Film bioskop : Out of the Furnace

Berikut ini adalah gambar poster dari film : Out of th Furnace.

Coba perhatikan gambar foto di poster film bioskop tersebut. Terlihat aktor utamanya memegang senapan laras panjang, tapi tahukah bahwa senapan itu hanyalah senapan untuk memburu rusa hutan.

Film ini berlatar belakang kehidupan dua lelaki bersaudara, dengan sifat dan karakter yang sangat berbeda.

Sang adik senang berjudi, bahkan berhutang untuk berjudi. Dan akhirnya terjun sebagai seorang tukang berkelahi di arena bebas hanya untuk mendapatkan bayaran.

Sang kakak yang ternyata sangat menyayangi adiknya, berusaha membantu adiknya termasuk membayar hutang adiknya tanpa setahu sang adik. Tetapi sang kakak yang pekerja di pabrik peleburan baja ini ternyata secara tidak sengaja menabrak mobil lain pada kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian penumpang di dalamnya. Akhirnya sang kakak terpaksa menjalani hukuman penjara.

Ketika sang kakak dipenjara, ternyata ayahnya meninggal dan iapun tak bisa menghadiri pemakamannya.

Dan setelah menjalankan masa tahanan di penjara, akhirnya sang kakak pun dibebaskan. Sang adik menjemput sang kakak di pintu keluar penjara dan sang kakak begitu gembiranya dengan bisa menghirup udara bebas lagi.

Tapi setelah sang kakak bebas, ia baru tahu kalau pacarnya ternyata sudah menikah dengan seorang polisi. Sang kakak mencoba menemui pacarnya dan masih mengharapkan bisa kembali dengannya, tetapi mantan pacarnya menjelaskan bahwa saat ini ia sedang hamil, dan akhirnya mereka pun berpisah dengan kesedihan.

Sang kakak kembali bekerja di pabrik peleburan baja, dan pada waktu santai memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil pada rumahnya dan juga mengecatnya.

Suatu hari sang adik pulang dalam keadaan muka lebam dan banyak berdarah, sang kakak pun mencoba mencari tahu.

Suatu saat ketika selesai makan di rumah dan ingin membuang sisa makanan ke kotak sampah, sang kakak melihat perban yang penuh dengan darah. Akhirnya sang kakak mencoba menasehati adiknya agar tidak berkelahi lagi untuk mencari uang, dan agar bekerja saja di pabrik peleburan baja seperti dirinya.

Sang adik yang keras kepala tidak menerima nasehat kakaknya dan bahkan berambisi berkelahi dengan kelompok penjahat di hutan untuk mendapatkan bayaran yang besar. Dengan memaksa, ia terus mendesak kepada orang yang ia banyak berhutang uang untuk mengantarkan ia ke dalam hutan untuk berkelahi dan ia berharap ini bisa menjadi perkelahian ia yang terakhir.

Akhirnya sang adik pun pergi ke hutan untuk menemui kelompok penjahat, untuk berkelahi. ia memang akan dibayar banyak, sehingga hutang nya pada orang yang mengantarnya bisa lunas, begitu juga kesepakatan antara kedua belah pihak untuk menghapuskan hutang. Kesepakatan pun disetujui dan sang adik diharuskan mengalah dalam perkelahian.

Pada saat perkelahian satu lawan satu yang disaksikan banyak penjahat lainnya yang juga memasang taruhan judi, sang adik yang semestinya menang, akhirnya meminta lawannya untuk memukulnya agar ia kalah dan terlihat sungguhan, tetapi ternyata ia dipukul sampai sekarat.

Ketika selesai perkelahian dan akan pulang, sang adik ini ternyata ditembak mati oleh penjahat dan dikubur begitu saja di tumpukan tanah.

Sang kakak yang baru kembali berburu rusa di hutan, menemukan surat dari sang adik di rumah yang menyatakan bahwa sang adik sedang melakukan perkelahian di tengah hutan dan juga menyatakan bahwa perkelahian dengan bayaran ini akan menjadi yang terakhir. Tetapi ternyata ketika ditunggu-tunggu sang adik tidak juga pulang.

Akhirnya sang kakak pergi menuju ke tengah hutan untuk mencari sang adik. Tetapi sang adik tidak ia ketemukan, tetapi dengan berpura-pura ia berhasil masuk ke dalam rumah geng penjahat. Ketika ia keluar dari tempat para penjahat tersebut datanglah para polisi yang akhirnya ia diminta oleh polisi untuk mempercayakan kepada polisi saja.

Sang polisi yang ternyata suami mantan pacarnya akhirnya memberitakan bahwa jasad sang adik sudah diketemukan dan sudah meninggal.

Sang kakak yang begitu sayang pada adiknya mencoba mencari cara untuk membalas kematian adiknya. Maka ia pun membawa senapan laras panjang yang ia pakai untuk berburu rusa, lalu ia menghubungi kepala penjahat melalui telepon selular. Nomer telepon selular ini ia temukan di tempat orang yang dihutangi uang oleh sang adik, yang juga mati dibunuh pejahat tersebut. Maka sang kakak pun menjanjikan akan melunasi sisa hutang kepada si penjahat tersebut tanpa memberikan identitasnya. Si penjahat pun merasa bahwa ada uang banyak yang bisa ia ambil, sehingga mendatangi tempat yang sudah ditunggu-tunggu oleh sang kakak.

Rupanya jebakan yang dibuat sang kakak berhasil, maka si penjahat pun datang ke tempat yang ditunggu-tunggu, mengobrak-abrik mencari uang yang diperkirakan ada di sana. Dan terjadilah kejar mengejar dan perkelahian antara sang kakak dan si penjahat.

