Mall MGK Kemayoran – Jakarta Pusat

Tulisan dan ulasan kami berikut ini ingin memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai Mall MGK Kemayoran.

Mall MGK Kemayoran merupakan satu-satunya mall yang berada di tengah-tangah Kota Baru Bandar Kemayoran – Jakarta Pusat. Dibangun di tengah-tengah jantung kota Jakarta, mall ini merupakan mall yang juga dipersiapkan untuk menampung pengembangan dan pindahnya para pebisnis dari Bursa Mobil Kemayoran ke lokasi yang lebih elit dan lebih representatif. Walaupun sampai saat ini Bursa Mobil Kemayoran masih beroperasi seperti biasa, Mall MGK Kemayoran telah menjadi tempat berkumpulnya usaha bengkel mobil dan penjualan spare part (suku cadang) mobil di dalam mall yang megah.

Banyak yang masih ingat tentunya, bahwa awalnya Mall MGK Kemayoran dikenal sebagai Mall Mega Glodok Kemayoran, tetapi karena untuk menghindarkan kesalahpahaman masyarakat mengenai lokasi mall ini, maka kata Glodok dihilangkan dengan menyingkat Mega Glodok Kemayoran menjadi MGK. Adanya kata Glodok pada awal nya merupakan penegasan bahwa mall ini merupakan mall teknik atau mall yang berhubungan dengan alat-alat teknik dan penunjangnya.

Lokasi Mall MGK Kemayoran ini bisa kita pelajari dengan detail dari peta kota Jakarta, ataupun bisa juga dengan google map atau google earth yang tentu merupakan fasiltas sangat canggih dari google untuk mencari lokasi yang kita ingin ketahui.

Berikut ini merupakan foto denah yang kami dapatkan dari sumber google map atau google earth yang juga menyediakan foto berupa street view, sebagai berikut :

Denah Lokasi Mall MGK Kemayoran2

Dan_berikut_ini_merupakan_foto perspektif Gedung Mall MGK Kemayoran – Jakarta Pusat :

Foto Mall MGK Kemayoran

Berikut_ini_kami_coba_memberi rincian, jalan yang mudah untuk menuju Mall MGK Kemayoran – Jakarta Pusat.

  • Kalau kita ingin melalui jalan tol, maka bila dari arah Tangerang atau dari arah Jakarta Barat, maka kita bisa keluar di pintu tol Ancol / Kemayoran. Lalu kita jalan terus sepanjang Jl. Benyamin Sueb (Jl. Landas Pacu), dan melewati lokasi PRJ (Pekan Raya Jakarta) terus sampai ke Bundaran yang ada 2 patung ondel-ondel besar. Di bundaran ini kita berputar balik arah, lalu cukup maju sedikit saja maka di sebelah kiri sudah kelihatan bangunan gedung besar tinggi yang merupakan Mall MGK Kemayoran.
  • Kalau kita dari arah Bogor atau dari arah Jakarta Selatan, dan kalau kita melalui tol, maka setelah tol Jagorawi, kita bisa masuk ke tol dalam kota yang mengarah ke Tanjung Priok. Kita bisa keluar di pintu tol Cempaka Putih, di pintu tol Sunter, ataupun pintu tol Ancol / Kemayoran. Kalau keluar di pintu tol Cempaka Putih, maka bisa lewat Cempaka Putih dan belok kanan ke arah Kemayoran Gempol / Kemayoran Jiung, sampai ketemu Bundaran yang ada payung ondel-ondel lalu masuk ke jalan jalur lambat dan sudah kelihatan Mall MGK Kemayoran.
  • Kalau kita dari arah Bekasi atau dari Jakarta Timur, maka setelah keluar dari tol Cikampek, kita bisa masuk ke tol dalam kota ke arah Tanjung Priok. Kalau kita keluar di pintu tol Sunter, maka kita bisa melewati Jl. Danau Sunter dan menuju ke Kemayoran. Kalau di sebelah kanan kita sudah ketemu Rumah Susun Kemayoran, maka kita sudah sangat dekat dengan Mall MGK Kemayoran.
  • Melalui jalan biasa, kita bisa melalui Jl. Gunung Sahari, lalu belok di perempatan yang ada hotel Golden ke arah Jl. Angkasa. Terus saja menyusuri Jl. Angkasa karena Mall MGK Kemayoran terletak di ujung hoek Jl. Angkasa.
  • Kalau dari Gajah Mada Plaza, maka kita cukup mengarah ke Jl. Sawah Besar, lalu di perempatan dengan Jl. Gunung Sahari jalan saja lurus ke arah Jl. Angkasa, melewati kantor Merpati, kantor Pelni, maka sampai di ujung Jl. Angkasa kita melihat tulisan Hypermarket dan MGK. Mall MGK Kemayoran punya beberapa pintu masuk.
  • Kalau kita dari arah Jl. Pangeran Jayakarta atau Jl. Mangga Dua, maka kita bisa lewat Jl. Industri, Jangan bingung, bila kita sudah berada di Jl. Industri, atau di Jl. Bungur, atau Jl. Garuda, atau di PRJ Kemayoran, maka berarti kita sudah dekat dengan Mall MGK Kemayoran, cukup tanya arah dengan orang di pinggir jalan, maka akan tahulah kita dimana Mall MGK Kemayoran itu.
  • Kita juga bisa naik kereta api, dan turun di stasiun KA Kemayoran, atau di stasiun KA Senen, maka sudah dekat Mall MGK Kemayoran ini. Kita bisa naik bajaj atau ojek motor ke Mall MGK Kemayoran dari stasiun KA Kemayoran, atau dari stasiun KA Senen.
  • Sedangkan bila kita mau naik BusWay, maka kita bisa naik BusWay jurusan Mangga Dua – Tanjung Priok, dan turun di halte BusWay Kemayoran yang dekat dengan Rumah Susun Kemayoran.

