Efisiensi perusahaan dengan menggunakan sepeda listrik

Sudah ada sepeda listrik bisa kita lihat dan temui di jalanan di kota Jakarta, dan makin hari tentu akan meningkat makin banyak. Karena hematnya serta kepraktisan dari sepeda listrik ini, maka sepeda listrik yang sangat ramah lingkungan ini sudah mulai dilirik oleh banyak peminat.

Berikut ini kami mengutip salah satu artikel di Harian Warta Kota terbitan hari Senin tanggal 1 Desember 2014 pada halaman 5, dengan judul artikel adalah : “Dana Rp. 1,2 Miliar untuk Beli Sepeda Listrik”, sebagai berikut :

Perusahaan jasa pengiriman JNE akan menggunakan sepeda listrik untuk pengantaran barang di dalam kota sebagai upaya menyisiati pemberlakuan larangan motor melintas di Jalan MH Thamrin dan Medan Merdeka Barat.

“Kami akan menggunakan sepeda listrik untuk tetap bisa melayani pelanggan kami di jalan-jalan yang dilarang melintas motor itu”, kata Johari Zein, Managing Director JNE, seperti dikutip Antara, baru-baru ini.

Johari mengatakan, telah menyediakan 100 unit sepeda listrik dengan investasi senilai Rp. 1,2 miliar. Adanya investasi itu, pihaknya merogoh biaya tambahan untuk belanja modal, namun di sisi lain biaya operasional jadi lebih efisien.

Memang, kata Johari, kemampuan kecepatan sepeda listrik lebih rendah dibandingkan dengan motor yang berdampak pada keterlambatan pengiriman.

“Untuk itu, diperlukan uji coba bolak-balik secara keseluruhan. Kami sudah lakukan itu. Sepeda memang agak terlambat apalagi untuk pengiriman pagi-pagi”, kata Johari.

Johari mengatakan, pembatasan dengan kendaraan bermotor akan menimbulkan masalah logistik di dalam kota seperti Jakarta, yang pengiriman paling banyak dengan motor.

“Bagaimana kalau motor enggak boleh masuk, kami sebagai operator kerja keras. Korbannya bukan kami, tapi pelanggan yang akan mengalami keterlambatan pengiriman, terutama di Jalan Thamrin”, kata Johari.

Johari mengatakan, jumlah pengiriman paket ke wilayah Jakarta Pusat, terutama Jalan Thamrin dan empat Jalan Merdeka menyumbang 20.000 – 30.000 pengiriman paket dari 160.000 pengiriman paket ke seluruh wilayah Jakarta.

“Kebutuhan masyarakat tetap tinggi terutama untuk pengiriman bisnis. Karena itu, kami jauh-jauh antisipasi, katanya. (ang).

Demikianlah kutipan dari Harian Warta Kota, yang tentu saja bisa kita baca langsung di Harian Warta Kota tersebut.

Seperti yang kita ketahui, JNE merupakan salah satu perusahaan jasa pengiriman yang sangat bisa diandalkan dan termasuk perusahaan yang telah sangat kita kenal, seperti halnya Tiki ataupun perusahaan jasa pengiriman (expedisi) lainnya.

Dari tulisan artikel di Harian Warta Kota tersebut, bisa kita simpulkan bahwa kehadiran sepeda listrik sebagai alat transportasi, bahkan sudah dijadikan pilihan untuk menjadi penunjang usaha (bisnis) dan bukan saja sekedar sebagai alat transportasi. Sepeda Listrik bahkan sudah digunakan untuk melancarkan usaha (bisnis) pengantaran.

Pilihan penggunaan sepeda listrik untuk jasa pengantaran tentu saja merupakan pilihan yang cerdas. Sepeda listrik yang sudah terbukti handal sebagai alat transportasi di jalan raya, juga sangat hemat, karena tidak membutuhkan bahan bakar, tidak perlu perawatan kecuali pengisian aki (cas aki) saja, sangat ramah lingkungan, tidak mengeluarkan asap, tidak mengeluarkan getaran maupun bunyi dan tidak menghasilkan polusi.

Memang sepeda listrik umumnya memiliki kecepatan lebih rendah daripada sepeda motor. Tetapi sebenarnya ada sepeda listrik yang bisa ngebut dengan kecepatan tinggi, seperti sepeda listrik selis type Jalak, ataupun sepeda listrik selis type Merak, yang bisa mencapai kecepatan 90 km / jam. (silakan baca di website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric). Tetapi tentu dengan harga yang lebih mahal daripada sepeda listrik biasa lainnya. Mungkin karena harga sepeda listrik selis type Jalak ataupun type Merak yang seharga Rp. 17,8 juta, makanya tidak dijadikan pilihan untuk usaha pengantaran karena kebutuhan perusahaan pengiriman bukan hanya 1 atau 2 sepeda listrik saja, tetapi suatu armada besar yang melibatkan setidaknya 100 buah sepeda listrik.