Sang kakak akhirnya bisa mengalahkan si penjahat dan menodongkan senapan laras panjang ke arah si penjahat. Si penjahat pun diberi tahu kalau ia sang kakak yang adiknya telah dibunuh oleh si penjahat itu. Si penjahat pun sambil berjalan menjauh, sang kakak menembaki nya dan akhirnya ditembak mati dengan disaksikan oleh polisi yang baru datang ke lokasi kejadian. Saat berburu, sang kakak batal menembak rusa hutan yang memandang ke arah nya, yang menunjukkan bahwa sang kakak sebenarnya seorang yang punya hati yang baik dan punya rasa kemanusiaan yang tinggi, tetapi karena sayangnya ia pada sang adik, membuat ia terpaksa menembak mati si penjahat tanpa ampun.

Jadi dalam film bioskop ini menunjukkan betapa tinggi nya rasa sayang sang kakak pada sang adik.

Pedagang Asongan di Jakarta

Seperti yang sering kita saksikan, di kota-kota besar di Indonesia banyak pedagang asongan, bahkan sepanjang jalur Pantura (Pantai Utara) yang membentang dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur juga sering kita temui para pedagang asongan. Bahkan tak jarang mereka mengejar bus-bus yang melintas yang hendak berhenti, yang hendak masuk ke pom bensin (SPBU), yang hendak masuk terminal dan yang sedang ngetem menunggu penumpang.

Kita batasi saja mengenai pedagang asongan di kota Jakarta saja. Berikut ini beberapa foto pedagang asongan yang sedang menjajakan dagangannya :

Foto-foto(gambar-gambar) ini dengan sangat jelas menunjukkan kegiatan pedagang asongan sedang bereaksi di tengah jalan di kota Jakarta.

Mereka bukan hanya menjual rokok atau air minum mineral atau sekedar lap tissue ataupun koran, tetapi juga barang-barang yang sangat besar pun dijual di tengah jalan di antara mobil-mobil dalam kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Kasur yang diisi angin dengan ukuran 1,00 M x 2,00 M bisa juga dijual di tengah jalan oleh para pedagang asongan ini. Karena kasurnya isi angin, tentu saja ringan beratnya sehingga mudah dibawa-bawa, tetapi ukuran nya yang besar yaitu 1,00 M x 2,00 M memang menjadi perhatian khusus. Barang sebesar itu juga dijual oleh para pedagang asongan, juga seperti sofa dari plastik yang berisi angin, berbagai lukisan dan gambar pigura, bermacam buku, majalah,  peta, patung, hiasan, mainan anak-anak pun dijual oleh para pedagang asongan.

Fenomena ini memang sangat berbeda dengan di negara maju, bahkan di negara tetangga sesama negara Asean pun sulit ditemukan pedagang semacam ini di jalanan. Lalu kemana para pejabat dan wakil rakyat, apakah mereka pernah memikirkan mengenai wajah jalanan yang seharusnya di ibu kota Jakarta ini. Kalau di jalanan kita mesti ketemu dengan para pedagang asongan yang seolah tidak takut ditabrak kendaraan, para pak ogah yang memasang badan di belokan atau pada putaran balik sehingga mobil terpaksa berjalan lambat sehingga ada alasan pak ogah minta uang persenan. Bahkan saat berhenti di lampu merah, para pengamen mulai mendekat, ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, ada yang pura-pura melap kap mobil, ada yang bernyanyi sebisanya, yang semuanya hanya ingin meminta uang kepada para pengemudi mobil yang ditemuinya.

Jadi selain para pengemudi kendaraan pribadi atau mobil pribadi mesti berjalan menerobos kemacetan lalu lintas, juga berebut jalan dengan sepeda motor yang sudah tidak ada aturan jalur lagi, dan akhirnya juga ketemu dengan berbagai jenis manusia di lampu merah. Memang tidak semua lampu merah ada para pengamen ini, tetapi apakah para pengemudi mobil tidak mempunyai hak privasi, atau tidak punya hak untuk tenang atau tidak punya hak untuk tidak diganggu sama sekali ?

Keberadaan pedagang asongan mungkin juga bagi sebagian kecil pengemudi dijadikan kegiatan iseng dengan menanyakan harga, atau menawar dan membeli, tetapi kehadiran pedagang asongan yang makin hari makin banyak menunjukkan selain kelemahan pemerintah dalam menertibkan kehidupan masyarakat, juga menunjukkan banyaknya penganggur yang terpaksa mencari nafkah dengan tidak menghargai nyawa dan keselamatan diri mereka sendiri.

Memang sangat ironis bila dibandingkan dengan koruptor di Indonesia yang hartanya mencapai triliunan atau ratusan milyar rupiah, padahal masih sangat banyak masyarakat yang hanya sekedar mencari nafkah untuk kelangsungan hidup (bukan untuk kaya) saja sudah dengan tidak menghargai nyawanya dan keselamatan diri mereka sendiri. Berdagang dengan berlarian di jalanan, ataupun terjepit di antara mobil yang melintas. Mungkin saat kendaraan macet berat, para pedagang asongan ini lebih mudah beroperasi dan menjajakan dagangannya.

Bahkan ada juga penjual bakpao yang kadang menempatkan gerobak dagangannya di median di tengah jalan dan berharap bisa berjualan kepada para pengemudi mobil yang terjebak di kemacetan yang bosan atau stress dengan kenyataan yang tak bisa dihindarkannya.

Mungkin masalah pedagang asongan bisa menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah pusat untuk memikirkan dan membuat solusi nyata, sehingga masalah kemanusiaan berupa keselamatan dan kesejahteraan para pedagang asongan juga menjadi agenda pemerintah ke depannya. Pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi bangsa, akan memberi lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak perlu membahayakan nyawa dengan berdagang di antara hilir mudik mobil yang bisa membahayakan nyawa dan keselamatan orang yang berkeluyuran di tengah jalan.

Pekan Raya Jakarta (PRJ) ala Jakarta Fair Kemayoran (JFK)

Pekan Raya Jakarta atau disingkat PRJ memang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Jakarta, karena merupakan perayaan ulang tahun kota Jakarta dalam bentuk perayaan berupa bazaar atau pameran atau dalam bahasa Inggerisnya dipakai istilah fair.

