Transportasi murah dan mudah

Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, memang saat ini masih sangat direpotkan dengan masalah kemacetan lalu lintas. Macet, macet, dan macet adalah “menu makanan” sehari-hari yang sangat meletihkan bagi warga kota Jakarta.

Apa yang ada hari ini, tentu adalah hasil apa yang dilakukan pemerintah dan otoritas sebelumnya, dari level pusat sampai dengan pemda. Bila pemerintah pusat tidak pernah melakukan aksi nyata mengatasi masalah ini, tentu tidak akan bisa mengatasi masalah ini.

Untunglah saat ini kita memiliki Gubernur dan Wakil Gubernur yaitu Jokowi dan Ahok yang muncul dengan berbagai ide yang cemerlang, dengan berbagai kebijakan yang pro rakyat banyak, dan mau bekerja dan memikirkan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur sebelumnya yaitu Foke yang tidak berprestasi apa-apa selama menjabat dan membiarkan masyarakat Jakarta mengalami kemacetan yang makin parah dan menjalani hidup yang tidak manusiawi di kemacetan dan keruwetan kota Jakarta.

Pemikiran Gubernur Jokowi yang terintergrasi sekaligus memikirkan berbagai aspek, baik dari segi pengatasan macet, pengatasan banjir, penyiapan lahan terbuka (taman) untuk masyarakat, dan pemindahan dan pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rusun susun), pemindahan pedagang kaki lima (PKL) ke dalam gedung pasar merupakan suatu langkah dan tindakan yang harus diacungi jempol.

Sebagai contoh, pak Jokowi telah mulai memikirkan dan akan merealisasikan MRT (Mass Rapid Transport), Monorel, dan memaksimalkan fungsi busway. Bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) dan penerapan mobil berplat nomer ganjil genap di jalur jalan tertentu, benar-benar menunjukkan kinerja bekerja seorang pejabat, dan bukannya gaya pejabat yang digaji dan ternyata menghabiskan sebagian waktu kerja nya hanya untuk bermain golf, atau pejabat yang hanya beriklan atas keberhasilan orang lain.

Pemikiran untuk pembuatan resapan-resapan di kavling-kavling perkantoran, perumahan, dan revitalisasi waduk seperti waduk Pluit, merupakan contoh pelaksanaan pencegahan banjir. Bahkan pembuatan taman kota merupakan pemberian hak publik kepada masyarakat untuk bisa menikmati hawa alam yang segar di tengah kota.

Pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rumah susun) tentu sesuatu yang harus diterima sebagai suatu berkah. Bayangkan saja saat ini harga rusun (rumah susun) ukuran studio 18 M2 di Jakarta saja sudah bernilai ratusan juta, belum lagi dengan perjalanan waktu nanti harganya bisa naik banyak setelah ramai dan maju.

Pemindahan pedagang kaki lima (PKL) di daerah Tanah Abang dan direlokasi ke dalam Pasar Tanah Abang Blok G merupakan contoh keberhasilan luar biasa dari Gubernur Jokowi, yang sangat jeli melihat kenyataan di lapangan. Kegiatan blusukan Jokowi ternyata sangat efektif menghasilkan suatu kebijakan yang luar biasa. Gubernur-gubernur yang lalu tidak ada yang mampu mengatasi masalah Tanah Abang. Baru pak Jokowi yang mampu dan kita harus mengacungkan jempol. Kalau ternyata saat ini di Pasar Tanah Abang blok G masih sepi itu adalah hal wajar. Saat pedagang Pasar Pagi (Asemka) dipindah ke Pasar Pagi Mangga Dua, awalnya juga  pedagang nya ribut sepi, tetapi bayangkan saja saat ini coba lihat Pasar Pagi Mangga Dua, apakah masih ada yang mengatakan menyesal ? Ternyata bahkan saat ini mencari kios di Pasar Pagi Mangga Dua pun selain sulit dapat tempat, harga kios yang sangat sangat mahal, dan harga sewa yang juga luar biasa mahal. Dan berapa besar uang beredar di Pasar Pagi Mangga Dua memang telah membuat orang bisa menghargai arti sebuah kios kecil di Pasar Pagi Mangga Dua. Demikian pula dengan pedagang yang telah mendapat kios di Pasar Tanah Abang Blok G, maka suatu hari nanti akan merasakan betapa berharganya dan beruntungnya mereka.

