Sepeda listrik ramah lingkungan merupakan inovasi teknologi

Teknologi semakin hari semakin maju, dengan makin banyaknya penemuan-penemuan baru, maupun inovasi baru. Banyaknya ahli-ahli dari berbagai negara, dan adanya usaha R&D (research and development) telah mengantarkan kita pada teknologi yang sangat maju, sangat memanjakan kita, dan bahkan juga yang sangat ramah lingkungan.

Salah satu inovasi baru adalah rencana diluncurkannya dan dipasarkannya mobil terbang. Mobil terbang telah direncanakan akan mulai dipasarkan pada tahun 2017. Para pembuat mobil terbang telah memperlihatkan model terbaru mereka pada Festival Teknologi di Austin, Texas – Amerika Serikat dengan menjanjikan akan membuat satu model yang siap dijual pada tahun 2017.

Berikut ini adalah contoh gambar mobil terbang :

Mobil terbang

Mobil terbang

Mobil Terbang

Mobil Terbang

Aeromobil,_perusahaan_otomotif_asal_Slowakia baru-baru ini memamerkan mobil terbangnya di konferensi South by South-west Interactive. Mobil terbang tersebut bertemat duduk dua orang, dan menggunakan bahan bakar bensin biasa dan dapat melintasi jalan raya dan udara. Bisa lepas landas dari landasan pacu rumput atau aspal sepanjang hanya 300 meter atau kurang dari itu.

Para pembuat mobil terbang itu mengatakan bahwa mobil terbang bisa masuk ke tempat parkir mobil dan jalur mobil biasa, dan mempunyai kecepatan terbang maksimal 200 km/jam, dan kecepatan di jalan raya (di jalanan) tertinggi sampai kira-kira 160 km/jam.

Perusahaan itu mengatakan model yang sekarang ini yang dinamakan dengan model Flying Roadster, akan dijual dengan harga ratusan ribu US dollar. Kalau Flying Roadster cukup laris, Aeromobil berencana mengembangkan model yang bisa terbang sendiri.

Maka dunia pun akan banyak pilihan untuk kendaraan yang bisa dipakai untuk memanjakan manusia dalam memenuhi keinginannya dalam bermobilisasi ataupun berpergian. Seperti halnya sepeda listrik yang memberikan kemudahan dalam bertransportasi, dalam berkendaraan jarak dekat menengah.

Sepeda listrik (sepeda electric) jelas memberikan kelebihan dibandingkan dengan sepeda kayuh biasa. Semua kebisaan sepeda kayuh biasa ada pada sepeda listrik, sehingga sepeda listrik bisa dipakai untuk sebagai alat transportasi dengan menggowes seperti sepeda biasa, bisa dipakai untuk bersepeda ria, ataupun dalam kegiatan fun-bike lainnya. Tetapi sepeda listrik sekaligus juga memiliki kelebihan berupa tenaga listrik dari aki kering yang terpasang pada sepeda listriknya, yang berfungsi untuk menjalankan sepeda listrik dengan setrum dari aki nya saja, sehingga sudah tidak diperlukan tenaga untuk menggowes, sehingga sama sekali terasa sangat ringan, tidak melelahkan, bahkan sangat ramah lingkungan, karena tidak mengeluarkan asap, tidak ada hasil pembakaran (karena bukan sepeda motor), tidak ada getaran, dan tidak ada suara.

Dibandingkan dengan sepeda motor yang mesti dilakukan perawatan secara rutin, seperti ganti oli, tune up dan banyak kerepotan lainnya, maka pada sepeda listrik (sepeda electric) tidak dibutuhkan perawatan khusus, yang penting cukup melakukan pengisian aki keringnya dengan mencas dengan charger yang telah tersedia secara rutin sampai penuh. Kita bisa melakukan cas aki baik pada malam hari saat kita pulang setelah beraktivitas dengan sepeda listrik, ataupun di kantor bila kita memakainya ke kantor tempat kita bekerja. Sepeda listrik juga sangat praktis karena tidak dibutuhkan SIM (surat ijin mengendarai) dan juga tidak ada STNK dan BPKB.

Sepeda listrik juga sangat hemat, karena tidak butuh bahan bakar minyak (bbm), jadi tidak butuh bensin, sehingga tidak perlu antri di POM Bensin (SPBU). Bisa dibayangkan betapa sulitnya membeli bensin di SPBU yang mesti antri panjang, seperti bisa kita lihat pada foto berikut ini :

antri bensin

antri spbu

 

Karenanya_merupakan_suatu_keberuntungan bagi kita dengan kehadiran sepeda listrik yang sangat ramah lingkungan (sesuai dengan semangat go green), dan cukup dengan merawat dan mengisi aki saja secara teratur bisa membuat perjalanan kita dilingkungan perumahan, di jalan raya, ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja ke pasar, belanja ke warung atau supermarket, beli makanan di restoran dan rumah makan, serta kegiatan perjalanan menjadi menyenangkan dan tidak merepotkan.

Berikut ini adalah foto-foto sepeda listrik ramah lingkungan Go Green import, sebagai berikut :

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda listrik Go Green Import warna Merah Metalic

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna coklat

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

Sepeda Listrik Go Green Import warna Biru Silver

 Untuk_melihat_penjelasan_lebih_lengkap mengenai sepeda listrik Go Green Import ini, silakan lihat di website :  http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

ataupun website : http://angelasalim.biz/sepeda-listrik-sepeda-electric-go-green

Silakan hubungi : Pak Awi, Hp : 081389007000

untuk info dan pemesanan Sepeda Listrik Go Green Import tersebut di atas.

Iklan :

Untuk sepeda listrik type-type lain atau sepeda listrik merk Selis, silakan lihat website : http://investoremas.com/selis-sepeda-listrik-sepeda-electric

atau : website : http://rukorumahtinggal.com/harga-jual-sepeda-listrik-selis-baru-berbagai-type

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Sepeda Listrik merk Selis, hub : Pak Lim, Hp : 0818168990.

Sepeda Motor yang ugal-ugalan bisa membahayakan pengguna jalan

Sepeda Motor yang menjamur di kota-kota besar di Indonesia, terutama di ibukota Jakarta, sangatlah rawan kecelakaan, karena banyaknya pengendara yang tidak disiplin, melanggar rambu jalan dan marka jalan, bahkan menerobos lampu merah, menaiki trotoar untuk pejalan kaki, menyerempet masuk ruang kosong yang sempit antara 2 mobil yang berdekatan, ataupun bahkan melawan arus lalu lintas.