Tetapi kata pekan yang artinya minggu, sehingga pekan raya yang berlangsung sebulan nampaknya sudah tidak tepat dengan kata yang digunakan, karena seharusnya pekan raya itu yang tepat adalah kalau hanya berlangsung dalam 1 (satu) minggu saja.

Mungkin lebih tepat kalau pakai istilah bulan menggantikan kata pekan.

Malam ini tgl. 7 Juli 2013 adalah hari terakhir kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2013 ini, yang merupakan perayaan HUT (hari ulang tahun) Jakarta yang ke 486.

Berikut ini beberapa foto kegiatan perayaan HUT Jakarta dalam bentuk PRJ (Pekan Raya Jakarta) yang dilangsungkan di Kota Baru Bandar Kemayoran yang telah berlangsung selama 1 (satu) bulan ini, sebagai berikut :

Gambar-gambar(foto-foto) tersebut merupakan sebagian kecil saja dari kegiatan yang berlangsung dalam perayaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) ala Jakarta Fair Kemayoran (JFK).

Disebut Jakarta Fair Kemayoran (JFK), karena pelaksanaannya di area Kemayoran. Karena sebenarnya aslinya atau asal muasal Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang dulu dikenal sebagai Jakarta Fair telah lama dilaksanakan dengan meriah di area Monas (Monumen Nasional).

Bagi generasi yang pernah ke Jakarta Fair di Monas zaman dulu, tentu telah merasakan kemeriahan perayaan Jakarta Fair, karena itu ingin mengulang ingatan lama dengan mengunjungi perayaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) saat ini yang berlangsung di Kemayoran.

Tetapi memang ada sesuatu yang berbeda dan makin hari makin berbeda. Kalau dulu Jakarta Fair lebih merupakan pesta rakyat dan banyak pameran-pameran produk-produk inovatif baru atau diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya memang belum pernah dipasarkan, maka Jakarta Fair Kemayoran yang sekarang lebih banyak berupa kegiatan jualan.

Bayangkan saja dengan sangat mahalnya sewa stand di dalam lokasi PRJ (Pekan Raya Jakarta) Kemayoran, tentu saja para peserta harus menjual sebanyak-banyaknya, bila perlu dengan harga yang mahal. Hal ini selain menjadikan penjualan makin sulit juga memicu inflasi, karena harga dipaksa untuk naik jadi mahal.

Lalu kalau para peserta dan penyewa stand di arena PRJ (Pekan Raya Jakarta) sudah membayar begitu mahal, untuk masuk ke dalam area Pekan Raya juga sangat mahal. Bahkan parkir mobil nya juga sangat mahal. Jadi sebenarnya pesta PRJ (Pekan Raya Jakarta) yang seharusnya merupakan pesta rakyat menjadi pusat penjualan.

Para pedagang yang sudah membayar mahal (maksudnya menyewa stand pameran dengan harga yang sangat mahal) tentu saja mengharapkan pengunjung yang ramai dan banyak. Tetapi harga tiket masuk yang mahal disertai dengan ongkos parkir yang mahal membuat banyak orang membatalkan niat mampir ke arena Pekan Raya Jakarta. Bisa dilihat di foto-foto di atas bahwa dalam banyak kesempatan ternyata pengunjung PRJ (Pekan Raya Jakarta) ini ternyata sepi-sepi saja. Memang kasihan buat pedagang-pedagang yang baru ingin mencoba atau yang baru ingin berkembang. Kalau buat perusahaan besar ataupun perusahaan raksasa, ajang Pekan Raya Jakarta ini lebih digunakan untuk branding merek, maksudnya sudah wajib rasanya ikut kegiatan PRJ ini, agar merk nya bisa tetap berkibar dan dekat dengan konsumen. Biaya yang dikeluarkan bisa saja dipakai untuk ajang promosi atau semacam iklan, yang kemudian nantinya akan diperhitungkan dalam biaya produksi, sehingga nantinya harga produk juga bisa dinaikkan.

Jadi sebenarnya siapa yang untung dan siapa yang rugi ?

Dalam foto di atas juga terlihat bahwa saat hujan sangat sulit sekali berjalan-jalan di area PRJ 2013 terutama di luar hall, bagi yang bawa payung mungkin bisa membantu, tapi bagi yang tidak membawa payung, memang cukup menderita, mesti berteduh dan berdesak-desakan di koridor-koridor yang tertutup. Jadi sebenarnya mahalnya tiket masuk ini tidak memberi kenyamanan yang memadai.

Lalu apakah perayaan Pekan Raya Jakarta 2013 ini bisa dikatakan gagal atau kurang berhasil. Memang sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang pasti, penyelenggaranya atau panitianya bahkan sudah mengambil keuntungan yang luar biasa besar saat PRJ itu sendiri belum dimulai. Para penyewa stand pameran semuanya sudah harus membayar lunas biaya sewa stand, walaupun belum memasuki hari penyelenggaraannya sendiri. Jelas kalau terjadi badai dan semua pedagang atau peserta rugi pun, penyelenggara sudah tidak perlu pusing lagi, karena sudah terima uang banyak dan untung banyak.

Pedagang yang tidak mampu, seperti pedagang kerak telor, dengan terpaksa hanya berjualan di pinggir jalan di jalan sekitar dan menuju arena PRJ. Sebagian pedagang kerak telor musiman ini (yang hanya ada saat berlangsungnya PRJ saja) ini bahkan ada yang berjualan di atas got terbuka dengan menutup got cukup untuk menempatkan gerobak dan kompor serta bisa duduk sambil memasak di atas got yang ditutup setempat ini. Kalau pedagang kerak telor di jalanan ini menjual kerak telornya dengan harga misalnya Rp. 15.000,- maka pedagang kerak telor yang menyewa dan berjualan di dalam arena PRJ terpaksa menjual dengan lebih mahal misalnya Rp. 5.000,- karena mereka mesti menutupi biaya sewa tempat yang mahal.

