Sepeda Motor yang ugal-ugalan bisa membahayakan pengguna jalan

Sepeda Motor yang menjamur di kota-kota besar di Indonesia, terutama di ibukota Jakarta, sangatlah rawan kecelakaan, karena banyaknya pengendara yang tidak disiplin, melanggar rambu jalan dan marka jalan, bahkan menerobos lampu merah, menaiki trotoar untuk pejalan kaki, menyerempet masuk ruang kosong yang sempit antara 2 mobil yang berdekatan, ataupun bahkan melawan arus lalu lintas.

Bahkan banyak juga yang memotong persis di depan mobil yang sedang berjalan, ataupun memotong jalan pada mobil yang sedang mundur untuk parkir atau berbelok arah. Sepertinya pengendara sepeda motor yang tidak disiplin ini sudah lupa manfaat sepeda motor yang ia gunakan, yang seharusnya membawa keamanan dan kemudahan, bukan sebaiknya bisa membawa celaka baik buat dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Mungkin sebagian alasan inilah, makanya pemerintah provinsi DKI Jaya mulai melakukan zona larangan motor, dan berikut ini kami mengutip dari Harian Warta Kota, terbitan Hari Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”, sebagai berikut :

Larangan jalan

Direktorat_Lalu_Lintas_Polda_Metro_Jaya_bersama_Pemprov_DKI tengah membahas perluasan area larangan sepeda motor. Selain di Jl. MH Thamrin dan Jl. Medan Merdeka Barat, seperti yang selama ini diuji coba, nantinya beberapa ruas jalan juga akan diberlakukan aturan yang sama.

Polda Metro Jaya mengakui, uji pelarangan melintas bagi sepeda motor di Jl. MH. Thamrin hingga Jalan Medan merdeka Barat sejauh ini berjalan efektif.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Restu Mulya Budiyanto mengatakan, berdasarkan evaluasi sementara, pelarangan itu cukup efektif untuk menekan kesemrawutan.

Untuk itu uji coba pelarangan motor akan diperluas dengan menambah 9 ruas jalan lainnya. “Rencananya di Jalan Industri, Jalan Angkasa, Jalan Garuda, Jalan Bungur, Jalan Otista, Jalan Minangkabau, Jalan Dr Soepomo, Jalan Dr. Sahardjo, dan Jalan Jendral Sudirman,” kata Restu, Senin (5/1).

Namun Restu juga mengatakan, perluasan ini masih harus menunggu evaluasi total selama sebulan pelaksanaan di Jalan Thamrin – Medan Merdeka Barat, yakni pada 14/1 mendatang.

Rencananya, untuk pelarangan sepeda motor di Jalan Jenderal Sudirman, kemungkinan hanya diberlakukan hingga Semanggi saja. “Kita rencanakan ada  empat tahap uji coba,” jelasnya.

Namun menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, rencana perluasan area larangan sepeda motor itu masih sebatas wacana. Ditegaskan Rikwanto, dalam waktu dekat ini belum ada perluasan area larangan.

“Pemprov DKI dan Diklantas masih menunggu evaluasi. Sekarang kan masih uji coba, Kalau kajian-kajian silakan saja. Kita tunggu tanggal 17 (Januari 2015) apakah diberlakukan secara permanen,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (5/1).

Dikatakannya banyak hal yang dipertimbangkan sebelum larangan diberlakukan di tempat lain. Mulai dari ketersediaan angkutan umum, jalan alternatif, hingga area parkir.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membenarkan adanya rencana memperluas larangan sepeda motor. Namun kali ini baru sebatas mempanjang mulai dari Jalan Merdeka Barat – Jalan MH Thamrin ditambah Jalan Jendral Sudirman. Alasannya, kondisi di jalan tersebut sudah memadai dari segi transportasi publik.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa perluasan pembatasan sepeda motor menunggu pengadaan ratusan bus Transjakarta sebagai penggantinya.

“Kita akan perluas sampai Semanggi, mungkin sampai ke seluruh Sudirman atau Ratu Plaza. Tunggu busnya cukup,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (5/1).

Mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku dalam pembatasan kendaraan roda dua di jalan protokol itu perlu adanya landasan hukumnya. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 191 tahun 2014 para pengendara roda dua dilarang melintasi Jalan MH Thamrin sampai Jalan Medan merdeka Barat, Jakarta Pusat. “Ada aturannya kok,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Benjamin Bukit. Menurutnya perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya dilakukan sampai Jalan Jendral Sudirman.

Untuk sembilan ruas jalan yang diwacanakan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Benjamin mengaku belum mengetahui. “Saya belum dapat informasi soal itu. Tapi, berdasarkan instruksi Gubernur perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya sampai Jalan Jenderal Sudirman.” katanya.

Mantan Wakil Kepala Dinas Perhubungan itu menambahkan bahwa yang bisa memberlakukan kebijakan pelarangan kendaraan roda dua adalah Pemerintah DKI Jakarta. Benjamin berencana dalam satu atau dua hari ke depan berkoordinasi dengan pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Menanggapi rencana perluasan larangan sepeda motor di jalanan Jakarta, para pengendara sepeda motor mengeluh. Seperti dikemukakan, Roni Surono (29), hal ini akan semakin mempersempit ruang gerak pesepeda motor.

“Ini jelas melanggar HAM. Bagaimana nasib pemotor nantinya jika jalan-jalan utama semuanya ditutup untuk motor. Ini kebijakan yang sangat tidak adil.” kata warga Bekasi itu saat ditemui di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Senin (5/1).

Evan (52), pengendara lainnya, melihat kebijakan ini semakin memtertegas perlakuan pemerintah yang lebih mementingkan si kaya atau masyarakat yang menggunakan mobil. Sementara, kata dia, masyarakat kalangan bawah pengguna sepeda motor seperti hendak disisihkan.

“Mereka (pemerintah) seperti tidak punya hati nurani. Ini sangat memprihatinkan, dimana orang kaya mendapat perhatian khusus dibandiung orang-orang berpenghasilan rendah. Jakarta ini bukan hanya milik orang kaya dan bermobil. Pengguna sepeda motor juga berhak melintasi jalan Jakarta. Kami sama-sama bayar pajak, kenapa tidak boleh menikmati?” ujar warga Klender, Jakarta Timur tersebut.

Demikian pula dengan beberapa pengusaha aksesoris sepeda motor di Jalan Otista Raya yang mengaku terkejut mendengar adanya rencana kebijakan pelarangan kendaraan bermotor melintasi Jalan Otista. “(Kebijakan) Itu sangat tidak masuk akal,” kata Edi Santoso, pemilik toko aksesoris sepeda motor Sumber Baru dengan nada tinggi.

“Ini akan merugikan banyak orang,. Tidak hanya kami pelaku usaha otomotif di sini, tapi pengendara motor. Ini kan jalan utama. Setiap hari dilewati banyak motor. Akan banyak orang marah jika kebijakan ini benar-benar diterapkan,” katanya. (sab/bin/fha).

