biasanya terlintas di benak kita ?

Sepintas tentu akan terlintas suatu usaha monopoli oleh negara, badan usaha yang selalu merugi, badan usaha yang tidak efisien, badan usaha yang kalah bersaing dengan swasta, badan usaha yang tidak dipimpin oleh profesional yang semestinya, badan usaha yang berkaitan dengan politik, badan usaha yang mau menangnya sendiri, dan sebagainya.

Stigma jelek ini memang sudah mendarah daging di benak masyarakat banyak, tetapi seharusnya BUMN ini harus memperbaiki diri. Sudah seharusnya menjadi badan usaha yang menguntungkan, karena memiliki kelebihan monopoli, memiliki kelebihan berupa fasilitas yang melekat pada perusahaan tersebut maupun karena penyelenggaranya adalah pihak pemerintah.

Kita lihat saja beberapa contoh perusahaan BUMN seperti dalam berbagai lini industri berikut ini :

– Dalam penerbangan udara, Merpati Nusantara Airlines merugi dan nyaris bangkrut. Sedangkan Garuda Indonesia juga mencatat sejarah kelam dengan meninggalnya pejuang HAM (Hak Asazi Manusia) Munir yang merupakan penumpang Garuda Indonesia Airlines dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam (Belanda) yang transit di Singapore. Ataupun jatuhnya pesawat Garuda Indonesia Airlines yang menyebabkan meninggalnya pejabat Australia di Bali saat kecelakaan pendaratan di airport Ngurah Rai di Pulau Bali, yang saat itu juga ada Bapak Din Samsudin yang juga penumpang Garuda Indonesia Airlines  yang hampir saja celaka juga, kalau tidak berhasil menyelamatkan diri. Dan pesawat dari Indonesia pernah mengalami dilarang mendarat di Eropah. Memang ini merupakan masa lampau, tetapi bayangan ini tidak serta merta hilang dari benak kita. Hadirnya berbagai merek penerbangan swasta di Indonesia, seperti Lion Air, Sriwijaya Air, dan banyak lagi memang merupakan ujian apakah perusahaan BUMN yang mendapat perhatian dan fasilitas lebih dari negara tersebut apakah mampu menunjukkan kedigjayaannya.

– Dalam transportasi kereta api, tampaknya masih jauh dari profesional. Saat China dan Jepang sudah memiliki dan mengoperasikan kereta api super cepat yang menghubungkan kota-kota besar dengan jarak yang sangat jauh dengan kecepatan super cepat, maka kereta api kita masih jauh dari layak. Kereta api kita masih sangat jauh dari modern. Bahkan banyak perlintasan kereta api yang melewati jalan raya dan sangat rawan kecelakaan, sewaktu-waktu bisa bertabrakan dengan mobil atau kendaraan lain karena adanya persilangan dengan moda lalu lintas darat lainnya. Apalagi perlintasan di dalam kota Jakarta yang macet parah, kalau ada mobil terjebak di perlintasan kereta api, dengan ketakutan harus menunggu melewati perlintasan kereta api, padahal jalanan macet dan mau maju ataupun mundur sangat sulit. Maka langkah besar harus dilakukan pada usaha kereta api ini, mesti dilakukan modernisasi besar-besaran dan bersifat mendesak.

– Dalam hal tenaga listrik PLN, masih sering terjadi pemadaman listrik secara mendadak, ataupun masih banyak daerah tertentu yang kekurangan supply listrik atau adanya daerah yang masih belum dijangkau oleh listrik PLN. Seringnya kita mendengar terjadinya kebakaran karena kortsliting listrik, mestinya sudah bisa dihindarkan, karena pihak PLN seharusnya bisa berperan aktif membuat aturan dan pemeriksaan standar penggunaan listrik dan instalasi yang aman. Sehingga alasan kortsiling listrik sudah seharusnya tidak lagi boleh menjadi alasan terjadinya berbagai kebakaran pada rumah-rumah, toko, pasar, dan sebagainya.

Kalau kita bicara negatifnya, memang sangat dirasakan oleh masyarakat, tetapi harapan kita dengan mengetahui kekurangan inilah merupakan titik awal untuk mengambil langkah dalam memperbaikinya.

BUMN Innovation Expo & Award 2013 ini diikuti oleh cukup banyak perusahaan, dan untuk masuk ke acara pameran tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Perusahaan-perusahaan yang ikut masing-masing mempromosikan usahanya ataupun memperkenalkan perusahaan kepada para pengunjungnya.

Beberapa perusahaan yang ikut dan mempromosikan usahanya antara lain, adalah sebagai berikut :

Perusahaan farmasi BioFarma, yang memperkenalkan vaksinasi anti influenza. Vaksin Influenza HA yang dikenal sebagai Flubio dengan dosis hanya 0,5 ml per dos nya disuntikkan pada lengan tangan, dapat mencegah dan menghindarkan kita dari sakit flu ataupun influenza sampai dengan 1 (satu) tahun. Dengan harga promosi Rp. 100.000,- saja semua orang di atas umur 12 tahun bisa mendapatkan suntikan vaksinasi ini. Sedangkan menurut staff marketing BioFarma, biasanya di rumah sakit – rumah sakit besar, biayanya adalah Rp. 150.000,-. Sehingga selama 1 (satu) tahun kita akan terbebas dari sakit flu.

