Efisiensi perusahaan dengan menggunakan sepeda listrik

Sudah ada sepeda listrik bisa kita lihat dan temui di jalanan di kota Jakarta, dan makin hari tentu akan meningkat makin banyak. Karena hematnya serta kepraktisan dari sepeda listrik ini, maka sepeda listrik yang sangat ramah lingkungan ini sudah mulai dilirik oleh banyak peminat.

Berikut ini kami mengutip salah satu artikel di Harian Warta Kota terbitan hari Senin tanggal 1 Desember 2014 pada halaman 5, dengan judul artikel adalah : “Dana Rp. 1,2 Miliar untuk Beli Sepeda Listrik”, sebagai berikut :

Perusahaan jasa pengiriman JNE akan menggunakan sepeda listrik untuk pengantaran barang di dalam kota sebagai upaya menyisiati pemberlakuan larangan motor melintas di Jalan MH Thamrin dan Medan Merdeka Barat.

“Kami akan menggunakan sepeda listrik untuk tetap bisa melayani pelanggan kami di jalan-jalan yang dilarang melintas motor itu”, kata Johari Zein, Managing Director JNE, seperti dikutip Antara, baru-baru ini.

Johari mengatakan, telah menyediakan 100 unit sepeda listrik dengan investasi senilai Rp. 1,2 miliar. Adanya investasi itu, pihaknya merogoh biaya tambahan untuk belanja modal, namun di sisi lain biaya operasional jadi lebih efisien.

Memang, kata Johari, kemampuan kecepatan sepeda listrik lebih rendah dibandingkan dengan motor yang berdampak pada keterlambatan pengiriman.

“Untuk itu, diperlukan uji coba bolak-balik secara keseluruhan. Kami sudah lakukan itu. Sepeda memang agak terlambat apalagi untuk pengiriman pagi-pagi”, kata Johari.

Johari mengatakan, pembatasan dengan kendaraan bermotor akan menimbulkan masalah logistik di dalam kota seperti Jakarta, yang pengiriman paling banyak dengan motor.

“Bagaimana kalau motor enggak boleh masuk, kami sebagai operator kerja keras. Korbannya bukan kami, tapi pelanggan yang akan mengalami keterlambatan pengiriman, terutama di Jalan Thamrin”, kata Johari.

Johari mengatakan, jumlah pengiriman paket ke wilayah Jakarta Pusat, terutama Jalan Thamrin dan empat Jalan Merdeka menyumbang 20.000 – 30.000 pengiriman paket dari 160.000 pengiriman paket ke seluruh wilayah Jakarta.

“Kebutuhan masyarakat tetap tinggi terutama untuk pengiriman bisnis. Karena itu, kami jauh-jauh antisipasi, katanya. (ang).

Demikianlah kutipan dari Harian Warta Kota, yang tentu saja bisa kita baca langsung di Harian Warta Kota tersebut.

Seperti yang kita ketahui, JNE merupakan salah satu perusahaan jasa pengiriman yang sangat bisa diandalkan dan termasuk perusahaan yang telah sangat kita kenal, seperti halnya Tiki ataupun perusahaan jasa pengiriman (expedisi) lainnya.

Dari tulisan artikel di Harian Warta Kota tersebut, bisa kita simpulkan bahwa kehadiran sepeda listrik sebagai alat transportasi, bahkan sudah dijadikan pilihan untuk menjadi penunjang usaha (bisnis) dan bukan saja sekedar sebagai alat transportasi. Sepeda Listrik bahkan sudah digunakan untuk melancarkan usaha (bisnis) pengantaran.

Pilihan penggunaan sepeda listrik untuk jasa pengantaran tentu saja merupakan pilihan yang cerdas. Sepeda listrik yang sudah terbukti handal sebagai alat transportasi di jalan raya, juga sangat hemat, karena tidak membutuhkan bahan bakar, tidak perlu perawatan kecuali pengisian aki (cas aki) saja, sangat ramah lingkungan, tidak mengeluarkan asap, tidak mengeluarkan getaran maupun bunyi dan tidak menghasilkan polusi.