Bahkan banyak juga yang memotong persis di depan mobil yang sedang berjalan, ataupun memotong jalan pada mobil yang sedang mundur untuk parkir atau berbelok arah. Sepertinya pengendara sepeda motor yang tidak disiplin ini sudah lupa manfaat sepeda motor yang ia gunakan, yang seharusnya membawa keamanan dan kemudahan, bukan sebaiknya bisa membawa celaka baik buat dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Mungkin sebagian alasan inilah, makanya pemerintah provinsi DKI Jaya mulai melakukan zona larangan motor, dan berikut ini kami mengutip dari Harian Warta Kota, terbitan Hari Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”, sebagai berikut :

Larangan jalan

Direktorat_Lalu_Lintas_Polda_Metro_Jaya_bersama_Pemprov_DKI tengah membahas perluasan area larangan sepeda motor. Selain di Jl. MH Thamrin dan Jl. Medan Merdeka Barat, seperti yang selama ini diuji coba, nantinya beberapa ruas jalan juga akan diberlakukan aturan yang sama.

Polda Metro Jaya mengakui, uji pelarangan melintas bagi sepeda motor di Jl. MH. Thamrin hingga Jalan Medan merdeka Barat sejauh ini berjalan efektif.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Restu Mulya Budiyanto mengatakan, berdasarkan evaluasi sementara, pelarangan itu cukup efektif untuk menekan kesemrawutan.

Untuk itu uji coba pelarangan motor akan diperluas dengan menambah 9 ruas jalan lainnya. “Rencananya di Jalan Industri, Jalan Angkasa, Jalan Garuda, Jalan Bungur, Jalan Otista, Jalan Minangkabau, Jalan Dr Soepomo, Jalan Dr. Sahardjo, dan Jalan Jendral Sudirman,” kata Restu, Senin (5/1).

Namun Restu juga mengatakan, perluasan ini masih harus menunggu evaluasi total selama sebulan pelaksanaan di Jalan Thamrin – Medan Merdeka Barat, yakni pada 14/1 mendatang.

Rencananya, untuk pelarangan sepeda motor di Jalan Jenderal Sudirman, kemungkinan hanya diberlakukan hingga Semanggi saja. “Kita rencanakan ada  empat tahap uji coba,” jelasnya.

Namun menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, rencana perluasan area larangan sepeda motor itu masih sebatas wacana. Ditegaskan Rikwanto, dalam waktu dekat ini belum ada perluasan area larangan.

“Pemprov DKI dan Diklantas masih menunggu evaluasi. Sekarang kan masih uji coba, Kalau kajian-kajian silakan saja. Kita tunggu tanggal 17 (Januari 2015) apakah diberlakukan secara permanen,” ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Senin (5/1).

Dikatakannya banyak hal yang dipertimbangkan sebelum larangan diberlakukan di tempat lain. Mulai dari ketersediaan angkutan umum, jalan alternatif, hingga area parkir.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membenarkan adanya rencana memperluas larangan sepeda motor. Namun kali ini baru sebatas mempanjang mulai dari Jalan Merdeka Barat – Jalan MH Thamrin ditambah Jalan Jendral Sudirman. Alasannya, kondisi di jalan tersebut sudah memadai dari segi transportasi publik.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan bahwa perluasan pembatasan sepeda motor menunggu pengadaan ratusan bus Transjakarta sebagai penggantinya.

“Kita akan perluas sampai Semanggi, mungkin sampai ke seluruh Sudirman atau Ratu Plaza. Tunggu busnya cukup,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (5/1).

Mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku dalam pembatasan kendaraan roda dua di jalan protokol itu perlu adanya landasan hukumnya. Melalui Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 191 tahun 2014 para pengendara roda dua dilarang melintasi Jalan MH Thamrin sampai Jalan Medan merdeka Barat, Jakarta Pusat. “Ada aturannya kok,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Benjamin Bukit. Menurutnya perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya dilakukan sampai Jalan Jendral Sudirman.

Untuk sembilan ruas jalan yang diwacanakan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Benjamin mengaku belum mengetahui. “Saya belum dapat informasi soal itu. Tapi, berdasarkan instruksi Gubernur perluasan pembatasan kendaraan roda dua hanya sampai Jalan Jenderal Sudirman.” katanya.

Mantan Wakil Kepala Dinas Perhubungan itu menambahkan bahwa yang bisa memberlakukan kebijakan pelarangan kendaraan roda dua adalah Pemerintah DKI Jakarta. Benjamin berencana dalam satu atau dua hari ke depan berkoordinasi dengan pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Menanggapi rencana perluasan larangan sepeda motor di jalanan Jakarta, para pengendara sepeda motor mengeluh. Seperti dikemukakan, Roni Surono (29), hal ini akan semakin mempersempit ruang gerak pesepeda motor.

“Ini jelas melanggar HAM. Bagaimana nasib pemotor nantinya jika jalan-jalan utama semuanya ditutup untuk motor. Ini kebijakan yang sangat tidak adil.” kata warga Bekasi itu saat ditemui di Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Senin (5/1).

Evan (52), pengendara lainnya, melihat kebijakan ini semakin memtertegas perlakuan pemerintah yang lebih mementingkan si kaya atau masyarakat yang menggunakan mobil. Sementara, kata dia, masyarakat kalangan bawah pengguna sepeda motor seperti hendak disisihkan.

“Mereka (pemerintah) seperti tidak punya hati nurani. Ini sangat memprihatinkan, dimana orang kaya mendapat perhatian khusus dibandiung orang-orang berpenghasilan rendah. Jakarta ini bukan hanya milik orang kaya dan bermobil. Pengguna sepeda motor juga berhak melintasi jalan Jakarta. Kami sama-sama bayar pajak, kenapa tidak boleh menikmati?” ujar warga Klender, Jakarta Timur tersebut.

Demikian pula dengan beberapa pengusaha aksesoris sepeda motor di Jalan Otista Raya yang mengaku terkejut mendengar adanya rencana kebijakan pelarangan kendaraan bermotor melintasi Jalan Otista. “(Kebijakan) Itu sangat tidak masuk akal,” kata Edi Santoso, pemilik toko aksesoris sepeda motor Sumber Baru dengan nada tinggi.

“Ini akan merugikan banyak orang,. Tidak hanya kami pelaku usaha otomotif di sini, tapi pengendara motor. Ini kan jalan utama. Setiap hari dilewati banyak motor. Akan banyak orang marah jika kebijakan ini benar-benar diterapkan,” katanya. (sab/bin/fha).

Demikianlah kutipan selengkapnya dari Artikel di halaman 1 dari koran Warta Kota terbitan Selasa tanggal 6 Januari 2015 yang berjudul : “Larangan Motor Akan Ditambah 9 Jalan”.

