Singapore berkabung atas wafatnya Lee Kuan Yew

Mengapa Singapore berkabung ? Ya, karena Bapak Bangsa Singapore yaitu Lee Kuan Yew telah wafat pada pagi hari ini, dan Singapore telah menyatakan akan berkabung selama 7 hari dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

Lee Kuan Yew yang lahir pada tanggal 16 September 1923, wafat pada usia yang tergolong sangat tinggi yaitu usia 91 tahun pada tanggal 23 Maret 2015.

Lee Kwan Yew merupakan perdana menteri pertama Singapore, yang telah membangun dan merubah wajah negara Singapore menjadi salah satu negara yang cukup dikenal di dunia ini. Perdana menteri yang memerintah 30 tahun an ini telah menyulap Singapore yang baru merdeka menjadi negara yang disegani.

Kemajuan ekonomi dan keteraturan dalam tatanan masyarakat yang bisa dilipat dari kebersihan di seluruh Singapore, dengan sanksi ketat bagi pembuang sampah sembarangan, membuat Singapore memang jadi negara yang bersih dan warga Singapore boleh bangga akan hal ini.

Seorang turis yang di negara nya bisa membuang sampah sembarangan tanpa ada hukuman yang jelas, begitu sampai dan menginjakkan kaki di Singapore bisa menjadi berhati-hati dan mampu menjaga diri untuk juga tidak membuang sampah sembarangan.

Negara singapore yang minim sumber daya alam (bahkan air dan makanan diimpor dari luar negeri), tapi mampu menjadi negara ekonomi maju dunia dengan mengembangkan industri jasa, industri pariwisata, dan menjadi negara transit dari berbagai bisnis di dunia ini.

Singapore juga menjadi negara yang aman, sehingga para turis yang berkunjung ke sana tidak merasa khawatir baik dari segi keselamatan sepanjang hari bahkan juga di malam hari.

Karenanya warga Singapore sangat bangga akan bapak bangsa mereka ini dan dunia pun mengakui Lee Kuan Yew sebagai orang besar, yang telah membuat negara Singapore sebagai salah satu negara yang significan di dunia ini.

Lee Kuan Yew telah merubah satu pelabuhan kecil menjadi negara dengan ekonomi yang sangat maju di dunia.

Indonesia juga menyatakan ikut berduka cita akan meninggalnya Lee Kuan Yew ini.

Banyak negara juga telah mengirimkan ucapan duka cita ini.

Selamat jalan Bapak Bangsa Singapore : Lee Kuan Yew.

Dan kita harapkan akan lahir banyak orang-orang besar seperti Lee Kuan Yew ini.

Pempek makanan favorit asal Palembang

Kota Palembang merupakan salah satu kota yang terkenal di Indonesia, merupakan ibu kota dari Propinsi Sumatera Selatan. Kota Palembang ini dilalui oleh sebuah sungai yang lebar yang juga cukup terkenal, yaitu : Sungai Musi.

Melintang di atas Sungai Musi terdapat sebuah jembatan yang merupakan lambang dan menjadi kebanggaan kota Palembang, yaitu : Jembatan Sungai Musi. Jembatan Sungai Musi ini menghubungkan bagian Hulu dan bagian Hilir dari Sungai Musi.

Bahkan di tengah-tengah Sungai Musi terdapat sebuah pulau yang sangat terkenal di kota Palembang, yaitu Pulau Kemarau. Di Pulau Kemarau ini terdapat makam keramat yang selain menjadi legenda, juga menjadi tempat sembahyang banyak masyarakat kota Palembang. Pulau Kemarau juga menjadi bagian dari wisata bahari di Kota Palembang. Setiap tahun pada hari Cap Go Mei (yaitu malam tanggal 15 bulan ke satu penanggalan Tionhoa), Pulau Kemarau selalu penuh sesak dengan pengunjung baik yang bersembahyang maupun yang sekedar berwisata ke Pulau Keramat tersebut. Pulau Kemarau juga memberikan suatu daya magis luar biasa karena masyarakat Palembang para pemilik kapal dan perahu, banyak yang menggratiskan dan melayani dengaan senang hati semua pengunjung ke Pulau Kemarau ini,