Jadi sangat jelas, bahwa kehadiran sepeda listrik mulai akan menggeser penggunaan sepeda motor. Sepeda listrik bukan saja dipakai di lingkungan perumahan, tetapi juga di jalan raya dan dengan pilihan berbagai type dan model, maka bisa juga dipakai dari anak-anak sampai orang tua, dan sangat praktis, tidak butuh SIM (surat ijin mengendara).

Terdapat berbagai type dan merk serta berbagai spesifikasi yang berbeda-beda dari bermacam sepeda listrik (sepeda electric), sedangkan khusus untuk sepeda listrik merk Selis, bisa dilihat dan dibaca secara lengkap pada website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric

Berikut ini adalah beberapa contoh foto sepeda listrik merk Selis :

Logo Sepeda Listrik Selis Type Sniper Tosca 2 Hp 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Sniper, Hp : 0818168990

Selis Type New Go Green, Hp : 0818168990

Selis Type New Go Green, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Elang

Sepeda Listrik Selis Type Elang

Sepeda Listrik Selis Type Jalak, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Jalak, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis Type Butterfly

Sepeda Listrik Selis Type Butterfly

Sepeda Listrik Selis Type Garuda

Sepeda Listrik Selis Type Garuda

Sepeda Listrik Selis Type MTB Victory

Sepeda Listrik Selis Type MTB Victory

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik,

silakan hubungi : Pak Lim.

Hp : 0818168990.

Sepeda Listrik Selis Type MTB 29, Hp : 0818168890

Sepeda Listrik Selis Type MTB 29

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik,

silakan hubungi : Pak Lim.

Hp : 0818168990.

Sepeda Motor yang ugal-ugalan bisa membahayakan pengguna jalan

Sepeda Motor yang menjamur di kota-kota besar di Indonesia, terutama di ibukota Jakarta, sangatlah rawan kecelakaan, karena banyaknya pengendara yang tidak disiplin, melanggar rambu jalan dan marka jalan, bahkan menerobos lampu merah, menaiki trotoar untuk pejalan kaki, menyerempet masuk ruang kosong yang sempit antara 2 mobil yang berdekatan, ataupun bahkan melawan arus lalu lintas.

Bahkan banyak juga yang memotong persis di depan mobil yang sedang berjalan, ataupun memotong jalan pada mobil yang sedang mundur untuk parkir atau berbelok arah. Sepertinya pengendara sepeda motor yang tidak disiplin ini sudah lupa manfaat sepeda motor yang ia gunakan, yang seharusnya membawa keamanan dan kemudahan, bukan sebaiknya bisa membawa celaka baik buat dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Mungkin sebagian alasan inilah, makanya pemerintah provinsi DKI Jaya mulai melakukan zona larangan motor, dan berikut ini kami mengutip dari Harian Warta Kota, terbitan Hari Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”, sebagai berikut :

Larangan jalan

Direktorat_Lalu_Lintas_Polda_Metro_Jaya_bersama_Pemprov_DKI tengah membahas perluasan area larangan sepeda motor. Selain di Jl. MH Thamrin dan Jl. Medan Merdeka Barat, seperti yang selama ini diuji coba, nantinya beberapa ruas jalan juga akan diberlakukan aturan yang sama.

Polda Metro Jaya mengakui, uji pelarangan melintas bagi sepeda motor di Jl. MH. Thamrin hingga Jalan Medan merdeka Barat sejauh ini berjalan efektif.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Restu Mulya Budiyanto mengatakan, berdasarkan evaluasi sementara, pelarangan itu cukup efektif untuk menekan kesemrawutan.

Untuk itu uji coba pelarangan motor akan diperluas dengan menambah 9 ruas jalan lainnya. “Rencananya di Jalan Industri, Jalan Angkasa, Jalan Garuda, Jalan Bungur, Jalan Otista, Jalan Minangkabau, Jalan Dr Soepomo, Jalan Dr. Sahardjo, dan Jalan Jendral Sudirman,” kata Restu, Senin (5/1).

Namun Restu juga mengatakan, perluasan ini masih harus menunggu evaluasi total selama sebulan pelaksanaan di Jalan Thamrin – Medan Merdeka Barat, yakni pada 14/1 mendatang.