Memang sepeda listrik umumnya memiliki kecepatan lebih rendah daripada sepeda motor. Tetapi sebenarnya ada sepeda listrik yang bisa ngebut dengan kecepatan tinggi, seperti sepeda listrik selis type Jalak, ataupun sepeda listrik selis type Merak, yang bisa mencapai kecepatan 90 km / jam. (silakan baca di website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric). Tetapi tentu dengan harga yang lebih mahal daripada sepeda listrik biasa lainnya. Mungkin karena harga sepeda listrik selis type Jalak ataupun type Merak yang seharga Rp. 17,8 juta, makanya tidak dijadikan pilihan untuk usaha pengantaran karena kebutuhan perusahaan pengiriman bukan hanya 1 atau 2 sepeda listrik saja, tetapi suatu armada besar yang melibatkan setidaknya 100 buah sepeda listrik.

Jadi sangat jelas, bahwa kehadiran sepeda listrik mulai akan menggeser penggunaan sepeda motor. Sepeda listrik bukan saja dipakai di lingkungan perumahan, tetapi juga di jalan raya dan dengan pilihan berbagai type dan model, maka bisa juga dipakai dari anak-anak sampai orang tua, dan sangat praktis, tidak butuh SIM (surat ijin mengendara).

Terdapat berbagai type dan merk serta berbagai spesifikasi yang berbeda-beda dari bermacam sepeda listrik (sepeda electric), sedangkan khusus untuk sepeda listrik merk Selis, bisa dilihat dan dibaca secara lengkap pada website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric

Berikut ini adalah beberapa contoh foto sepeda listrik merk Selis :

Logo Sepeda Listrik Selis Type Sniper Tosca 2 Hp 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Sniper, Hp : 0818168990

Selis Type New Go Green, Hp : 0818168990

Selis Type New Go Green, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Elang

Sepeda Listrik Selis Type Elang

Sepeda Listrik Selis Type Jalak, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Jalak, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Butterfly

Sepeda Listrik Selis Type Butterfly

Sepeda Listrik Selis Type Garuda

Sepeda Listrik Selis Type Garuda

Sepeda Listrik Selis Type MTB Victory

Sepeda Listrik Selis Type MTB Victory

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik,

silakan hubungi : Pak Lim.

Hp : 0818168990.

Sepeda Listrik Selis Type MTB 29, Hp : 0818168890

Sepeda Listrik Selis Type MTB 29

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik,

silakan hubungi : Pak Lim.

Hp : 0818168990.

Jembatan Suramadu sebagai infrastruktur

Suramadu lebih tepat merupakan singkatan dari SURAbaya MADUra.

Berikut ini adalah foto jembatan Suramadu yang dimaksud :

Jembatan Suramadu, merupakan jembatan yang melintas di atas laut yang menghubungkan Pulau Jawa tepatnya kota Surabaya di Jawa Timur ke Pulau Madura. Jembatan Suramadu merupakan satu contoh bentuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. Memang pembangunan infrastruktur di Indonesia termasuk sangat lambat dan sangat ketinggalan dibandingkan bahkan dengan negara-negara tetangga terdekat seperti Singapore dan Malaysia. Tetapi pembangunan infrastruktur merupakan hal dasar yang sangat penting dan tidak selayaknya kurang menjadi perhatian dan prioritas pembangunan di dalam negeri.

Sudah seharusnya dan sudah juga sangat terlambat pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa tepatnya daerah Merak di Jawa Barat ke Pulau Sumatera tepatnya daerah Bakauheni atau Bandar Lampung di sebelah Selatan Pulau Sumatera. Penumpukan dan macetnya kendaraan angkutan di pelabuhan Merak yang sering terjadi bahkan bisa berlangsung berminggu-minggu adalah sebagai salah satu bukti nyata bahwa perencanaan dan pembangunan infrastruktur sangat lamban atau bahkan berjalan di tempat.

Pembangunan infrastruktur juga semestinya disertai dengan pembangunan kota dan tempat wisata, supaya manfaat pembangunan infrastruktur tersebut bisa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitarnya.

Beberapa tempat wisata di Pulau Madura nampaknya masih kurang mendapat sentuhan yang semestinya, yang seharusnya bisa menjadi sumber kemajuan ekonomi setempat seperti beberapa contoh tampak dalam foto berikut ini :

Wisata Pantai Lombang, lebih dekat dicapai dari kota Sumenep.