Demikianlah kutipan selengkapnya dari Artikel di halaman 1 dari koran Warta Kota terbitan Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”.

Memang kita semestinya mendukung pemerintah provinsi DKI Jaya, untuk mengatur dan mengurai kemacetan, termasuk pengendalian kendaraan yang melintas di dalam kota serta jenis dan ukuran kendaraan. Dan pelaksanaan yang terintegrasi dengan penyediaan angkutan massal serta transportasi umum yang murah, mesti kita dukung. Kalau niat baik pemerintah untuk menambah angkutan massal serta penyediaan bus Transjakarta yang memenuhi kebutuhan keamanan, kecepatan, dan kenyamanan bagi masyarakat serta pengembangan transportasi publik lainnya termasuk juga peremajaan angkutan umum, maka tentu mayoritas masyarakat DKI Jakarta lah yang akan meninkmatinya.

Kalau kesemrawutan sepeda motor yang berseliweran di dalam kota Jakarta dibiarkan dan berkembang tidak terkendali, maka malah akan membahayakan, membahayakan pengguna kendaraan lain, membahayakan orang-orang yang berjalan kaki serta akan menambah macetnya kota Jakarta. Satu tindakan yang tidak masuk akal adalah banyaknya sepeda motor yang berjalan berlawanan arus lalu lintas, sepertinya pengguna sepeda motor tidak mau diatur dan mulai seenaknya sendiri. Dengan suaranya yang bising, asap knalpotnya yang mengotori udara sekitar, serta seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan cidera maupun kematian, maka pengguna sepeda motor sebaiknya juga menaati rambu-rambu lalu lintas, dan sopan dalam berlalu lintas.

Kita mengharapkan semua pengendara sepeda motor, termasuk pengendara mobil pribadi dan angkutan umum untuk santun dalam berlalu lintas.

Iklan :

Beralihlah ke sepeda listrik yang ramah lingkungan, hemat dan praktis.

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik Selis, silakan hubungi : Ibu Maria / Pak  Lim, Hp : 0818168990.  

Transportasi murah dan mudah

Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, memang saat ini masih sangat direpotkan dengan masalah kemacetan lalu lintas. Macet, macet, dan macet adalah “menu makanan” sehari-hari yang sangat meletihkan bagi warga kota Jakarta.

Apa yang ada hari ini, tentu adalah hasil apa yang dilakukan pemerintah dan otoritas sebelumnya, dari level pusat sampai dengan pemda. Bila pemerintah pusat tidak pernah melakukan aksi nyata mengatasi masalah ini, tentu tidak akan bisa mengatasi masalah ini.

Untunglah saat ini kita memiliki Gubernur dan Wakil Gubernur yaitu Jokowi dan Ahok yang muncul dengan berbagai ide yang cemerlang, dengan berbagai kebijakan yang pro rakyat banyak, dan mau bekerja dan memikirkan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur sebelumnya yaitu Foke yang tidak berprestasi apa-apa selama menjabat dan membiarkan masyarakat Jakarta mengalami kemacetan yang makin parah dan menjalani hidup yang tidak manusiawi di kemacetan dan keruwetan kota Jakarta.

Pemikiran Gubernur Jokowi yang terintergrasi sekaligus memikirkan berbagai aspek, baik dari segi pengatasan macet, pengatasan banjir, penyiapan lahan terbuka (taman) untuk masyarakat, dan pemindahan dan pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rusun susun), pemindahan pedagang kaki lima (PKL) ke dalam gedung pasar merupakan suatu langkah dan tindakan yang harus diacungi jempol.

Sebagai contoh, pak Jokowi telah mulai memikirkan dan akan merealisasikan MRT (Mass Rapid Transport), Monorel, dan memaksimalkan fungsi busway. Bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) dan penerapan mobil berplat nomer ganjil genap di jalur jalan tertentu, benar-benar menunjukkan kinerja bekerja seorang pejabat, dan bukannya gaya pejabat yang digaji dan ternyata menghabiskan sebagian waktu kerja nya hanya untuk bermain golf, atau pejabat yang hanya beriklan atas keberhasilan orang lain.

Pemikiran untuk pembuatan resapan-resapan di kavling-kavling perkantoran, perumahan, dan revitalisasi waduk seperti waduk Pluit, merupakan contoh pelaksanaan pencegahan banjir. Bahkan pembuatan taman kota merupakan pemberian hak publik kepada masyarakat untuk bisa menikmati hawa alam yang segar di tengah kota.

Pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rumah susun) tentu sesuatu yang harus diterima sebagai suatu berkah. Bayangkan saja saat ini harga rusun (rumah susun) ukuran studio 18 M2 di Jakarta saja sudah bernilai ratusan juta, belum lagi dengan perjalanan waktu nanti harganya bisa naik banyak setelah ramai dan maju.

Pemindahan pedagang kaki lima (PKL) di daerah Tanah Abang dan direlokasi ke dalam Pasar Tanah Abang Blok G merupakan contoh keberhasilan luar biasa dari Gubernur Jokowi, yang sangat jeli melihat kenyataan di lapangan. Kegiatan blusukan Jokowi ternyata sangat efektif menghasilkan suatu kebijakan yang luar biasa. Gubernur-gubernur yang lalu tidak ada yang mampu mengatasi masalah Tanah Abang. Baru pak Jokowi yang mampu dan kita harus mengacungkan jempol. Kalau ternyata saat ini di Pasar Tanah Abang blok G masih sepi itu adalah hal wajar. Saat pedagang Pasar Pagi (Asemka) dipindah ke Pasar Pagi Mangga Dua, awalnya juga  pedagang nya ribut sepi, tetapi bayangkan saja saat ini coba lihat Pasar Pagi Mangga Dua, apakah masih ada yang mengatakan menyesal ? Ternyata bahkan saat ini mencari kios di Pasar Pagi Mangga Dua pun selain sulit dapat tempat, harga kios yang sangat sangat mahal, dan harga sewa yang juga luar biasa mahal. Dan berapa besar uang beredar di Pasar Pagi Mangga Dua memang telah membuat orang bisa menghargai arti sebuah kios kecil di Pasar Pagi Mangga Dua. Demikian pula dengan pedagang yang telah mendapat kios di Pasar Tanah Abang Blok G, maka suatu hari nanti akan merasakan betapa berharganya dan beruntungnya mereka.

Kembali bicara mengenai kemacetan di Jakarta, sebenarnya adalah kegagalan dari pemerintah selama ini yang tidak membuat kebijakan jangka panjang pembangunan infrastruktur yang semestinya. Minimnya kereta api dan sangat minimnya perkembangan jalan merupakan bukti kegagalan pembangunan infrastruktur yang semestinya. Membludaknya mobil pribadi dan sepeda motor merupakan contoh kesalahan besar dalam penerapan kebijakan yang baik. Apalagi diluncurkannya mobil murah pada saat kemacetan belum teratasi benar-benar suatu kebijakan yang sangat merusak. Memang warga yang tidak cukup kaya mungkin saja diharapkan bisa beli mobil murah, tapi barang murah dengan kwalitas murahan juga bisa menjadi bumerang biaya perawatan mahal. Semakin menambah polusi lalu lintas selain menambah kemacetan.

Padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang murah dan mudah. Bukan mobil pribadi yang murah. Rakyat tidak perlu dijadikan supir-supir dan menyetir mobil sendiri. Kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh AQJ anak bungsu dari artis kondang Ahmad Dhani merupakan contoh kegagalan kebijakan pemerintah selama ini, sehingga terpaksa anak-anak pun belajar menyetir mobil sendiri, karena anak-anak sulit berpergian dengan aman dengan transportasi umum. Orang tua tentu tak mungkin membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum yang tidak memenuhi syarat keamanan bahkan buat orang dewasa sekalipun. Kendaraan umum selain sangat minim, antri lama untuk mendapatkan kendaraan umum, berdiri berdesak-desakan di bus yang penuh sesak, dan banyak copet, jambret, pengamen dan sebagainya yang sangat mengkhawatirkan tentu membuat orang tua tidak bisa membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum. Karenanya bagi yang mampu seperti Ahmad Dhani mesti meyediakan mobil kepada setiap anaknya, dan dilengkapi dengan supir pribadi. Tetapi tentu saja dari kanak-kanak anak sudah merasa perlu belajar menyetir karena kebijakan pemerintah adalah menjadikan masyarakat menjadi supir, dengan program membanjiri kota dengan mobil, mobil murah, dan sepeda motor.

Membanjiri kota Jakarta dengan mobil pribadi, mobil murah, dan sepeda motor merupakan kebijakan yang sangat tidak manusiawi. Bahkan terkesan menindas masyarakat dengan membiarkan masyarakat mencari jalan keluar sendiri dari masalah berat kemacetan lalu lintas. Kenapa pemerintah dan pejabat tidak bisa menjadi negarawan yang memikirkan masa depan masyarakat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportsi umum yang murah dan mudah. Ambil contoh, negara Singapore, kita bisa naik MRT bahkan dari airport langsung ke berbagai mall dan pusat-pusat bisnis dan perkantoran. Orang cukup naik MRT dan tak perlu beli mobil, tak perlu memikirkan soal parkir mobil, dan yang penting tidak perlu menjadi supir. Resiko sebagai seorang supir (walaupun keadaan memaksa) adalah kecelakaan, kalau kecelakaan seperti yang dialami AQJ anak bungsu Ahmad Dhani apakah bukannya sangat tragis, selain menyebabkan korban tewas, cidera berat, dan bahkan kena pasal pidana.

Membludaknya sepeda motor merupakan salah satu pelarian dari kondisi macet yang tak bisa ditolerir oleh masyarakat. Dengan harapan bisa menembus kemacetan dengan berbagai cara, akhirnya sepeda motor menjadi pilihan yang terpaksa diambil oleh sebagian masyarakat ibu kota. Akhirnya banyak pengendara sepeda motor seenaknya mengendarai sepeda motor tanpa memandang resiko kecelakaan, memotong jalan dan memotong mobil-mobil dengan seenaknya, menerobos lampu merah dengan seenaknya, berhenti jauh di depan garis stop saat lampu merah, bahkan memaksa lewat di antara mobil-mobil dengan resiko menyentuh dan menggores body mobil yang berada di samping kiri kanan nya. Bahkan ada juga yang berjalan berlawanan arah lalu lintas pada jalan searah. Tampaknya hal ini akan membangun suatu masyarakat yang terbiasa melanggar hukum dan membuat hukum atas kehendaknya sendiri.

Membludaknya sepeda motor juga sangat kontra produktif dengan bisnis angkutan umum, baik taxi, mikrolet, dan bus, yang akhirnya mengalami kesulitan karena kurangnya penumpang ataupun mendapatkan penghasilan yang tidak memadai. Kalau kemudian pengusaha mobil dan sepeda motor makin makmur, makin kaya, maka makin sengsara lah pengusaha angkutan umum, para supir angkutan umum ataupun supir taxi. Berarti kebijakan membludaknya sepeda motor merupakan kebijakan yang ngawur. Bahaya nya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor lebih mudah memakan korban nyawa maupun korban cidera. Hal ini sangat tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang seharusnya justru membuat manusia makin pandai menghindari kecelakaan dan cidera.

Maka dengan adanya Gubernur Jokowi yang mau blusukan demi mengatasi berbagai masalah kota Jakarta, maka kami juga mulai merasa lega, karena kekhawatiran Jakarta akan macet total tampaknya lambat laun akan mulai bisa diatasi. Mudah-mudahan akan lahir banyak pejabat yang bisa meniru cara kerja dan mau memikirkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok dan kepentingan diri sendiri.

Saya menghayalkan akan bisa terwujud bahwa pelajar dan pekerja-pekerja cukup menggunakan transportasi umum bisa mencapai tempat sekolah dan tempat kerjanya dengan cepat, aman, dan mudah dengan transportasi umum, sehingga bisa belajar dengan lebih konsentrasi, bisa bekerja dengan tingkat produktivitas tinggi, tanpa perlu memikirkan soal menjadi supir, bermacet-macetan di jalan, memarkirkan mobil dengan susah payah dan mahal, serta memikirkan soal perbaikan dan perawatan mobil yang menguras kantong.

Turis manca negara pun akan tertarik untuk berkeliling kota Jakarta bila telah terbentuk transportasi umum yang murah dan mudah. Semoga.

Berikut ini adalah foto contoh ERP di Singapore :

Pedagang Asongan di Jakarta

Seperti yang sering kita saksikan, di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang asongan, bahkan sepanjang jalur Pantura (Pantai Utara) yang membentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur juga sering kita temui para pedagang asongan. Bahkan tak jarang mereka mengejar bus-bus yang melintas yang hendak berhenti, yang hendak masuk ke pom bensin (SPBU), yang hendak masuk terminal dan yang sedang ngetem menunggu penumpang.

Kita batasi saja mengenai pedagang asongan di kota Jakarta saja. Berikut ini beberapa foto pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya :

Foto-foto(gambar-gambar) ini dengan sangat jelas menunjukkan kegiatan pedagang asongan sedang bereaksi di tengah jalan di kota Jakarta.

Mereka bukan hanya menjual rokok atau air minum mineral atau sekedar lap tissue ataupun koran, tetapi juga barang-barang yang sangat besar pun dijual di tengah jalan di antara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Kasur yang diisi angin dengan ukuran 1,00 M x 2,00 M bisa juga dijual di tengah jalan oleh para pedagang asongan ini. Karena kasurnya isi angin, tentu saja ringan beratnya sehingga mudah dibawa-bawa, tetapi ukuran nya yang besar yaitu 1,00 M x 2,00 M memang menjadi perhatian khusus. Barang sebesar itu juga dijual oleh para pedagang asongan, juga seperti sofa dari plastik yang berisi angin, berbagai lukisan dan gambar pigura, bermacam buku, majalah,  peta, patung, hiasan, mainan anak-anak pun dijual oleh para pedagang asongan.