Memang kita semestinya mendukung pemerintah provinsi DKI Jaya, untuk mengatur dan mengurai kemacetan, termasuk pengendalian kendaraan yang melintas di dalam kota serta jenis dan ukuran kendaraan. Dan pelaksanaan yang terintegrasi dengan penyediaan angkutan massal serta transportasi umum yang murah, mesti kita dukung. Kalau niat baik pemerintah untuk menambah angkutan massal serta penyediaan bus Transjakarta yang memenuhi kebutuhan keamanan, kecepatan, dan kenyamanan bagi masyarakat serta pengembangan transportasi publik lainnya termasuk juga peremajaan angkutan umum, maka tentu mayoritas masyarakat DKI Jakarta lah yang akan meninkmatinya.

Kalau kesemrawutan sepeda motor yang berseliweran di dalam kota Jakarta dibiarkan dan berkembang tidak terkendali, maka malah akan membahayakan, membahayakan pengguna kendaraan lain, membahayakan orang-orang yang berjalan kaki serta akan menambah macetnya kota Jakarta. Satu tindakan yang tidak masuk akal adalah banyaknya sepeda motor yang berjalan berlawanan arus lalu lintas, sepertinya pengguna sepeda motor tidak mau diatur dan mulai seenaknya sendiri. Dengan suaranya yang bising, asap knalpotnya yang mengotori udara sekitar, serta seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan cidera maupun kematian, maka pengguna sepeda motor sebaiknya juga menaati rambu-rambu lalu lintas, dan sopan dalam berlalu lintas.

Kita mengharapkan semua pengendara sepeda motor, termasuk pengendara mobil pribadi dan angkutan umum untuk santun dalam berlalu lintas.

Iklan :

Beralihlah ke sepeda listrik yang ramah lingkungan, hemat dan praktis.

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik merk Selis, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Sepeda Listrik Selis MTB Victory, Hp : 0818168990

Untuk info dan pemesanan sepeda listrik Selis, silakan hubungi : Ibu Maria / Pak  Lim, Hp : 0818168990.  

Bajaj sebagai transportasi umum khas Jakarta

Bajaj merupakan kendaraan umum ukuran kecil yang masih didambakan oleh masyarakat kota Jakarta.

Bentuk Bajaj yang khas menjadikan kendaraan umum ini membedakan moda transportasi di dalam kota Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia.

Tetapi kendaraan umum Bajaj ini tidak diperkenankan melalui jalan-jalan protokol utama, karenanya bajaj lebih banyak memenuhi kebutuhan transportasi dalam jarak dekat atau jarak menengah, dan sering juga masuk ke dalam kompleks perumahan atau ke lingkungan jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar.

Berikut ini contoh-contoh bajaj yang dimaksud :

Bajaj-bajaj yang malang melintang di lalu lintas di kota Jakarta ini adalah warna merah atau merah oranye.

Tetapi belakangan ini sudah ada Bajaj yang berwarna biru, dan bajaj biru telah mulai berbaur dengan bajaj merah walaupun jumlah bajaj biru masih relatif sedikit.

Perbedaan mendasar dari Bajaj berwarna merah dan Bajaj berwarna biru ini adalah dari bahan bakarnya.

Sama-sama beroda tiga, bajaj berwarna merah menggunakan bahan bakar berupa bensin campur. Sedangkan bajaj berwarna biru menggunakan bensin, tetapi bisa juga menggunakan BBG (bahan bakar gas), atau bajaj biru ini ada yang bisa menggunakan bensin sekaligus juga bisa menggunakan BBG (bahan bakar gas), jadi maksudnya pada bajaj biru bisa memiliki sekaligus dua alternatif bahan bakar yang difungsikan pada bajaj berwarna biru tersebut.

Perbedaan bajaj merah dan bajaj biru selain dari bahan bakarnya, kalau kita perhatikan bentuk fisiknya, karena umumnya bajaj merah ini sudah berumur tua, maka sering bentuknya sudah tidak rapi. Tetapi bahan body bajaj warna merah umumnya dari bahan besi pelat yang lebih tebal sehingga lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan. Di samping itu karena bahan bakarnya adalah bensin campur dan karena jenis mesinnya, ternyata bunyi bajaj merah ini sangat berisik dan getaran nya pun sangat kasar, sehingga kurang disukai dibandingkan dengan bajaj biru yang suara mesinnya jauh lebih halus. Tetapi walaupun dengan suara berisiknya dan getaran yang kasar, bajaj merah ini tetap dibutuhkan oleh para penumpang umum di kota Jakarta yang merasakan sangat kurang mendukungnya kendaraan umum (transportasi umum) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berhubung Bajaj berwarna biru ini relatif lebih baru, maka uang setoran yang harus dibayar para supir bajaj kepada pemilik (pengusaha) bajaj biru lebih mahal sehingga sering mengenakan ongkos lebih mahal dibandingkan dengan bajaj berwarna merah. Para pengusaha yang mengoperasikan bajaj berwarna biru ini umumnya belum balik modal, belum mencapai BEP (break even point), maka memang setoran yang dikenakan kepada pengendara bajaj berwarna biru lebih tinggi dibandingkan dengan bajaj berwarna merah.

Dengan makin menjamurnya sepeda motor di kota Jakarta ini, Bajaj dan sepeda motor saling berebut jalanan di jalan raya yang semakin menjadikan jalanan semakin semrawut. Para supir bajaj pun juga saat ini mesti bersaing dengan tukang ojek sepeda motor. Kapasitas bajaj ini bisa mengangkut 2 sampai 3 orang, walaupun kadang 4 orang pun kalau dipaksakan bisa saja masuk bila penumpangnya adalah 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak, dengan berpangkuan.

Sebagai kendaraan umum yang khas Jakarta, lukisan maupun miniatur bajaj sering menjadi koleksi yang diminati.

Mau lihat miniatur bajaj yang merupakan karya seni berupa handicraft dari bahan kuningan (bronze), bisa lihat di website : http://angelasalim.com/produk-miniatur-dari-sepeda-becak-bajaj

Miniatur Bajaj handicraft

Miniatur Bajaj handicraft

Sedangkan kalau Anda memerlukan kendaraan yang simple dan hemat serta bebas polusi, maka sepeda listrik / sepeda elektrik / sepeda electric / e-bike merupakan jawaban yang tepat, juga sangat cocok untuk kendaraan dalam kompleks perumahan atau di dalam lingkungan perumahan. Untuk sepeda listrik (sepeda electric), silakan lihat website sebagai berikut : http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Transportasi murah dan mudah

Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, memang saat ini masih sangat direpotkan dengan masalah kemacetan lalu lintas. Macet, macet, dan macet adalah “menu makanan” sehari-hari yang sangat meletihkan bagi warga kota Jakarta.