Rencananya, untuk pelarangan sepeda motor di Jalan Jenderal Sudirman, kemungkinan hanya diberlakukan hingga Semanggi saja. “Kita rencanakan ada  empat tahap uji coba,” jelasnya.

Namun menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, rencana perluasan area larangan sepeda motor itu masih sebatas wacana. Ditegaskan Rikwanto, dalam waktu dekat ini belum ada perluasan area larangan.

“Pemprov DKI dan Diklantas masih menunggu evaluasi. Sekarang kan masih uji coba, Kalau kajian-kajian silakan saja. Kita tunggu tanggal 17 (Januari 2015) apakah diberlakukan secara permanen,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (5/1).

Dikatakannya banyak hal yang dipertimbangkan sebelum larangan diberlakukan di tempat lain. Mulai dari ketersediaan angkutan umum, jalan alternatif, hingga area parkir.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membenarkan adanya rencana memperluas larangan sepeda motor. Namun kali ini baru sebatas mempanjang mulai dari Jalan Merdeka Barat – Jalan MH Thamrin ditambah Jalan Jendral Sudirman. Alasannya, kondisi di jalan tersebut sudah memadai dari segi transportasi publik.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa perluasan pembatasan sepeda motor menunggu pengadaan ratusan bus Transjakarta sebagai penggantinya.

“Kita akan perluas sampai Semanggi, mungkin sampai ke seluruh Sudirman atau Ratu Plaza. Tunggu busnya cukup,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (5/1).

Mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku dalam pembatasan kendaraan roda dua di jalan protokol itu perlu adanya landasan hukumnya. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 191 tahun 2014 para pengendara roda dua dilarang melintasi Jalan MH Thamrin sampai Jalan Medan merdeka Barat, Jakarta Pusat. “Ada aturannya kok,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Benjamin Bukit. Menurutnya perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya dilakukan sampai Jalan Jendral Sudirman.

Untuk sembilan ruas jalan yang diwacanakan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Benjamin mengaku belum mengetahui. “Saya belum dapat informasi soal itu. Tapi, berdasarkan instruksi Gubernur perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya sampai Jalan Jenderal Sudirman.” katanya.

Mantan Wakil Kepala Dinas Perhubungan itu menambahkan bahwa yang bisa memberlakukan kebijakan pelarangan kendaraan roda dua adalah Pemerintah DKI Jakarta. Benjamin berencana dalam satu atau dua hari ke depan berkoordinasi dengan pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Menanggapi rencana perluasan larangan sepeda motor di jalanan Jakarta, para pengendara sepeda motor mengeluh. Seperti dikemukakan, Roni Surono (29), hal ini akan semakin mempersempit ruang gerak pesepeda motor.

“Ini jelas melanggar HAM. Bagaimana nasib pemotor nantinya jika jalan-jalan utama semuanya ditutup untuk motor. Ini kebijakan yang sangat tidak adil.” kata warga Bekasi itu saat ditemui di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Senin (5/1).

Evan (52), pengendara lainnya, melihat kebijakan ini semakin memtertegas perlakuan pemerintah yang lebih mementingkan si kaya atau masyarakat yang menggunakan mobil. Sementara, kata dia, masyarakat kalangan bawah pengguna sepeda motor seperti hendak disisihkan.

“Mereka (pemerintah) seperti tidak punya hati nurani. Ini sangat memprihatinkan, dimana orang kaya mendapat perhatian khusus dibandiung orang-orang berpenghasilan rendah. Jakarta ini bukan hanya milik orang kaya dan bermobil. Pengguna sepeda motor juga berhak melintasi jalan Jakarta. Kami sama-sama bayar pajak, kenapa tidak boleh menikmati?” ujar warga Klender, Jakarta Timur tersebut.

Demikian pula dengan beberapa pengusaha aksesoris sepeda motor di Jalan Otista Raya yang mengaku terkejut mendengar adanya rencana kebijakan pelarangan kendaraan bermotor melintasi Jalan Otista. “(Kebijakan) Itu sangat tidak masuk akal,” kata Edi Santoso, pemilik toko aksesoris sepeda motor Sumber Baru dengan nada tinggi.

“Ini akan merugikan banyak orang,. Tidak hanya kami pelaku usaha otomotif di sini, tapi pengendara motor. Ini kan jalan utama. Setiap hari dilewati banyak motor. Akan banyak orang marah jika kebijakan ini benar-benar diterapkan,” katanya. (sab/bin/fha).