Wisata Pantai Lombang, lebih dekat dicapai dari kota Sumenep.

Pantai Lombang - pantai timur Pulau Madura

Pantai Lombang - pantai timur Pulau Madura

Pantai Slopeng - Pantai Utara Pulau Madura

Pantai Slopeng - Pantai Utara Pulau Madura

Batu bata buatan Madura

Batu bata buatan Madura

Batu bata dibuat dari endapan pasir laut

Batu bata dibuat dari endapan pasir laut

Api Tak Kunjung Padam di wilayah Pamekasan

Api Tak Kunjung Padam di wilayah Pamekasan

Melihat beberapa foto di atas, terlihat ada Wisata Pantai Lombang di Pantai Timur Pulau Madura, ataupun Wisata Pantai Slopeng di Pantai Utara Pulau Madura. Kedua pantai tersebut adalah sekitar 1 sampai 2 jam perjalanan dari kota Sumenep.

Dari Pantai Lombang menuju Pantai Slopeng juga bisa kita lihat berbagai bentuk bebatuan yang cukup unik dan menarik, merupakan hasil tak terduga dari pembuatan batu bata dari bukit-bukit endapan pasir laut yang mengeras, yang kemudian dibuat menjadi batu bata-batu bata yang dipakai dalam pembuatan dan pembangunan rumah-rumah. Tempat pembuatan batu bata ini kemudian membentuk suatu dinding-dinding batu yang unik karena batu batanya dibuat dengan menggergaji bukit pasir, juga membentuk semacam terowongan atau basement. Berbeda dengan di daerah lain di Indonesia pada umumnya batu bata dibuat dari tanah merah (tanah liat) yang dibentuk dan dikeringkan atau dibakar.

Juga kalau dari kota Pamekasan kita bisa pergi ke tempat yang dikenal dengan istilah “Api Tak Kunjung Padam”, yaitu munculnya api dari dalam tanah secara terlokalisir dan tak pernah padam sudah dalam bertahun-tahun, walaupun dalam keadaan hujan sekalipun. Ini merupakan fenomena yang menarik yang tentu tidak dapat kita saksikan di sembarang tempat. Ini merupakan kebesaran alam semesta, karena bukanlah karya manusia, tetapi memang sudah merupakan keajaiban alam semesta ini. Api yang keluar bahkan bisa dimanfaatkan untuk membakar jagung secara gratis atau mungkin juga merebus air oleh penduduk sekitar tanpa diperlukan bahan bakar minyak (BBM).

Pulau Madura juga dikenal dengan “Karapan Sapi” nya, tetapi atraksi Karapan Sapi ini hanya bisa disaksikan pada waktu-waktu tertentu saja atau pada acara seremonial tertentu saja.

Itu hanya sebagian yang kami tahu, tentu masih banyak yang bisa kita lihat di Pulau Madura yang hanya beberapa jam saja dicapai dari Surabaya. Bila dari terminal Bungur Asih di Purabaya (terminal luar kota dari Surabaya) bisa naik bus patas AC langsung menuju Madura melalui jembatan Suramadu ini.

Jalan Darat dari Jakarta ke Palembang

Palembang sebagai ibu kota Propinsi Sumatera, merupakan kota yang sangat terkenal dengan Sungai Musi yaitu sungai besar yang membelah kota Pakembang menjadi Palembang bagian Ulu dan Palembang bagian Ilir. Dan di tengah Sungai Musi terdapat sebuah jembatan yang menjadi icon kota Palembang yaitu Jembatan Ampera.

Perjalanan dari Jakarta ibu kota negara Indonesia ke Palembang di Pulau Sumatera, mesti melalui Selat Sunda, dan ini terhubung dengan kapal-kapal Fery. Dan sebelum tiba di kota Palembang mesti melewati Propinsi Lampung.

Kapal Ferry dilihat dari atas menara Siger Lampung

Kapal Ferry dilihat dari atas menara Siger Lampung

Menara Siger di Bakauheni Lampung

Menara Siger di Bakauheni Lampung

Jembatan Ampera di atas Sungai Musi pada malam hari

Jembatan Ampera di atas Sungai Musi (malam)

Perjalanan darat dari Jakarta mesti ke arah pelabuhan Merak terlebih dahulu, baru kemudian bisa naik ke kapal Fery.