Fenomena ini memang sangat berbeda dengan di negara maju, bahkan di negara tetangga sesama negara Asean pun sulit ditemukan pedagang semacam ini di jalanan. Lalu kemana para pejabat dan wakil rakyat, apakah mereka pernah memikirkan mengenai wajah jalanan yang seharusnya di ibu kota Jakarta ini. Kalau di jalanan kita mesti ketemu dengan para pedagang asongan yang seolah tidak takut ditabrak kendaraan, para pak ogah yang memasang badan di belokan atau pada putaran balik sehingga mobil terpaksa berjalan lambat sehingga ada alasan pak ogah minta uang persenan. Bahkan saat berhenti di lampu merah, para pengamen mulai mendekat, ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, ada yang pura-pura melap kap mobil, ada yang bernyanyi sebisanya, yang semuanya hanya ingin meminta uang kepada para pengemudi mobil yang ditemuinya.

Jadi selain para pengemudi kendaraan pribadi atau mobil pribadi mesti berjalan menerobos kemacetan lalu lintas, juga berebut jalan dengan sepeda motor yang sudah tidak ada aturan jalur lagi, dan akhirnya juga ketemu dengan berbagai jenis manusia di lampu merah. Memang tidak semua lampu merah ada para pengamen ini, tetapi apakah para pengemudi mobil tidak mempunyai hak privasi, atau tidak punya hak untuk tenang atau tidak punya hak untuk tidak diganggu sama sekali ?

Keberadaan pedagang asongan mungkin juga bagi sebagian kecil pengemudi dijadikan kegiatan iseng dengan menanyakan harga, atau menawar dan membeli, tetapi kehadiran pedagang asongan yang makin hari makin banyak menunjukkan selain kelemahan pemerintah dalam menertibkan kehidupan masyarakat, juga menunjukkan banyaknya penganggur yang terpaksa mencari nafkah dengan tidak menghargai nyawa dan keselamatan diri mereka sendiri.

Memang sangat ironis bila dibandingkan dengan koruptor di Indonesia yang hartanya mencapai triliunan atau ratusan milyar rupiah, padahal masih sangat banyak masyarakat yang hanya sekedar mencari nafkah untuk kelangsungan hidup (bukan untuk kaya) saja sudah dengan tidak menghargai nyawanya dan keselamatan diri mereka sendiri. Berdagang dengan berlarian di jalanan, ataupun terjepit di antara mobil yang melintas. Mungkin saat kendaraan macet berat, para pedagang asongan ini lebih mudah beroperasi dan menjajakan dagangannya.

Bahkan ada juga penjual bakpao yang kadang menempatkan gerobak dagangannya di median di tengah jalan dan berharap bisa berjualan kepada para pengemudi mobil yang terjebak di kemacetan yang bosan atau stress dengan kenyataan yang tak bisa dihindarkannya.

Mungkin masalah pedagang asongan bisa menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat untuk memikirkan dan membuat solusi nyata, sehingga masalah kemanusiaan berupa keselamatan dan kesejahteraan para pedagang asongan juga menjadi agenda pemerintah ke depannya. Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi bangsa, akan memberi lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak perlu membahayakan nyawa dengan berdagang di antara hilir mudik mobil yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan orang yang berkeluyuran di tengah jalan.

Kartu Jakarta Sehat (KJS)

Sesuai janji pasangan Jokowi – Ahok sejak sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jaya sudah dicanangkan mengenai Kartu Jakarta Sehat (JKS).

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok dalam Pilkada DKI Jaya dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya bukan hanya semata karena adanya wacana Kartu Jakarta Sehat ini, tetapi memang karena rakyat sudah tidak puas dan tidak bisa menerima dengan kepemimpinan petahana atau Gubernur lama yang ternyata tidak membangun sesuatu yang berarti untuk kota Jakarta. Tanpa pembangunan yang berarti sama saja membuat bom waktu dan menghancurkan masa depan karena tidak bisa menerima perkembangan jaman, perkembangan jumlah penduduk, berkembangnya lalu lintas manusia dan kendaraan di kota Jakarta yang sudah terlanjur macet dan diproyeksikan akan terjadi macet total pada waktunya, yang mana kendaraan akan tidak bisa bergerak lagi karena tidak ada perkembangan pembangunan yang memadai dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat kota Jakarta.

Untunglah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru yang mempunyai pemikiran yang sama dengan rakyat yang dipimpinnya, bahwa perlu langkah nyata untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat.

Kalau dalam hal lalu lintas, maka diambil langkah nyata untuk mempersiapkan dan membangun monorel, membangun MRT (Mass Rapid Transport), menyelesaikan seluruh jalur busway yang penyelesaiannya terkatung-katung disertai pembenahan busway dan operasionalnya.

Dalam hal mengatasi banjir musiman, juga telah diambil langkah nyata seperti merevitalisasi Waduk Pluit, dengan merelokasi penduduk ke rumah susun sederhana (rusun) Marunda, dan mengeruk,  menggali, serta mengembalikan Waduk Pluit supaya bisa menampung air dalam kapasitas yang semestinya sebagai salah satu solusi mengatasi banjir musiman, selain langkah-langkah pembangunan lainnya, seperti memperbaiki drainase kota, membuat banyak resapan air, serta berbagai langkah inovatif lainnya. Memang kita mesti menghargai semua kerja keras ini, karena semua pekerjaan ini adalah untuk kita dan keturunan kita yang akan bisa dirasakan di masa mendatang.

Walaupun rasanya semua pekerjaan ini sudah sangat terlambat dimulai, tetapi ada yang memulai itu benar-benar mesti diajungi jempol. Karena hanya ada langkah awal lah baru bisa ada langkah lanjutan, ada langkah yang benar dan ada langkah akhir. Tanpa mengerjakan apa-apa tetapi berkoar-koar mengenai ahlinya Jakarta itu hanyalah omong kosong tak berharga untuk jualan pada masyarakat yang sengaja dibikin bodoh saja.

Majunya teknologi informasi, baik berupa media sosial, handphone, blackberry, iphone, dan teknologi internet serta aplikasinya, telah membuat masyarakat menjadi melek dan tidak bisa dibodohi dengan slogan-slogan kosong yang tidak berharga, seperti mengaku ahlinya Jakarta padahal apapun tidak ada yang dikerjakan untuk kemajuan kota Jakarta.

Dalam hal kesehatan dan pengobatan, Gubernur Jokowi langsung memenuhi janjinya dengan meluncurkan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Langkah ini sangat bermanfaat untuk warga Jakarta, terutama untuk warga miskin ataupun warga yang rentan miskin. Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat tentulah menunjukkan bahwa selama ini memang banyak masyarakat miskin yang selama ini sakit tetapi tidak pernah berobat karena miskin. Melonjaknya pengguna Kartu Jakarta Sehat, dengan penuhnya puskesmas-puskesmas dalam melayani warga Jakarta yang sakit pengguna Kartu Jakarta Sehat membuktikan benarnya pemikiran dan analisa Pak Jokowi.