Kembali bicara mengenai kemacetan di Jakarta, sebenarnya adalah kegagalan dari pemerintah selama ini yang tidak membuat kebijakan jangka panjang pembangunan infrastruktur yang semestinya. Minimnya kereta api dan sangat minimnya perkembangan jalan merupakan bukti kegagalan pembangunan infrastruktur yang semestinya. Membludaknya mobil pribadi dan sepeda motor merupakan contoh kesalahan besar dalam penerapan kebijakan yang baik. Apalagi diluncurkannya mobil murah pada saat kemacetan belum teratasi benar-benar suatu kebijakan yang sangat merusak. Memang warga yang tidak cukup kaya mungkin saja diharapkan bisa beli mobil murah, tapi barang murah dengan kwalitas murahan juga bisa menjadi bumerang biaya perawatan mahal. Semakin menambah polusi lalu lintas selain menambah kemacetan.

Padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang murah dan mudah. Bukan mobil pribadi yang murah. Rakyat tidak perlu dijadikan supir-supir dan menyetir mobil sendiri. Kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh AQJ anak bungsu dari artis kondang Ahmad Dhani merupakan contoh kegagalan kebijakan pemerintah selama ini, sehingga terpaksa anak-anak pun belajar menyetir mobil sendiri, karena anak-anak sulit berpergian dengan aman dengan transportasi umum. Orang tua tentu tak mungkin membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum yang tidak memenuhi syarat keamanan bahkan buat orang dewasa sekalipun. Kendaraan umum selain sangat minim, antri lama untuk mendapatkan kendaraan umum, berdiri berdesak-desakan di bus yang penuh sesak, dan banyak copet, jambret, pengamen dan sebagainya yang sangat mengkhawatirkan tentu membuat orang tua tidak bisa membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum. Karenanya bagi yang mampu seperti Ahmad Dhani mesti meyediakan mobil kepada setiap anaknya, dan dilengkapi dengan supir pribadi. Tetapi tentu saja dari kanak-kanak anak sudah merasa perlu belajar menyetir karena kebijakan pemerintah adalah menjadikan masyarakat menjadi supir, dengan program membanjiri kota dengan mobil, mobil murah, dan sepeda motor.

Membanjiri kota Jakarta dengan mobil pribadi, mobil murah, dan sepeda motor merupakan kebijakan yang sangat tidak manusiawi. Bahkan terkesan menindas masyarakat dengan membiarkan masyarakat mencari jalan keluar sendiri dari masalah berat kemacetan lalu lintas. Kenapa pemerintah dan pejabat tidak bisa menjadi negarawan yang memikirkan masa depan masyarakat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportsi umum yang murah dan mudah. Ambil contoh, negara Singapore, kita bisa naik MRT bahkan dari airport langsung ke berbagai mall dan pusat-pusat bisnis dan perkantoran. Orang cukup naik MRT dan tak perlu beli mobil, tak perlu memikirkan soal parkir mobil, dan yang penting tidak perlu menjadi supir. Resiko sebagai seorang supir (walaupun keadaan memaksa) adalah kecelakaan, kalau kecelakaan seperti yang dialami AQJ anak bungsu Ahmad Dhani apakah bukannya sangat tragis, selain menyebabkan korban tewas, cidera berat, dan bahkan kena pasal pidana.

Membludaknya sepeda motor merupakan salah satu pelarian dari kondisi macet yang tak bisa ditolerir oleh masyarakat. Dengan harapan bisa menembus kemacetan dengan berbagai cara, akhirnya sepeda motor menjadi pilihan yang terpaksa diambil oleh sebagian masyarakat ibu kota. Akhirnya banyak pengendara sepeda motor seenaknya mengendarai sepeda motor tanpa memandang resiko kecelakaan, memotong jalan dan memotong mobil-mobil dengan seenaknya, menerobos lampu merah dengan seenaknya, berhenti jauh di depan garis stop saat lampu merah, bahkan memaksa lewat di antara mobil-mobil dengan resiko menyentuh dan menggores body mobil yang berada di samping kiri kanan nya. Bahkan ada juga yang berjalan berlawanan arah lalu lintas pada jalan searah. Tampaknya hal ini akan membangun suatu masyarakat yang terbiasa melanggar hukum dan membuat hukum atas kehendaknya sendiri.