Sangat banyak alternatif jalan bukan? Tentu saja. Karena Mall MGK Kemayoran berada di tengah-tengah kota yang sangat strategis. Kalau kita masuk lewat pintu utama MGK Kemayoran, maka kita bisa melihat kalimat Selamat Datang di Mall MGK Kemayoran sebagai berikut :

Logo Gerbang Parkir MGK Hp 0818168990

Dan_di_Mall_MGK_Kemayoran_ini kita bisa mendapatkan bermacam peralatan teknik, berbagai spare parts (suku cadang), bahkan juga bisa membeli sepeda listrik. Contoh sepeda listrik nya adalah sebagai berikut :

Sepeda Listrik Type Garuda, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Type Garuda, Hp : 0818168990

Untuk_informasi_dan_pemesanan Sepeda Listrik merk Selis, silakan hubungi : Pak Lim,

Hp : 0818 16 8990.

(gratis ongkos kirim untuk Jabodetabek, dan bayar setelah sepeda listrik diterima /COD)

Kalau yang di atas itu adalah sepeda listrik merk Selis dengan bentuk yang lux, maka berikut ini adalah contoh sepeda listrik dengan bentuk lebih convensional, sebagai berikut :

Sepeda Listrik Selis Butterly Hp. 0818168990.

Sepeda Listrik Selis Butterly Hp. 0818168990.

Selis Type Go Green Hp. 0818168990.

Selis Type Go Green Hp. 0818168990.

Logo Selis Sniper Hijau Hp 0818168990

Sepeda Listrik Type Sniper Hp 0818168990

Untuk_melihat_foto_foto_dan_harga promosi Sepeda Listrik, silakan lihat website : www.InvestorEmas.com

 Untuk info dan pemesanan Sepeda Listrik merk Selis, silakan hubungi : Pak Lim,

Hp : 0818 16 8990.

(gratis ongkos kirim untuk Jabodetabek, dan bayar setelah sepeda listrik diterima /COD)

Untuk melihat semua type dan harga sepeda listrik Selis, bisa lihat di website : http://investoremas.com

atau lihat di website : http://www.RukoRumahTinggal.com

Jalanan Macet Parkir pun Sulit

Seperti yang kita ketahui, untuk kota Jakarta, saat ini parkir di gedung-gedung atau mall sudah mencapai Rp. 4.000,- per jam. Lewat 1 detik pun sudah mesti bayar tambahan jam. Jadi bila 1 jam 1 detik berarti sudah dihitung 2 jam, yang berarti Rp, 8.000,-. Padahal kadang-kadang dari pengambilan tiket parkir masuk sampai mendapatkan tempat parkir, mungkin saja kita mesti berputar-putar dalam keputusasaan sampai lebih dari setengah jam untuk mendapatkan tempat parkir yang kosong. Keluar dari tempat parkir pun tidak mudah, bisa juga mencapai setengah jam. Tetapi semua kesulitan dari mencari tempat parkir yang kosong dan keluar dari tempat parkir yang mesti antri panjang juga termasuk biaya yang harus dibayarkan saat bayar biaya parkir, di sini jelas ada ketidak adilan. Ada hal yang salah. Gedung parkir dan pengelolanya makin kaya sedangkan konsumen makin tertindas. Apakah ini adalah kebijakan yang baik dan adil ?