Pengguna Kartu Jakarta Sehat (JKS) bisa berobat gratis ke Puskesmas, dan bila penyakitnya agak berat dan mesti dirujuk ke rumah sakit, maka dari Puskesmas dokternya akan memberikan rujukan ke rumah sakit, sehingga pasien bisa berobat secara gratis.

Kalau ada yang berfikir negatif dan ingin menyalahkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini memang sangat tidak rasional. Membludaknya orang berobat ini karena mereka sakit, dan kalau sudah berobat dan sembuh, lama kelamaan akan terjadi keseimbangan, karena orang sakit tak mungkin mau antri di puskesmas atau di rumah sakit untuk berobat dan menerima obat untuk dikonsumsi. Karenanya pada saatnya tidak mungkin akan terjadi antri yang membludak lagi, karena sudah lebih banyak orang sehat dan bukannya seperti dulu lebih banyak orang sakit.

Dan kalaupun ada orang yang kelihatannya mampu, kemudian mau ikut antri berobat gratis, maka bukanlah kesalahan program Kartu Jakarta Sehat (JKS), tetapi berarti memang orang yang berobat itu bukanlah orang kaya, setidaknya bukan orang yang waktunya begitu berharganya karena rela antri, bahkan rela berdesakan bersama orang-orang sakit yang mungkin saja ada yang bisa menular.

Kalau kemudian ada rumah sakit yang tidak mendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini dengan alasan rugi dan alasan lainnya, maka memang sangat ironis. Bisnis rumah sakit tentu selama ini sudah cukup banyak untung, kalau merelakan sedikit waktu dan biaya untuk kemanusiaan, apakah tidak rela juga ?

Sedangkan pihak Pemda juga bersiap untuk selalu berdialog untuk mencari solusi “win – win solution”, solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, atau solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Ketika terjadi titik jenuh, terjadi keseimbangan atau equilibrium, maka tidak mungkin akan ada antrian luar biasa lagi orang di puskesmas, karena akan lebih banyak orang sehat yang tidak perlu ke puskesmas ataupun ke rumah sakit.

Dan pada saat itu hanya orang yang perlu berobat atau mendesak harus berobatlah yang akan memenuhi puskesmas dan rumah sakit, dan tentunya jumlah itu tidak akan sebanyak pada saat dimulainya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Orang yang sudah sehat kemudian akan bisa bekerja dan berproduksi serta menjadi produktif, dan kemudian akan meningkatkan taraf hidup, dan saat taraf hidup sudah cukup baik, mereka pun akan mencari kemewahan ataupun kemudahan lainnya, sehingga mungkin akan datang ke dokter dan rumah sakit sendiri tanpa memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) karena tidak butuh lagi pengobatan gratis yang bersifat massal ini.

Kita ambil contoh saja, walaupun mungkin contoh ini sangat jauh dari bahasan di atas. Saat film Iron Man diputar pertama kali di bioskop, orang-orang antri membeli tiket dan ingin cepat-cepat menontonnya. Tetapi ketika sudah masuk minggu kedua, minggu ketiga dan seterusnya, pasti peminatnya akan turun dan bahkan lama-kelamaan, gratis pun orang sudah mulai malas untuk menontonnya karena sudah pernah nonton, atau memang suasana hati dan minat sudah berubah, baik bosan karena sudah pernah nonton ataupun karena sudah ada film baru yang lebih menarik ataupun waktunya lebih sesuai dengan hal yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Jadi jelas Kartu Jakarta Sehat (KJS) merupakan langkah bagus yang harus didukung, dan kalaupun ada hambatan di dalam pelaksanaannya, maka seharusnya kita membantu mendukungnya untuk lebih sukses lagi, dan bukan dengan berwacana aneh-aneh hanya untuk menyalahkan saja tanpa berbuat apa-apa.

Kartu Jakarta Sehat merupakan bentuk pendekatan kemanusiaan yang mestinya kita hargai dan kita dukung bersama. Bila masyarakat sehat, maka kita ada di lingkungan orang sehat, maka kita pun akan lebih mudah mempertahankan diri tetap sehat.

Tidak ada yang sempurna, demikianlah kata-kata yang sering kita dengar, maka kalau ada sedikit plus minus dalam pelaksanaannya dalam tahap awalnya, justru kita yang harus membantu mendukung dan menyukseskannya. Yang penting inti dari semua yang ada, adalah niat baik dan kebaikan dari hati orang yang menjalankan program ini.

BUMN Innovation Expo & Award 2013

Pada hari Kamis tanggal 27 Juni 2013 sampai dengan hari Minggu tanggal 30 Juni 2013 akan berlangsung pameran bertema : “BUMN Innovation Expo & Award 2013”, belokasi di JCC (Jakarta Convention Center) – Jakarta.

BUMN merupakan singkatan dari Badan Usaha Milik Negara.

Berikut ini adalah foto panggung pameran tersebut :

Bila kita mendengar kata BUMN, apa yang biasanya terlintas di benak kita ?

Sepintas tentu akan terlintas suatu usaha monopoli oleh negara, badan usaha yang selalu merugi, badan usaha yang tidak efisien, badan usaha yang kalah bersaing dengan swasta, badan usaha yang tidak dipimpin oleh profesional yang semestinya, badan usaha yang berkaitan dengan politik, badan usaha yang mau menangnya sendiri, dan sebagainya.

Stigma jelek ini memang sudah mendarah daging di benak masyarakat banyak, tetapi seharusnya BUMN ini harus memperbaiki diri. Sudah seharusnya menjadi badan usaha yang menguntungkan, karena memiliki kelebihan monopoli, memiliki kelebihan berupa fasilitas yang melekat pada perusahaan tersebut maupun karena penyelenggaranya adalah pihak pemerintah.

Kita lihat saja beberapa contoh perusahaan BUMN seperti dalam berbagai lini industri berikut ini :

– Dalam penerbangan udara, Merpati Nusantara Airlines merugi dan nyaris bangkrut. Sedangkan Garuda Indonesia juga mencatat sejarah kelam dengan meninggalnya pejuang HAM (Hak Asazi Manusia) Munir yang merupakan penumpang Garuda Indonesia Airlines dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam (Belanda) yang transit di Singapore. Ataupun jatuhnya pesawat Garuda Indonesia Airlines yang menyebabkan meninggalnya pejabat Australia di Bali saat kecelakaan pendaratan di airport Ngurah Rai di Pulau Bali, yang saat itu juga ada Bapak Din Samsudin yang juga penumpang Garuda Indonesia Airlines  yang hampir saja celaka juga, kalau tidak berhasil menyelamatkan diri. Dan pesawat dari Indonesia pernah mengalami dilarang mendarat di Eropah. Memang ini merupakan masa lampau, tetapi bayangan ini tidak serta merta hilang dari benak kita. Hadirnya berbagai merek penerbangan swasta di Indonesia, seperti Lion Air, Sriwijaya Air, dan banyak lagi memang merupakan ujian apakah perusahaan BUMN yang mendapat perhatian dan fasilitas lebih dari negara tersebut apakah mampu menunjukkan kedigjayaannya.