Kalau untuk kendaraan pribadi bisa naik di deck atas kapal Fery, sedangkan untuk mobil-mobil angkutan mesti masuk ke deck bawah kapal Fery, karenanya saat terjadi macet panjang antrain truk di pelabuhan Merak yang akan menyeberang ke Bakauheni, maka kendaraan pribadi masih relatif lancar karena bisa masuk ke deck atas kapal Fery yang terpisah dengan truk-truk angkutan.

Dari Bakauheni menuju kota Palembang bisa melalui Jalur Tengah maupun Jalur Timur.

Perbedaan Jalur Tengah dan Jalur Timur  terletak pada jarak tempuh, kondisi medan jalan, dan daerah yang dilewati. Jalur Tengah melalui kota Bandar Lampung, lalu Kotabumi, Baturaja, dan terus ke Palembang.

Sedangkan Jalur Timur merupakan jalur jalan yang melalui tepi kota (tidak melewati dalam kota).

Bila kita memilih perjalanan yang santai dan relax sambil berekreasi, maka bisa melalui Jalur Tengah, sehingga dari Bakauheni kita bisa menuju ke Pasir Putih (di Kalianda), Kota Bandar Lampung (baik Panjang, Teluk Betung, maupun Tanjung Karang) dan kita juga bisa berekreasi ke Pantai Mutun. Lalu kita bisa menuju ke Bandar Jaya, Kota Bumi, Martapura dan Batu Raja, lalu bisa terus ke Muara Enim, dan Indralaya, lalu terus dan kemudian tiba di Jembatan Ampera (kota Palembang).

Di lampung banyak ditemukan pete (sehingga harga nya murah), pisang (banyak juga dibikin dalam bentuk keripik pisang), dan banyak restoran Padang dengan makanan seperti ayam goreng, ayam gulai, ayam bakar, ayam sambel hijau, ayam pop, ayam goreng telor, ayam rendang, dan masih banyak makanan Padang yang lezat. Juga di Lampung sudah bisa ditemui pempek yang merupakan makanan khas Palembang.

Banyak bangunan di dalam kota Lampung yang memasang lambang Siger yang merupakan lambang kota Lampung pada bagian muka bangunannya. Menara Siger terdapat di Bakauheni dan dari dalam gedung, setelah menaiki anak tangga sampai lantai tertinggi nya kita bisa melihat kegiatan dan kapal Fery di Pelabuhan Bakauheni, serta pulau-pulau kecil di Selat Sunda.

Kota Bandar Lampung menjadi kota transit dari Jakarta ke Palembang atau kota-kota lain di Sumatera. Karenanya di Kota Bandar Lampung juga banyak terdapat Hotel. Pada saat ini tidak banyak Mall besar atau Plaza-plaza besar di Kota Bandar Lampung. Hanya terdapat sedikit Mall yang hanya dari kelas menengah bawah saja.

Sedangkan bila kita lebih memilih perjalanan yang cepat, maka sebaiknya kita melalui Jalur Timur, walaupun jalur ini tentu saja tidak melalui kota-kota besar dan tak terlalu banyak tempat beristirahat yang besar-besar. Dan jalan di Jalur Timur ini relatif lebih rata, tidak seperti jalan antara Kotabumi ke Baturaja pada Jalur Tengah yang jalannya banyak sekali kelokan (berkelok-kelok) dan jarak tempuh serta waktu tempuh tentu akan lebih panjang.

Kota Palembang terkenal dengan Jembatan Ampera, yang di malam hari terlihat indah juga. Kedua pilar besar sebenarnya awalnya untuk mengangkat bagian tengah jembatan agar kapal-kapal besar bisa lewat saat bagian tengah jembatan diangkat. Tapi karena sudah tidak berfungsi lagi maka kedua pilar tersebut hanya menjadi icon Jembatan Ampera saja. Dengan tinggi nya arus lalu lintas dari ulu ke ilir dan juga sebaliknya melalui Jembatan Ampera, maka untuk mengangkat bagian tengah jembatan juga menjadi tidak efektif lagi karena hanya akan menyebabkan kemacetan lalu lintas saja. Karenanya rencananya akan dikembangkan pelabuhan dan dermaga di Tanjung Api-Api.