Demikianlah kutipan selengkapnya dari Artikel di halaman 1 dari koran Warta Kota terbitan Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”.

Memang kita semestinya mendukung pemerintah provinsi DKI Jaya, untuk mengatur dan mengurai kemacetan, termasuk pengendalian kendaraan yang melintas di dalam kota serta jenis dan ukuran kendaraan. Dan pelaksanaan yang terintegrasi dengan penyediaan angkutan massal serta transportasi umum yang murah, mesti kita dukung. Kalau niat baik pemerintah untuk menambah angkutan massal serta penyediaan bus Transjakarta yang memenuhi kebutuhan keamanan, kecepatan, dan kenyamanan bagi masyarakat serta pengembangan transportasi publik lainnya termasuk juga peremajaan angkutan umum, maka tentu mayoritas masyarakat DKI Jakarta lah yang akan meninkmatinya.

Kalau kesemrawutan sepeda motor yang berseliweran di dalam kota Jakarta dibiarkan dan berkembang tidak terkendali, maka malah akan membahayakan, membahayakan pengguna kendaraan lain, membahayakan orang-orang yang berjalan kaki serta akan menambah macetnya kota Jakarta. Satu tindakan yang tidak masuk akal adalah banyaknya sepeda motor yang berjalan berlawanan arus lalu lintas, sepertinya pengguna sepeda motor tidak mau diatur dan mulai seenaknya sendiri. Dengan suaranya yang bising, asap knalpotnya yang mengotori udara sekitar, serta seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan cidera maupun kematian, maka pengguna sepeda motor sebaiknya juga menaati rambu-rambu lalu lintas, dan sopan dalam berlalu lintas.

Kita mengharapkan semua pengendara sepeda motor, termasuk pengendara mobil pribadi dan angkutan umum untuk santun dalam berlalu lintas.

Iklan :

Beralihlah ke sepeda listrik yang ramah lingkungan, hemat dan praktis.

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik Selis, silakan hubungi : Ibu Maria / Pak  Lim, Hp : 0818168990.  

Sepeda Listrik Merajai Shanghai

Melihat judul di atas, yaitu : Sepeda Listrik Merajai Shanghai, adalah sama dengan judul artikel di Harian Kompas, terbitan hari Rabu Tanggal 14 November 2012 dalam Teropong – Internasional, rubrik Transportasi, tulisan Lukas Adi Prasetya.

Tetapi kami ingin membahasnya dengan sisi pandang yang sedikit berbeda.

Berikut ini contoh foto Sepeda Listrik atau dikenal juga dengan nama Sepeda Electric :

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Terlihat dengan jelas di foto Sepeda Listrik / Sepeda Electric ini, tentu kita bisa melihat fungsinya yang sebenarnya sama dengan sepeda motor biasa, yaitu bisa membonceng, bisa dijalankan tanpa dikayuh karena pada sepeda listrik ada aki yang menjadi tenaga listrik untuk menjalankan sepeda listrik ini. Bahkan pada Sepeda Listrik ini, juga dilengkapi dengan keranjang di depan yang bisa untuk membawa dan mengangkut barang-barang.

Dari segi bentuk juga tidak berbeda banyak antara sepeda listrik dengan sepeda motor, tetapi penggunaan sepeda listrik jauh lebih praktis. Tidak dibutuhkan SIM (Surat Ijin Mengendarai) untuk Sepeda Listrik, karena sepeda listrik termasuk kategori sepeda biasa. Sepeda listrik bisa dijalankan dengan dikayuh (digowes) saja tanpa menghidupkan mesinnya sama sekali. Tidak ada pelat nomer polisi seperti sepeda motor, dan tidak ada BPKB dan STNK sehingga biayanya menjadi murah dan tidak perlu terikat dengan berbagai urusan administrasi.

Kelebihan lain dari sepeda listrik adalah bahwa sepeda listrik tidak perlu tiap hari dipanaskan mesinnya bila tidak digunakan, sehingga tidak merepotkan. Sedangkan sepeda motor perlu dipanaskan mesinnya setiap hari untuk memelihara mesin dan akinya agar selalu berfungsi normal.

Tanpa menggunakan bahan bakar seperti bensin, tentu saja membuat Sepeda Listrik ini murah dalam oprasionalnya dan juga tidak menimbulkan polusi dari sisa pembakaran bahan bakar bensin yang terjadi pada sepeda motor.

Ini semua tentu menjadi alasan yang kuat sehingga Sepeda Listrik bisa merajai Sanghai, yang merupakan kota bisnis terbesar di negara China.