Apa yang ada hari ini, tentu adalah hasil apa yang dilakukan pemerintah dan otoritas sebelumnya, dari level pusat sampai dengan pemda. Bila pemerintah pusat tidak pernah melakukan aksi nyata mengatasi masalah ini, tentu tidak akan bisa mengatasi masalah ini.

Untunglah saat ini kita memiliki Gubernur dan Wakil Gubernur yaitu Jokowi dan Ahok yang muncul dengan berbagai ide yang cemerlang, dengan berbagai kebijakan yang pro rakyat banyak, dan mau bekerja dan memikirkan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur sebelumnya yaitu Foke yang tidak berprestasi apa-apa selama menjabat dan membiarkan masyarakat Jakarta mengalami kemacetan yang makin parah dan menjalani hidup yang tidak manusiawi di kemacetan dan keruwetan kota Jakarta.

Pemikiran Gubernur Jokowi yang terintergrasi sekaligus memikirkan berbagai aspek, baik dari segi pengatasan macet, pengatasan banjir, penyiapan lahan terbuka (taman) untuk masyarakat, dan pemindahan dan pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rusun susun), pemindahan pedagang kaki lima (PKL) ke dalam gedung pasar merupakan suatu langkah dan tindakan yang harus diacungi jempol.

Sebagai contoh, pak Jokowi telah mulai memikirkan dan akan merealisasikan MRT (Mass Rapid Transport), Monorel, dan memaksimalkan fungsi busway. Bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) dan penerapan mobil berplat nomer ganjil genap di jalur jalan tertentu, benar-benar menunjukkan kinerja bekerja seorang pejabat, dan bukannya gaya pejabat yang digaji dan ternyata menghabiskan sebagian waktu kerja nya hanya untuk bermain golf, atau pejabat yang hanya beriklan atas keberhasilan orang lain.

Pemikiran untuk pembuatan resapan-resapan di kavling-kavling perkantoran, perumahan, dan revitalisasi waduk seperti waduk Pluit, merupakan contoh pelaksanaan pencegahan banjir. Bahkan pembuatan taman kota merupakan pemberian hak publik kepada masyarakat untuk bisa menikmati hawa alam yang segar di tengah kota.

Pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rumah susun) tentu sesuatu yang harus diterima sebagai suatu berkah. Bayangkan saja saat ini harga rusun (rumah susun) ukuran studio 18 M2 di Jakarta saja sudah bernilai ratusan juta, belum lagi dengan perjalanan waktu nanti harganya bisa naik banyak setelah ramai dan maju.

Pemindahan pedagang kaki lima (PKL) di daerah Tanah Abang dan direlokasi ke dalam Pasar Tanah Abang Blok G merupakan contoh keberhasilan luar biasa dari Gubernur Jokowi, yang sangat jeli melihat kenyataan di lapangan. Kegiatan blusukan Jokowi ternyata sangat efektif menghasilkan suatu kebijakan yang luar biasa. Gubernur-gubernur yang lalu tidak ada yang mampu mengatasi masalah Tanah Abang. Baru pak Jokowi yang mampu dan kita harus mengacungkan jempol. Kalau ternyata saat ini di Pasar Tanah Abang blok G masih sepi itu adalah hal wajar. Saat pedagang Pasar Pagi (Asemka) dipindah ke Pasar Pagi Mangga Dua, awalnya juga  pedagang nya ribut sepi, tetapi bayangkan saja saat ini coba lihat Pasar Pagi Mangga Dua, apakah masih ada yang mengatakan menyesal ? Ternyata bahkan saat ini mencari kios di Pasar Pagi Mangga Dua pun selain sulit dapat tempat, harga kios yang sangat sangat mahal, dan harga sewa yang juga luar biasa mahal. Dan berapa besar uang beredar di Pasar Pagi Mangga Dua memang telah membuat orang bisa menghargai arti sebuah kios kecil di Pasar Pagi Mangga Dua. Demikian pula dengan pedagang yang telah mendapat kios di Pasar Tanah Abang Blok G, maka suatu hari nanti akan merasakan betapa berharganya dan beruntungnya mereka.

Kembali bicara mengenai kemacetan di Jakarta, sebenarnya adalah kegagalan dari pemerintah selama ini yang tidak membuat kebijakan jangka panjang pembangunan infrastruktur yang semestinya. Minimnya kereta api dan sangat minimnya perkembangan jalan merupakan bukti kegagalan pembangunan infrastruktur yang semestinya. Membludaknya mobil pribadi dan sepeda motor merupakan contoh kesalahan besar dalam penerapan kebijakan yang baik. Apalagi diluncurkannya mobil murah pada saat kemacetan belum teratasi benar-benar suatu kebijakan yang sangat merusak. Memang warga yang tidak cukup kaya mungkin saja diharapkan bisa beli mobil murah, tapi barang murah dengan kwalitas murahan juga bisa menjadi bumerang biaya perawatan mahal. Semakin menambah polusi lalu lintas selain menambah kemacetan.

Padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang murah dan mudah. Bukan mobil pribadi yang murah. Rakyat tidak perlu dijadikan supir-supir dan menyetir mobil sendiri. Kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh AQJ anak bungsu dari artis kondang Ahmad Dhani merupakan contoh kegagalan kebijakan pemerintah selama ini, sehingga terpaksa anak-anak pun belajar menyetir mobil sendiri, karena anak-anak sulit berpergian dengan aman dengan transportasi umum. Orang tua tentu tak mungkin membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum yang tidak memenuhi syarat keamanan bahkan buat orang dewasa sekalipun. Kendaraan umum selain sangat minim, antri lama untuk mendapatkan kendaraan umum, berdiri berdesak-desakan di bus yang penuh sesak, dan banyak copet, jambret, pengamen dan sebagainya yang sangat mengkhawatirkan tentu membuat orang tua tidak bisa membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum. Karenanya bagi yang mampu seperti Ahmad Dhani mesti meyediakan mobil kepada setiap anaknya, dan dilengkapi dengan supir pribadi. Tetapi tentu saja dari kanak-kanak anak sudah merasa perlu belajar menyetir karena kebijakan pemerintah adalah menjadikan masyarakat menjadi supir, dengan program membanjiri kota dengan mobil, mobil murah, dan sepeda motor.