Palembang selain terkenal dengan makanan khas pempek, merupakan ibuk kota Sumatera Selatan dan penghasil buah-buahan seperti duku, rambutan, durian. Juga banyak hasil alam seperti kayu, kopi, dan karet. Selain juga menghasilkan bbm (bahan bakar minyak), batubara, juga menjadi pusat pabrik pupuk yang dikenal dengan Pupuk Sriwijaya.

Palembang juga merupakan pusat kerajaan Sriwijaya pada masa silam.

Tragedi Kemacetan Merak – Bakauheni

Kadang-kadang sebuah cerita anak-anak bisa jadi pembanding yang bagus. Saya masih ingat sebuah cerita mengenai menyeberangi suatu sungai, yang mana kita mesti menyusun beberapa ekor buaya supaya bisa melintas di atas punggung buaya sehingga kita bisa menyeberangi sungai tersebut. Karenanya kita mesti bersabar sampai buayanya tersusun dari sisi sungai sebelah sini sampai ke sisi ujung seberang sana. Itupun bisa  saja penyeberangan menjadi gagal kalau ada buaya yang tiba-tiba mengamuk saat dilintasi punggungnya. Wah, selain mesti sabar juga benar-benar nasib rasanya cuma ada di ujung tanduk. Sepertinya sudah tidak ada jalan lain lagi kecuali berharap cemas.

Kalau sebelumnya tulisan kami : “Tragedi Kemacetan” mengenai kenyataan kemacetan lalu lintas di dalam kota Jakarta, maka kali ini kami juga ingin menulis mengenai satu fenomena yang sangat merupakan tragedi juga, yaitu Tragedi Kemacetan di Penyeberangan dari Merak ke Bakauheni. Jarak Merak ke Bakauheni boleh dibilang cukup dekat, karena itu adalah dua titik terdekat dari sisi Barat Pulau Jawa ke sisi Selatan Pulau Sumatera. Hanya dipisahkan oleh sebuah selat yaitu Selat Sunda, yang ombaknya tidak begitu besar dan karenanya tidak begitu membahayakan. Bukan seperti Samudera Hindia yang ombaknya besar dan lebih sulit diduga. Tapi kemudian mengapa ini menjadi masalah ?

Yang jadi masalah bukan ombak atau selatnya, tapi yang masalah adalah kendaraan-kendaraan yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni berbaris antri dalam kemacetan yang luar biasa, bahkan mencapai lebih dari 12,5 km. Angkutan-angkutan yang berisi berbagai komoditas, bahkan banyak juga yang berisi bahan-bahan makanan yang bisa membusuk, baik berupa sayur-mayur, buah-buahan, daging, sampai komoditi bisnis lainnya. Memang belum ada alternatif lain bagi kendaraan angkutan dari Pulau Jawa yang akan menuju ke Pulau Sumatera, semuanya melalui Merak dan menyeberang melalui Selat Sunda dengan menumpang kapal-kapal Ferry menuju Bakauheni, sebelum melanjutkan ke perjalanan yang masih jauh lagi tergantung tujuan akhirnya, bisa saja ada yang sampai ke ujung Sumatera Utara, Medan ataupun Aceh. Supir-supir angkutan tersebut dibekali dengan ongkos yang terbatas, tetapi kemacetan yang luar biasa dan tak bisa diduga kapan baru bisa berhasil menyeberang sampai ke Bakauheni membuat mereka stress, kurang istirahat, capek, kehabisan persediaan bekal, serta khawatir bahan-bahan yang diangkut rusak, busuk, ataupun menjadi sangat lama dijemur di bawah panas terik matahari. Hal ini tentu saja jauh di luar dugaan dan perhitungan para supir tersebut, tetapi telah merusak semua rencana, bahkan waktu pengantaran jadi lama dan menjadi terhambat dan terlambat. Semua itu terjadi dan seolah tidak ada yang bisa dilakukan, hanya menunggu dalam keputus-asaan saja.