– Dalam transportasi kereta api, tampaknya masih jauh dari profesional. Saat China dan Jepang sudah memiliki dan mengoperasikan kereta api super cepat yang menghubungkan kota-kota besar dengan jarak yang sangat jauh dengan kecepatan super cepat, maka kereta api kita masih jauh dari layak. Kereta api kita masih sangat jauh dari modern. Bahkan banyak perlintasan kereta api yang melewati jalan raya dan sangat rawan kecelakaan, sewaktu-waktu bisa bertabrakan dengan mobil atau kendaraan lain karena adanya persilangan dengan moda lalu lintas darat lainnya. Apalagi perlintasan di dalam kota Jakarta yang macet parah, kalau ada mobil terjebak di perlintasan kereta api, dengan ketakutan harus menunggu melewati perlintasan kereta api, padahal jalanan macet dan mau maju ataupun mundur sangat sulit. Maka langkah besar harus dilakukan pada usaha kereta api ini, mesti dilakukan modernisasi besar-besaran dan bersifat mendesak.

– Dalam hal tenaga listrik PLN, masih sering terjadi pemadaman listrik secara mendadak, ataupun masih banyak daerah tertentu yang kekurangan supply listrik atau adanya daerah yang masih belum dijangkau oleh listrik PLN. Seringnya kita mendengar terjadinya kebakaran karena kortsliting listrik, mestinya sudah bisa dihindarkan, karena pihak PLN seharusnya bisa berperan aktif membuat aturan dan pemeriksaan standar penggunaan listrik dan instalasi yang aman. Sehingga alasan kortsiling listrik sudah seharusnya tidak lagi boleh menjadi alasan terjadinya berbagai kebakaran pada rumah-rumah, toko, pasar, dan sebagainya.

Kalau kita bicara negatifnya, memang sangat dirasakan oleh masyarakat, tetapi harapan kita dengan mengetahui kekurangan inilah merupakan titik awal untuk mengambil langkah dalam memperbaikinya.

BUMN Innovation Expo & Award 2013 ini diikuti oleh cukup banyak perusahaan, dan untuk masuk ke acara pameran tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Perusahaan-perusahaan yang ikut masing-masing mempromosikan usahanya ataupun memperkenalkan perusahaan kepada para pengunjungnya.

Beberapa perusahaan yang ikut dan mempromosikan usahanya antara lain, adalah sebagai berikut :

Perusahaan farmasi BioFarma, yang memperkenalkan vaksinasi anti influenza. Vaksin Influenza HA yang dikenal sebagai Flubio dengan dosis hanya 0,5 ml per dos nya disuntikkan pada lengan tangan, dapat mencegah dan menghindarkan kita dari sakit flu ataupun influenza sampai dengan 1 (satu) tahun. Dengan harga promosi Rp. 100.000,- saja semua orang di atas umur 12 tahun bisa mendapatkan suntikan vaksinasi ini. Sedangkan menurut staff marketing BioFarma, biasanya di rumah sakit – rumah sakit besar, biayanya adalah Rp. 150.000,-. Sehingga selama 1 (satu) tahun kita akan terbebas dari sakit flu.

Perusahaan keuangan Bank Mandiri, memperkenalkan e-money yang merupakan peningkatan dari E-Toll card yang hanya bisa digunakan pada pembayaran biaya jalan tol saja, sehingga e-money nantinya juga bisa untuk membayar transaksi lainnya dan bukan hanya untuk membayar jalan toll saja. Bank Mandiri menyediakan kartu e-money yang sudah diisi dengan nilai Rp. 50.000,- yang bisa langsung dibeli dengan harga yang sama yaitu Rp. 50.000,-.

Perusahaan kontruksi Adhi Karya, memperkenalkan proyek yang akan dikerjakannya antara lain adalah Monorel Indonesia. Monorel yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia semoga segera terealisasi, dan bukan lagi sebagai wacana, apalagi seolah hanya ada bangkai-bangkai tiang beton pondasi tiang (kolom) penyangga monorel yang terbengkalai di sepanjang jalan Rasuna Said ataupun di samping gedung Manggala Wanabhakti menuju Senayan di tengah-tengah kota Jakarta. Keberadaan Monorel sudah sangat terlambat, dan semoga kehadirannya bisa segera terwujud.

Perusahaan konstruksi Waskita Karya, memperkenalkan antara lain Spun Pile yang memang merupakan tiang pancang khas produksi Waskita Karya. Spun Pile merupakan tiang pancang dengan bentuk tiang bulat dan di tengahnya berlubang, untuk mengurangi beban dari tiang itu sendiri.

Perusahaan kantor berita Antara, memperkenalkan workshop fotografi yang akan diadakan pada tanggal 28 Juni 2013 jam 14.00 sore. Serta workshop video jurnalis pada tanggal 29 Juni 2013 jam 13.00 siang. Semuanya diselenggarakan di stand Antara di JCC Jakarta Selatan.

Masih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dan semoga semuanya memberikan angin segar bagi kemajuan BUMN di Indonesia.

Bila banjir dan macet jadi satu

Banjir merupakan hal yang tidak disukai, demikian juga dengan kemacetan lalu lintas. Dan kalau kedua kondisi ini menyatu, maka makin sengsaralah orang yang mengalaminya.

Pada sore hari ini Sabtu tanggal 22 Desember 2012 telah terjadi hujan dengan curah yang cukup tinggi, dan telah menyebabkan banyak genangan air, bahkan banjir di berbagai wilayah kota Jakarta.

Hal seperti ini bukan baru kejadian kali ini saja, tetapi merupakan peristiwa yang terus menerus berulang hampir setiap tahun. Dan berikut ini adalah foto kemacetan dalam suasana genangan air akibat hujan lebat di Jl. Jendral Sudirman – Jakarta Pusat sebagai berikut :

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Dalam foto tersebut terlihat dengan sangat jelas kemacetan total, disertai genangan air dan kesemrawutan lalu lintas, yang mana terdapat mobil-mobil pribadi yang masuk menyerobot ke dalam jalur bus way, baik karena menghindari macet maupun menghindari genangan air (banjir).

Gubernur baru DKI Jaya yaitu Bapak Jokowi baru saja beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI Jaya, tetapi memang berbagai tumpukan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur lama memang sangat fatal bahkan tidak manusiawi, sehingga memang kita heran apa saja yang dikerjakan oleh Gubernur lama sehingga juga tidak disukai oleh masyarakat kota Jakarta, sehingga pada pemilukada (pemilihan kepala daerah) DKI Jaya kalah dengan Bapak Jokowi yang bahkan bukan warga Jakarta dan tidak ber KTP (kartu penduduk) DKI Jaya. Walaupun didukung oleh mayoritas partai, tetapi rakyat sudah tidak bisa menerima kehadiran Gubernur lama yaitu Foke, sehingga dalam dua kali putaran pilkada DKI Jaya selalu kalah dengan Bapak Jokowi.