Dan ketika Pemda DKI untuk ikut dalam ajang kegiatan PRJ Kemayoran ini diminta membayar mahal, membuat Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini yaitu Pak Jokowi dan Pak Ahok mempertanyakannya. Bahkan Pak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya berhasil dalam waktu singkat menggelar Pekan Produk Kreatif Daerah 2013 yang berlangsung sukses dan ramai dikunjungi oleh masyarakat Jakarta dengan gratis tiket masuk, dan juga peserta pameran pun tidak membayar sewa tempat.

Mudah-mudahan PRJ (Pekan Raya Jakarta) untuk tahun 2014 bisa dirumuskan dengan lebih baik, dan bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat banyak untuk merayakan HUT Jakarta secara murah juga tentunya.

Mau tahu mengenai Payung Pantai atau Payung Taman ?   Bisa lihat di website : www.PayungPantai.blogspot.com

Payung-payung berikut ini cocok untuk pedagang di pameran / ekshibisi / bazar / bazaar / dan keramaian lainnya :

Payung Pantai Pelangi Biru

Payung Pantai Pelangi Biru

Payung Taman beserta meja

Payung Taman beserta meja

Payung Taman Cantilever

Payung Taman Cantilever

Jalanan Macet Parkir pun Sulit

Seperti yang kita ketahui, untuk kota Jakarta, saat ini parkir di gedung-gedung atau mall sudah mencapai Rp. 4.000,- per jam. Lewat 1 detik pun sudah mesti bayar tambahan jam. Jadi bila 1 jam 1 detik berarti sudah dihitung 2 jam, yang berarti Rp, 8.000,-. Padahal kadang-kadang dari pengambilan tiket parkir masuk sampai mendapatkan tempat parkir, mungkin saja kita mesti berputar-putar dalam keputusasaan sampai lebih dari setengah jam untuk mendapatkan tempat parkir yang kosong. Keluar dari tempat parkir pun tidak mudah, bisa juga mencapai setengah jam. Tetapi semua kesulitan dari mencari tempat parkir yang kosong dan keluar dari tempat parkir yang mesti antri panjang juga termasuk biaya yang harus dibayarkan saat bayar biaya parkir, di sini jelas ada ketidak adilan. Ada hal yang salah. Gedung parkir dan pengelolanya makin kaya sedangkan konsumen makin tertindas. Apakah ini adalah kebijakan yang baik dan adil ?

Lalu kenapa juga biaya parkir bisa juga dikenakan kepada pemilik rumah, pemilik ruko, pemilik kantor yang parkir di depan rumahnya, di depan rukonya, ataupun di depan kantornya? Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah pusat keramaian. Dimana-mana muncul tukang parkir yang tidak jelas bekerja untuk siapa, kemana saja uang parkir yang didapat, semua uang tersebut tidak jelas pengelolaannya dan berakhir dimana ?

Bahkan di depan sekolah, tempat les buat anak-anak, rumah sakit pun parkir disamakan, padahal tidak ada nilai tambah (tidak ada penghasilan) dari kegiatan menjemput anak di sekolahan, atau mengantar anak ke tempat les, atau berobat di rumah sakit. Bukankah semua ini hanya memberatkan masyarakat. Sepertinya semua orang asal sudah menjaga jalanan, sudah boleh jadi preman jalanan atau raja jalanan dan memungut uang parkir.

Kalau kebijakan menaikkan harga parkir mobil adalah untuk mengurangi mobil pribadi, maka itu sama saja seperti petinju yang sudah terdesak di pojok ring tinju yang tidak bisa mundur lagi dan terus dicecar dengan pukulan-pukulan mematikan, maka petinju itu hanya bisa bertahan tanpa berdaya. Maka demikianlah pengendara mobil pribadi ketika harga parkir dinaikkan hanya bisa bertahan saja seperti petinju yang sudah terpojok di sudut ring tinju. Mau beralih ke kendaraan umum, yang mana? Kan belum siap.

Semrawut dan Macet di Jakarta

Dari foto di atas terlihat di sebelah kanan ada busway (Bus Trans Jakarta) di jalur busway, dan di depan sebelah kiri sebuah bus (Bus Metro Mini) memotong di depan busway (Bus Trans Jakarta) tersebut, dan di belakang bus (Bus Metro Mini) tersebut ada mobil pribadi dengan jarak yang sangat dekat (mepet), dan antara mobil pribadi dan busway (Bus Trans Jakarta) ada sepeda motor sedang memaksa masuk di space sempit antara busway (Bus Trans Jakarta) dan mobil pribadi. Hal ini selain sangat membahayakan nyawa dan juga sangat beresiko pada kerusakan mobil yang akan tergores oleh stang sepeda motor, juga menjadikan jalan raya di Jakarta sangat semrawut.  Tidak ada pemisahan antara mobil dan sepeda motor dan sepeda motor boleh seenaknya menyelonong ke mana-mana. memang nyawa sepertinya kurang berharga dan sulit mempertahankan body dan cat mobil dalam keadaan mulus karena dengan mudahnya disenggol oleh sepeda motor.

Kalau selalu pemerintah atau pejabat berfikir bahwa pengguna mobil adalah orang kaya, maka itu jelas salah besar !

Kenapa salah besar ? Karena mobil di Jakarta bukanlah barang mewah untuk dipamerkan, tetapi kendaraan yang dibutuhkan karena kegagalan pemerintah dalam melayani rakyatnya dengan transportasi massal yang baik, yang murah, dan manusiawi.

Mobil juga ada kelas-kelas nya, baik dari merk nya, dari type nya maupun dari harga nya. Kalau mobil-mobil termurah dari merk-merk biasa dan bukan dari merk-merk yang dikenal sebagai mobil mewah, maka mestinya dikategorikan sebagai mobil biasa, dan tidak layak disamakan ataupun diklasifikasikan sebagai mobil mewah.

Pernah kita mendengar kata-kata sebagai berikut : bisa beli mobil, tetapi tidak sanggup beli bahan bakar minyak (bbm) nya. Jadi mungkin saja ada kelompok kelas masyarakat yang hanya mampu membeli mobil (mungkin juga masih kredit dan belum lunas), tetapi kesulitan membeli bbm (bahan bakar minyak) nya. Dalam kondisi transportasi massal belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa rakyat mesti membeli mobil walaupun beli dengan terpaksa sehingga menyulitkan likwiditas keuangan.