Di Sanghai, sepeda listrik ini diberikan lajur tersendiri yang lapang. Kita bisa melihat sepeda listrik hilir mudik di tengah-tengah padatnya lalu lintas kota Sanghai. Bahkan sepeda listrik ini sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan transportasi kota Sanghai, mendampingi berbagai merk mobil dan truk.

Pagi-pagi sekali, sepeda listrik ini telah mengantar pemiliknya ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, juga ke pasar, ke toko dan berbagai kegiatan lainnya. Anak-anak muda berangkat kuliah bahkan pasangan suami istri pun ada yang bersepeda listrik dengan santai. Petugas delivery order restoran cepat saji, loper koran, bahkan penjual sayur keliling juga memakai sepeda listrik. Sangat jarang ada sepeda motor di jalanan.

Di sepanjang jalan, tempat-tempat parkir  banyak dipenuhi dengan sepeda listrik dan dikunci rodanya di tempat parkir.

Pengemudi mobil dan truk menghormati para pengendara sepeda listrik, mereka biasanya mempersilakan sepeda listrik melaju duluan jika berpapasan.

Mengapa sepeda listrik bisa merajai kota Sanghai ? Ternyata pemerintah China telah lama melarang motor bensin dipergunakan di kota besar, namun masih boleh digunakan di pinggiran kota dan di kota kecil saja. Alasannya, kota-kota di China semakin padat dan semakin tercemar polusi. Namun sejalan dengan itu, pemerintah China juga serius mendorong warganya untuk bersepeda maupun bersepeda listrik, antara lain dengan membuat jalur tersendiri yang cukup lapang jika dua sepeda listrik berpapasan.

Hampir di seluruh jalan di China memiliki tempat parkir sepeda kayuh maupun sepeda listrik. Tentu saja biaya parkir untuk sepeda listrik ini juga jauh lebih murah dari pada parkir mobil.

Karena kebijakan pemerintah kita belum mengarahkan warganya untuk bersepeda setiap hari, maka tentu saja kalau kita bersepeda di tengah-tengah kota bisa saja berbahaya karena bercampur baur dengan motor bensin, mobil, bus, sampai truk. Maka sepeda listrik ini hanya cocok di dalam lingkungan kompleks perumahan, atau di jalan-jalan lingkungan yang bukan merupakan jalur jalan kendaraan umum.

Banyaknya kompleks perumahan yang besar-besar, tentu saja sangat menyulitkan warga untuk keluar ke jalan raya yang jauh dari rumah, dan ini sebenarnya bisa diatasi dengan bersepeda listrik.

Maka ada baiknya kita memulai dengan bersepeda listrik dan mulai meninggalkan sepeda motor yang memboroskan bbm (bahan bakar minyak) bensin dan menghasilkan polusi yang tinggi.

Ingin tahu lebih banyak mengenai sepeda listrik, atau ingin membeli sepeda listrik, silakan baca website :

http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Harga sepeda listrik juga jauh lebih murah dibandingkan dengan sepeda motor bensin.

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Menjamurnya Sepeda Motor

Foto berikut ini adalah bersumber dari foto pada Harian Kompas terbitan hari Jumat tanggal 11 Maret 2011 halaman 1 dengan judul : “Membludaknya Pengendara Motor”, dan di bawah foto ada tulisan : Ribuan pengendara sepeda motor melawan arus lalu lintas saat melintas ruas Jalan Pengumben, Jakarta Barat, Kamis (10/3). Sistem lawan arus (contraflow) di lokasi tersebut diatur polisi untuk mengatasi membludaknya pengendara sepeda motor.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini, sepeda motor sudah mulai menguasai jalanan di dalam kota Jakarta,  maksudnya menjamurnya sepeda motor, membuat jumlah sepeda motor makin hari makin banyak dan bahkan mulai membawa satu masalah baru, yaitu sembrawutnya sepeda motor di jalanan. Contoh sangat sederhana, coba perhatikan di perempatan jalan saat lampu jalan (traffic light), ketika mobil-mobil mulai berhenti di belakang garis stop saat lampu merah, mulailah sepeda motor  menyalip ke depan, satu persatu mulai maju ke depan, makin ke depan dan makin kedepan. Sehingga berbagai sepeda motor memadati di depan mobil yang berhenti di belakang garis stop. Sepeda motor ini juga sering memaksa maju ke depan kadang-kadang sampai menyentuh mobil ataupun menabrak kaca spion mobil yang mau dilewatinya.