Kenapa penguasa bisa meninggalkan begitu banyak masalah kemanusiaan di dunia modern yang sebenarnya tidak semestinya terjadi ? Jawaban yang paling sederhana adalah bahwa pejabat yang digaji tidak bekerja untuk pekerjaannya seperti pegawai yang bekerja pada perusahaan. Seorang pegawai yang bekerja pada perusahaan mesti loyal pada misi dan visi perusahaan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk kemajuan dan kejayaan perusahaan. Kalau seorang pejabat yang sudah digaji bisa berfikir dan bekerja seperti pegawai perusahaan tersebut maka masalah kemanusiaan yang begitu parah tidak seharusnya terjadi.

Harapan besar masyarakat kota Jakarta sekarang bertumpu pada Bapak Jokowi, yang merupakan gubernur baru pilihan rakyat. Dengan dukungan rakyat yang besar kita berharap akan banyak kemajuan dan prestasi yang akan dihasilkan oleh Gubernur yang baru ini. Memang memperbaiki kerusakan fatal yang ditinggalkan oleh Gubernur lama bukanlah seperti membalikkan tangan, tentu perlu proses, perlu waktu, dan semoga Jakarta baru akan bisa terwujud dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Seorang pejabat selain harus berorientasi pada prestasi, juga mesti punya hati nurani dan memikirkan kepentingan rakyat banyak. Bila memungkinkan bahkan seharusnya bisa menghasilkan karya besar yang berguna dan bisa dikenang oleh umat manusia sepanjang masa. Kalau tidak bisa membuat karya besar tingkat dunia seperti Tembok Besar di China, atau Menara Eiffel di Perancis, atau Candi Borobudur di Magelang, ya minimal kelas nasional. seperti Monumen Nasional (Monas) karya mantan Presiden Soekarno. Prestasi Soekarno bisa kita ingat dan sangat membanggakan bangsa Indonesia, baik sebagai proklamator, sebagai presiden yang membuat negara Indonesia disegani di dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Maka kita tentu kita berharap bahwa Bapak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya pilihan rakyat akan juga membuat sesuatu karya besar yang akan diingat oleh warga DKI Jaya selamanya, dan mengatasi berbagai masalah rutin seperti kemacetan lalu lintas dan banjir.

Memang tantangannya tidak mudah dan tidak sederhana karena sudah jadi penyakit akut, tetapi kami yakin selama ada kemauan disertai hati nurani, maka pasti akan ada jalan. Karena semua keberhasilan dan kemajuan akan kita nikmati bahkan sangat bermanfaat buat anak cucu dan keturunan kita di masa mendatang.

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Masih adakah Trotoar yang layak ?

Trotoar yang layak tentu diperlukan oleh para pejalan kaki. Bahkan mereka yang menggunakan kendaraan umum juga memerlukan trotoar untuk berjalan dari halte ataupun sebaliknya. Jarak halte bus menyebabkan makin dibutuhkannya trotoar agar orang-orang bisa mempunyai jalur jalan untuk menuju ke halte bus, ataupun menuju tujuan setelah turun dari halte bus. Begitu juga orang-orang yang ingin berjalan menuju ke gedung-gedung tetangga pun membutuhkan trotoar.

Berikut ini ada foto dari Harian “Seputar Indonesia” terbitan tanggal 16 Maret 2011 halaman 12 rubrik Megapolitan, dengan tulisan di bawah foto tersebut : Sejumlah pengendara motor melintas di trotoar tepi saluran Mookervart, Jakarta Barat, kemarin. Mereka mengambil jalan pintas ini untuk menghindari kemacetan di Jalan Daan Mogot.

Lewat Trotoar

Memperhatikan foto di atas terlihat dengan jelas, bahwa hak pejalan kaki sudah diserobot dan direbut oleh pengendara sepeda motor. Tetapi walaupun trotoar dipakai oleh pengendara sepeda motor pun, jalanan tetap macet dan kecepatan laju sepeda motor pun tidak lantas menjadi lancar. Kesembrawutan dan ketidakteraturan pemanfaatan jalur jalan dan trotoar, jelas menandakan bahwa kemacetan sudah sangat parah, dan membuat pengendara menjadi stress dan terpaksa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Ini menandakan bahwa langkah darurat sudah harus diambil, dan kenapa pengemudi dan pemakai jalan hanya bisa berkeluh kesah terus-menerus bertahun-tahun tanpa solusi ? Apakah masih ada orang yang peduli selain yang berkeluh-kesah dan yang pasrah saja ?

Dan kalau seperti estimasi yang telah dibicarakan berbagai pihak bahwa kemungkinan Jakarta akan macet total dalam beberapa tahun mendatang, dalam arti kendaraan tak bisa bergerak maju lagi (?), apakah kita sebagai manusia yang punya akal budi, yang punya pemimpin dan punya berbagai sumber daya akan membiarkan hal ini benar-benar menjadi kenyataan. Berbagai wacana, studi banding, seminar, talk show, diskusi, dan bermacam-macam bentuk omong-omong kosong apakah masih ada manfaatnya lagi ? Hal ini harus dijadikan perhatian serius dan harus diperlakukan sebagai suatu bencana yang harus langsung diambil tindakan, bukan lagi hanya pembahasan dan omong-omong.

Kejadian macet sampai berjam-jam, bahkan sampai tengah malam sudah sering menjadi kenyataan. Bahkan pernah kemacetan sampai menjelang pagi hari, terutama saat terjadi hujan lebat, banjir, ditambah pohon tumbang. Ataupun karena ada kecelakaan lalu lintas, sehingga perjalanan terganggu, dan makin lama menjadi kemacetan parah yang menjalar kemana-mana. Sekali saja kejadian seperti ini sudah seharusnya diambil langkah-langkah pencegahan dan tindakan nyata supaya hal yang tidak diinginkan ini bisa segera menjadi mimpi masa lalu saja.

Lawan yang harus dihadapi suatu bangsa bukan hanya agresi dari bangsa lain. Tetapi juga musuh dari dalam, bencana alam, dan kondisi lingkungan. Dan kalau kemacetan lalu lintas kita setarakan dengan lawan berat seolah kita diserang oleh pasukan asing, maka dengan kemampuan kita yang memiliki berbagai sumber daya dan akal budi, seharusnya kita harus bisa memenangkan perang tersebut. Kita harus bisa menang menghadapi kemacetan lalu lintas, dengan pembangunan infrastruktur yang jelas dan segera.