Memang negara bisa berpesta pora dengan pajak kendaraan yang begitu besar dan menggiurkan, tetapi masyarakat begitu tersiksa, apalagi saat sudah memiliki mobil, terpaksa jadi supir (dengan menyetir mobil sendiri) karena untuk membayar supir belum tentu mampu, lalu ketika masuk ke dalam hiruk pikuk jalanan, ternyata kadang untuk jarak tempuh pendek saja bisa memakan waktu berjam-jam, karena kemacetan yang luar biasa.

Jalanan begitu semrawut, sepeda motor bisa dengan seenaknya memotong di depan mobil, atau memepet dari sebelah kiri, memepet dari sebelah kanan, bahkan kadang kala ada sepeda motor yang dengan seenaknya berjalan berlawan arah arus jalan. Semuanya hanya mencari peluang atau kesempatan untuk berjalan lebih cepat, karena sudah terlalu banyak waktu habis di jalan, sedangkan sudah ditunggu orang, atau sudah terlambat dari janji atau terlambat dari jadwal. Orang-orang pada buru-buru dan cenderung emosional dan stress, hal yang tidak baik untuk kesehatan jiwa tentunya.

Mobil-mobil juga sering sangat berdekatan, kadang-kadang mobil di sebelah kiri atau pun di sebelah kanan bisa bersentuhan kaca spionnya atau bertabrakan kaca spionnya. Kemacetan membuat pengendara mobil sulit memprediksi waktu tempuh. Waktu yang dihabiskan di jalanan begitu lama sehingga membuat waktu produktif sangat tersita, sehingga membuat banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk berproduksi, untuk bekerja, untuk mencari penghasilan, dan untuk memiliki waktu bersama keluarga.

Menaikkan uang parkir dengan harapan pemakai kendaraan pribadi (mobil pribadi) beralih ke kendaraan umum itu adalah mustahil bila transportasi umum tidak memadai, tidak aman, dan tidak nyaman. Sering kita menyaksikan jalur busway yang kosong tanpa bus, sedangkan di luar jalur busway begitu macet luar biasa. Tentu hal ini sangat ironis sekali, bahkan banyak penumpang busway yang menumpuk dan antri untuk naik busway. Seharusnya jalur busway yang sudah mengambil lebar jalan sehingga menjadikan jalan makin sempit, agar bisa digunakan secara maksimal, busway mesti ditambah dan tidak seharusnya penumpang antri. Bukankah calon penumpang yang ada saja sudah antri, apalagi kalau pemilik kendaraan pribadi ikut naik busway, maka antrian akan tambah parah? Jadi mestinya busway cukup dan tidak terjadi antri yang menyulitkan di halte-halte busway supaya pengendara mobil pribadi mau beralih dan naik busway.

Pencanangan dimulainya pembangunan MRT (mass rapid transport) oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Jokowi merupakan langkah awal yang baik, walaupun sudah sangat terlambat. Tetapi bagaimanapun juga terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang kita bisa berharap pada Bapak Jokowi karena beliau memiliki pemikiran bahwa transportasi umum mesti lebih diprioritaskan, mesti ditata dan dibangun. Bukan seperti yang selama ini terjadi, rakyat dibiarkan mencari jalan pintas sendiri, sehingga bermunculan sepeda motor – sepeda motor yang membuat lalu lintas makin semrawut dan tidak keruan. Kecelakaan lalu lintas makin tinggi dan banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalanan dengan banyaknya sepeda motor, apalagi pengendaranya banyak yang asal bisa saja. Munculnya banyak sepeda motor juga sangat menyulitkan usaha mobil-mobil angkot (angkutan kota) yang menjadi kekurangan penumpang. Konsumsi bahan bakar minyak juga menjadi meningkat luar biasa, karena bila banyak sepeda motor maka konsumsi bahan bakar akan banyak juga, berbeda dengan kendaraan umum, yang tentunya jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan konsumsi bbm (bahan bakar minyak) yang sedikit sudah mampu mengangkut banyak orang. Jadi yang terjadi selama ini sangat bertolak belakang dengan keinginan menghemat bahan bakar minyak (bbm), dengan membiarkan sepeda motor makin banyak dan transportasi massal tidak dikembangkan dengan sewajarnya.

Di samping itu, banyaknya beton-beton pembatas jalan dari beton atau beton-beton yang cuma ditaruh begitu saja di jalanan, sebenarnya juga sangat membahayakan pengendara lalu lintas. Mestinya pembatas-pembatas jalanan menggunakan material-material yang manusiawi juga, sehingga bila secara tidak sengaja disenggol oleh mobil, maka mobilnya tidak rusak. Kita bisa melihat beton-beton pembatas yang tinggi-tinggi di ujung Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba, atau di Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading. Sedikit saja mobil menyentuh beton tersebut maka akan rusaklah mobilnya. Beton-beton pembatas jalan ini pun sangat membahayakan terutama saat terjadi banjir, karena beton-beton tersebut tidak terlihat dan tertutup genangan air banjir.

Memang lalu lintas begitu macet dan semrawut, tetapi kita masih berharap hadirnya Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi bisa membuka jalan untuk mengatasinya secara bertahap agar generasi mendatang bisa lebih mudah dalam berpergian, dengan lebih banyak alternatif kendaraan umum yang nyaman, aman dan layak serta manusiawi.

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Bila banjir dan macet jadi satu

Banjir merupakan hal yang tidak disukai, demikian juga dengan kemacetan lalu lintas. Dan kalau kedua kondisi ini menyatu, maka makin sengsaralah orang yang mengalaminya.

Pada sore hari ini Sabtu tanggal 22 Desember 2012 telah terjadi hujan dengan curah yang cukup tinggi, dan telah menyebabkan banyak genangan air, bahkan banjir di berbagai wilayah kota Jakarta.