Membanjiri kota Jakarta dengan mobil pribadi, mobil murah, dan sepeda motor merupakan kebijakan yang sangat tidak manusiawi. Bahkan terkesan menindas masyarakat dengan membiarkan masyarakat mencari jalan keluar sendiri dari masalah berat kemacetan lalu lintas. Kenapa pemerintah dan pejabat tidak bisa menjadi negarawan yang memikirkan masa depan masyarakat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportsi umum yang murah dan mudah. Ambil contoh, negara Singapore, kita bisa naik MRT bahkan dari airport langsung ke berbagai mall dan pusat-pusat bisnis dan perkantoran. Orang cukup naik MRT dan tak perlu beli mobil, tak perlu memikirkan soal parkir mobil, dan yang penting tidak perlu menjadi supir. Resiko sebagai seorang supir (walaupun keadaan memaksa) adalah kecelakaan, kalau kecelakaan seperti yang dialami AQJ anak bungsu Ahmad Dhani apakah bukannya sangat tragis, selain menyebabkan korban tewas, cidera berat, dan bahkan kena pasal pidana.

Membludaknya sepeda motor merupakan salah satu pelarian dari kondisi macet yang tak bisa ditolerir oleh masyarakat. Dengan harapan bisa menembus kemacetan dengan berbagai cara, akhirnya sepeda motor menjadi pilihan yang terpaksa diambil oleh sebagian masyarakat ibu kota. Akhirnya banyak pengendara sepeda motor seenaknya mengendarai sepeda motor tanpa memandang resiko kecelakaan, memotong jalan dan memotong mobil-mobil dengan seenaknya, menerobos lampu merah dengan seenaknya, berhenti jauh di depan garis stop saat lampu merah, bahkan memaksa lewat di antara mobil-mobil dengan resiko menyentuh dan menggores body mobil yang berada di samping kiri kanan nya. Bahkan ada juga yang berjalan berlawanan arah lalu lintas pada jalan searah. Tampaknya hal ini akan membangun suatu masyarakat yang terbiasa melanggar hukum dan membuat hukum atas kehendaknya sendiri.

Membludaknya sepeda motor juga sangat kontra produktif dengan bisnis angkutan umum, baik taxi, mikrolet, dan bus, yang akhirnya mengalami kesulitan karena kurangnya penumpang ataupun mendapatkan penghasilan yang tidak memadai. Kalau kemudian pengusaha mobil dan sepeda motor makin makmur, makin kaya, maka makin sengsara lah pengusaha angkutan umum, para supir angkutan umum ataupun supir taxi. Berarti kebijakan membludaknya sepeda motor merupakan kebijakan yang ngawur. Bahaya nya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor lebih mudah memakan korban nyawa maupun korban cidera. Hal ini sangat tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang seharusnya justru membuat manusia makin pandai menghindari kecelakaan dan cidera.

Maka dengan adanya Gubernur Jokowi yang mau blusukan demi mengatasi berbagai masalah kota Jakarta, maka kami juga mulai merasa lega, karena kekhawatiran Jakarta akan macet total tampaknya lambat laun akan mulai bisa diatasi. Mudah-mudahan akan lahir banyak pejabat yang bisa meniru cara kerja dan mau memikirkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok dan kepentingan diri sendiri.

Saya menghayalkan akan bisa terwujud bahwa pelajar dan pekerja-pekerja cukup menggunakan transportasi umum bisa mencapai tempat sekolah dan tempat kerjanya dengan cepat, aman, dan mudah dengan transportasi umum, sehingga bisa belajar dengan lebih konsentrasi, bisa bekerja dengan tingkat produktivitas tinggi, tanpa perlu memikirkan soal menjadi supir, bermacet-macetan di jalan, memarkirkan mobil dengan susah payah dan mahal, serta memikirkan soal perbaikan dan perawatan mobil yang menguras kantong.

Turis manca negara pun akan tertarik untuk berkeliling kota Jakarta bila telah terbentuk transportasi umum yang murah dan mudah. Semoga.

Berikut ini adalah foto contoh ERP di Singapore :

Jalanan Macet Parkir pun Sulit

Seperti yang kita ketahui, untuk kota Jakarta, saat ini parkir di gedung-gedung atau mall sudah mencapai Rp. 4.000,- per jam. Lewat 1 detik pun sudah mesti bayar tambahan jam. Jadi bila 1 jam 1 detik berarti sudah dihitung 2 jam, yang berarti Rp, 8.000,-. Padahal kadang-kadang dari pengambilan tiket parkir masuk sampai mendapatkan tempat parkir, mungkin saja kita mesti berputar-putar dalam keputusasaan sampai lebih dari setengah jam untuk mendapatkan tempat parkir yang kosong. Keluar dari tempat parkir pun tidak mudah, bisa juga mencapai setengah jam. Tetapi semua kesulitan dari mencari tempat parkir yang kosong dan keluar dari tempat parkir yang mesti antri panjang juga termasuk biaya yang harus dibayarkan saat bayar biaya parkir, di sini jelas ada ketidak adilan. Ada hal yang salah. Gedung parkir dan pengelolanya makin kaya sedangkan konsumen makin tertindas. Apakah ini adalah kebijakan yang baik dan adil ?

Lalu kenapa juga biaya parkir bisa juga dikenakan kepada pemilik rumah, pemilik ruko, pemilik kantor yang parkir di depan rumahnya, di depan rukonya, ataupun di depan kantornya? Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah pusat keramaian. Dimana-mana muncul tukang parkir yang tidak jelas bekerja untuk siapa, kemana saja uang parkir yang didapat, semua uang tersebut tidak jelas pengelolaannya dan berakhir dimana ?

Bahkan di depan sekolah, tempat les buat anak-anak, rumah sakit pun parkir disamakan, padahal tidak ada nilai tambah (tidak ada penghasilan) dari kegiatan menjemput anak di sekolahan, atau mengantar anak ke tempat les, atau berobat di rumah sakit. Bukankah semua ini hanya memberatkan masyarakat. Sepertinya semua orang asal sudah menjaga jalanan, sudah boleh jadi preman jalanan atau raja jalanan dan memungut uang parkir.

Kalau kebijakan menaikkan harga parkir mobil adalah untuk mengurangi mobil pribadi, maka itu sama saja seperti petinju yang sudah terdesak di pojok ring tinju yang tidak bisa mundur lagi dan terus dicecar dengan pukulan-pukulan mematikan, maka petinju itu hanya bisa bertahan tanpa berdaya. Maka demikianlah pengendara mobil pribadi ketika harga parkir dinaikkan hanya bisa bertahan saja seperti petinju yang sudah terpojok di sudut ring tinju. Mau beralih ke kendaraan umum, yang mana? Kan belum siap.