Membludaknya sepeda motor juga sangat kontra produktif dengan bisnis angkutan umum, baik taxi, mikrolet, dan bus, yang akhirnya mengalami kesulitan karena kurangnya penumpang ataupun mendapatkan penghasilan yang tidak memadai. Kalau kemudian pengusaha mobil dan sepeda motor makin makmur, makin kaya, maka makin sengsara lah pengusaha angkutan umum, para supir angkutan umum ataupun supir taxi. Berarti kebijakan membludaknya sepeda motor merupakan kebijakan yang ngawur. Bahaya nya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor lebih mudah memakan korban nyawa maupun korban cidera. Hal ini sangat tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang seharusnya justru membuat manusia makin pandai menghindari kecelakaan dan cidera.

Maka dengan adanya Gubernur Jokowi yang mau blusukan demi mengatasi berbagai masalah kota Jakarta, maka kami juga mulai merasa lega, karena kekhawatiran Jakarta akan macet total tampaknya lambat laun akan mulai bisa diatasi. Mudah-mudahan akan lahir banyak pejabat yang bisa meniru cara kerja dan mau memikirkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok dan kepentingan diri sendiri.

Saya menghayalkan akan bisa terwujud bahwa pelajar dan pekerja-pekerja cukup menggunakan transportasi umum bisa mencapai tempat sekolah dan tempat kerjanya dengan cepat, aman, dan mudah dengan transportasi umum, sehingga bisa belajar dengan lebih konsentrasi, bisa bekerja dengan tingkat produktivitas tinggi, tanpa perlu memikirkan soal menjadi supir, bermacet-macetan di jalan, memarkirkan mobil dengan susah payah dan mahal, serta memikirkan soal perbaikan dan perawatan mobil yang menguras kantong.

Turis manca negara pun akan tertarik untuk berkeliling kota Jakarta bila telah terbentuk transportasi umum yang murah dan mudah. Semoga.

Berikut ini adalah foto contoh ERP di Singapore :

Pedagang Asongan di Jakarta

Seperti yang sering kita saksikan, di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang asongan, bahkan sepanjang jalur Pantura (Pantai Utara) yang membentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur juga sering kita temui para pedagang asongan. Bahkan tak jarang mereka mengejar bus-bus yang melintas yang hendak berhenti, yang hendak masuk ke pom bensin (SPBU), yang hendak masuk terminal dan yang sedang ngetem menunggu penumpang.

Kita batasi saja mengenai pedagang asongan di kota Jakarta saja. Berikut ini beberapa foto pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya :

Foto-foto(gambar-gambar) ini dengan sangat jelas menunjukkan kegiatan pedagang asongan sedang bereaksi di tengah jalan di kota Jakarta.

Mereka bukan hanya menjual rokok atau air minum mineral atau sekedar lap tissue ataupun koran, tetapi juga barang-barang yang sangat besar pun dijual di tengah jalan di antara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Kasur yang diisi angin dengan ukuran 1,00 M x 2,00 M bisa juga dijual di tengah jalan oleh para pedagang asongan ini. Karena kasurnya isi angin, tentu saja ringan beratnya sehingga mudah dibawa-bawa, tetapi ukuran nya yang besar yaitu 1,00 M x 2,00 M memang menjadi perhatian khusus. Barang sebesar itu juga dijual oleh para pedagang asongan, juga seperti sofa dari plastik yang berisi angin, berbagai lukisan dan gambar pigura, bermacam buku, majalah,  peta, patung, hiasan, mainan anak-anak pun dijual oleh para pedagang asongan.

Fenomena ini memang sangat berbeda dengan di negara maju, bahkan di negara tetangga sesama negara Asean pun sulit ditemukan pedagang semacam ini di jalanan. Lalu kemana para pejabat dan wakil rakyat, apakah mereka pernah memikirkan mengenai wajah jalanan yang seharusnya di ibu kota Jakarta ini. Kalau di jalanan kita mesti ketemu dengan para pedagang asongan yang seolah tidak takut ditabrak kendaraan, para pak ogah yang memasang badan di belokan atau pada putaran balik sehingga mobil terpaksa berjalan lambat sehingga ada alasan pak ogah minta uang persenan. Bahkan saat berhenti di lampu merah, para pengamen mulai mendekat, ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, ada yang pura-pura melap kap mobil, ada yang bernyanyi sebisanya, yang semuanya hanya ingin meminta uang kepada para pengemudi mobil yang ditemuinya.