Hal seperti ini bukan baru kejadian kali ini saja, tetapi merupakan peristiwa yang terus menerus berulang hampir setiap tahun. Dan berikut ini adalah foto kemacetan dalam suasana genangan air akibat hujan lebat di Jl. Jendral Sudirman – Jakarta Pusat sebagai berikut :

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Jl. Jendral Sudirman - Jakarta Pusat yang macet total disertai genangan air

Dalam foto tersebut terlihat dengan sangat jelas kemacetan total, disertai genangan air dan kesemrawutan lalu lintas, yang mana terdapat mobil-mobil pribadi yang masuk menyerobot ke dalam jalur bus way, baik karena menghindari macet maupun menghindari genangan air (banjir).

Gubernur baru DKI Jaya yaitu Bapak Jokowi baru saja beberapa bulan menjabat sebagai Gubernur DKI Jaya, tetapi memang berbagai tumpukan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur lama memang sangat fatal bahkan tidak manusiawi, sehingga memang kita heran apa saja yang dikerjakan oleh Gubernur lama sehingga juga tidak disukai oleh masyarakat kota Jakarta, sehingga pada pemilukada (pemilihan kepala daerah) DKI Jaya kalah dengan Bapak Jokowi yang bahkan bukan warga Jakarta dan tidak ber KTP (kartu penduduk) DKI Jaya. Walaupun didukung oleh mayoritas partai, tetapi rakyat sudah tidak bisa menerima kehadiran Gubernur lama yaitu Foke, sehingga dalam dua kali putaran pilkada DKI Jaya selalu kalah dengan Bapak Jokowi.

Kenapa penguasa bisa meninggalkan begitu banyak masalah kemanusiaan di dunia modern yang sebenarnya tidak semestinya terjadi ? Jawaban yang paling sederhana adalah bahwa pejabat yang digaji tidak bekerja untuk pekerjaannya seperti pegawai yang bekerja pada perusahaan. Seorang pegawai yang bekerja pada perusahaan mesti loyal pada misi dan visi perusahaan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk kemajuan dan kejayaan perusahaan. Kalau seorang pejabat yang sudah digaji bisa berfikir dan bekerja seperti pegawai perusahaan tersebut maka masalah kemanusiaan yang begitu parah tidak seharusnya terjadi.

Harapan besar masyarakat kota Jakarta sekarang bertumpu pada Bapak Jokowi, yang merupakan gubernur baru pilihan rakyat. Dengan dukungan rakyat yang besar kita berharap akan banyak kemajuan dan prestasi yang akan dihasilkan oleh Gubernur yang baru ini. Memang memperbaiki kerusakan fatal yang ditinggalkan oleh Gubernur lama bukanlah seperti membalikkan tangan, tentu perlu proses, perlu waktu, dan semoga Jakarta baru akan bisa terwujud dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Seorang pejabat selain harus berorientasi pada prestasi, juga mesti punya hati nurani dan memikirkan kepentingan rakyat banyak. Bila memungkinkan bahkan seharusnya bisa menghasilkan karya besar yang berguna dan bisa dikenang oleh umat manusia sepanjang masa. Kalau tidak bisa membuat karya besar tingkat dunia seperti Tembok Besar di China, atau Menara Eiffel di Perancis, atau Candi Borobudur di Magelang, ya minimal kelas nasional. seperti Monumen Nasional (Monas) karya mantan Presiden Soekarno. Prestasi Soekarno bisa kita ingat dan sangat membanggakan bangsa Indonesia, baik sebagai proklamator, sebagai presiden yang membuat negara Indonesia disegani di dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Maka kita tentu kita berharap bahwa Bapak Jokowi selaku Gubernur DKI Jaya pilihan rakyat akan juga membuat sesuatu karya besar yang akan diingat oleh warga DKI Jaya selamanya, dan mengatasi berbagai masalah rutin seperti kemacetan lalu lintas dan banjir.

Memang tantangannya tidak mudah dan tidak sederhana karena sudah jadi penyakit akut, tetapi kami yakin selama ada kemauan disertai hati nurani, maka pasti akan ada jalan. Karena semua keberhasilan dan kemajuan akan kita nikmati bahkan sangat bermanfaat buat anak cucu dan keturunan kita di masa mendatang.

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Air untuk Kehidupan bisa juga menjadi Tsunami

Masih ingat akan ajaran Siddharta Gautama, terutama bagi umat agama Buddha, yang menerangkan mengenai Jalan Tengah. Bahwa segala sesuatu yang berlebihan (extrim) adalah tidak baik, dan yang seharusnya adalah Jalan Tengah. Dan kebijakan ajaran agama Buddha ini sudah ada sejak zaman dahulu yang berlaku universal.

Demikianlah seperti halnya mengenai AIR. Tanpa air tidak ada kehidupan, itulah yang biasa disimpulkan oleh orang-orang yang ke luar angkasa yang ingin mencoba menemukan kehidupan di luar planet bumi. Tanpa menemukan adanya air, maka para ahli luar angkasa menyimpulkan tiada kehidupan di orbit luar angkasa yang didatanginya. Bila ditemukan air di planet di luar bumi, maka harapan ditemukan kehidupan di planet ataupun gugus galaxy tersebut diharapkan bisa ditemukan kehidupan atau makhluk lain (makhluk luar angkasa). Setidaknya, manusia mencoba mencari lahan baru di luar angkasa yang suatu hari nanti bisa untuk dijadikan tempat untuk hidup.

Memang tanpa adanya air, kita tak mungkin hidup. Kekurangan air pun jadi masalah, orang bisa kehausan, atau tidak bisa melakukan aktivitas hidup secara normal, seperti untuk mandi, masak, mencuci dan sebagainya. Orang yang karena kesehatannya terganggu, sehingga terjadi dehidrasi, maka dalam tubuh akan kekurangan cairan, dan ini pun jadi masalah dan bisa membahayakan hidup.

Air jelas sangat penting untuk kehidupan. Tetapi kalau airnya berlebihan, juga bisa menjadi masalah. Hujan yang turun di atas batas normal, bisa sangat mengganggu. Air sungai yang meluap, genangan air, dan banjir tentu juga menjadi masalah buat manusia dan bisa menjadi musibah.

Dan kalau yang terjadi adalah TSUNAMI, maka musibah terhadap manusia bisa menjadi luar biasa. Gempa di dasar laut dapat menggerakkan air laut dan menyebabkan air laut bergejolak sedemikian sehingga menjadi ombak besar dan menyerang masuk ke daratan merupakan peristiwa Tsunami. Kalau skala gempa di dasar laut cukup besar sehingga menjadikan potensi tsunami, maka terjadilah musibah tsunami. Dan kalau manusia tidak siap menghadapi tsunami ini, maka musibah, bencana, dan korban tak bisa dielakkan. Walaupun manusia siap pun kalau tsunami terjadi, bencana dan kerugian pasti terjadi.

Saat tsunami terjadi, banyak bangunan dan infrastruktur di sepanjang garis pantai dan sekitarnya hancur diterjang tsunami. Dan kalau tsunami terjadi pada pantai yang ada manusianya, maka bencananya menjadi lebih besar. Rumah-rumah dan segala isinya hancur ataupun rusak diterjang tsunami. Bahkan berbagai kendaraan seperti mobil-mobil yang tak sempat diselamatkan dilumat oleh tsunami. Bahkan manusia yang tak sempat menyelamatkan diri juga akhirnya tewas akibat bencana tsunami ini. Masih segar ingatan kita akan Tsunami yang menghantam Aceh (di pantai Barat Sumatera bagian Utara), yang bahkan pengaruh tsunaminya juga sampai ke negara Srilangka dan Pukhet yang merupakan pantai negara Thailand. Ratusan ribu orang Aceh meninggal akibat tsunami tersebut dan juga kerusakan parah terjadi pada rumah berbagai fasilitas yang ada.

Tsunami yang terjadi di Jepang

Dan pada bulan Maret ini (tepatnya pada tanggal 11 Maret 2011), kembali Tsunami menyerang pantai Timur negara Jepang. Bisa kita lihat di berbagai berita surat khabar dan telivisi, sangat banyak bangunan yang hancur, mobil-mobil juga hanyut dibawa oleh air laut, dan juga memakan korban nyawa manusia juga. Walaupun jumlah korban (orang yang meninggal) tidak sebanyak saat tsunami di Aceh, tetapi kehilangan nyawa tetap terjadi. Bahkan ada satu hal yang sampai saat ini masih menakutkan, yaitu akibat lanjutan dari peristiwa tsunami yang sudah berlalu, yaitu rusaknya fasilitas reaktor nuklir pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Bocornya nuklir dan efek radiasi nuklir bisa menjadi lebih berbahaya, selain radiusnya bisa mencapai jarak yang sangat jauh, juga akibat dari terkena radiasi nuklir ini bisa menyebabkan berbagai penyakit dan cacat lainnya.

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa memang air bisa sangat berguna untuk kehidupan, tetapi bila kekurangan bisa jadi masalah, kelebihan juga jadi masalah. Jadi JALAN TENGAH adalah yang seharusnya. Pengalaman dan berbagai kejadian dari masa ke masa akan menjadikan manusia menjadi makin dewasa dan dengan segala akal budinya, manusia akan mencari solusi dan berbagai teknik untuk menghadapi berbagai masalah yang bisa muncul dari air ini. Dimulai dari berkembangnya ilmu meramal cuaca, sampai alat-alat deteksi gempa dan alat-alat peringatan bahaya tsunami, walaupun saat ini belum sempurna dan masih selalu terkalahkan dengan kejadian mendadak di luar kendali manusia, tetapi manusia tetap harus optimistis, bahwa suatu saat bisa mendapatkan solusi dan kesiapan untuk menghadapi semuanya. Makin hari makin berkembang teknologi dan ilmu pengetahuan dan semoga suatu hari nanti, manusia akan siap dan bisa menghindarkan bencana akibat dari extrim yang diakibatkan oleh air ini. Setidaknya bisa meminimalisasi kerugian dan kerusakan, serta meminimalkan korban.

Bukan dalam arti manusia ingin melawan alam, tetapi manusia ada saatnya bisa mengelola alam dengan lebih baik. Juga bisa mengelola bencana alam dengan lebih baik. Sehingga air yang kita butuhkan untuk kehidupan kita, juga bisa menjadi sahabat yang baik untuk kita. Manusia saat ini sudah bisa membotolkan air agar mudah dibawa kemana-mana, membuat saluran irigasi yang memanfaatkan air untuk sawah dan tanamannya, juga membuat kincir air untuk menghasilkan energi, ataupun membuat waduk untuk pembangkit tenaga listrik (PLTA : pembangkit listrik tenaga air) ataupun untuk rekreasi air dan tempat wisata. Bahkan ombak laut pun sudah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Juga memanfaatkan air untuk transportasi, baik transportasi kanal (seperti banyak di negara Belanda), transportasi sungai, transportasi laut. Memanfaatkan air untuk olahraga, seperti renang, ski air, bahkan surfing. Terlihat disini bahwa air sudah lama dan banyak yang bisa dimanfaatkan. Air sudah menjadi sahabat manusia, dan agar saat bencana yang timbul akibat oleh air ini (baik curah hujan yang berlebih, sungai yang meluap, ataupun tsunami) bisa tetap menjadi sahabat bagi manusia, dan bukan memakan nyawa banyak manusia. Dan kita harapkan hal seperti ini waktunya akan tiba. Mungkin terdengar agak aneh dan berlebihan, tetapi kalau kita melihat kenyataan kemajuan teknologi yang luar biasa cepat belakangan ini, seperti dunia internet, dunia telekomunikasi, yang bisa mengalahkan waktu dan jarak (dalam arti orang yang berjauhan jaraknya, bisa berkomunikasi secara online secara real time). Maka tiada harapan yang tidak mungkin dalam soal pengelolaan air ini, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan di luar normal.