Lalu kenapa juga biaya parkir bisa juga dikenakan kepada pemilik rumah, pemilik ruko, pemilik kantor yang parkir di depan rumahnya, di depan rukonya, ataupun di depan kantornya? Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah pusat keramaian. Dimana-mana muncul tukang parkir yang tidak jelas bekerja untuk siapa, kemana saja uang parkir yang didapat, semua uang tersebut tidak jelas pengelolaannya dan berakhir dimana ?

Bahkan di depan sekolah, tempat les buat anak-anak, rumah sakit pun parkir disamakan, padahal tidak ada nilai tambah (tidak ada penghasilan) dari kegiatan menjemput anak di sekolahan, atau mengantar anak ke tempat les, atau berobat di rumah sakit. Bukankah semua ini hanya memberatkan masyarakat. Sepertinya semua orang asal sudah menjaga jalanan, sudah boleh jadi preman jalanan atau raja jalanan dan memungut uang parkir.

Kalau kebijakan menaikkan harga parkir mobil adalah untuk mengurangi mobil pribadi, maka itu sama saja seperti petinju yang sudah terdesak di pojok ring tinju yang tidak bisa mundur lagi dan terus dicecar dengan pukulan-pukulan mematikan, maka petinju itu hanya bisa bertahan tanpa berdaya. Maka demikianlah pengendara mobil pribadi ketika harga parkir dinaikkan hanya bisa bertahan saja seperti petinju yang sudah terpojok di sudut ring tinju. Mau beralih ke kendaraan umum, yang mana? Kan belum siap.

Semrawut dan Macet di Jakarta

Dari foto di atas terlihat di sebelah kanan ada busway (Bus Trans Jakarta) di jalur busway, dan di depan sebelah kiri sebuah bus (Bus Metro Mini) memotong di depan busway (Bus Trans Jakarta) tersebut, dan di belakang bus (Bus Metro Mini) tersebut ada mobil pribadi dengan jarak yang sangat dekat (mepet), dan antara mobil pribadi dan busway (Bus Trans Jakarta) ada sepeda motor sedang memaksa masuk di space sempit antara busway (Bus Trans Jakarta) dan mobil pribadi. Hal ini selain sangat membahayakan nyawa dan juga sangat beresiko pada kerusakan mobil yang akan tergores oleh stang sepeda motor, juga menjadikan jalan raya di Jakarta sangat semrawut.  Tidak ada pemisahan antara mobil dan sepeda motor dan sepeda motor boleh seenaknya menyelonong ke mana-mana. memang nyawa sepertinya kurang berharga dan sulit mempertahankan body dan cat mobil dalam keadaan mulus karena dengan mudahnya disenggol oleh sepeda motor.

Kalau selalu pemerintah atau pejabat berfikir bahwa pengguna mobil adalah orang kaya, maka itu jelas salah besar !

Kenapa salah besar ? Karena mobil di Jakarta bukanlah barang mewah untuk dipamerkan, tetapi kendaraan yang dibutuhkan karena kegagalan pemerintah dalam melayani rakyatnya dengan transportasi massal yang baik, yang murah, dan manusiawi.

Mobil juga ada kelas-kelas nya, baik dari merk nya, dari type nya maupun dari harga nya. Kalau mobil-mobil termurah dari merk-merk biasa dan bukan dari merk-merk yang dikenal sebagai mobil mewah, maka mestinya dikategorikan sebagai mobil biasa, dan tidak layak disamakan ataupun diklasifikasikan sebagai mobil mewah.

Pernah kita mendengar kata-kata sebagai berikut : bisa beli mobil, tetapi tidak sanggup beli bahan bakar minyak (bbm) nya. Jadi mungkin saja ada kelompok kelas masyarakat yang hanya mampu membeli mobil (mungkin juga masih kredit dan belum lunas), tetapi kesulitan membeli bbm (bahan bakar minyak) nya. Dalam kondisi transportasi massal belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa rakyat mesti membeli mobil walaupun beli dengan terpaksa sehingga menyulitkan likwiditas keuangan.

Memang negara bisa berpesta pora dengan pajak kendaraan yang begitu besar dan menggiurkan, tetapi masyarakat begitu tersiksa, apalagi saat sudah memiliki mobil, terpaksa jadi supir (dengan menyetir mobil sendiri) karena untuk membayar supir belum tentu mampu, lalu ketika masuk ke dalam hiruk pikuk jalanan, ternyata kadang untuk jarak tempuh pendek saja bisa memakan waktu berjam-jam, karena kemacetan yang luar biasa.