Jadi selain para pengemudi kendaraan pribadi atau mobil pribadi mesti berjalan menerobos kemacetan lalu lintas, juga berebut jalan dengan sepeda motor yang sudah tidak ada aturan jalur lagi, dan akhirnya juga ketemu dengan berbagai jenis manusia di lampu merah. Memang tidak semua lampu merah ada para pengamen ini, tetapi apakah para pengemudi mobil tidak mempunyai hak privasi, atau tidak punya hak untuk tenang atau tidak punya hak untuk tidak diganggu sama sekali ?

Keberadaan pedagang asongan mungkin juga bagi sebagian kecil pengemudi dijadikan kegiatan iseng dengan menanyakan harga, atau menawar dan membeli, tetapi kehadiran pedagang asongan yang makin hari makin banyak menunjukkan selain kelemahan pemerintah dalam menertibkan kehidupan masyarakat, juga menunjukkan banyaknya penganggur yang terpaksa mencari nafkah dengan tidak menghargai nyawa dan keselamatan diri mereka sendiri.

Memang sangat ironis bila dibandingkan dengan koruptor di Indonesia yang hartanya mencapai triliunan atau ratusan milyar rupiah, padahal masih sangat banyak masyarakat yang hanya sekedar mencari nafkah untuk kelangsungan hidup (bukan untuk kaya) saja sudah dengan tidak menghargai nyawanya dan keselamatan diri mereka sendiri. Berdagang dengan berlarian di jalanan, ataupun terjepit di antara mobil yang melintas. Mungkin saat kendaraan macet berat, para pedagang asongan ini lebih mudah beroperasi dan menjajakan dagangannya.

Bahkan ada juga penjual bakpao yang kadang menempatkan gerobak dagangannya di median di tengah jalan dan berharap bisa berjualan kepada para pengemudi mobil yang terjebak di kemacetan yang bosan atau stress dengan kenyataan yang tak bisa dihindarkannya.

Mungkin masalah pedagang asongan bisa menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat untuk memikirkan dan membuat solusi nyata, sehingga masalah kemanusiaan berupa keselamatan dan kesejahteraan para pedagang asongan juga menjadi agenda pemerintah ke depannya. Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi bangsa, akan memberi lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak perlu membahayakan nyawa dengan berdagang di antara hilir mudik mobil yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan orang yang berkeluyuran di tengah jalan.

Kartu Jakarta Sehat (KJS)

Sesuai janji pasangan Jokowi – Ahok sejak sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jaya sudah dicanangkan mengenai Kartu Jakarta Sehat (JKS).

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok dalam Pilkada DKI Jaya dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya bukan hanya semata karena adanya wacana Kartu Jakarta Sehat ini, tetapi memang karena rakyat sudah tidak puas dan tidak bisa menerima dengan kepemimpinan petahana atau Gubernur lama yang ternyata tidak membangun sesuatu yang berarti untuk kota Jakarta. Tanpa pembangunan yang berarti sama saja membuat bom waktu dan menghancurkan masa depan karena tidak bisa menerima perkembangan jaman, perkembangan jumlah penduduk, berkembangnya lalu lintas manusia dan kendaraan di kota Jakarta yang sudah terlanjur macet dan diproyeksikan akan terjadi macet total pada waktunya, yang mana kendaraan akan tidak bisa bergerak lagi karena tidak ada perkembangan pembangunan yang memadai dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat kota Jakarta.

Untunglah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru yang mempunyai pemikiran yang sama dengan rakyat yang dipimpinnya, bahwa perlu langkah nyata untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat.

Kalau dalam hal lalu lintas, maka diambil langkah nyata untuk mempersiapkan dan membangun monorel, membangun MRT (Mass Rapid Transport), menyelesaikan seluruh jalur busway yang penyelesaiannya terkatung-katung disertai pembenahan busway dan operasionalnya.