Menjamurnya Sepeda Motor

Foto berikut ini adalah bersumber dari foto pada Harian Kompas terbitan hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 halaman 1 dengan judul : “Membludaknya Pengendara Motor”, dan di bawah foto ada tulisan : Ribuan pengendara sepeda motor melawan arus lalu lintas saat melintas ruas Jalan Pengumben, Jakarta Barat, Kamis (10/3). Sistem lawan arus (contraflow) di lokasi tersebut diatur polisi untuk mengatasi membludaknya pengendara sepeda motor.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini, sepeda motor sudah mulai menguasai jalanan di dalam kota Jakarta,  maksudnya menjamurnya sepeda motor, membuat jumlah sepeda motor makin hari makin banyak dan bahkan mulai membawa satu masalah baru, yaitu sembrawutnya sepeda motor di jalanan. Contoh sangat sederhana, coba perhatikan di perempatan jalan saat lampu jalan (traffic light), ketika mobil-mobil mulai berhenti di belakang garis stop saat lampu merah, mulailah sepeda motor  menyalip ke depan, satu persatu mulai maju ke depan, makin ke depan dan makin kedepan. Sehingga berbagai sepeda motor memadati di depan mobil yang berhenti di belakang garis stop. Sepeda motor ini juga sering memaksa maju ke depan kadang-kadang sampai menyentuh mobil ataupun menabrak kaca spion mobil yang mau dilewatinya.

Banyaknya sepeda motor ini selain karena kemacetan lalu lintas di kota Jakarta yang sudah sangat parah, menyebabkan sebagian warga memilih motor dengan harapan agar bisa lebih cepat dalam mencapai tujuan perjalanannya. Tetapi ternyata dengan mengendarai sepeda motor juga tidak menjamin kalau lantas pasti bisa lancar. Jalan yang sempit dan macet, tanpa adanya jalur khusus sepeda motor menyebabkan sepeda motor mesti pintar-pintar menyelip-nyelip di antara mobil-mobil. Dan kalau terjadi kemacetan parah, kadang-kadang sepeda motor pun ikut terjebak kemacetan dan tak bisa melaju sama sekali.

Selain karena faktor kemacetan, pilihan menggunakan sepeda motor juga karena fasilitas kendaraan umum kurang memberikan kenyamanan, kurang aman karena banyaknya pengamen, resiko copet dan antri yang lama. Serta kadang-kadang mesti berdesak-desakan di dalam bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun sebenarnya mengendarai sepeda motor juga ada resikonya sendiri. Kalau hujan, jadi kehujanan dan basah, tidak hujan juga kadang panas terik ataupun berdebu. Resiko kehilangan sepeda motor di tempat parkir juga merupakan permasalahan tersendiri. Bahkan helm pun bisa hilang juga di tempat parkir, ataupun saat sepeda motor kehujanan, helm pun bisa jadi basah juga.

Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, harga mobil yang mahal dan tak terjangkau juga menyebabkan pilihan kepada sepeda motor ini. Resiko kecelakaan berkendaraan sepeda motor juga tinggi, banyak sepeda motor yang lain berkendara seenaknya, memotong kendaraan lain seenaknya atau bahkan ada juga yang belum benar-benar mahir dalam mengendarai sepeda motornya. Kecelakaan pada sepeda motor lebih riskan bagi pengendaranya, karena umumnya saat terjadi kecelakaan umumnya pengendara ataupun boncengannya akan jatuh ke jalan, sehingga umumnya terjadi resiko luka ataupun cacat. Berbeda dengan pengendaraan mobil, yang umumnya pengemudi dan penumpangnya umumnya tidak terluka, hanya mobilnya saja yang rusak atau penyot.

Banyaknya sepeda motor dan pertumbuhannya yang luar biasa memang mesti diperhatikan dan dipikirkan secara khusus, seperti menyediakan jalur jalan khusus untuk sepeda motor. Membiarkan sepeda motor bercampur aduk dan saling berebut jalan bukanlah hal yang semestinya. Bahkan banyaknya motor yang berjalan melawan arah arus lalu lintas juga mesti ditertibkan karena selain menyebabkan resiko kecelakaan juga menyebabkan bertambahnya kemacetan. Sebagai contoh jalan tembus dari Season City di Jalan Jembatan Besi ke arah Roxy di Jl. Kyai Tapa, pas di bawah Jembatan Layang di Roxy, banyak sekali sepeda motor yang berjalan melawan arus yang mendesak masuk dan berebut jalan ke arah jalan tembus baru ke arah Season City. Ini benar-benar membuat kemacetan dan yang mengatur lalu lintas di sana pun hanya pak Ogah atau orang yang tak jelas identitasnya.

Pembiaran sepeda motor melawan arus lalu lintas juga bukanlah hal yang mendidik, dan akan menyebabkan pengendara jadi terbiasa melawan rambu-rambu lalu lintas dan tidak mendidik pengemudi untuk patuh sepenuhnya pada peraturan lalu lintas. Kalau hanya mengharuskan sepeda motor menyalakan lampu depan walaupun pada pagi atau siang hari bukanlah solusi, karena hanya membebankan pengemudi saja, kalau pengemudi lupa mematikan lampu saat parkir bisa jadi aki nya jadi rusak. jadi perencanaan yang matang dan pembangunan sarana dan jalur jalan untuk sepeda motor sudah mendesak.

Semestinya kalau seluruh angkutan umum berfungsi optimal, memberikan kenyamanan dan keamanan, serta bisa tepat waktu, tak semestinya pertumbuhan sepeda motor akan sebegitu dasyat, Karena pilihan sepeda motor juga merupakan semacam langkah terpaksa bagi sebagian orang karena tak ingin bersusah-susah antri lama untuk naik kendaraan umum, ataupun menghindari berdesak-desakan di dalam kendaraan umum, ataupun menghindari resiko copet ataupun masalah-masalah keamanan lainnya.

Mudah-mudahan suatu hari nanti bersepeda motor bisa bukan karena keterpaksaan karena berbagai alasan di atas, tapi karena memang pilihan yang semestinya dari pengemudinya. Sehingga juga ada ketertiban yang lebih baik.