Banyaknya sepeda motor ini selain karena kemacetan lalu lintas di kota Jakarta yang sudah sangat parah, menyebabkan sebagian warga memilih motor dengan harapan agar bisa lebih cepat dalam mencapai tujuan perjalanannya. Tetapi ternyata dengan mengendarai sepeda motor juga tidak menjamin kalau lantas pasti bisa lancar. Jalan yang sempit dan macet, tanpa adanya jalur khusus sepeda motor menyebabkan sepeda motor mesti pintar-pintar menyelip-nyelip di antara mobil-mobil. Dan kalau terjadi kemacetan parah, kadang-kadang sepeda motor pun ikut terjebak kemacetan dan tak bisa melaju sama sekali.

Selain karena faktor kemacetan, pilihan menggunakan sepeda motor juga karena fasilitas kendaraan umum kurang memberikan kenyamanan, kurang aman karena banyaknya pengamen, resiko copet dan antri yang lama. Serta kadang-kadang mesti berdesak-desakan di dalam bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun sebenarnya mengendarai sepeda motor juga ada resikonya sendiri. Kalau hujan, jadi kehujanan dan basah, tidak hujan juga kadang panas terik ataupun berdebu. Resiko kehilangan sepeda motor di tempat parkir juga merupakan permasalahan tersendiri. Bahkan helm pun bisa hilang juga di tempat parkir, ataupun saat sepeda motor kehujanan, helm pun bisa jadi basah juga.

Tetapi bagi sebagian besar masyarakat, harga mobil yang mahal dan tak terjangkau juga menyebabkan pilihan kepada sepeda motor ini. Resiko kecelakaan berkendaraan sepeda motor juga tinggi, banyak sepeda motor yang lain berkendara seenaknya, memotong kendaraan lain seenaknya atau bahkan ada juga yang belum benar-benar mahir dalam mengendarai sepeda motornya. Kecelakaan pada sepeda motor lebih riskan bagi pengendaranya, karena umumnya saat terjadi kecelakaan umumnya pengendara ataupun boncengannya akan jatuh ke jalan, sehingga umumnya terjadi resiko luka ataupun cacat. Berbeda dengan pengendaraan mobil, yang umumnya pengemudi dan penumpangnya umumnya tidak terluka, hanya mobilnya saja yang rusak atau penyot.

Banyaknya sepeda motor dan pertumbuhannya yang luar biasa memang mesti diperhatikan dan dipikirkan secara khusus, seperti menyediakan jalur jalan khusus untuk sepeda motor. Membiarkan sepeda motor bercampur aduk dan saling berebut jalan bukanlah hal yang semestinya. Bahkan banyaknya motor yang berjalan melawan arah arus lalu lintas juga mesti ditertibkan karena selain menyebabkan resiko kecelakaan juga menyebabkan bertambahnya kemacetan. Sebagai contoh jalan tembus dari Season City di Jalan Jembatan Besi ke arah Roxy di Jl. Kyai Tapa, pas di bawah Jembatan Layang di Roxy, banyak sekali sepeda motor yang berjalan melawan arus yang mendesak masuk dan berebut jalan ke arah jalan tembus baru ke arah Season City. Ini benar-benar membuat kemacetan dan yang mengatur lalu lintas di sana pun hanya pak Ogah atau orang yang tak jelas identitasnya.

Pembiaran sepeda motor melawan arus lalu lintas juga bukanlah hal yang mendidik, dan akan menyebabkan pengendara jadi terbiasa melawan rambu-rambu lalu lintas dan tidak mendidik pengemudi untuk patuh sepenuhnya pada peraturan lalu lintas. Kalau hanya mengharuskan sepeda motor menyalakan lampu depan walaupun pada pagi atau siang hari bukanlah solusi, karena hanya membebankan pengemudi saja, kalau pengemudi lupa mematikan lampu saat parkir bisa jadi aki nya jadi rusak. jadi perencanaan yang matang dan pembangunan sarana dan jalur jalan untuk sepeda motor sudah mendesak.

Semestinya kalau seluruh angkutan umum berfungsi optimal, memberikan kenyamanan dan keamanan, serta bisa tepat waktu, tak semestinya pertumbuhan sepeda motor akan sebegitu dasyat, Karena pilihan sepeda motor juga merupakan semacam langkah terpaksa bagi sebagian orang karena tak ingin bersusah-susah antri lama untuk naik kendaraan umum, ataupun menghindari berdesak-desakan di dalam kendaraan umum, ataupun menghindari resiko copet ataupun masalah-masalah keamanan lainnya.