Dalam hal mengatasi banjir musiman, juga telah diambil langkah nyata seperti merevitalisasi Waduk Pluit, dengan merelokasi penduduk ke rumah susun sederhana (rusun) Marunda, dan mengeruk,  menggali, serta mengembalikan Waduk Pluit supaya bisa menampung air dalam kapasitas yang semestinya sebagai salah satu solusi mengatasi banjir musiman, selain langkah-langkah pembangunan lainnya, seperti memperbaiki drainase kota, membuat banyak resapan air, serta berbagai langkah inovatif lainnya. Memang kita mesti menghargai semua kerja keras ini, karena semua pekerjaan ini adalah untuk kita dan keturunan kita yang akan bisa dirasakan di masa mendatang.

Walaupun rasanya semua pekerjaan ini sudah sangat terlambat dimulai, tetapi ada yang memulai itu benar-benar mesti diajungi jempol. Karena hanya ada langkah awal lah baru bisa ada langkah lanjutan, ada langkah yang benar dan ada langkah akhir. Tanpa mengerjakan apa-apa tetapi berkoar-koar mengenai ahlinya Jakarta itu hanyalah omong kosong tak berharga untuk jualan pada masyarakat yang sengaja dibikin bodoh saja.

Majunya teknologi informasi, baik berupa media sosial, handphone, blackberry, iphone, dan teknologi internet serta aplikasinya, telah membuat masyarakat menjadi melek dan tidak bisa dibodohi dengan slogan-slogan kosong yang tidak berharga, seperti mengaku ahlinya Jakarta padahal apapun tidak ada yang dikerjakan untuk kemajuan kota Jakarta.

Dalam hal kesehatan dan pengobatan, Gubernur Jokowi langsung memenuhi janjinya dengan meluncurkan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Langkah ini sangat bermanfaat untuk warga Jakarta, terutama untuk warga miskin ataupun warga yang rentan miskin. Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat tentulah menunjukkan bahwa selama ini memang banyak masyarakat miskin yang selama ini sakit tetapi tidak pernah berobat karena miskin. Melonjaknya pengguna Kartu Jakarta Sehat, dengan penuhnya puskesmas-puskesmas dalam melayani warga Jakarta yang sakit pengguna Kartu Jakarta Sehat membuktikan benarnya pemikiran dan analisa Pak Jokowi.

Pengguna Kartu Jakarta Sehat (JKS) bisa berobat gratis ke Puskesmas, dan bila penyakitnya agak berat dan mesti dirujuk ke rumah sakit, maka dari Puskesmas dokternya akan memberikan rujukan ke rumah sakit, sehingga pasien bisa berobat secara gratis.

Kalau ada yang berfikir negatif dan ingin menyalahkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini memang sangat tidak rasional. Membludaknya orang berobat ini karena mereka sakit, dan kalau sudah berobat dan sembuh, lama kelamaan akan terjadi keseimbangan, karena orang sakit tak mungkin mau antri di puskesmas atau di rumah sakit untuk berobat dan menerima obat untuk dikonsumsi. Karenanya pada saatnya tidak mungkin akan terjadi antri yang membludak lagi, karena sudah lebih banyak orang sehat dan bukannya seperti dulu lebih banyak orang sakit.

Dan kalaupun ada orang yang kelihatannya mampu, kemudian mau ikut antri berobat gratis, maka bukanlah kesalahan program Kartu Jakarta Sehat (JKS), tetapi berarti memang orang yang berobat itu bukanlah orang kaya, setidaknya bukan orang yang waktunya begitu berharganya karena rela antri, bahkan rela berdesakan bersama orang-orang sakit yang mungkin saja ada yang bisa menular.

Kalau kemudian ada rumah sakit yang tidak mendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini dengan alasan rugi dan alasan lainnya, maka memang sangat ironis. Bisnis rumah sakit tentu selama ini sudah cukup banyak untung, kalau merelakan sedikit waktu dan biaya untuk kemanusiaan, apakah tidak rela juga ?

Sedangkan pihak Pemda juga bersiap untuk selalu berdialog untuk mencari solusi “win – win solution”, solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, atau solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Ketika terjadi titik jenuh, terjadi keseimbangan atau equilibrium, maka tidak mungkin akan ada antrian luar biasa lagi orang di puskesmas, karena akan lebih banyak orang sehat yang tidak perlu ke puskesmas ataupun ke rumah sakit.

Dan pada saat itu hanya orang yang perlu berobat atau mendesak harus berobatlah yang akan memenuhi puskesmas dan rumah sakit, dan tentunya jumlah itu tidak akan sebanyak pada saat dimulainya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Orang yang sudah sehat kemudian akan bisa bekerja dan berproduksi serta menjadi produktif, dan kemudian akan meningkatkan taraf hidup, dan saat taraf hidup sudah cukup baik, mereka pun akan mencari kemewahan ataupun kemudahan lainnya, sehingga mungkin akan datang ke dokter dan rumah sakit sendiri tanpa memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) karena tidak butuh lagi pengobatan gratis yang bersifat massal ini.

Kita ambil contoh saja, walaupun mungkin contoh ini sangat jauh dari bahasan di atas. Saat film Iron Man diputar pertama kali di bioskop, orang-orang antri membeli tiket dan ingin cepat-cepat menontonnya. Tetapi ketika sudah masuk minggu kedua, minggu ketiga dan seterusnya, pasti peminatnya akan turun dan bahkan lama-kelamaan, gratis pun orang sudah mulai malas untuk menontonnya karena sudah pernah nonton, atau memang suasana hati dan minat sudah berubah, baik bosan karena sudah pernah nonton ataupun karena sudah ada film baru yang lebih menarik ataupun waktunya lebih sesuai dengan hal yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Jadi jelas Kartu Jakarta Sehat (KJS) merupakan langkah bagus yang harus didukung, dan kalaupun ada hambatan di dalam pelaksanaannya, maka seharusnya kita membantu mendukungnya untuk lebih sukses lagi, dan bukan dengan berwacana aneh-aneh hanya untuk menyalahkan saja tanpa berbuat apa-apa.

Kartu Jakarta Sehat merupakan bentuk pendekatan kemanusiaan yang mestinya kita hargai dan kita dukung bersama. Bila masyarakat sehat, maka kita ada di lingkungan orang sehat, maka kita pun akan lebih mudah mempertahankan diri tetap sehat.

Tidak ada yang sempurna, demikianlah kata-kata yang sering kita dengar, maka kalau ada sedikit plus minus dalam pelaksanaannya dalam tahap awalnya, justru kita yang harus membantu mendukung dan menyukseskannya. Yang penting inti dari semua yang ada, adalah niat baik dan kebaikan dari hati orang yang menjalankan program ini.

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Bila banjir dan macet jadi satu

Banjir merupakan hal yang tidak disukai, demikian juga dengan kemacetan lalu lintas. Dan kalau kedua kondisi ini menyatu, maka makin sengsaralah orang yang mengalaminya.

Pada sore hari ini Sabtu tanggal 22 Desember 2012 telah terjadi hujan dengan curah yang cukup tinggi, dan telah menyebabkan banyak genangan air, bahkan banjir di berbagai wilayah kota Jakarta.

Hal seperti ini bukan baru kejadian kali ini saja, tetapi merupakan peristiwa yang terus menerus berulang hampir setiap tahun. Dan berikut ini adalah foto kemacetan dalam suasana genangan air akibat hujan lebat di Jl. Jendral Sudirman – Jakarta Pusat sebagai berikut :

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Dalam foto tersebut terlihat dengan sangat jelas kemacetan total, disertai genangan air dan kesemrawutan lalu lintas, yang mana terdapat mobil-mobil pribadi yang masuk menyerobot ke dalam jalur bus way, baik karena menghindari macet maupun menghindari genangan air (banjir).

Gubernur baru DKI Jaya yaitu Bapak Jokowi baru saja beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI Jaya, tetapi memang berbagai tumpukan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur lama memang sangat fatal bahkan tidak manusiawi, sehingga memang kita heran apa saja yang dikerjakan oleh Gubernur lama sehingga juga tidak disukai oleh masyarakat kota Jakarta, sehingga pada pemilukada (pemilihan kepala daerah) DKI Jaya kalah dengan Bapak Jokowi yang bahkan bukan warga Jakarta dan tidak ber KTP (kartu penduduk) DKI Jaya. Walaupun didukung oleh mayoritas partai, tetapi rakyat sudah tidak bisa menerima kehadiran Gubernur lama yaitu Foke, sehingga dalam dua kali putaran pilkada DKI Jaya selalu kalah dengan Bapak Jokowi.

Kenapa penguasa bisa meninggalkan begitu banyak masalah kemanusiaan di dunia modern yang sebenarnya tidak semestinya terjadi ? Jawaban yang paling sederhana adalah bahwa pejabat yang digaji tidak bekerja untuk pekerjaannya seperti pegawai yang bekerja pada perusahaan. Seorang pegawai yang bekerja pada perusahaan mesti loyal pada misi dan visi perusahaan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk kemajuan dan kejayaan perusahaan. Kalau seorang pejabat yang sudah digaji bisa berfikir dan bekerja seperti pegawai perusahaan tersebut maka masalah kemanusiaan yang begitu parah tidak seharusnya terjadi.

Harapan besar masyarakat kota Jakarta sekarang bertumpu pada Bapak Jokowi, yang merupakan gubernur baru pilihan rakyat. Dengan dukungan rakyat yang besar kita berharap akan banyak kemajuan dan prestasi yang akan dihasilkan oleh Gubernur yang baru ini. Memang memperbaiki kerusakan fatal yang ditinggalkan oleh Gubernur lama bukanlah seperti membalikkan tangan, tentu perlu proses, perlu waktu, dan semoga Jakarta baru akan bisa terwujud dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Seorang pejabat selain harus berorientasi pada prestasi, juga mesti punya hati nurani dan memikirkan kepentingan rakyat banyak. Bila memungkinkan bahkan seharusnya bisa menghasilkan karya besar yang berguna dan bisa dikenang oleh umat manusia sepanjang masa. Kalau tidak bisa membuat karya besar tingkat dunia seperti Tembok Besar di China, atau Menara Eiffel di Perancis, atau Candi Borobudur di Magelang, ya minimal kelas nasional. seperti Monumen Nasional (Monas) karya mantan Presiden Soekarno. Prestasi Soekarno bisa kita ingat dan sangat membanggakan bangsa Indonesia, baik sebagai proklamator, sebagai presiden yang membuat negara Indonesia disegani di dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Maka kita tentu kita berharap bahwa Bapak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya pilihan rakyat akan juga membuat sesuatu karya besar yang akan diingat oleh warga DKI Jaya selamanya, dan mengatasi berbagai masalah rutin seperti kemacetan lalu lintas dan banjir.

Memang tantangannya tidak mudah dan tidak sederhana karena sudah jadi penyakit akut, tetapi kami yakin selama ada kemauan disertai hati nurani, maka pasti akan ada jalan. Karena semua keberhasilan dan kemajuan akan kita nikmati bahkan sangat bermanfaat buat anak cucu dan keturunan kita di masa mendatang.

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Menjamurnya Sepeda Motor

Foto berikut ini adalah bersumber dari foto pada Harian Kompas terbitan hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 halaman 1 dengan judul : “Membludaknya Pengendara Motor”, dan di bawah foto ada tulisan : Ribuan pengendara sepeda motor melawan arus lalu lintas saat melintas ruas Jalan Pengumben, Jakarta Barat, Kamis (10/3). Sistem lawan arus (contraflow) di lokasi tersebut diatur polisi untuk mengatasi membludaknya pengendara sepeda motor.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini, sepeda motor sudah mulai menguasai jalanan di dalam kota Jakarta,  maksudnya menjamurnya sepeda motor, membuat jumlah sepeda motor makin hari makin banyak dan bahkan mulai membawa satu masalah baru, yaitu sembrawutnya sepeda motor di jalanan. Contoh sangat sederhana, coba perhatikan di perempatan jalan saat lampu jalan (traffic light), ketika mobil-mobil mulai berhenti di belakang garis stop saat lampu merah, mulailah sepeda motor  menyalip ke depan, satu persatu mulai maju ke depan, makin ke depan dan makin kedepan. Sehingga berbagai sepeda motor memadati di depan mobil yang berhenti di belakang garis stop. Sepeda motor ini juga sering memaksa maju ke depan kadang-kadang sampai menyentuh mobil ataupun menabrak kaca spion mobil yang mau dilewatinya.

Banyaknya sepeda motor ini selain karena kemacetan lalu lintas di kota Jakarta yang sudah sangat parah, menyebabkan sebagian warga memilih motor dengan harapan agar bisa lebih cepat dalam mencapai tujuan perjalanannya. Tetapi ternyata dengan mengendarai sepeda motor juga tidak menjamin kalau lantas pasti bisa lancar. Jalan yang sempit dan macet, tanpa adanya jalur khusus sepeda motor menyebabkan sepeda motor mesti pintar-pintar menyelip-nyelip di antara mobil-mobil. Dan kalau terjadi kemacetan parah, kadang-kadang sepeda motor pun ikut terjebak kemacetan dan tak bisa melaju sama sekali.