Perusahaan keuangan Bank Mandiri, memperkenalkan e-money yang merupakan peningkatan dari E-Toll card yang hanya bisa digunakan pada pembayaran biaya jalan tol saja, sehingga e-money nantinya juga bisa untuk membayar transaksi lainnya dan bukan hanya untuk membayar jalan toll saja. Bank Mandiri menyediakan kartu e-money yang sudah diisi dengan nilai Rp. 50.000,- yang bisa langsung dibeli dengan harga yang sama yaitu Rp. 50.000,-.

Perusahaan kontruksi Adhi Karya, memperkenalkan proyek yang akan dikerjakannya antara lain adalah Monorel Indonesia. Monorel yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia semoga segera terealisasi, dan bukan lagi sebagai wacana, apalagi seolah hanya ada bangkai-bangkai tiang beton pondasi tiang (kolom) penyangga monorel yang terbengkalai di sepanjang jalan Rasuna Said ataupun di samping gedung Manggala Wanabhakti menuju Senayan di tengah-tengah kota Jakarta. Keberadaan Monorel sudah sangat terlambat, dan semoga kehadirannya bisa segera terwujud.

Perusahaan konstruksi Waskita Karya, memperkenalkan antara lain Spun Pile yang memang merupakan tiang pancang khas produksi Waskita Karya. Spun Pile merupakan tiang pancang dengan bentuk tiang bulat dan di tengahnya berlubang, untuk mengurangi beban dari tiang itu sendiri.

Perusahaan kantor berita Antara, memperkenalkan workshop fotografi yang akan diadakan pada tanggal 28 Juni 2013 jam 14.00 sore. Serta workshop video jurnalis pada tanggal 29 Juni 2013 jam 13.00 siang. Semuanya diselenggarakan di stand Antara di JCC Jakarta Selatan.

Masih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dan semoga semuanya memberikan angin segar bagi kemajuan BUMN di Indonesia.

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Jalan Rusak Menambah Kemacetan Lalu Lintas

Terlampir ini adalah foto dari Harian “Warta Kota” terbitan hari Senin tanggal 7 Maret 2011 pada rubrik : Metropolitan, dan komentar di bawah foto tersebut adalah sebagai berikut : Jl. RE Martadinata, tepatnya di depan pintu 03 Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, mengalami kerusakan parah sehingga menimbulkan genangan saat hujan.

Jalan rusak

Fenomena seperti ini memang cukup banyak ditemukan di jalan-jalan di dalam kota Jakarta. Pada saat tak ada genangan air, lubang-lubang pada jalan, atau kerusakan jalan akan lebih terlihat bentuk dan ukurannya sehingga kendaraan lebih bisa menghindar dari lubang, itu pun kalau masih ada ruang untuk menghindar. Kalau tak ada ruang untuk menghindar, terpaksa kendaraan berjalan melalui lubang-lubang dengan berbagai resiko seperti rusaknya ban ataupun penyotnya bagian terbawah dari kendaraan. Dalam keadaan jalan sedikit sepi, lubang-lubang ini bisa sangat mematikan, karena pengendaraan yang sedang mencoba melintas dengan lebih cepat, bisa terbentur keras pada lubang tersebut, yang selain bisa menyebabkan pecahnya ban, atau rusaknya ban, juga bisa menyebabkan kecelakaan. Kadang-kadang pengendara tidak bisa menghindar, karena ada yang lubangnya baru kelihatan setelah kendaraan sangat dekat dengan lubang tersebut.

Banyaknya lubang dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, menyebabkan kendaraan melambat, sehingga menambah kemacetan lalu lintas. Dalam keadaan banjir, bukan hanya lubang ini yang tidak bisa diperkirakan oleh pengendara, bahkan kanstin pemisah jalur lambat dan jalur cepat, ataupun beton pemisah dengan jalur busway sama sekali tidak terlihat, dan menambah resiko bahaya bagi kendaraan yang mencoba melewati banjir. Bahkan got-got terbuka di pinggir jalan pun tak bisa diketahui persis posisinya sehingga menjadi sangat berbahaya. Masalahnya kalau ada hujan lebat yang agak lama saja, cukup banyak ruas jalan di Jakarta yang tergenang sampai batas-batas jalan itu tidak terlihat sama sekali. Dan kemacetan pun makin menjadi-jadi. Kadang-kadang pengendara bisa terjebak berjam-jam tanpa bergerak maju sama sekali.

Tentunya semua pihak menginginkan agar jalan-jalan umum bisa berfungsi baik, karena kecelakaan bisa menimpa siapa saja, kemacetan sangat melelahkan dan membuat stress. Lebih besar kerugian pada masyarakat baik yang rusak kendaraannya maupun yang mengalami kecelakaan dibandingkan dengan biaya perbaikan jalan itu sendiri. Banyaknya penganguran, seharusnya bisa direkrut tenaganya untuk dididik untuk bekerja dalam ikut melaksanakan perbaikan-perbaikan jalan. Memberikan pekerjaan kepada penganggur akan lebih bermanfaat dari pada memberikan uang tunai kepada orang miskin yang akan habis begitu saja, dan tidak produktif. Pekerjaan perbaikan dan perawatan jalan secara rutin yang memberikan penghasilan bagi pekerja, juga akan bermanfaat meningkatkan daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan konsumsi yang akan ikut berperan dalam menggerakkan roda perekonomian juga.