Mudah-mudahan suatu hari nanti bersepeda motor bisa bukan karena keterpaksaan karena berbagai alasan di atas, tapi karena memang pilihan yang semestinya dari pengemudinya. Sehingga juga ada ketertiban yang lebih baik.

Kawasan Khusus Pejalan Kaki

Pagi ini saya baru saja membaca Harian “Kompas” terbitan hari Minggu tgl. 6 Maret 2011 halaman 12 Rubrik : Foto Pekan Ini, dengan artikel berjudul : “Suatu Hari di Negeri Pejalan Kaki” dan terlampir gambar fotonya yang berjudul : “Kepadatan di Jalur Pedestrian” sebagai berikut :

Kepadatan d Jalur Pedestrian

Disimak dari foto tersebut, terlihat kesibukan dan keasikan dalam berjalan kaki. Berjalan kaki bisa menjadi menyenangkan dan juga tentu lebih sehat. Secara tidak langsung orang-orang yang sibuk, maupun orang yang tidak pernah berolah raga, menjadi berolah raga dalam bentuk jalan kaki.

Di dalam artikel di Harian Kompas tersebut mengambil contoh kota Hongkong sebagai Negeri Pejalan Kaki. Saya yakin banyak turis yang jalan-jalan ke Hongkong juga akan senang berjalan kaki, sambil melihat-lihat toko-toko di kiri-kanan jalan dengan berbagai kesibukan yang menyenangkan. Dalam suasana ramai yang menyenangkan, orang bisa berjalan berkil0-kilometer tanpa merasa jauh, bahkan tidak merasa lelah sama sekali. Mungkin sambil sesekali mampir di toko-toko yang menjual barang-barang yang menarik perhatian. Berjalan bisa lebih menyenangkan dari pada naik dan duduk di atas kendaraan dan hanya lewat saja tanpa banyak kesan dan kenangan yang berarti.

Setiap negara bisa saja menciptakan kawasan khusus pejalan kaki. Bila didukung dengan suasana yang aman dan nyaman, dengan banyaknya kegiatan bisnis yang menarik pengunjung, disertai pohon-pohon yang membuat cuaca menjadi sejuk dan menyenangkan, maka orang-orang akan senang berjalan kaki di kawasan khusus pejalan kaki ini. Bahkan orang-orang juga senang duduk-duduk sambil makan minum di berbagai rumah makan di kawasan tersebut. Bahkan suasana seperti ini bisa menjadi kesan yang menyenangkan dan menjadi kesan yang tak terlupakan.

Sejak puluhan tahun yang lalu, di kota Sydney di negara Australia, ada kawasan China Town, yang suasananya juga menyenangkan karena menjadi kawasan pejalan kaki. Walaupun orang parkir mobil agak jauh, kemudian saat memasuki kawasan China Town ini lalu hanya berjalan kaki, tapi orang-orang merasa senang, karena suasananya menyenangkan, aman dan nyaman. Berbagai fasilitas dari mesin ATM (automatic teller machine), telepon-telepon umum (public phone), serta berbagai kegiatan bisnis, dari restoran, cafe, food court, mini market, sampai toko-toko sangat mudah ditemukan, dan membuat suasana menjadi menyenangkan.

Seharusnya di dalam kota Jakarta pun bisa dibuat Kawasan Pejalan Kaki seperti ini. Dan ini akan lebih menyenangkan dan lebih baik dari pada mengadakan Car Free Day, dengan menutup jalan protokol seperti Jalan Sudirman atau Jalan MH Thamrin. Sama sekali efektivitas dari Car Free Day itu tidak punya arti apa-apa, hanya memindahkan kemacetan lalu lintas pada hari Minggu saja. Orang yang ingin buru-buru dalam perjalanan, baik karena ada janji atau kegiatan keluarga atau kegiatan lainnya bisa sangat terganggu dengan adanya Car Free Day tersebut. Kalau ada janji atau keperluan mendadak, tak mungkin hanya karena ada Car Free Day lalu orang harus membatalkan janji atau menunda hal yang tak boleh ditunda. Dan karena kurangnya informasi adanya Car Free Day, lalu setelah tiba dekat jalan ditutup, lalu harus berbelok ke jalan-jalan kecil yang sama sekali tak memadai untuk dilewati, dengan bermacet-macetan dan mesti berhadapan dengan banyaknya pak Ogah (orang-orang yang tak jelas identitasnya yang ikut-ikut pura-pura mengatur lalu lintas hanya untuk minta imbalan uang, padahal orang-orang ini dengan sengaja menghadang kendaraan yang mau lewat dengan badannya supaya lebih macet dan supaya diberi uang). Akibat berpindahnya kemacetan dan bertambah lamanya kendaraan-kendaraan terjebak dalam kemacetan di jalan-jalan lain dan berputar-putar dalam kebingungan, bukankah terjadi pemborosan waktu dan bahan bakar yang lebih banyak. Akibatnya juga polusi dari kendaraan bertambah, bukannya berkurang dengan adanya Car Free Day seperti yang diharapkan. Orang yang mengadakan Car Free Day hanya melihat jalan yang ditutup jadi sepi, tapi mungkin tidak melihat berpindahnya kemacetan dan makin macetnya jalan di gang-gang kecil yang makin menyengsarakan pengemudi, dan bertambahnya polusi dari kendaraan yang macet-macetan tersebut.

Memang kota Jakarta sangat jauh bila dibandingkan dengan kota pejalan kaki yang lain. Banyak jalan-jalan yang bahkan tanpa trotoar untuk pejalan kaki. Kalaupun ada, banyak sekali hambatan dalam berjalan kaki. Ambil contoh saja, orang berjalan kaki dari Harmoni ke Gajah Mada Plaza di Jakarta Pusat. Ternyata berjalan kaki bisa sangat berbahaya, banyak motor-motor yang berjalan memotong jalan, berlawanan arah, bahkan banyak sekali parkir mobil dan motor di pinggir jalan (seperti di Jl. Gajah Mada di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat), yang menyebabkan orang yang mau berjalan kaki mesti berjalan menembus barisan motor dan mobil yang diparkir tersebut dengan susah payah. Belum lagi adanya got terbuka, atau sebagian tertutup dan sebagian terbuka, yang bisa menyebabkan kaki masuk lubang got atau terjatuh. Di tambah panas terik matahari karena kurangnya pohon-pohon penyejuk. Dan juga saat menyeberang di persimpangan atau di pertigaan (seperti di Persimpangan Jl. Gajah Mada dengan Jl. Kemakmuran),  mesti sangat berhati-hati karena sulitnya menyeberang, kendaraan tampaknya tak ada yang mau mengalah untuk orang yang mau menyeberang, sedangkan lampu khusus untuk menyeberang tidak ada. Benar-benar berjalan kaki jadi sulit dan bisa saja jadi berbahaya.

Atau lihat saja contoh di Jl. Pangeran Jayakarta di Jakarta Utara, yang satu sisi jalannya selalu tergenang air sepanjang tahun, baik musim panas apalagi musim hujan. Saat pejalan kaki berjalan dari arah Jl. Gunung Sahari ke arah Jl. Pangeran Jayakarta, saat melewati pinggir jalan tersebut mesti sangat berhati-hati, bisa-bisa ada kendaraan yang lewat kemudian genangan air tadi memercik dan membasahi seluruh pakaian pejalan kaki di pinggir jalan tersebut. Sandal dan sepatu juga sangat cepat menjadi rusak karena terendam air saat pejalan kaki mesti melewati genangan air tersebut. Bahkan pengendara motor pun saat berhenti, dan kakinya terpaksa menginjak jalan supaya tidak terjatuh, maka sandal dan sepatunya pun akan jadi basah.

Kalau melihat kenyataan bahwa berjalan kaki di kota Jakarta tidak lagi menyenangkan, apakah lalu kalau ada himbauan agar orang yang memakai kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum bisa menjadi efektif ? Tentu saja tidak, karena semua manusia menginginkan kesenangan dan ingin menghindarkan kesusahan, jadi walaupun orang yang tak mampu pun jadi bermimpi ingin punya kendaraan sendiri.

Karenanya pembangunan infrastruktur jalan mesti mempertimbangkan semuanya ini. Perlu dipikirkan juga pedestrian buat pejalan kaki. Kalau di kota Beijing atau di kota Sanghai – Tiongkok, ada jalur-jalur jalan khusus buat orang yang bersepeda. Atau bahkan di kota Kuala Lumpur – Malaysia, ada jalur khusus di samping jalan tol untuk mobil, yang dikhususkan untuk pengendara sepeda motor. Maka sudah saatnya selain mengatasi kemacetan dengan pembangunan infrastruktur yang berorientasi mengatasi kemacetan mobil, perlu juga dipikirkan untuk jalur sepeda motor dan juga jalur untuk pejalan kaki, supaya semua bagian masyarakat bisa menikmati hidupnya masing-masing. Semoga.