Selain karena faktor kemacetan, pilihan menggunakan sepeda motor juga karena fasilitas kendaraan umum kurang memberikan kenyamanan, kurang aman karena banyaknya pengamen, resiko copet dan antri yang lama. Serta kadang-kadang mesti berdesak-desakan di dalam bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun sebenarnya mengendarai sepeda motor juga ada resikonya sendiri. Kalau hujan, jadi kehujanan dan basah, tidak hujan juga kadang panas terik ataupun berdebu. Resiko kehilangan sepeda motor di tempat parkir juga merupakan permasalahan tersendiri. Bahkan helm pun bisa hilang juga di tempat parkir, ataupun saat sepeda motor kehujanan, helm pun bisa jadi basah juga.

Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, harga mobil yang mahal dan tak terjangkau juga menyebabkan pilihan kepada sepeda motor ini. Resiko kecelakaan berkendaraan sepeda motor juga tinggi, banyak sepeda motor yang lain berkendara seenaknya, memotong kendaraan lain seenaknya atau bahkan ada juga yang belum benar-benar mahir dalam mengendarai sepeda motornya. Kecelakaan pada sepeda motor lebih riskan bagi pengendaranya, karena umumnya saat terjadi kecelakaan umumnya pengendara ataupun boncengannya akan jatuh ke jalan, sehingga umumnya terjadi resiko luka ataupun cacat. Berbeda dengan pengendaraan mobil, yang umumnya pengemudi dan penumpangnya umumnya tidak terluka, hanya mobilnya saja yang rusak atau penyot.

Banyaknya sepeda motor dan pertumbuhannya yang luar biasa memang mesti diperhatikan dan dipikirkan secara khusus, seperti menyediakan jalur jalan khusus untuk sepeda motor. Membiarkan sepeda motor bercampur aduk dan saling berebut jalan bukanlah hal yang semestinya. Bahkan banyaknya motor yang berjalan melawan arah arus lalu lintas juga mesti ditertibkan karena selain menyebabkan resiko kecelakaan juga menyebabkan bertambahnya kemacetan. Sebagai contoh jalan tembus dari Season City di Jalan Jembatan Besi ke arah Roxy di Jl. Kyai Tapa, pas di bawah Jembatan Layang di Roxy, banyak sekali sepeda motor yang berjalan melawan arus yang mendesak masuk dan berebut jalan ke arah jalan tembus baru ke arah Season City. Ini benar-benar membuat kemacetan dan yang mengatur lalu lintas di sana pun hanya pak Ogah atau orang yang tak jelas identitasnya.

Pembiaran sepeda motor melawan arus lalu lintas juga bukanlah hal yang mendidik, dan akan menyebabkan pengendara jadi terbiasa melawan rambu-rambu lalu lintas dan tidak mendidik pengemudi untuk patuh sepenuhnya pada peraturan lalu lintas. Kalau hanya mengharuskan sepeda motor menyalakan lampu depan walaupun pada pagi atau siang hari bukanlah solusi, karena hanya membebankan pengemudi saja, kalau pengemudi lupa mematikan lampu saat parkir bisa jadi aki nya jadi rusak. jadi perencanaan yang matang dan pembangunan sarana dan jalur jalan untuk sepeda motor sudah mendesak.

Semestinya kalau seluruh angkutan umum berfungsi optimal, memberikan kenyamanan dan keamanan, serta bisa tepat waktu, tak semestinya pertumbuhan sepeda motor akan sebegitu dasyat, Karena pilihan sepeda motor juga merupakan semacam langkah terpaksa bagi sebagian orang karena tak ingin bersusah-susah antri lama untuk naik kendaraan umum, ataupun menghindari berdesak-desakan di dalam kendaraan umum, ataupun menghindari resiko copet ataupun masalah-masalah keamanan lainnya.

Mudah-mudahan suatu hari nanti bersepeda motor bisa bukan karena keterpaksaan karena berbagai alasan di atas, tapi karena memang pilihan yang semestinya dari pengemudinya. Sehingga juga ada ketertiban yang lebih baik.