Fenomena ini hampir sama seperti contoh cerita di atas, saat harus menunggu buaya untuk berbaris supaya bisa melintas, dan berharap buayanya tidak ada yang mengamuk. Wah, kenapa kejadian seperti ini masih bisa terjadi di dunia nyata dengan teknologi begitu canggih. Di dunia yang sumber daya manusianya begitu besar, hasil alamnya melimpah, peralatan modern mudah didapat dan dibeli dimana-mana, serta teknologi sudah sangat-sangat maju. Zaman sekarang adalah zaman dimana orang bisa dengan mudah mewujudkan angan-angan. Misalnya kalau angan-angannya ingin ada jembatan penyeberangan yang melintas dari Merak sampai ke Bakauheni atau dari sisi Barat Pulau Jawa ke sisi Selatan Pulau Sumatera, maka itu hanyalah masalah niat saja, karena semua itu bisa dibuat, dan kemampuan manusia untuk membuatnya bukan lagi menjadi semcam tantangan, tapi hanya masalah niat, perencanaan, bahan, pembiayaan, manajemen, dan realisasi saja. Jadi bukanlah zamannya lagi kita bermain dengan susunan buaya yang berbaris untuk kita melintas di atasnya.

Kalaupun jembatan penyebarangan belum bisa dibangun dan masih jauh dari angan-angan, tetapi setidaknya hanya mengatasi sebuah selat kecil untuk menyeberangkan mobil-mobil angkutan bagi sebuah negara kepulauan mestinya bukanlah hal besar. Kejadian di atas jelas-jelas sangat merugikan banyak pihak, dan sudah saatnya hal seperti ini tak boleh terjadi lagi di masa yang akan datang. Saat kendaraan belum menumpuk sampai belasan kilometer dan antri tanpa kejelasan jadwal penyebrangan, mestinya semua langkah darurat sudah mesti diambil. Haruskah otoritas hanya memikirkan untung rugi jangka pendek, karena kerugian akibat tragedi kemacetan ini jauh di luar perhitungan akal sehat siapa pun. Bukan hanya sekedar kerugian materi dan uang saja, kerugian akibat keterlambatan pelayanan terhadap konsumen dan nasabah, melibatkan juga masalah kepercayaan dan bonafiditas, serta timbulnya konflik-konflik seperti antara pimpinan perusahaan angkutan dengan para supir angkutan. Rusaknya bahan dan muatan merupakan kerugian material yang tentu di luar perhitungan. Keterlambatan pengantaran pesanan kepada konsumen akan sangat mengecewakan para konsumen dan para pemesan barang. Penghasilan dari perusahaan angkutan pun menurun karena kapasitas angkut dan frekuensi pengangkutan menurun. Supir-supir pun berkurang pemasukan dan penghasilannya karena frekuensi pengangkutan berkurang, bahkan biaya tak terduga menjadi besar akibat semua kemacetan yang menjadi tragedi ini.

Memang kejadian kemacetan pada penyeberangan Merak – Bakauheni tidak selalu terjadi, tetapi tragedi kemacetan ini bukan baru terjadi satu atau dua kali, yang seharusnya sudah bisa diantisipasi untuk waktu-waktu mendatang. Kalau dermaga di sisi pelabuhan Merak memang kurang (hanya 5 unit), seharusnya bisa dibangun lebih banyak atau lebih besar dengan kapasitas yang memenuhi syarat, demikian pula di sisi pelabuhan Bakauheni (hanya 4 unit). Dan kapal-kapal Ferry yang melayani kalau kurang pun (hanya 33 kapal kalau beroperasi semua) seharusnya ditingkatkan jumlah dan kapasitasnya. Dan tentunya mesti dicarikan solusi-solusi lainnya yang bersifat jangka panjang, sehingga semua tragedi kemacetan akan menjadi kenangan pahit di masa lalu.  

Silakan berikan komentar anda yang mungkin bisa menjadi masukan berarti buat kita semua !

Antrian di Merak

Gambar di atas ini bersumber dari foto dari Harian “Kompas” edisi tanggal 21 Februari 2011 halaman 26 pada artikel “Antrean Lagi di Merak” pada rubrik Metropolitan.

(Terlihat dalam foto, seorang supir kelelahan dan tertidur di bawah kolong mobil truknya menunggu kemacetan luar biasa di Merak).