Sekian puluh tahun yang lalu bahkan bangsa Belanda yang terkenal dengan sebutan Kompeni mampu membangun infrastruktur kereta api, untuk kepentingan Kompeni dan juga bisa berfungsi untuk umum juga, yang sisa-sisanya masih ada sampai saat ini. Kalau puluhan tahun yang lalu, dengan medan yang lebih berat, dengan peralatan yang belum semodern sekarang saja, Kompeni yang dari bangsa lain saja mampu membangun rel-rel kereta api dan membuat jalur transportasi, kenapa sekarang kita seolah jadi orang lumpuh yang seolah hanya bisa berputus asa ? Sudah waktunya kita membalikkan tangan merubah kenyataan pahit kemacetan lalu lintas dan menjadikan kota yang lebih manusiawi. Yang tentunya akan juga berimplikasi baik pada segi-segi kehidupan yang lain, terutama kelancaran berbisnis dan lancar dalam pelayanan kepada konsumen.

Semua ini harus kita jadikan tantangan yang mesti segera kita atasi, dan semoga.

Menjamurnya Sepeda Motor

Foto berikut ini adalah bersumber dari foto pada Harian Kompas terbitan hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 halaman 1 dengan judul : “Membludaknya Pengendara Motor”, dan di bawah foto ada tulisan : Ribuan pengendara sepeda motor melawan arus lalu lintas saat melintas ruas Jalan Pengumben, Jakarta Barat, Kamis (10/3). Sistem lawan arus (contraflow) di lokasi tersebut diatur polisi untuk mengatasi membludaknya pengendara sepeda motor.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini, sepeda motor sudah mulai menguasai jalanan di dalam kota Jakarta,  maksudnya menjamurnya sepeda motor, membuat jumlah sepeda motor makin hari makin banyak dan bahkan mulai membawa satu masalah baru, yaitu sembrawutnya sepeda motor di jalanan. Contoh sangat sederhana, coba perhatikan di perempatan jalan saat lampu jalan (traffic light), ketika mobil-mobil mulai berhenti di belakang garis stop saat lampu merah, mulailah sepeda motor  menyalip ke depan, satu persatu mulai maju ke depan, makin ke depan dan makin kedepan. Sehingga berbagai sepeda motor memadati di depan mobil yang berhenti di belakang garis stop. Sepeda motor ini juga sering memaksa maju ke depan kadang-kadang sampai menyentuh mobil ataupun menabrak kaca spion mobil yang mau dilewatinya.

Banyaknya sepeda motor ini selain karena kemacetan lalu lintas di kota Jakarta yang sudah sangat parah, menyebabkan sebagian warga memilih motor dengan harapan agar bisa lebih cepat dalam mencapai tujuan perjalanannya. Tetapi ternyata dengan mengendarai sepeda motor juga tidak menjamin kalau lantas pasti bisa lancar. Jalan yang sempit dan macet, tanpa adanya jalur khusus sepeda motor menyebabkan sepeda motor mesti pintar-pintar menyelip-nyelip di antara mobil-mobil. Dan kalau terjadi kemacetan parah, kadang-kadang sepeda motor pun ikut terjebak kemacetan dan tak bisa melaju sama sekali.

Selain karena faktor kemacetan, pilihan menggunakan sepeda motor juga karena fasilitas kendaraan umum kurang memberikan kenyamanan, kurang aman karena banyaknya pengamen, resiko copet dan antri yang lama. Serta kadang-kadang mesti berdesak-desakan di dalam bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun sebenarnya mengendarai sepeda motor juga ada resikonya sendiri. Kalau hujan, jadi kehujanan dan basah, tidak hujan juga kadang panas terik ataupun berdebu. Resiko kehilangan sepeda motor di tempat parkir juga merupakan permasalahan tersendiri. Bahkan helm pun bisa hilang juga di tempat parkir, ataupun saat sepeda motor kehujanan, helm pun bisa jadi basah juga.

Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, harga mobil yang mahal dan tak terjangkau juga menyebabkan pilihan kepada sepeda motor ini. Resiko kecelakaan berkendaraan sepeda motor juga tinggi, banyak sepeda motor yang lain berkendara seenaknya, memotong kendaraan lain seenaknya atau bahkan ada juga yang belum benar-benar mahir dalam mengendarai sepeda motornya. Kecelakaan pada sepeda motor lebih riskan bagi pengendaranya, karena umumnya saat terjadi kecelakaan umumnya pengendara ataupun boncengannya akan jatuh ke jalan, sehingga umumnya terjadi resiko luka ataupun cacat. Berbeda dengan pengendaraan mobil, yang umumnya pengemudi dan penumpangnya umumnya tidak terluka, hanya mobilnya saja yang rusak atau penyot.

Banyaknya sepeda motor dan pertumbuhannya yang luar biasa memang mesti diperhatikan dan dipikirkan secara khusus, seperti menyediakan jalur jalan khusus untuk sepeda motor. Membiarkan sepeda motor bercampur aduk dan saling berebut jalan bukanlah hal yang semestinya. Bahkan banyaknya motor yang berjalan melawan arah arus lalu lintas juga mesti ditertibkan karena selain menyebabkan resiko kecelakaan juga menyebabkan bertambahnya kemacetan. Sebagai contoh jalan tembus dari Season City di Jalan Jembatan Besi ke arah Roxy di Jl. Kyai Tapa, pas di bawah Jembatan Layang di Roxy, banyak sekali sepeda motor yang berjalan melawan arus yang mendesak masuk dan berebut jalan ke arah jalan tembus baru ke arah Season City. Ini benar-benar membuat kemacetan dan yang mengatur lalu lintas di sana pun hanya pak Ogah atau orang yang tak jelas identitasnya.

Pembiaran sepeda motor melawan arus lalu lintas juga bukanlah hal yang mendidik, dan akan menyebabkan pengendara jadi terbiasa melawan rambu-rambu lalu lintas dan tidak mendidik pengemudi untuk patuh sepenuhnya pada peraturan lalu lintas. Kalau hanya mengharuskan sepeda motor menyalakan lampu depan walaupun pada pagi atau siang hari bukanlah solusi, karena hanya membebankan pengemudi saja, kalau pengemudi lupa mematikan lampu saat parkir bisa jadi aki nya jadi rusak. jadi perencanaan yang matang dan pembangunan sarana dan jalur jalan untuk sepeda motor sudah mendesak.

Semestinya kalau seluruh angkutan umum berfungsi optimal, memberikan kenyamanan dan keamanan, serta bisa tepat waktu, tak semestinya pertumbuhan sepeda motor akan sebegitu dasyat, Karena pilihan sepeda motor juga merupakan semacam langkah terpaksa bagi sebagian orang karena tak ingin bersusah-susah antri lama untuk naik kendaraan umum, ataupun menghindari berdesak-desakan di dalam kendaraan umum, ataupun menghindari resiko copet ataupun masalah-masalah keamanan lainnya.

Mudah-mudahan suatu hari nanti bersepeda motor bisa bukan karena keterpaksaan karena berbagai alasan di atas, tapi karena memang pilihan yang semestinya dari pengemudinya. Sehingga juga ada ketertiban yang lebih baik.