Semrawut dan Macet di Jakarta

Dari foto di atas terlihat di sebelah kanan ada busway (Bus Trans Jakarta) di jalur busway, dan di depan sebelah kiri sebuah bus (Bus Metro Mini) memotong di depan busway (Bus Trans Jakarta) tersebut, dan di belakang bus (Bus Metro Mini) tersebut ada mobil pribadi dengan jarak yang sangat dekat (mepet), dan antara mobil pribadi dan busway (Bus Trans Jakarta) ada sepeda motor sedang memaksa masuk di space sempit antara busway (Bus Trans Jakarta) dan mobil pribadi. Hal ini selain sangat membahayakan nyawa dan juga sangat beresiko pada kerusakan mobil yang akan tergores oleh stang sepeda motor, juga menjadikan jalan raya di Jakarta sangat semrawut.  Tidak ada pemisahan antara mobil dan sepeda motor dan sepeda motor boleh seenaknya menyelonong ke mana-mana. memang nyawa sepertinya kurang berharga dan sulit mempertahankan body dan cat mobil dalam keadaan mulus karena dengan mudahnya disenggol oleh sepeda motor.

Kalau selalu pemerintah atau pejabat berfikir bahwa pengguna mobil adalah orang kaya, maka itu jelas salah besar !

Kenapa salah besar ? Karena mobil di Jakarta bukanlah barang mewah untuk dipamerkan, tetapi kendaraan yang dibutuhkan karena kegagalan pemerintah dalam melayani rakyatnya dengan transportasi massal yang baik, yang murah, dan manusiawi.

Mobil juga ada kelas-kelas nya, baik dari merk nya, dari type nya maupun dari harga nya. Kalau mobil-mobil termurah dari merk-merk biasa dan bukan dari merk-merk yang dikenal sebagai mobil mewah, maka mestinya dikategorikan sebagai mobil biasa, dan tidak layak disamakan ataupun diklasifikasikan sebagai mobil mewah.

Pernah kita mendengar kata-kata sebagai berikut : bisa beli mobil, tetapi tidak sanggup beli bahan bakar minyak (bbm) nya. Jadi mungkin saja ada kelompok kelas masyarakat yang hanya mampu membeli mobil (mungkin juga masih kredit dan belum lunas), tetapi kesulitan membeli bbm (bahan bakar minyak) nya. Dalam kondisi transportasi massal belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa rakyat mesti membeli mobil walaupun beli dengan terpaksa sehingga menyulitkan likwiditas keuangan.

Memang negara bisa berpesta pora dengan pajak kendaraan yang begitu besar dan menggiurkan, tetapi masyarakat begitu tersiksa, apalagi saat sudah memiliki mobil, terpaksa jadi supir (dengan menyetir mobil sendiri) karena untuk membayar supir belum tentu mampu, lalu ketika masuk ke dalam hiruk pikuk jalanan, ternyata kadang untuk jarak tempuh pendek saja bisa memakan waktu berjam-jam, karena kemacetan yang luar biasa.

Jalanan begitu semrawut, sepeda motor bisa dengan seenaknya memotong di depan mobil, atau memepet dari sebelah kiri, memepet dari sebelah kanan, bahkan kadang kala ada sepeda motor yang dengan seenaknya berjalan berlawan arah arus jalan. Semuanya hanya mencari peluang atau kesempatan untuk berjalan lebih cepat, karena sudah terlalu banyak waktu habis di jalan, sedangkan sudah ditunggu orang, atau sudah terlambat dari janji atau terlambat dari jadwal. Orang-orang pada buru-buru dan cenderung emosional dan stress, hal yang tidak baik untuk kesehatan jiwa tentunya.

Mobil-mobil juga sering sangat berdekatan, kadang-kadang mobil di sebelah kiri atau pun di sebelah kanan bisa bersentuhan kaca spionnya atau bertabrakan kaca spionnya. Kemacetan membuat pengendara mobil sulit memprediksi waktu tempuh. Waktu yang dihabiskan di jalanan begitu lama sehingga membuat waktu produktif sangat tersita, sehingga membuat banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk berproduksi, untuk bekerja, untuk mencari penghasilan, dan untuk memiliki waktu bersama keluarga.

Menaikkan uang parkir dengan harapan pemakai kendaraan pribadi (mobil pribadi) beralih ke kendaraan umum itu adalah mustahil bila transportasi umum tidak memadai, tidak aman, dan tidak nyaman. Sering kita menyaksikan jalur busway yang kosong tanpa bus, sedangkan di luar jalur busway begitu macet luar biasa. Tentu hal ini sangat ironis sekali, bahkan banyak penumpang busway yang menumpuk dan antri untuk naik busway. Seharusnya jalur busway yang sudah mengambil lebar jalan sehingga menjadikan jalan makin sempit, agar bisa digunakan secara maksimal, busway mesti ditambah dan tidak seharusnya penumpang antri. Bukankah calon penumpang yang ada saja sudah antri, apalagi kalau pemilik kendaraan pribadi ikut naik busway, maka antrian akan tambah parah? Jadi mestinya busway cukup dan tidak terjadi antri yang menyulitkan di halte-halte busway supaya pengendara mobil pribadi mau beralih dan naik busway.

Pencanangan dimulainya pembangunan MRT (mass rapid transport) oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Jokowi merupakan langkah awal yang baik, walaupun sudah sangat terlambat. Tetapi bagaimanapun juga terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang kita bisa berharap pada Bapak Jokowi karena beliau memiliki pemikiran bahwa transportasi umum mesti lebih diprioritaskan, mesti ditata dan dibangun. Bukan seperti yang selama ini terjadi, rakyat dibiarkan mencari jalan pintas sendiri, sehingga bermunculan sepeda motor – sepeda motor yang membuat lalu lintas makin semrawut dan tidak keruan. Kecelakaan lalu lintas makin tinggi dan banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalanan dengan banyaknya sepeda motor, apalagi pengendaranya banyak yang asal bisa saja. Munculnya banyak sepeda motor juga sangat menyulitkan usaha mobil-mobil angkot (angkutan kota) yang menjadi kekurangan penumpang. Konsumsi bahan bakar minyak juga menjadi meningkat luar biasa, karena bila banyak sepeda motor maka konsumsi bahan bakar akan banyak juga, berbeda dengan kendaraan umum, yang tentunya jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan konsumsi bbm (bahan bakar minyak) yang sedikit sudah mampu mengangkut banyak orang. Jadi yang terjadi selama ini sangat bertolak belakang dengan keinginan menghemat bahan bakar minyak (bbm), dengan membiarkan sepeda motor makin banyak dan transportasi massal tidak dikembangkan dengan sewajarnya.