Dengan makin berkembangnya minat para sponsor dan relawan, maka belakangan ini, bahkan dari sisi sungai Musi sampai ke Pulau Kemarau sudah tidak perlu dilayari dengan kapal ataupun dengan perahu lagi kalau sedang masa Cap Go Mei, karena kapal-kapal maupun ponton disusun menjajar sambung menyambung dari sisi sungai Musi sampai ke sisi Pulau Kemarau, sehingga pengunjung cukup berjalan kaki saja menyeberangi sungai Musi.

Ini merupakan salah satu fenomena luar biasa yang hanya dimiliki oleh kota Palembang dengan Sungai Musi dan Pulau Keramat yaitu Pulau Kemarau.

Palembang, karena dilalui oleh Sungai Musi, maka tentu saja menghasilkan banyak ikan sungai yang lezat-lezat.

Ikan-ikan dari Sungai Musi sangatlah segar dan sehat dengan gizi yang tinggi dan rasa yang lezat, dan terkenal banyak dibikin menjadi makanan spesial Palembang yaitu Pempek.

Ikan-ikan yang terkenal lezat untuk pembuatan Pempek ini adalah : ikan kutak, ikan belido, ikan gaabus, dan ikan tenggiri. Ikan kutak dan ikan belido merupakan ikan khas Palembang yang memang paling lezat untuk dijadikan pempek. tetapi ikan gabus dan ikan tenggiri juga bisa menjadi alternatif pembuatan pempek dengan rasa yang lezat juga.

Pempek Telor (kapal selam)

Pempek Telor (kapal selam)

Makanan pempek yang menjadi khas makanan Palembang yang sudah juga terkenal ke berbagai kota di Indonesia, sebenarnya juga punya berbagai variasi nya, seperti :

  • Macam-macam pempek : Pempek panjang (lenjer), pempek bulat (adaan), pempek panggang (pempek tunu), pempek pastel, pempek keriting, pempek tahu, pempek kulit, pempek lenggang, dan pempek telor (dikenal juga sebagai kapal selam).
  • Tekwan.
  • Model.
  • Celimpungan.
  • Kerupuk, kemplang, kemplang badak, getas.

Dan untuk memperlezat makanan ini juga ada kuah khusus untuk pempek, kerupuk dan kemplang yaitu cuko.

Memang seluruh variasi makanan dari pempek ini sangat lezat kalau pandai mengolah dan memasaknya, dengan bahan ikan sebagai bahan baku utama, jelas ikan sangat tinggi gizi nya dan juga lezat, dan unsur bahan baku kedua yaitu tepung sagu. Selebihnya adalah bumbu-bumbu yang diramu supaya benar-banar menjadi makanan yang lezat.

Bersama ini kami sertakan salah satu alternatif resep untuk membuat pempek telor dengan ikan tenggiri, sbb :

Bahan baku untuk Pempek :

  • 500 gram ikan Tenggiri.
  • 250 ml air es.
  • 2 sendok makan gula pasir.
  • 1 sendok makan garam.
  • 1/2 sendok teh kaldu bubuk.
  • 350 gram tepung sagu.
  • 20 butir telor puyuh (umumnya yang dipakai adalah telor ayam, contoh disini dengan telor putuh).

Bahan baku untuk Cuko :

  • 250 gram gula merah.
  • 50 gram asam Jawa.
  • 600 ml air.
  • 1 sendok makan bawang putih (haluskan).
  • 1 sendok makan cabe rawit merah (haluskan).
  • 1 sendok makan cabe merah (haluskan).

Bahan pelengkap :

  • 200 gram mie kuning basah (seduh dengan air panas).
  • 100 gram mentimun (dipotong-potong dulu).
  • 30 gram ebi (ditumbuk halus).

Cara membuat pempek telor :

  1. Haluskan ikan Tenggiri dengan pirikan. (Pirikan adalah saringan dari kuningan untuk menghaluskan daging ikan, tekan pirikan di atas potongan daging ikan, daging yang tersaring di atasnya dapat langsung diolah). Note : saat ini di Kota Palembang sudah ada yang menjual daging ikan Tenggiri atapun daging ikan Gabus yang sudah dipirik, sehingga siap untuk dipakai tanpa harus melakukan pekerjaan memirik ikan lagi.
  2. Campur air es, gula pasir, garam, dan kaldu bubuk, aduk sampai gulanya larut. Tuang campuran air ke dalam ikan yang sudah dihaluskan sambil diaduk rata. Uleni ikan tenggiri hingga menggumpal dan kenyal. (Pastikan daging ikan diuleni hingga kenyal dan mengkilap agar pempek lebih kenyal dan tidak keras).
  3. Tambahkan pelan-pelan tepung sagu, aduk rata. (Setelah tepung sagu dimasukkan jangan terlalu sering menguleni adonan karena pempek akan keras). Timbang adonan ikan seberat 30 gram. (Lumuri tangan dengan tepung sagu saat membuat adonan agar adonan tidak lengket di tangan).
  4. Ambil satu adonan ikan, buat lubang di tengahnya, masukkan 1 butir telor puyuh yang sudah dibuang kulit telurnya, tutup adonan perlahn-lahan sampai rapat.
  5. Masukkan langsung ke dalam air mendidih, masak sampai matang. Lakukan sampai seluruh adonan habis. Pempek yang sudah matang akan mengapung ke permukaan air. Angkat dan tiriskan.
  6. Goreng hingga berkulit, potong-potong lalu hidangkan dengan peoengkap.
  7. Siapkan cuko : Masak gula merah,  asam Jawa, dan air sampai gula larut dan kental. Angkat dan saring. Lalu masak kembali, tambahkan garam,  bawang putih halus, cabe rawit merah halus, dan cabe merah halus, diaduk sampai rata, dan dimasak sampai mendidih.

Maka dengan bahan baku seperti data di atas, bisa dibuat sebanyak 20 porsi Pempek Telor (Kapal Selam).

Anda ingin mencoba membuat pempek ?, atau mungkin doyan makan pempek ? Maka ini mungkin bisa menjadi gambaran dan referensi saja.

Selamat menikmati makanan khas Palembang, yaitu Pempek.

Di kota-kota lain biasanya hanya dibuat dari ikan Tenggiri, memang ikan inilah yang bisa ditemukan di kota lain.

Semoga bermanfaat dengan makanan favorit khas dari Palembang.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Tragedi Kemacetan

Tragedi Kemacetan

Tersebutlah sebuah cerita, ketika terjadi bencana kecelakaan pesawat terbang, hanya terdapat 3 (tiga) orang yang selamat dari kecelakaan tersebut. Sedangkan yang lainnya semuanya meninggal. Tetapi cerita ini menjadi lain karena lokasi jatuhnya pesawat adalah di tengah lapangan tandus tak berpenghuni dan tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Pesawat terbangnya hancur, cuma meninggalkan rongsokan yang hanya bisa dipakai untuk berteduh, semua komunikasi dengan dunia luar terputus, tidak ada makanan dan minuman sama sekali.

Apa yang akan anda lakukan kalau salah seorang tersebut adalah anda sendiri. Ketika hari mulai berganti hari, mereka mulai kelaparan, dan akhirnya pikiran yang muncul adalah hanya mengenai apa yang ada di sana, dan yang ada di sana itu ya hanya 3 manusia itu saja. Sehingga terjadilah musibah kemanusiaan, karena untuk mempertahankan hidup akhirnya mereka membunuh salah satu dari mereka dan dijadikan makanan untuk bertahan hidup, dan yang dipilih adalah yang paling gemuk, yang diharapkan bisa dijadikan stock makanan untuk waktu yang lebih lama, untuk mempertahankan hidup yang lainnya.

Setelah kemudian kembali stock makanan habis lagi, dan sisa mereka berdua, maka terjadilah perkelahian untuk mempertahankan hidup lebih lama. Ini adalah tragedi. Tragedi ini terjadi karena tidak ada solusi yang bisa diberikan dari luar, hanya melihat situasi dan kondisi yang ada, tanpa daya dan sumber yang lain. Sehingga tidak ada jalan keluar yang bisa jadi pilihan.

Kita membandingkan dengan kejadian kemacetan lalu lintas, ya, coba kemacetan lalu lintas di kota Jakarta. Lebih dari 20 tahun lalu sampai sekarang, pertambahan panjang jalan dan jumlah jalan baru sangat tidak signifikan. Dari 20 tahun lalu semua orang sudah bicara soal lalu lintas yang macet, dan sampai hari ini pun bicaranya masih sama, kenapa ?  Hampir pada banyak kesempatan kita mendengar orang membahas dan membicarakan soal kemacetan tetapi sampai hari ini pun pembicaraan masih sama saja. Bicara tidak menyelesaikan masalah, tetapi hanya membuat masalah makin muncul ke permukaan saja.

Lalu keluarlah pengaturan-pengaturan yang aneh-aneh yang diharapkan dapat mengurangi dan mengatasi kemacetan itu sendiri, dengan melihat keadaan dan situasi yang ada saja, lalu hanya dibuat aturan-aturan saja, artinya seperti cerita di atas, hanya memanfaatkan apa yang ada saja, tanpa daya dan sumber tambahan dari luar. Kemudian anak-anak disuruh masuk sekolah jam 06.30 pagi. Walaupun hal ini menyebabkan anak jadi kurang tidur, malas mandi pagi karena masih dingin, ngantuk, mudah capek, daya tahan tubuh menurun, dan mudah sakit. Anak dijadikan korban akibat adanya kemacetan lalu lintas, ini benar-benar mulai jadi tragedi. Anak-anak sudah mesti bangun pagi jam 05.30 saat masih ngantuk-ngantuknya, untuk mandi dan bersiap-siap, lalu berangkat ke sekolah melalui kemacetan lalu lintas, dan kalau terlambat dihukum di kelas berdiri di depan (disetrap) dan jadi tontonan murid kelas lainnya. Lalu orang tua pekerja yang mengantar anak, kemudian mesti pulang dan berangkat kerja lagi sesudah itu, sehingga yang tadinya bisa ke tempat kerja sekalian antar anak jadi efisien, maka jadi mesti melaku dua kali perjalanan, ini menjadikan boros waktu, boros tenaga, dan boros bahan bakar, dan orang tua pun jadi mesti bangun lebih pagi dan kurang tidur juga. Lalu sebagian orang tua yang tidak sempat menjemput anak pulang sekolah, maka anak-anaknya terpaksa menunggu sampai sore atau malam setelah orang tuanya pulang kerja dan baru bisa dijemput pulang, sehingga anak-anak terpaksa menunggu di sekolah tanpa istirahat seharian.

Lalu ada lagi pengaturan jalur jalan 3 in 1. Mobil dengan penumpang kurang dari 3 orang tidak boleh lewat jalur 3 in 1. Hal ini menyebabkan perjalanan menjadi lebih panjang karena mesti mengambil jalan-jalan alternatif yang lebih jauh, boros bahan bakar juga. Sedangkan ada juga yang terhambat untuk beraktivitas karena harus menunggu habisnya jam jalur 3 in 1 ini. Banyak juga yang menggunakan jasa joki 3 in 1 yang berdiri banyak di pinggiran jalan saat jam-jam berlakunya 3 in 1. Akhirnya lahirlah pekerjaan informal sebagai joki 3 in 1, orang jadi malas bekerja, cukup menemani pengendara mobil yang mau lewat jalur 3 in 1 duduk dalam mobil saja dapat penghasilan. Sedangkan pengemudi yang mengambil dan membayar joki 3 in 1 dihadapkan pada kenyataan harus memberikan tumpangan pada joki 3 in 1 yang tidak dikenal dengan segala resikonya. Akhirnya mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang dan ditemani joki 3 in 1 bisa lewat jalur 3 in 1. Ini benar-benar jadi dagelan.

Dan juga mulai banyak perubahan tempat-tempat belokan. Makin hari tempat belokan dibuat makin jauh, sehingga untuk membelok saja mesti menempuh jalan yang jauh dulu. Sebagian perempatan kendaraan tidak bisa untuk berbelok atau melintas jalan, dan mesti berbelok di tempat yang jauh. Sehingga waktu kendaraan di jalanan makin panjang. Seharusnya kendaraan sudah bisa cepat masuk gedung parkir, atau sudah masuk jalur jalan kompleks perumahan, tetapi pada kenyataannya masih harus berputar-putar di tempat di jalanan sehingga menjadi lama, boros waktu, boros bahan bakar dan menjadikan pengendara jadi stress. Berlama-lamaan di jalan, sebagian besar kendaraannya ya itu-itu saja dan hanya berputar-putar.

Kemudian muncullah jalur bus way. Mestinya kalau jalur jalan bus way ini adalah jalan baru yang dibuat, tentu akan sangat bermakna dan berpengaruh. Tetapi sayangnya, hanya mengambil begitu saja jalur jalan yang ada, sehingga jalur jalan yang tadinya 4 jalur jadi 3 jalur, yang 3 jalur jadi 2 jalur, dan gawatnya yang 2 jalur tinggal cuma 1 jalur jalan saja. Jelas telah terjadi penyempitan badan jalan secara signifikan. Lalu kemacetan kendaraan pribadi pun jadi bertambah-tambah. Pengendara mobil pribadi juga sulit untuk beralih ke busway. Itupun kadang kita bisa lihat penumpang bus way yang antri dan menunggu sangat lama di halte bus. Penyempitan jalur jalan ini persis seperti contoh cerita di atas, sehingga menjadi kanibal dan memakan yang lain, dan menyisakan jalan yang lebih sempit. Sedangkan jatah jalan untuk kendaraan lain yang sudah diambil satu jalur tidak dimanfaatkan secara maksimal, kelihatan lenggang, bus way yang ada sangat sedikit, penumpang berjubel dan mengantri berdesak-desakan. Kalau hanya berhitung untung rugi dari pelayanan publik, maka kerugian yang terbesar justru ada pada kerugian negara dan masyarakat. Waktu yang terbuang, fasilitas yang tak dimaksimalkan penggunaannya, dan semua runtutan kerugian yang tak ternilai yang tidak bisa hanya dibandingkan dan dikalkulasi dari untung ruginya bisnis bus way itu sendiri. Pelayanan publik seharusnya sudah tidak boleh menghitung untung rugi, karena itu adalah mutlak untuk kesejahteraan masyarakat. Dan kalau jeli, justru keuntungan akan datang dari segi yang lain, seperti efisiensi waktu, produktivitas yang meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan penghasilan masyarakat dan penerimaan negara secara tidak langsung.

Kalau kita melihat pola berfikir dan bertindak, maka kita bisa samakan antara cara pengaturan lalu lintas dengan hanya mengotak-atik apa yang ada saja, baik dengan membuat pengaturan dan aturan-aturan saja, tanpa memberikan daya dan sumber yang berarti ke dalamnya. Dan hal ini sama dengan kejadian tragedi kemanusiaan pada cerita kecelakaan pesawat terbang di atas, yang mana mereka terjebak pada situasi tidak dapat berbuat apa-apa dan menjadi kanibal dan hanya bertahan pada apa yang ada di hadapannya saja.

Hal ini sangat disayangkan. Banyak sekali waktu terbuang hanya untuk membahas, dan membicarakan soal kemacetan lalu lintas. Banyaknya penganguran, berarti juga banyak tenaga kerja, dan sangat siap untuk bekerja full time 3 shift sehari yaitu 24 jam sehari. Pekerja-pekerja yang ingin bekerja lembur untuk mendapatkan penghasilan lebih juga sangat banyak. Jangankan membangun jalan, membuat Candi Borobudur yang menjadi salah satu keajaiban dunia saja manusia kita mampu. Apalagi sekarang teknologi sudah begitu maju. Banyak alternatif jalan bisa dibuat. Dan semua itu tentu tidak bisa hanya berputar-putar di tempat dengan membuat peraturan-peraturan yang aneh-aneh saja, tetapi perlu suatu tindakan nyata memasukkan daya dan sumber dari luar, berupa tenaga kerja, bahan, teknologi dan management.

Harus ada penambahan panjang  jalan dan lebar jalan, serta alternatif kendaraan lain, seperti Kereta Api, Kereta Api Bawah Tanah, Light Rail Train (LRT), Mass Rapid Transport (MRT), Monorail, Sky Train, Jalan Layang, Jalan Tol, Terowongan dan sebagainya. Dan semuanya sudah harus dibangun dan didesain bukan saja untuk kebutuhan kemacetan lalu lintas pada hari ini, tetapi harus menjawab masalah lalu lintas untuk puluhan tahun ke depan. Bahkan saluran-saluran pembuangan air, atau pembuatan kanal-kanal untuk pengendalian air banjir pun bisa dibuat sebanyak mungkin yang sekaligus juga bisa dimanfaatkan untuk lalu lintas air (transportasi air), bahkan bisa juga bermanfaat untuk wisata selain fungsi drainase nya.

Pada saat terjadi perubahan iklim dan cuaca, burung-burung tertentu bisa terbang jauh menyeberangi lautan untuk mencari kehidupan yang lebih aman dan nyaman. Manusia berakal budi. Jadi tidak perlu didekte lagi, begitu segala sesuatu menjadi baik, jalanan lancar, transportasi baik dan rapi, serta nyaman dan mendapat pelayanan yang menyenangkan, maka otomatis, orang-orang akan pindah dan memanfaatkan semua kemudahan ini. Sehingga orang-orang yang mencicil kendaraan dengan mengurangi jatah makan keluarga sehari-hari, atau perlu banyak biaya ekstra akibat kerusakan kendaraan, resiko kecelakaan lalu lintas dan capek dalam mengendarai kendaraan akan otomatis beralih dengan sendirinya. Juga tidak perlu lagi orang antri berlama-lama  untuk memarkirkan dan mengeluarkan kendaraan dari gedung-gedung parkir, karena manusia pada dasarnya mau hidup nyaman, aman, dan mudah. Manusia tidak perlu diberikan banyak peraturan dan pengaturan, karena semakin berbudaya dan semakin maju manusia, mereka akan makin sadar dan tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan, bahkan mungkin bisa lebih baik dari yang bisa dibayangkan oleh yang membuat bermacam aneh-aneh peraturan dan pengaturan. Maka harapan kita agar tragedi kemacetan suatu hari akan menjadi kenangan pahit masa lalu dari generasi yang lalu. Dan sementara ini kita cukup menikmati semua pepesan kosong dari omong-omong soal usaha mengatasi kemacetan lalu lintas yang hanya berkutak-katik di atas kertas dan di belakang meja saja, persis seperti cerita kecelakaan pesawat terbang di atas, yang mana sisa manusia yang hidup hanya berkutak dengan dirinya sendiri saja.

Bagaimana pendapat Anda ?? Setujukah ???

Silakan berikan komentar Anda yang bisa membuat kita membangun semangat yang lebih baik. Terima kasih.

Catatan : Gambar karikatur di atas bersumber dari gambar pada Harian “Seputar Indonesia” (kartun editorial) pada kolom Opini halaman 9 terbitan hari Selasa tgl. 22 Februari 2011.