Perbaikan jalan memang ada, tapi sangat lambat sekali, dan sangat menganggu pengguna jalan. Seharusnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat mengganggu kepentingan orang banyak ini, bisa dilakukan secara cepat dan express, maksudnya seharusnya pekerjaan dilakukan secara non-stop dalam 24 jam sehari, dan mengutamakan pekerjaan pada malam hari saat gangguan menjadi berkurang. Kami sangat yakin banyak pekerja yang siap bekerja malam hari, bahkan banyak pekerja yang siap bekerja lembur agar mendapatkan penghasilan lebih. Kalau menyangkut kepentingan umum, seharusnya sudah tidak boleh menghitung untung rugi atau besarnya biaya. Dan kalaupun biaya pekerjaan menjadi lebih mahal untuk membayar pekerja yang bekerja lembur atau bekerja tengah malam, seharusnya tidak ada kerugian juga buat otoritas, karena uangnya juga mengalir untuk pekerja rakyat negara kita. Bukankah ini lebih baik daripada membagi-bagikan uang kepada orang miskin, sehingga terjadi antrian orang miskin, dan banyak orang kemudian mengaku jadi orang miskin agar mendapat uang. Seharusnya kita bisa membangun rasa bangga kepada masyarakat karena mereka bisa bekerja dengan baik, bukan menerima uang dengan mengaku sebagai orang miskin, sehingga budaya malu untuk hal-hal yang bersifat negatif bisa membuat bangsa lebih berbudaya.

Perbaikan jalan pun sebaiknya mesti yang baik dan kuat, karena kerusakan berulang-ulang akan sangat merugikan juga. Sebagai contoh, jalur jalan busway yang baru dibangun belum lama saja sudah rusak lagi dan rusak lagi. Perbaikannya juga lama, dan berulang-ulang. Buswaynya pun terpaksa jalan ke luar jalur busway nya. Kalau dari awal perencanaan konstruksi jalannya sudah memperhitungkan faktor kekuatan yang semestinya dengan faktor keamanan yang cukup, mestinya hal ini tidak boleh terjadi. Memang beban busway yang penuh penumpang dengan kecepatan laju yang tinggi dan juga dengan pengereman yang mendadak memerlukan konstruksi yang kuat pada jalur jalan busway ini. Zaman sudah begitu maju, semua ini bisa diprediksi dan bisa dihitung, konstruksi jalan juga bisa direncanakan selayaknya dengan perhitungan yang matang. Dengan memperhitungkan kondisi tanah, kadar air tanah baik saat musim kemarau maupun musim hujan, daya dukung tanah dan jenis tanahnya, maka seharusnya semua jalur busway bisa dibuat yang kuat dan tidak mudah rusak. Bukankah lebih mahal kalau setelah rusak lalu harus dibongkar dan dibangun kembali. Jangankan hanya membuat jalur jalan busway yang kuat dan tahan, membangun runway pesawat terbang di atas rawa-rawa pun manusia sanggup melakukannya.

Bila saja kondisi tanah pendukung jalan ternyata kurang bagus, seharusnya dilakukan dulu perbaikan tanah (soil improvement). Berbagai teknik perbaikan tanah bisa diterapkan sesuai dengan keadaan tanah dan kondisi di lapangan. Bisa saja menggunakan perkuatan dengan cerucuk, atau perbaikan tanah dengan teknik injeksi, column stone, penggalian dan penggantian lapisan tanah pendukung, dan disertai pemadatan yang cukup. Sehingga benar-benar didapat lapisan tanah yang sudah mempunyai daya dukung dengan faktor keamanan yang cukup, sehingga bisa dibuatkan lapisan beton ataupun aspal hotmix di atasnya. Kalau perencanaan dan pelaksanaan dilakukan secara baik dan memenuhi syarat-syarat perhitungan teknis, seharusnya kerusakan jalan bisa diminimalisasi.

Kalau saja manajemen perbaikan dan perawatan jalan bisa berjalan baik dengan tingkat respon yang cepat, maka kerugian di pihak pengguna jalan akan berkurang, dan setidaknya bisa mengurangi kemacetan lalu lintas, walaupun ini bukanlah solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Tetapi yang terjadi saat ini, ketika ada kerusakan parah di jalan-jalan, masyarakat hanya bisa menggerutu dan putus asa, dan tak mengerti apa yang harus dilakukan agar perbaikan jalan itu bisa segera terealisasi. Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi jalan rusak yang dibiarkan berlama-lama membahayakan pengguna jalan dan juga menambah kemacetan lalu lintas. Harapan kita semua agar segalanya makin hari makin baik, karena manusia punya akal budi dan bisa merubah dunia dan keadaan yang jelek menjadi baik.