Jalanan begitu semrawut, sepeda motor bisa dengan seenaknya memotong di depan mobil, atau memepet dari sebelah kiri, memepet dari sebelah kanan, bahkan kadang kala ada sepeda motor yang dengan seenaknya berjalan berlawan arah arus jalan. Semuanya hanya mencari peluang atau kesempatan untuk berjalan lebih cepat, karena sudah terlalu banyak waktu habis di jalan, sedangkan sudah ditunggu orang, atau sudah terlambat dari janji atau terlambat dari jadwal. Orang-orang pada buru-buru dan cenderung emosional dan stress, hal yang tidak baik untuk kesehatan jiwa tentunya.

Mobil-mobil juga sering sangat berdekatan, kadang-kadang mobil di sebelah kiri atau pun di sebelah kanan bisa bersentuhan kaca spionnya atau bertabrakan kaca spionnya. Kemacetan membuat pengendara mobil sulit memprediksi waktu tempuh. Waktu yang dihabiskan di jalanan begitu lama sehingga membuat waktu produktif sangat tersita, sehingga membuat banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk berproduksi, untuk bekerja, untuk mencari penghasilan, dan untuk memiliki waktu bersama keluarga.

Menaikkan uang parkir dengan harapan pemakai kendaraan pribadi (mobil pribadi) beralih ke kendaraan umum itu adalah mustahil bila transportasi umum tidak memadai, tidak aman, dan tidak nyaman. Sering kita menyaksikan jalur busway yang kosong tanpa bus, sedangkan di luar jalur busway begitu macet luar biasa. Tentu hal ini sangat ironis sekali, bahkan banyak penumpang busway yang menumpuk dan antri untuk naik busway. Seharusnya jalur busway yang sudah mengambil lebar jalan sehingga menjadikan jalan makin sempit, agar bisa digunakan secara maksimal, busway mesti ditambah dan tidak seharusnya penumpang antri. Bukankah calon penumpang yang ada saja sudah antri, apalagi kalau pemilik kendaraan pribadi ikut naik busway, maka antrian akan tambah parah? Jadi mestinya busway cukup dan tidak terjadi antri yang menyulitkan di halte-halte busway supaya pengendara mobil pribadi mau beralih dan naik busway.

Pencanangan dimulainya pembangunan MRT (mass rapid transport) oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Jokowi merupakan langkah awal yang baik, walaupun sudah sangat terlambat. Tetapi bagaimanapun juga terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang kita bisa berharap pada Bapak Jokowi karena beliau memiliki pemikiran bahwa transportasi umum mesti lebih diprioritaskan, mesti ditata dan dibangun. Bukan seperti yang selama ini terjadi, rakyat dibiarkan mencari jalan pintas sendiri, sehingga bermunculan sepeda motor – sepeda motor yang membuat lalu lintas makin semrawut dan tidak keruan. Kecelakaan lalu lintas makin tinggi dan banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalanan dengan banyaknya sepeda motor, apalagi pengendaranya banyak yang asal bisa saja. Munculnya banyak sepeda motor juga sangat menyulitkan usaha mobil-mobil angkot (angkutan kota) yang menjadi kekurangan penumpang. Konsumsi bahan bakar minyak juga menjadi meningkat luar biasa, karena bila banyak sepeda motor maka konsumsi bahan bakar akan banyak juga, berbeda dengan kendaraan umum, yang tentunya jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan konsumsi bbm (bahan bakar minyak) yang sedikit sudah mampu mengangkut banyak orang. Jadi yang terjadi selama ini sangat bertolak belakang dengan keinginan menghemat bahan bakar minyak (bbm), dengan membiarkan sepeda motor makin banyak dan transportasi massal tidak dikembangkan dengan sewajarnya.

Di samping itu, banyaknya beton-beton pembatas jalan dari beton atau beton-beton yang cuma ditaruh begitu saja di jalanan, sebenarnya juga sangat membahayakan pengendara lalu lintas. Mestinya pembatas-pembatas jalanan menggunakan material-material yang manusiawi juga, sehingga bila secara tidak sengaja disenggol oleh mobil, maka mobilnya tidak rusak. Kita bisa melihat beton-beton pembatas yang tinggi-tinggi di ujung Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba, atau di Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading. Sedikit saja mobil menyentuh beton tersebut maka akan rusaklah mobilnya. Beton-beton pembatas jalan ini pun sangat membahayakan terutama saat terjadi banjir, karena beton-beton tersebut tidak terlihat dan tertutup genangan air banjir.

Memang lalu lintas begitu macet dan semrawut, tetapi kita masih berharap hadirnya Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi bisa membuka jalan untuk mengatasinya secara bertahap agar generasi mendatang bisa lebih mudah dalam berpergian, dengan lebih banyak alternatif kendaraan umum yang nyaman, aman dan layak serta manusiawi.