Di samping itu, banyaknya beton-beton pembatas jalan dari beton atau beton-beton yang cuma ditaruh begitu saja di jalanan, sebenarnya juga sangat membahayakan pengendara lalu lintas. Mestinya pembatas-pembatas jalanan menggunakan material-material yang manusiawi juga, sehingga bila secara tidak sengaja disenggol oleh mobil, maka mobilnya tidak rusak. Kita bisa melihat beton-beton pembatas yang tinggi-tinggi di ujung Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba, atau di Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading. Sedikit saja mobil menyentuh beton tersebut maka akan rusaklah mobilnya. Beton-beton pembatas jalan ini pun sangat membahayakan terutama saat terjadi banjir, karena beton-beton tersebut tidak terlihat dan tertutup genangan air banjir.

Memang lalu lintas begitu macet dan semrawut, tetapi kita masih berharap hadirnya Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi bisa membuka jalan untuk mengatasinya secara bertahap agar generasi mendatang bisa lebih mudah dalam berpergian, dengan lebih banyak alternatif kendaraan umum yang nyaman, aman dan layak serta manusiawi.

Keluhan atas keamanan di Jakarta

Banyaknya keluhan atas keamanan di kota Jakarta seharusnya menjadi hal yang sangat memprihatinkan dan seharusnya pemerintah mengambil langkah-langkah yang jelas dan tegas, agar masyarakat bisa hidup tenang.

Pada rubrik “Surat Kepada Redaksi” harian Kompas terbitan hari Senin tanggal 22 April 2013 halaman 7, terdapat surat pembaca berjudul : “Orang Asing Keluhkan Keamanan di Jakarta”. Kami mengutip surat pembaca tersebut yang isinya persis sebagai berikut : ” Saya orang asing merasa kurang aman dari tindakan pencurian / pencopetan di Jakarta. Sudah tiga kali saya mengalami kehilangan tas dijambret dan dicuri. Kejadian pertama di Stasiun Gambir sekitar pukul 05.00, di kereta api Jakarta – Bandung. Saat itu, tas saya gantung di tempat khusus dan tepat di atas kepala saya. Tiba-tiba dari belakang ada orang yang menarik tas tersebut terus lari. Di dalam kereta banyak orang, tetapi semua diam, tak satu pun mau membantu. Begitu pencuri sudah keluar gerbong, baru orang-orang teriak maling. Sejak saat itu saya tidak pernah naik kereta api lagi. Kejadian kedua di dekat Sarinah, Jakarta Pusat. Trotoarnya sempit karena dipakai restoran terkenal untuk jual sate. Saat itu ada dua orang asing juga lewat sehingga saya turun dari trotoar. Tiba-tiba ada seseorang memakai celana pendek naik sepeda motor tua dan berjalan kencang langsung menarik tas saya yang digantung di bahu. Sejak itu saya tidak berani lagi membawa tas di kawasan Sarinah. Kejadian terakhir terjadi pada Sabtu, 2 Maret 2013, di Carrefour Mall Of Indonesia (MOI) Kelapa Gading – Jakarta Utara. Saya tidak berfikir kalau di dalam Carrefour MOI bisa kehilangan tas. Untuk keperluan belanja, biasanya saya memakai troli, tas saya taruh di troli, dan keliling memilih barang seperti biasanya. Namun, begitu mau bayar di kasir, ternyata tas saya sudah tidak ada. Pencuri ini spesialis dan profesional. Saya langsung lapor petugas keamanan, tetapi sepertinya mereka kurang merespons karena saya hanya pelanggan yang kehilangan tas. Saya sungguh kecewa dan mengimbau agar pengamanan di Jakarta ditingkatkan. Demikianlah kutipan surat pembaca dari pembaca Kompas.

Cerita keluhan kejahatan di Jakarta bukan hanya itu saja, sudah sangat banyak kejadian bahkan dengan tingkat keberanian yang luar biasa dari penjahatnya, yang beroperasi di siang hari di tengah keramaian manusia. Apakah hukum sudah tidak ada? Apakah aparat sudah tidak berdaya? Apakah ada usaha untuk membangun manusia yang berbudaya?

Daerah Sepanjang Jalan Gunung Sahari dari Terminal Senen sampai Mangga Dua juga merupakan daerah operasional penjahat yang sangat berani, beroperasi di siang hari secara terang-terangan di keramaian lalu lintas. Banyak penumpang bajaj terutama wanita yang sudah menjadi sasaran perampokan berupa penjampretan tas dengan kekerasan. Tetapi kenapa kejahatan ini bisa berlangsung terus menerus dan seolah tidak tersentuh hukum? Memang sangat kasihan sekali, para wanita, karena fisiknya lebih lemah kemudian membawa keperluan sehari-harinya dalam tas, kemudian ketika naik bajaj, diikuti oleh sepeda motor, ketika laju bajaj melambat akibat macet, tiba-tiba penjahat yang berboncengan di sepeda motor bahkan bisa masuk setengah badannya ke dalam bajaj untuk merebut, menjambret dan menarik tas wanita, yang dengan sedih dan kaget hanya berusaha mempertahankan dengan luka-luka di kaki ataupun di tangan karena membentur ke sisi dalam bajaj. Sebenarnya Jalan Gunung Sahari dari Senen sampai Mangga Dua tidaklah begitu panjang, tetapi kenapa aparat bisa kalah dengan penjahat? Dimana para aparat pada saat dibutuhkan? Kemarin tanggal 21 April kita masih memperingati Hari Kartini, kenapa tidak kita hadiahkan saja para wanita ini dengan rasa aman, rasa terlindungi, dan terhindar dari rasa ketakutan dan rasa was-was waktu berpergian.

Kejahatan serupa, yaitu perampasan tas wanita yang sedang naik bajaj juga sering terjadi di Jalan Angkasa menuju Kemayoran, saat bajaj hendak berbelok, saat ada belokan, saat itulah biasanya digunakan oleh penjahat untuk merebut dan merampas tas yang dipegang oleh wanita penumpang bajaj. Setelah itu si penjahat melarikan diri ke arah belokan sehingga tidak bisa segera dikejar.

Bahkan orang-orang yang sedang berjalan kaki atau sedang berdiri menunggu kendaraan umum pun sering mengalami hal serupa, penjampretan oleh penjahat yang bersepeda motor ini begitu menakutkan, karena selain berhasil merebut dan merampas tas dengan berbagai isi yang penting bagi si wanita, juga sering menyebabkan luka serius pada si wanita korban nya tersebut, seperti antara lain terjatuh dan tersantuk, atau terseret sepanjang jalan sampai tali tasnya putus. Betapa biadapnya penjahat-penjahat tersebut. Kejadian ini banyak terjadi di sepanjang Jalan Sawah Besar dan juga di Jalan Gunung Sahari sekitar Pasar Senen dan sekitar halte bus Rumah Sakit RSPAD.

Ada kejadian yang masih segar di ingatan kita, ketika seorang wanita yang sedang mengendarai sepeda motor dijambret tas nya sampai wanita ini terjatuh dari motor dan meninggal. Wanita ini adalah seorang guru yang mendapatkan penghasilan secara jujur dan halal dengan bekerja keras sebagai guru yang sangat mulia, tapi sungguh tragis, karena kejahatan yang menimpa kaum hawa yang lemah ini terus saja berlangsung dan sepertinya hanya bisa menjadi obrolan yang makin menakutkan tanpa ada penegakan hukum dan pengendalian keamanan yang sepadan.

Semoga melalui tulisan kami ini, masyarakat juga bersatu padu melakukan perlawanan dan ikut menangkap para penjahat jalanan tersebut, untuk diserahkan ke pihak berwajib. Memang kita semua memimpikan kota Jakarta yang aman.

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Merajai Shanghai

Melihat judul di atas, yaitu : Sepeda Listrik Merajai Shanghai, adalah sama dengan judul artikel di Harian Kompas, terbitan hari Rabu Tanggal 14 November 2012 dalam Teropong – Internasional, rubrik Transportasi, tulisan Lukas Adi Prasetya.

Tetapi kami ingin membahasnya dengan sisi pandang yang sedikit berbeda.

Berikut ini contoh foto Sepeda Listrik atau dikenal juga dengan nama Sepeda Electric :

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Terlihat dengan jelas di foto Sepeda Listrik / Sepeda Electric ini, tentu kita bisa melihat fungsinya yang sebenarnya sama dengan sepeda motor biasa, yaitu bisa membonceng, bisa dijalankan tanpa dikayuh karena pada sepeda listrik ada aki yang menjadi tenaga listrik untuk menjalankan sepeda listrik ini. Bahkan pada Sepeda Listrik ini, juga dilengkapi dengan keranjang di depan yang bisa untuk membawa dan mengangkut barang-barang.

Dari segi bentuk juga tidak berbeda banyak antara sepeda listrik dengan sepeda motor, tetapi penggunaan sepeda listrik jauh lebih praktis. Tidak dibutuhkan SIM (Surat Ijin Mengendarai) untuk Sepeda Listrik, karena sepeda listrik termasuk kategori sepeda biasa. Sepeda listrik bisa dijalankan dengan dikayuh (digowes) saja tanpa menghidupkan mesinnya sama sekali. Tidak ada pelat nomer polisi seperti sepeda motor, dan tidak ada BPKB dan STNK sehingga biayanya menjadi murah dan tidak perlu terikat dengan berbagai urusan administrasi.

Kelebihan lain dari sepeda listrik adalah bahwa sepeda listrik tidak perlu tiap hari dipanaskan mesinnya bila tidak digunakan, sehingga tidak merepotkan. Sedangkan sepeda motor perlu dipanaskan mesinnya setiap hari untuk memelihara mesin dan akinya agar selalu berfungsi normal.

Tanpa menggunakan bahan bakar seperti bensin, tentu saja membuat Sepeda Listrik ini murah dalam oprasionalnya dan juga tidak menimbulkan polusi dari sisa pembakaran bahan bakar bensin yang terjadi pada sepeda motor.

Ini semua tentu menjadi alasan yang kuat sehingga Sepeda Listrik bisa merajai Sanghai, yang merupakan kota bisnis terbesar di negara China.

Di Sanghai, sepeda listrik ini diberikan lajur tersendiri yang lapang. Kita bisa melihat sepeda listrik hilir mudik di tengah-tengah padatnya lalu lintas kota Sanghai. Bahkan sepeda listrik ini sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan transportasi kota Sanghai, mendampingi berbagai merk mobil dan truk.

Pagi-pagi sekali, sepeda listrik ini telah mengantar pemiliknya ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, juga ke pasar, ke toko dan berbagai kegiatan lainnya. Anak-anak muda berangkat kuliah bahkan pasangan suami istri pun ada yang bersepeda listrik dengan santai. Petugas delivery order restoran cepat saji, loper koran, bahkan penjual sayur keliling juga memakai sepeda listrik. Sangat jarang ada sepeda motor di jalanan.

Di sepanjang jalan, tempat-tempat parkir  banyak dipenuhi dengan sepeda listrik dan dikunci rodanya di tempat parkir.

Pengemudi mobil dan truk menghormati para pengendara sepeda listrik, mereka biasanya mempersilakan sepeda listrik melaju duluan jika berpapasan.

Mengapa sepeda listrik bisa merajai kota Sanghai ? Ternyata pemerintah China telah lama melarang motor bensin dipergunakan di kota besar, namun masih boleh digunakan di pinggiran kota dan di kota kecil saja. Alasannya, kota-kota di China semakin padat dan semakin tercemar polusi. Namun sejalan dengan itu, pemerintah China juga serius mendorong warganya untuk bersepeda maupun bersepeda listrik, antara lain dengan membuat jalur tersendiri yang cukup lapang jika dua sepeda listrik berpapasan.

Hampir di seluruh jalan di China memiliki tempat parkir sepeda kayuh maupun sepeda listrik. Tentu saja biaya parkir untuk sepeda listrik ini juga jauh lebih murah dari pada parkir mobil.

Karena kebijakan pemerintah kita belum mengarahkan warganya untuk bersepeda setiap hari, maka tentu saja kalau kita bersepeda di tengah-tengah kota bisa saja berbahaya karena bercampur baur dengan motor bensin, mobil, bus, sampai truk. Maka sepeda listrik ini hanya cocok di dalam lingkungan kompleks perumahan, atau di jalan-jalan lingkungan yang bukan merupakan jalur jalan kendaraan umum.

Banyaknya kompleks perumahan yang besar-besar, tentu saja sangat menyulitkan warga untuk keluar ke jalan raya yang jauh dari rumah, dan ini sebenarnya bisa diatasi dengan bersepeda listrik.

Maka ada baiknya kita memulai dengan bersepeda listrik dan mulai meninggalkan sepeda motor yang memboroskan bbm (bahan bakar minyak) bensin dan menghasilkan polusi yang tinggi.

Ingin tahu lebih banyak mengenai sepeda listrik, atau ingin membeli sepeda listrik, silakan baca website :

http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Harga sepeda listrik juga jauh lebih murah dibandingkan dengan sepeda motor bensin.

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !