Beralih ke Sepeda Listrik Go Green

Zaman telah banyak berubah. Sejak diketemukannya listrik oleh Thomas Alva Edison (lahir 11 Februari 1847 -meninggal 18 Oktober 1931), maka peradaban manusia pun banyak berubah dan mengalami kemajuan yang sangat significant bahkan boleh dibilang sangat spektakuler.

Bahkan energi listrik pun bisa disimpan dalam aki kering yang kemudian bisa dimanfaatkan dengan mudah, praktis, dan murah pula.

Berbagai macam peralatan electronic telah menggunakan aki kering, dan sangat memudahkan karena mudah dibawa-bawa dan bisa dipakai hanya saat diperlukan saja. Peralatan-peralatan yang menggunakan aki kering antara lain : kalkulator, handphone, bahkan saat ini sudah banyak digunakan sebagai tenaga listrik untuk sepeda listrik (sepeda electric).

Saat orang-orang masih menggunakan sepeda motor dengan berbagai keruwetannya, maka telah dipakai secara luas di jalan raya (terutama di kota Shanghai) yaitu sepeda listrik (sepeda electric) yang ramah lingkungan, praktis, murah, dan mudah penggunaannya.

Mengapa dikatakan praktis, karena sepeda listrik (sepeda electric) tidak menggunakan STNK (surat tanda nomor kendaraan), tidak memerlukan SIM (surat ijin mengemudi) karena sepeda listrik (sepeda electric) bisa dikayuh (digowes) seperti sepeda pada umumnya, selain bisa dijalankan dengan tenaga listrik (setrum) dari aki nya.

Juga tidak perlu memanaskan mesin, tidak perlu tune up dan service berkala, tidak perlu ganti oli, dan tidak perlu mengantri dan beli bbm (bahan bakar minyak), tidak butuh bensin, sehingga juga menjadi sangat ekonomis.

Antri untuk isi bensin

Lihat foto di atas, betapa repotnya menggunakan sepeda motor kalau setiap kehabisan bensin, mesti antri di SPBU atau pom bensin, selain capek, juga banyak polusi dan melelahkan. Dan kalau pom bensin kehabisan bensin maka tambah repot lagi. Belum lagi harga bensin yang terus naik dari tahun ke tahun.

Karenanya sepeda listrik (sepeda electric) merupakan pilihan bijak, selain mudah, praktis, juga murah, baik dari segi harga, maupun dari segi penggunaannya karena hanya diperlukan mengisi aki keringnya dengan charger yang disediakan.

Berikut ini adalah contoh Sepeda Listrik (Sepeda Electric) Go Green :

Sepeda Electric Go Green Import

Karena Sepeda Listrik termasuk masih baru di Indonesia, maka sering timbul pertanyaan : apakah sepeda listrik bisa dipakai di jalan raya ? Jawabannya tentu saja YA !

Memang Sepeda Listrik untuk digunakan sebagai alat transportasi di jalan raya. Sepeda Listrik bukanlah sepeda-sepeda mainan, tetapi adalah alat transportasi di jalan raya yang bisa diandalkan.

Juga ada pertanyaan siapa saja yang menggunakan Sepeda Listrik ? Jawabannya bisa siapa saja, mulai dari anak-anak (yang kakinya sudah bisa sampai menginjak lantai dalam posisi naik sepeda listrik) sampai orang dewasa ataupun orang tua.

Dari semua lapis masyarakat, orang-orang dari golongan ekonomi mapan seperti di perumahan-perumahan mewah, sangat memerlukan sepeda listrik sebagai transportasi di dalam lingkungan perumahan, yang jarak dari satu cluster rumah ke cluster rumah lainnya cukup jauh, bahkan jarak dari rumah ke gerbang utama atau ke jalan raya sangat jauh, maka Sepeda Listrik ini sangat bermanfaat dan membantu.

Mengantar anak-anak ke sekolah juga sangat mudah dan praktis dengan sepeda listrik, selain murah juga sangat ramah lingkungan.

Ibu-ibu rumah tangga yang berbelanja ke pasar tradisional, sangat cocok menggunakan sepeda listrik. Sepeda Listrik bisa juga dipinjamkan pada para pembantu rumah tangga untuk meringankan tugas ibu dalam melaksanakan tugas belanja ke pasar ataupun belanja kebutuhan-kebutuhan mendadak yang diperlukan oleh keluarga. Belanja makanan (baik makan pagi, makan siang, maupun makan malam) bisa dilakukan oleh pembantu rumah tanggan dengan cepat cukup dengan menggunakan sepeda listrik ke restoran, cafe ataupun warung di sekitar perumahan.

Sepeda listrik juga hanya membutuhkan space atau tempat yang tidak begitu besar untuk penyimpanannya di rumah.

Dengan berbagai kegunaan dan manfaatnya serta kepraktisan dan kemudahannya, maka pilihan sepeda listrik sudah mulai menjadi pilihan bijak saat ini.

Berikut ini adalah contoh sepeda listrik yang dimaksud :

Sepeda listrik Go Green Merah dilihat dari samping depan

Untuk Informasi dan Pemesanan, silakan hubungi :

Pak Awi, Hp : 0813 8900 7000.

Bajaj sebagai transportasi umum khas Jakarta

Bajaj merupakan kendaraan umum ukuran kecil yang masih didambakan oleh masyarakat kota Jakarta.

Bentuk Bajaj yang khas menjadikan kendaraan umum ini membedakan moda transportasi di dalam kota Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia.

Tetapi kendaraan umum Bajaj ini tidak diperkenankan melalui jalan-jalan protokol utama, karenanya bajaj lebih banyak memenuhi kebutuhan transportasi dalam jarak dekat atau jarak menengah, dan sering juga masuk ke dalam kompleks perumahan atau ke lingkungan jalan kecil yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan besar.

Berikut ini contoh-contoh bajaj yang dimaksud :

Bajaj-bajaj yang malang melintang di lalu lintas di kota Jakarta ini adalah warna merah atau merah oranye.

Tetapi belakangan ini sudah ada Bajaj yang berwarna biru, dan bajaj biru telah mulai berbaur dengan bajaj merah walaupun jumlah bajaj biru masih relatif sedikit.

Perbedaan mendasar dari Bajaj berwarna merah dan Bajaj berwarna biru ini adalah dari bahan bakarnya.

Sama-sama beroda tiga, bajaj berwarna merah menggunakan bahan bakar berupa bensin campur. Sedangkan bajaj berwarna biru menggunakan bensin, tetapi bisa juga menggunakan BBG (bahan bakar gas), atau bajaj biru ini ada yang bisa menggunakan bensin sekaligus juga bisa menggunakan BBG (bahan bakar gas), jadi maksudnya pada bajaj biru bisa memiliki sekaligus dua alternatif bahan bakar yang difungsikan pada bajaj berwarna biru tersebut.

Perbedaan bajaj merah dan bajaj biru selain dari bahan bakarnya, kalau kita perhatikan bentuk fisiknya, karena umumnya bajaj merah ini sudah berumur tua, maka sering bentuknya sudah tidak rapi. Tetapi bahan body bajaj warna merah umumnya dari bahan besi pelat yang lebih tebal sehingga lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan. Di samping itu karena bahan bakarnya adalah bensin campur dan karena jenis mesinnya, ternyata bunyi bajaj merah ini sangat berisik dan getaran nya pun sangat kasar, sehingga kurang disukai dibandingkan dengan bajaj biru yang suara mesinnya jauh lebih halus. Tetapi walaupun dengan suara berisiknya dan getaran yang kasar, bajaj merah ini tetap dibutuhkan oleh para penumpang umum di kota Jakarta yang merasakan sangat kurang mendukungnya kendaraan umum (transportasi umum) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berhubung Bajaj berwarna biru ini relatif lebih baru, maka uang setoran yang harus dibayar para supir bajaj kepada pemilik (pengusaha) bajaj biru lebih mahal sehingga sering mengenakan ongkos lebih mahal dibandingkan dengan bajaj berwarna merah. Para pengusaha yang mengoperasikan bajaj berwarna biru ini umumnya belum balik modal, belum mencapai BEP (break even point), maka memang setoran yang dikenakan kepada pengendara bajaj berwarna biru lebih tinggi dibandingkan dengan bajaj berwarna merah.

Dengan makin menjamurnya sepeda motor di kota Jakarta ini, Bajaj dan sepeda motor saling berebut jalanan di jalan raya yang semakin menjadikan jalanan semakin semrawut. Para supir bajaj pun juga saat ini mesti bersaing dengan tukang ojek sepeda motor. Kapasitas bajaj ini bisa mengangkut 2 sampai 3 orang, walaupun kadang 4 orang pun kalau dipaksakan bisa saja masuk bila penumpangnya adalah 2 orang dewasa dan 2 orang anak-anak, dengan berpangkuan.

Sebagai kendaraan umum yang khas Jakarta, lukisan maupun miniatur bajaj sering menjadi koleksi yang diminati.

Mau lihat miniatur bajaj yang merupakan karya seni berupa handicraft dari bahan kuningan (bronze), bisa lihat di website : http://angelasalim.com/produk-miniatur-dari-sepeda-becak-bajaj

Miniatur Bajaj handicraft

Miniatur Bajaj handicraft

Sedangkan kalau Anda memerlukan kendaraan yang simple dan hemat serta bebas polusi, maka sepeda listrik / sepeda elektrik / sepeda electric / e-bike merupakan jawaban yang tepat, juga sangat cocok untuk kendaraan dalam kompleks perumahan atau di dalam lingkungan perumahan. Untuk sepeda listrik (sepeda electric), silakan lihat website sebagai berikut : http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Transportasi murah dan mudah

Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, memang saat ini masih sangat direpotkan dengan masalah kemacetan lalu lintas. Macet, macet, dan macet adalah “menu makanan” sehari-hari yang sangat meletihkan bagi warga kota Jakarta.

Apa yang ada hari ini, tentu adalah hasil apa yang dilakukan pemerintah dan otoritas sebelumnya, dari level pusat sampai dengan pemda. Bila pemerintah pusat tidak pernah melakukan aksi nyata mengatasi masalah ini, tentu tidak akan bisa mengatasi masalah ini.

Untunglah saat ini kita memiliki Gubernur dan Wakil Gubernur yaitu Jokowi dan Ahok yang muncul dengan berbagai ide yang cemerlang, dengan berbagai kebijakan yang pro rakyat banyak, dan mau bekerja dan memikirkan masalah yang ditinggalkan oleh Gubernur sebelumnya yaitu Foke yang tidak berprestasi apa-apa selama menjabat dan membiarkan masyarakat Jakarta mengalami kemacetan yang makin parah dan menjalani hidup yang tidak manusiawi di kemacetan dan keruwetan kota Jakarta.

Pemikiran Gubernur Jokowi yang terintergrasi sekaligus memikirkan berbagai aspek, baik dari segi pengatasan macet, pengatasan banjir, penyiapan lahan terbuka (taman) untuk masyarakat, dan pemindahan dan pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rusun susun), pemindahan pedagang kaki lima (PKL) ke dalam gedung pasar merupakan suatu langkah dan tindakan yang harus diacungi jempol.

Sebagai contoh, pak Jokowi telah mulai memikirkan dan akan merealisasikan MRT (Mass Rapid Transport), Monorel, dan memaksimalkan fungsi busway. Bahkan rencana penerapan ERP (electronic road pricing) dan penerapan mobil berplat nomer ganjil genap di jalur jalan tertentu, benar-benar menunjukkan kinerja bekerja seorang pejabat, dan bukannya gaya pejabat yang digaji dan ternyata menghabiskan sebagian waktu kerja nya hanya untuk bermain golf, atau pejabat yang hanya beriklan atas keberhasilan orang lain.

Pemikiran untuk pembuatan resapan-resapan di kavling-kavling perkantoran, perumahan, dan revitalisasi waduk seperti waduk Pluit, merupakan contoh pelaksanaan pencegahan banjir. Bahkan pembuatan taman kota merupakan pemberian hak publik kepada masyarakat untuk bisa menikmati hawa alam yang segar di tengah kota.

Pengalokasian warga penghuni liar tanah negara ke rusun (rumah susun) tentu sesuatu yang harus diterima sebagai suatu berkah. Bayangkan saja saat ini harga rusun (rumah susun) ukuran studio 18 M2 di Jakarta saja sudah bernilai ratusan juta, belum lagi dengan perjalanan waktu nanti harganya bisa naik banyak setelah ramai dan maju.

Pemindahan pedagang kaki lima (PKL) di daerah Tanah Abang dan direlokasi ke dalam Pasar Tanah Abang Blok G merupakan contoh keberhasilan luar biasa dari Gubernur Jokowi, yang sangat jeli melihat kenyataan di lapangan. Kegiatan blusukan Jokowi ternyata sangat efektif menghasilkan suatu kebijakan yang luar biasa. Gubernur-gubernur yang lalu tidak ada yang mampu mengatasi masalah Tanah Abang. Baru pak Jokowi yang mampu dan kita harus mengacungkan jempol. Kalau ternyata saat ini di Pasar Tanah Abang blok G masih sepi itu adalah hal wajar. Saat pedagang Pasar Pagi (Asemka) dipindah ke Pasar Pagi Mangga Dua, awalnya juga  pedagang nya ribut sepi, tetapi bayangkan saja saat ini coba lihat Pasar Pagi Mangga Dua, apakah masih ada yang mengatakan menyesal ? Ternyata bahkan saat ini mencari kios di Pasar Pagi Mangga Dua pun selain sulit dapat tempat, harga kios yang sangat sangat mahal, dan harga sewa yang juga luar biasa mahal. Dan berapa besar uang beredar di Pasar Pagi Mangga Dua memang telah membuat orang bisa menghargai arti sebuah kios kecil di Pasar Pagi Mangga Dua. Demikian pula dengan pedagang yang telah mendapat kios di Pasar Tanah Abang Blok G, maka suatu hari nanti akan merasakan betapa berharganya dan beruntungnya mereka.

Kembali bicara mengenai kemacetan di Jakarta, sebenarnya adalah kegagalan dari pemerintah selama ini yang tidak membuat kebijakan jangka panjang pembangunan infrastruktur yang semestinya. Minimnya kereta api dan sangat minimnya perkembangan jalan merupakan bukti kegagalan pembangunan infrastruktur yang semestinya. Membludaknya mobil pribadi dan sepeda motor merupakan contoh kesalahan besar dalam penerapan kebijakan yang baik. Apalagi diluncurkannya mobil murah pada saat kemacetan belum teratasi benar-benar suatu kebijakan yang sangat merusak. Memang warga yang tidak cukup kaya mungkin saja diharapkan bisa beli mobil murah, tapi barang murah dengan kwalitas murahan juga bisa menjadi bumerang biaya perawatan mahal. Semakin menambah polusi lalu lintas selain menambah kemacetan.

Padahal yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang murah dan mudah. Bukan mobil pribadi yang murah. Rakyat tidak perlu dijadikan supir-supir dan menyetir mobil sendiri. Kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh AQJ anak bungsu dari artis kondang Ahmad Dhani merupakan contoh kegagalan kebijakan pemerintah selama ini, sehingga terpaksa anak-anak pun belajar menyetir mobil sendiri, karena anak-anak sulit berpergian dengan aman dengan transportasi umum. Orang tua tentu tak mungkin membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum yang tidak memenuhi syarat keamanan bahkan buat orang dewasa sekalipun. Kendaraan umum selain sangat minim, antri lama untuk mendapatkan kendaraan umum, berdiri berdesak-desakan di bus yang penuh sesak, dan banyak copet, jambret, pengamen dan sebagainya yang sangat mengkhawatirkan tentu membuat orang tua tidak bisa membiarkan anak-anaknya naik kendaraan umum. Karenanya bagi yang mampu seperti Ahmad Dhani mesti meyediakan mobil kepada setiap anaknya, dan dilengkapi dengan supir pribadi. Tetapi tentu saja dari kanak-kanak anak sudah merasa perlu belajar menyetir karena kebijakan pemerintah adalah menjadikan masyarakat menjadi supir, dengan program membanjiri kota dengan mobil, mobil murah, dan sepeda motor.

Membanjiri kota Jakarta dengan mobil pribadi, mobil murah, dan sepeda motor merupakan kebijakan yang sangat tidak manusiawi. Bahkan terkesan menindas masyarakat dengan membiarkan masyarakat mencari jalan keluar sendiri dari masalah berat kemacetan lalu lintas. Kenapa pemerintah dan pejabat tidak bisa menjadi negarawan yang memikirkan masa depan masyarakat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportsi umum yang murah dan mudah. Ambil contoh, negara Singapore, kita bisa naik MRT bahkan dari airport langsung ke berbagai mall dan pusat-pusat bisnis dan perkantoran. Orang cukup naik MRT dan tak perlu beli mobil, tak perlu memikirkan soal parkir mobil, dan yang penting tidak perlu menjadi supir. Resiko sebagai seorang supir (walaupun keadaan memaksa) adalah kecelakaan, kalau kecelakaan seperti yang dialami AQJ anak bungsu Ahmad Dhani apakah bukannya sangat tragis, selain menyebabkan korban tewas, cidera berat, dan bahkan kena pasal pidana.

Membludaknya sepeda motor merupakan salah satu pelarian dari kondisi macet yang tak bisa ditolerir oleh masyarakat. Dengan harapan bisa menembus kemacetan dengan berbagai cara, akhirnya sepeda motor menjadi pilihan yang terpaksa diambil oleh sebagian masyarakat ibu kota. Akhirnya banyak pengendara sepeda motor seenaknya mengendarai sepeda motor tanpa memandang resiko kecelakaan, memotong jalan dan memotong mobil-mobil dengan seenaknya, menerobos lampu merah dengan seenaknya, berhenti jauh di depan garis stop saat lampu merah, bahkan memaksa lewat di antara mobil-mobil dengan resiko menyentuh dan menggores body mobil yang berada di samping kiri kanan nya. Bahkan ada juga yang berjalan berlawanan arah lalu lintas pada jalan searah. Tampaknya hal ini akan membangun suatu masyarakat yang terbiasa melanggar hukum dan membuat hukum atas kehendaknya sendiri.

Membludaknya sepeda motor juga sangat kontra produktif dengan bisnis angkutan umum, baik taxi, mikrolet, dan bus, yang akhirnya mengalami kesulitan karena kurangnya penumpang ataupun mendapatkan penghasilan yang tidak memadai. Kalau kemudian pengusaha mobil dan sepeda motor makin makmur, makin kaya, maka makin sengsara lah pengusaha angkutan umum, para supir angkutan umum ataupun supir taxi. Berarti kebijakan membludaknya sepeda motor merupakan kebijakan yang ngawur. Bahaya nya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor lebih mudah memakan korban nyawa maupun korban cidera. Hal ini sangat tidak sesuai dengan perkembangan zaman yang seharusnya justru membuat manusia makin pandai menghindari kecelakaan dan cidera.

Maka dengan adanya Gubernur Jokowi yang mau blusukan demi mengatasi berbagai masalah kota Jakarta, maka kami juga mulai merasa lega, karena kekhawatiran Jakarta akan macet total tampaknya lambat laun akan mulai bisa diatasi. Mudah-mudahan akan lahir banyak pejabat yang bisa meniru cara kerja dan mau memikirkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok dan kepentingan diri sendiri.

Saya menghayalkan akan bisa terwujud bahwa pelajar dan pekerja-pekerja cukup menggunakan transportasi umum bisa mencapai tempat sekolah dan tempat kerjanya dengan cepat, aman, dan mudah dengan transportasi umum, sehingga bisa belajar dengan lebih konsentrasi, bisa bekerja dengan tingkat produktivitas tinggi, tanpa perlu memikirkan soal menjadi supir, bermacet-macetan di jalan, memarkirkan mobil dengan susah payah dan mahal, serta memikirkan soal perbaikan dan perawatan mobil yang menguras kantong.

Turis manca negara pun akan tertarik untuk berkeliling kota Jakarta bila telah terbentuk transportasi umum yang murah dan mudah. Semoga.

Berikut ini adalah foto contoh ERP di Singapore :

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Merajai Shanghai

Melihat judul di atas, yaitu : Sepeda Listrik Merajai Shanghai, adalah sama dengan judul artikel di Harian Kompas, terbitan hari Rabu Tanggal 14 November 2012 dalam Teropong – Internasional, rubrik Transportasi, tulisan Lukas Adi Prasetya.

Tetapi kami ingin membahasnya dengan sisi pandang yang sedikit berbeda.

Berikut ini contoh foto Sepeda Listrik atau dikenal juga dengan nama Sepeda Electric :

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Sepeda Listrik / Sepeda Electric

Terlihat dengan jelas di foto Sepeda Listrik / Sepeda Electric ini, tentu kita bisa melihat fungsinya yang sebenarnya sama dengan sepeda motor biasa, yaitu bisa membonceng, bisa dijalankan tanpa dikayuh karena pada sepeda listrik ada aki yang menjadi tenaga listrik untuk menjalankan sepeda listrik ini. Bahkan pada Sepeda Listrik ini, juga dilengkapi dengan keranjang di depan yang bisa untuk membawa dan mengangkut barang-barang.

Dari segi bentuk juga tidak berbeda banyak antara sepeda listrik dengan sepeda motor, tetapi penggunaan sepeda listrik jauh lebih praktis. Tidak dibutuhkan SIM (Surat Ijin Mengendarai) untuk Sepeda Listrik, karena sepeda listrik termasuk kategori sepeda biasa. Sepeda listrik bisa dijalankan dengan dikayuh (digowes) saja tanpa menghidupkan mesinnya sama sekali. Tidak ada pelat nomer polisi seperti sepeda motor, dan tidak ada BPKB dan STNK sehingga biayanya menjadi murah dan tidak perlu terikat dengan berbagai urusan administrasi.

Kelebihan lain dari sepeda listrik adalah bahwa sepeda listrik tidak perlu tiap hari dipanaskan mesinnya bila tidak digunakan, sehingga tidak merepotkan. Sedangkan sepeda motor perlu dipanaskan mesinnya setiap hari untuk memelihara mesin dan akinya agar selalu berfungsi normal.

Tanpa menggunakan bahan bakar seperti bensin, tentu saja membuat Sepeda Listrik ini murah dalam oprasionalnya dan juga tidak menimbulkan polusi dari sisa pembakaran bahan bakar bensin yang terjadi pada sepeda motor.

Ini semua tentu menjadi alasan yang kuat sehingga Sepeda Listrik bisa merajai Sanghai, yang merupakan kota bisnis terbesar di negara China.

Di Sanghai, sepeda listrik ini diberikan lajur tersendiri yang lapang. Kita bisa melihat sepeda listrik hilir mudik di tengah-tengah padatnya lalu lintas kota Sanghai. Bahkan sepeda listrik ini sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan transportasi kota Sanghai, mendampingi berbagai merk mobil dan truk.

Pagi-pagi sekali, sepeda listrik ini telah mengantar pemiliknya ke tempat kerja, mengantar anak ke sekolah, juga ke pasar, ke toko dan berbagai kegiatan lainnya. Anak-anak muda berangkat kuliah bahkan pasangan suami istri pun ada yang bersepeda listrik dengan santai. Petugas delivery order restoran cepat saji, loper koran, bahkan penjual sayur keliling juga memakai sepeda listrik. Sangat jarang ada sepeda motor di jalanan.

Di sepanjang jalan, tempat-tempat parkir  banyak dipenuhi dengan sepeda listrik dan dikunci rodanya di tempat parkir.

Pengemudi mobil dan truk menghormati para pengendara sepeda listrik, mereka biasanya mempersilakan sepeda listrik melaju duluan jika berpapasan.

Mengapa sepeda listrik bisa merajai kota Sanghai ? Ternyata pemerintah China telah lama melarang motor bensin dipergunakan di kota besar, namun masih boleh digunakan di pinggiran kota dan di kota kecil saja. Alasannya, kota-kota di China semakin padat dan semakin tercemar polusi. Namun sejalan dengan itu, pemerintah China juga serius mendorong warganya untuk bersepeda maupun bersepeda listrik, antara lain dengan membuat jalur tersendiri yang cukup lapang jika dua sepeda listrik berpapasan.

Hampir di seluruh jalan di China memiliki tempat parkir sepeda kayuh maupun sepeda listrik. Tentu saja biaya parkir untuk sepeda listrik ini juga jauh lebih murah dari pada parkir mobil.

Karena kebijakan pemerintah kita belum mengarahkan warganya untuk bersepeda setiap hari, maka tentu saja kalau kita bersepeda di tengah-tengah kota bisa saja berbahaya karena bercampur baur dengan motor bensin, mobil, bus, sampai truk. Maka sepeda listrik ini hanya cocok di dalam lingkungan kompleks perumahan, atau di jalan-jalan lingkungan yang bukan merupakan jalur jalan kendaraan umum.

Banyaknya kompleks perumahan yang besar-besar, tentu saja sangat menyulitkan warga untuk keluar ke jalan raya yang jauh dari rumah, dan ini sebenarnya bisa diatasi dengan bersepeda listrik.

Maka ada baiknya kita memulai dengan bersepeda listrik dan mulai meninggalkan sepeda motor yang memboroskan bbm (bahan bakar minyak) bensin dan menghasilkan polusi yang tinggi.

Ingin tahu lebih banyak mengenai sepeda listrik, atau ingin membeli sepeda listrik, silakan baca website :

http://angelasalim.com/sepeda-listrik-sepeda-electric

Harga sepeda listrik juga jauh lebih murah dibandingkan dengan sepeda motor bensin.

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

MRT Mass Rapid Transport

MRT bukanlah istilah baru, juga bukan barang baru, MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transport.

MRT merupakan Transportasi massal yang bergerak cepat, atau juga diartikan Transportasi cepat untuk banyak penumpang (massa).

MRT system di Singapore

Gambar di atas adalah kondisi system MRT di Singapore pada saat ini (tahun 2012).

Kita coba menilik negara tetangga kita Singapura, yang telah memiliki MRT sejak 25 tahun yang lalu, yaitu dimulai dari tahun 1987. Walaupun tentunya panjang MRT saat itu tidak sepanjang sekarang, tetapi suatu bentuk angkutan massal yang cepat, manusiawi dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah lalu lintas sudah dimulai sejak 25 tahun yang lalu.

Koridor MRT pertama di negara Singapura telah dioperasikan pada tahun 1987, yang menghubungkan Stasiun Yio Chiu dan Stasiun Toa Payoh.

Sedangkan pada tahun 1987 tersebut kita di Jakarta (ibu kota negara Indonesia) sudah menghadapi masalah kemacetan lalu lintas.

Kalau selama ini kita hanya berwacana, mengadakan seminar, diskusi, studi kelayakan, debat dan sebagainya, tentu masalah kemacetan lalu lintas tak mungkin akan bisa diatasi, dan sejalan dengan perjalanan waktu, masalah kemacetan menjadi masalah yang makin pelik, makin semrawut, dan bahkan menjadi benang kusut. Apalagi banyaknya aturan-aturan yang aneh-aneh seperti aturan 3 in 1, masalah joki 3 in 1, sering matinya lampu lalu lintas, jalanan yang berlubang dan jalanan yang rusak, makin menambah keruwetan dan bukannya mengarah kepada solusi, tetapi telah mengarah kepada masalah kemanusiaan, saat orang terjebak di jalanan berjam-jam, menahan kencing di dalam mobil, stress karena tidak bisa memprediksi waktu, telat dalam menepati janji waktu, terlambat hadir dalam acara-acara yang penting. Semua ini adalah sudah memasuki masalah kemanusiaan, karena hak sebagai manusia yang berbudaya dan sebagai manusia yang manusiawi jadi terlanggar dan ternoda.

Lalu apakah kita masih harus menunggu dan berwacana ?

Tentu saja tanggung jawab pembangunan lalu lintas adalah urusan negara dan kewajiban negara, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan sebagian saja dari pemasukan uang pajak dari rakyat (baik dari pajak kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan bermotor, pajak import kendaraan, pajak barang mewah, sampai biaya pembuatan SIM surat ijin mengendarai, dsb).

Tidak mungkin rakyat membangun jalan ataupun mengurusi lalu lintas ini, karena masalah lalu lintas adalah masalah yang harus terkoordinasi, masalah yang harus terintegrasi, yang menjadi infrastuktur dan landasan untuk masyarakatnya untuk berpergian, berusaha, dan mencari kehidupan dan penghidupan.

MRT hanyalah salah satu bentuk solusi mengatasi masalah kemacetan lalu lintas. Bila transportasi lancar, aman, nyaman, dan relatif murah, tentu pemilik kendaraan pribadi akan beralih ke MRT ini. Tak mungkin orang lebih memilih pergi ke kantor dengan menyetir mobil sendiri (sekaligus menjadi supir), stress dalam perjalanan yang macet dan mepet-mepetan dengan kendaraan-kendaraan lain, dengan resiko mobil bisa rusak tergores ataupun menabrak (bahkan kalau menabrak mati orang lain bisa jadi pembunuh dan masuk penjara), lalu setelah sampai di kantor, mobil hanya diparkir dan dijemur berjam-jam dengan bayar parkir yang mahal (karena parkir dihitung jam-jaman), lalu pulang lagi dengan semua resiko kecelakaan dan menghabiskan waktu yang lama. Kalau ada bentuk transportasi seperti MRT, yang cukup kita naik, duduk, turun dan hanya membayar dengan biaya ekonomis dan hemat waktu yang begitu signifikan, maka pengendara sepeda motor pun akan memilih beralih ke MRT. Pengendaraan sepeda motor sangat riskan akan kecelakaan yang bahkan bisa menyebabkan kecacatan anggota tubuh sampai kematian, resiko kena hujan, panas terik matahari dan debu, belum lagi resiko kehilangan sepeda motor saat diparkir, tentu akan beralih kepada MRT bila MRT ini sudah ada dan beroperasi dengan baik dan nyaman.

Apakah pemerintahan kita akan membiarkan kita bermimpi terus tentang MRT dan moda angkutan umum lainnya yang akan mengatasi kemacetan lalu lintas ?  Kalau ada yang mengatakan mobil dan motor tambah banyak lalu jalan jadi tambah macet, maka itu adalah pikiran orang aneh, karena orang aneh tidak tahu bahwa bertambahnya mobil dan motor adalah kondisi keterpaksaan karena tidak adanya alternatif transportasi massal yang memadai. Saat transportasi massal maju, mungkin justru orang-orang mulai akan menjual mobil dan motor nya dan mungkin juga sudah tidak membutuhkannya lagi, tidak perlu jadi supir, tidak perlu menabung bertahun-tahun untuk membeli mobil.

Kalau ada yang berfikir mobil dan motor tambah banyak yang menyebabkan kemacetan lalu lintas itu sama saja seperti orang berfikir manusia tambah banyak sehingga makanan jadi habis dan orang akan kelaparan. Itulah cara berfikir yang salah, justru saat ini saat manusia bertambah banyak, makanan yang dihasilkan oleh manusia pun berlipat pertambahannya. Bila zaman dahulu kala orang makan hanya makanan yang baru jadi, saat ini bahkan orang sudah bisa menimbun makanan berton-ton ataupun dalam jumlah yang luar biasa, baik dalam makanan kaleng, makanan yang diawetkan, makanan siap saji dan lain-lain yang bisa disimpan sampai bertahun-tahun, cadangan makanan bahkan berlimpah, kalau Anda punya uang maka Anda bisa memenuhi seluruh ruang rumah Anda dengan makanan, dan itulah kenyataannya.

Berikut ini coba kita analisa MRT di Singapura hari ini :

MRT di Singapura dibagi dalam 5 koridor utama, yaitu :

  1. EW = East West (dikenal dengan Green Line = Lintasan Hijau), yaitu koridor yang menghubungkan dari Timur ke arah Barat. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Stasiun Pasir Ris (yaitu Stasiun No. 1) sampai ke sebelah Barat yaitu Stasiun Joo Koon (yaitu Stasiun No. 2). Dan menghubungkan 29 stasiun dengan kode EW1 sampai EW29.
  2. CG = Changi (merupakan extention dari Green Line), yaitu koridor yang menghubungkan dari Changi Airport ke EW. Dimulai dari sebelah Timur yaitu Changi Airport (yaitu Stasiun No. 3) sampai ke Stasiun EW4. Lintasan ini menghubungkan 3 stasiun dengan kode CG2, CG1, dan EW4.
  3. NE = North East (dikenal dengan Purple Line = Lintasan Ungu), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Timur (NE : North East lebih tepatnya adalah arah Timur Laut). Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Punggol (yaitu Stasiun No. 7) sampai ke sebelah Timur yaitu Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 6). Dan menghubungkan 17 stasiun dengan kode NE1 sampai NE17.
  4. NS = North South (dikenal dengan Red Line = Lintasan Merah), yaitu koridor yang menghubungkan dari Utara ke arah Selatan. Dimulai dari sebelah Utara yaitu Stasiun Jurong East (Stasiun No. 4) sampai ke sebelah Selatan yaitu Stasiun Marina Bay (Stasiun No. 5). Dan menghubungkan 27 Stasiun dengan kode NS1 sampai NS27.
  5. CL = Circle Line (dikenal dengan Yellow Line = Lintasan Kuning). Koridor ini dimulai dari Stasiun Harbour Front (yaitu Stasiun No. 9) ke Stasiun Marina Bay (yaitu Stasiun No. 10), tetapi lintasan ini juga bercabang ke Stasiun Dhoby Ghaut (yaitu Stasiun No. 8). Dan menghubungkan 29 Stasiun dengan kode CL1 sampai CL29.
  6. Selain ke 5 koridor utama, juga terkoneksi dengan 3 koridor LRT yaitu Bukit Panjang LRT, Punggol LRT, dan Sengkang LRT. (LRT = Light Train Transport).
  7. Selain MRT dan LRT juga ada Sky Train seperti di Changi Airport Terminal 1, 2, dan 3, maupun di Sentosa Island.

Yang juga sangat membantu adalah stasiun-stasiun pemberhentian ini berada pada lokasi-lokasi strategis yang biasa dikunjungi orang, mulai dari Airport, Mall, Plaza, Pasar, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dan juga berdekatan dengan Stasiun MRT juga terdapat Halte Bus yang merupakan juga transportasi massal yang nyaman, yang pembayarannya semuanya bisa menggunakan kartu prabayar yang terintegrasi.

Dengan adanya MRT ini, maka tentu saja kecelakaan lalu lintas bisa berkurang, sehingga tentu juga kesehatan dan keselamatan masyarakat akan lebih baik.

Mudah-mudahan pejabat pemerintah kita yang lebih suka keluar negeri bukan karena stress dengan kemacetan lalu lintas di dalam negeri, dan menikmati kelancaran dan kemajuan teknologi transportasi asing dan hanya mengaguminya saja. Tetapi bisa memanfaatkan pengetahuan yang didapat dari luar negeri untuk dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam mewujudkan lalu lintas dan kehidupan yang lebih manusiawi di negara sendiri.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Berikut ini adalah foto dari Harian Kompas, hari Selasa tanggal 19 Juli 2011 halaman 11 mengenai Internasional.

Kemacetan Lalu Lintas yang Teratur

Dan komentar fotonya adalah sbb : Ratusan pengemudi taksi memblokir jalan di pusat kota Athena – Yunani, selama unjuk rasa, Senin (18/7). Pengemudi taksi geram dengan rencana meliberalisasi peraturan ketat yang melindungi profesi mereka sebagai bagian dari program pemulihan keuangan negara. Protes serupa sebelumnya dilakukan berbagai kelompok profesi lain.

Apa yang kita lihat dari foto diatas sangat menarik dan menjadi pembahasan dalam tulisan kami berikut ini.

Menarik karena betapa teraturnya mobil taksi di jalan raya. Macet tapi teratur. Bahkan jauh lebih teratur dibandingkan dengan kemacetan di jalan-jalan raya di dalam kota Jakarta. Kalau saja kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa teratur seperti susunan mobil dalam foto tersebut di atas, mungkin kita bisa mengurangi stress terjebak dalam kemacetan lalu lintas yang tidak manusiawi di dalam kota Jakarta.

Macet dan kemacetan yang kita alami di jalan-jalan raya di kota Jakarta sangat jauh dari keteraturan seperti foto di atas, mobil acak-acak, ada yang dari kiri ingin memotong jalan ke kanan atau sebaliknya, ada mobil yang di luar jalur yang seharusnya. Belum lagi kadang diselip oleh bajaj, mikrolet, angkot, bus, bahkan sepeda motor yang menyelip dan memotong di sela-sela jalan tanpa keteraturan sama sekali. Yang lebih mengagetkan kadang ada sepeda motor yang berjalan berlawanan arah, atau ada orang yang sedang mendorong gerobak dagangan juga ikut berebut jalur jalan. Sepeda pun kadang-kadang bisa muncul tanpa terduga. Semua ketidakteraturan berlangsung setiap hari dan sangat melelahkan para pengemudi karena khawatir akan bersenggolan dengan kendaraan lain yang berjalan terlalu berdekatan, atau bahkan kaca spion sering disenggol oleh motor yang memaksa menyalip.

Kalau saja kemacetan bisa seteratur seperti di foto, maka tentu kekhawatiran bersenggolan dengan mobil lain atau dengan sepeda motor bisa berkurang, sehingga mengurangi stress, walaupun tentu saja macet bukanlah hal yang kita inginkan.

Juga kalau kita kembali melihat gambar foto di atas, kita bisa lihat tiang-tiang di jalanan yang tentunya berfungsi sangat baik untuk kepentingan transportasi seperti kereta api dan sebagainya. Sangat berbeda jauh dengan kondisi tiang-tiang di Jalan Rasuna Said yang terbengkalai yang menjadikan pandangan dan pemandangan yang sangat jelek serta membahayakan berlalu lintas juga. Tiang-tiang yang rencananya untuk monorel, tak pernah selesai dan terbengkelai bertahun-tahun menjadikan wajah ibu kota Jakarta menjadi benar-benar sangat memalukan sebagai suatu ibu kota.

Kadang saya sering berandai-andai saja. Kenapa pejabat atau para ahli transportasi tidak mencoba berlalu lintas setiap hari secara coba-coba semua moda transportasi yang ada di Jakarta. Coba naik bus kota, rasakan sesak-sesakan di dalam bus. Atau coba naik busway, rasakan antri yang lama dan panjang, sedangkan jalur jalan busway hanya sepi-sepi saja. Atau coba rasakan naik mikrolet dan angkot yang kadang-kadang stop mendadak, atau stop ditengah-tengah jalan. Atau coba naik ojek motor yang menyalip-nyalib seenaknya. Atau coba menyeberang jalan, yang kadang betapa sulitnya karena tidak ada rambu ataupun kurangnya jembatan penyeberangan.

Mungkin karena pejabat atau ahli transportasi selama ini hanya jalan dan merasakan jalan di luar negeri karena mungkin terlalu sering keluar negeri, sehingga seolah tidak sadar apa yang sedang terjadi dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Atau mungkin juga karena setiap mau melewati suatu jalanan, ada pengawal yang mengusir-usir pengendara lain dalam membuka jalan khusus untuk dilewati sehingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di tengah jalanan di dalam kota Jakarta.

Kesembrawutan lalu lintas tentulah bukannya diinginkan oleh masyarakat pemakai jalan. Mungkin karena frustasi di jalan, terjebak kemacetan, kehabisan waktu, dan kelelahan. Dan karena situasi yang sulit sedangkan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa, akhirnya saling berebut jalan dan akhirnya terjadilah awut-awutan seperti yang kita lihat dan alami setiap hari.

Semakin cepat niat penyelesaian kemacetan lalu lintas dengan investasi besar-besaran dalam pengembangan infrastruktur dan transportasi serta realisasi secepatnya dan senyatanya sangat dinantikan. Kalau masih terus berwacana atau hanya membuat peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan, maka itu bukanlah suatu penyelesaian, tetapi hanya pengalihan masalah dan juga mungkin akan melahirkan masalah baru yang jauh besar di kemudian hari.

Janganlah penambahan mobil atau penambahan kendaraan dijadikan alasan dan kambing hitam. Justru bertambahnya kendaraan pribadi karena masalah yang ada tidak terselesaikan sehingga memaksa masyarakat membeli kendaraan pribadi supaya bisa berpergian dengan lebih fleksible. Kalau penambahan kendaraan pribadi dijadikan kambing hitam, bisa kita membandingkan dengan penambahan manusia di dunia ini. Pertanyaannya : Apakah kalau manusia bertambah lalu harus terjadi kekurangan makanan dan manusia menjadi kelaparan ? Kenyataannya kan tidak demikian, manusia bertambah, makanan tidak lantas kekurangan, bahkan produksi makanan berlebihan, makanan kaleng, makanan yang diawetkan kenyataannya makin banyak, tidak kehabisan, bahkan bisa makan sampai kekenyangan dan berlebihan, dan menjadikan orang-orang banyak yang over weight (kegemukan).

Jadi sudah waktunya tidak perlu mencari kambing hitam, tetapi bangunlah infrastruktur yang memang sudah sangat ketinggalan dan sangat terlambat ini. Kalau memang ada niat untuk membangun, dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka pada waktunya nanti pasti semua masalah bisa diatasi. Manusia punya akal budi dan bisa beradaptasi dengan baik, maka seharusnya semuanya bisa diatasi, asal ada niat dan memang kita saat ini berlomba dengan waktu, jangan sampai kemacetan yang semakin meningkat setiap hari berubah menjadi neraka berlalu lintas.

Semoga segala masalah bisa teratasi secepatnya, dan biarkan yang terjadi sekarang menjadi kenangan buruk saja untuk masa yang akan datang. Semoga !

Tragedi Kemacetan

Tragedi Kemacetan

Tersebutlah sebuah cerita, ketika terjadi bencana kecelakaan pesawat terbang, hanya terdapat 3 (tiga) orang yang selamat dari kecelakaan tersebut. Sedangkan yang lainnya semuanya meninggal. Tetapi cerita ini menjadi lain karena lokasi jatuhnya pesawat adalah di tengah lapangan tandus tak berpenghuni dan tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Pesawat terbangnya hancur, cuma meninggalkan rongsokan yang hanya bisa dipakai untuk berteduh, semua komunikasi dengan dunia luar terputus, tidak ada makanan dan minuman sama sekali.

Apa yang akan anda lakukan kalau salah seorang tersebut adalah anda sendiri. Ketika hari mulai berganti hari, mereka mulai kelaparan, dan akhirnya pikiran yang muncul adalah hanya mengenai apa yang ada di sana, dan yang ada di sana itu ya hanya 3 manusia itu saja. Sehingga terjadilah musibah kemanusiaan, karena untuk mempertahankan hidup akhirnya mereka membunuh salah satu dari mereka dan dijadikan makanan untuk bertahan hidup, dan yang dipilih adalah yang paling gemuk, yang diharapkan bisa dijadikan stock makanan untuk waktu yang lebih lama, untuk mempertahankan hidup yang lainnya.

Setelah kemudian kembali stock makanan habis lagi, dan sisa mereka berdua, maka terjadilah perkelahian untuk mempertahankan hidup lebih lama. Ini adalah tragedi. Tragedi ini terjadi karena tidak ada solusi yang bisa diberikan dari luar, hanya melihat situasi dan kondisi yang ada, tanpa daya dan sumber yang lain. Sehingga tidak ada jalan keluar yang bisa jadi pilihan.

Kita membandingkan dengan kejadian kemacetan lalu lintas, ya, coba kemacetan lalu lintas di kota Jakarta. Lebih dari 20 tahun lalu sampai sekarang, pertambahan panjang jalan dan jumlah jalan baru sangat tidak signifikan. Dari 20 tahun lalu semua orang sudah bicara soal lalu lintas yang macet, dan sampai hari ini pun bicaranya masih sama, kenapa ?  Hampir pada banyak kesempatan kita mendengar orang membahas dan membicarakan soal kemacetan tetapi sampai hari ini pun pembicaraan masih sama saja. Bicara tidak menyelesaikan masalah, tetapi hanya membuat masalah makin muncul ke permukaan saja.

Lalu keluarlah pengaturan-pengaturan yang aneh-aneh yang diharapkan dapat mengurangi dan mengatasi kemacetan itu sendiri, dengan melihat keadaan dan situasi yang ada saja, lalu hanya dibuat aturan-aturan saja, artinya seperti cerita di atas, hanya memanfaatkan apa yang ada saja, tanpa daya dan sumber tambahan dari luar. Kemudian anak-anak disuruh masuk sekolah jam 06.30 pagi. Walaupun hal ini menyebabkan anak jadi kurang tidur, malas mandi pagi karena masih dingin, ngantuk, mudah capek, daya tahan tubuh menurun, dan mudah sakit. Anak dijadikan korban akibat adanya kemacetan lalu lintas, ini benar-benar mulai jadi tragedi. Anak-anak sudah mesti bangun pagi jam 05.30 saat masih ngantuk-ngantuknya, untuk mandi dan bersiap-siap, lalu berangkat ke sekolah melalui kemacetan lalu lintas, dan kalau terlambat dihukum di kelas berdiri di depan (disetrap) dan jadi tontonan murid kelas lainnya. Lalu orang tua pekerja yang mengantar anak, kemudian mesti pulang dan berangkat kerja lagi sesudah itu, sehingga yang tadinya bisa ke tempat kerja sekalian antar anak jadi efisien, maka jadi mesti melaku dua kali perjalanan, ini menjadikan boros waktu, boros tenaga, dan boros bahan bakar, dan orang tua pun jadi mesti bangun lebih pagi dan kurang tidur juga. Lalu sebagian orang tua yang tidak sempat menjemput anak pulang sekolah, maka anak-anaknya terpaksa menunggu sampai sore atau malam setelah orang tuanya pulang kerja dan baru bisa dijemput pulang, sehingga anak-anak terpaksa menunggu di sekolah tanpa istirahat seharian.

Lalu ada lagi pengaturan jalur jalan 3 in 1. Mobil dengan penumpang kurang dari 3 orang tidak boleh lewat jalur 3 in 1. Hal ini menyebabkan perjalanan menjadi lebih panjang karena mesti mengambil jalan-jalan alternatif yang lebih jauh, boros bahan bakar juga. Sedangkan ada juga yang terhambat untuk beraktivitas karena harus menunggu habisnya jam jalur 3 in 1 ini. Banyak juga yang menggunakan jasa joki 3 in 1 yang berdiri banyak di pinggiran jalan saat jam-jam berlakunya 3 in 1. Akhirnya lahirlah pekerjaan informal sebagai joki 3 in 1, orang jadi malas bekerja, cukup menemani pengendara mobil yang mau lewat jalur 3 in 1 duduk dalam mobil saja dapat penghasilan. Sedangkan pengemudi yang mengambil dan membayar joki 3 in 1 dihadapkan pada kenyataan harus memberikan tumpangan pada joki 3 in 1 yang tidak dikenal dengan segala resikonya. Akhirnya mobil yang berpenumpang kurang dari 3 orang dan ditemani joki 3 in 1 bisa lewat jalur 3 in 1. Ini benar-benar jadi dagelan.

Dan juga mulai banyak perubahan tempat-tempat belokan. Makin hari tempat belokan dibuat makin jauh, sehingga untuk membelok saja mesti menempuh jalan yang jauh dulu. Sebagian perempatan kendaraan tidak bisa untuk berbelok atau melintas jalan, dan mesti berbelok di tempat yang jauh. Sehingga waktu kendaraan di jalanan makin panjang. Seharusnya kendaraan sudah bisa cepat masuk gedung parkir, atau sudah masuk jalur jalan kompleks perumahan, tetapi pada kenyataannya masih harus berputar-putar di tempat di jalanan sehingga menjadi lama, boros waktu, boros bahan bakar dan menjadikan pengendara jadi stress. Berlama-lamaan di jalan, sebagian besar kendaraannya ya itu-itu saja dan hanya berputar-putar.

Kemudian muncullah jalur bus way. Mestinya kalau jalur jalan bus way ini adalah jalan baru yang dibuat, tentu akan sangat bermakna dan berpengaruh. Tetapi sayangnya, hanya mengambil begitu saja jalur jalan yang ada, sehingga jalur jalan yang tadinya 4 jalur jadi 3 jalur, yang 3 jalur jadi 2 jalur, dan gawatnya yang 2 jalur tinggal cuma 1 jalur jalan saja. Jelas telah terjadi penyempitan badan jalan secara signifikan. Lalu kemacetan kendaraan pribadi pun jadi bertambah-tambah. Pengendara mobil pribadi juga sulit untuk beralih ke busway. Itupun kadang kita bisa lihat penumpang bus way yang antri dan menunggu sangat lama di halte bus. Penyempitan jalur jalan ini persis seperti contoh cerita di atas, sehingga menjadi kanibal dan memakan yang lain, dan menyisakan jalan yang lebih sempit. Sedangkan jatah jalan untuk kendaraan lain yang sudah diambil satu jalur tidak dimanfaatkan secara maksimal, kelihatan lenggang, bus way yang ada sangat sedikit, penumpang berjubel dan mengantri berdesak-desakan. Kalau hanya berhitung untung rugi dari pelayanan publik, maka kerugian yang terbesar justru ada pada kerugian negara dan masyarakat. Waktu yang terbuang, fasilitas yang tak dimaksimalkan penggunaannya, dan semua runtutan kerugian yang tak ternilai yang tidak bisa hanya dibandingkan dan dikalkulasi dari untung ruginya bisnis bus way itu sendiri. Pelayanan publik seharusnya sudah tidak boleh menghitung untung rugi, karena itu adalah mutlak untuk kesejahteraan masyarakat. Dan kalau jeli, justru keuntungan akan datang dari segi yang lain, seperti efisiensi waktu, produktivitas yang meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan penghasilan masyarakat dan penerimaan negara secara tidak langsung.

Kalau kita melihat pola berfikir dan bertindak, maka kita bisa samakan antara cara pengaturan lalu lintas dengan hanya mengotak-atik apa yang ada saja, baik dengan membuat pengaturan dan aturan-aturan saja, tanpa memberikan daya dan sumber yang berarti ke dalamnya. Dan hal ini sama dengan kejadian tragedi kemanusiaan pada cerita kecelakaan pesawat terbang di atas, yang mana mereka terjebak pada situasi tidak dapat berbuat apa-apa dan menjadi kanibal dan hanya bertahan pada apa yang ada di hadapannya saja.

Hal ini sangat disayangkan. Banyak sekali waktu terbuang hanya untuk membahas, dan membicarakan soal kemacetan lalu lintas. Banyaknya penganguran, berarti juga banyak tenaga kerja, dan sangat siap untuk bekerja full time 3 shift sehari yaitu 24 jam sehari. Pekerja-pekerja yang ingin bekerja lembur untuk mendapatkan penghasilan lebih juga sangat banyak. Jangankan membangun jalan, membuat Candi Borobudur yang menjadi salah satu keajaiban dunia saja manusia kita mampu. Apalagi sekarang teknologi sudah begitu maju. Banyak alternatif jalan bisa dibuat. Dan semua itu tentu tidak bisa hanya berputar-putar di tempat dengan membuat peraturan-peraturan yang aneh-aneh saja, tetapi perlu suatu tindakan nyata memasukkan daya dan sumber dari luar, berupa tenaga kerja, bahan, teknologi dan management.

Harus ada penambahan panjang  jalan dan lebar jalan, serta alternatif kendaraan lain, seperti Kereta Api, Kereta Api Bawah Tanah, Light Rail Train (LRT), Mass Rapid Transport (MRT), Monorail, Sky Train, Jalan Layang, Jalan Tol, Terowongan dan sebagainya. Dan semuanya sudah harus dibangun dan didesain bukan saja untuk kebutuhan kemacetan lalu lintas pada hari ini, tetapi harus menjawab masalah lalu lintas untuk puluhan tahun ke depan. Bahkan saluran-saluran pembuangan air, atau pembuatan kanal-kanal untuk pengendalian air banjir pun bisa dibuat sebanyak mungkin yang sekaligus juga bisa dimanfaatkan untuk lalu lintas air (transportasi air), bahkan bisa juga bermanfaat untuk wisata selain fungsi drainase nya.

Pada saat terjadi perubahan iklim dan cuaca, burung-burung tertentu bisa terbang jauh menyeberangi lautan untuk mencari kehidupan yang lebih aman dan nyaman. Manusia berakal budi. Jadi tidak perlu didekte lagi, begitu segala sesuatu menjadi baik, jalanan lancar, transportasi baik dan rapi, serta nyaman dan mendapat pelayanan yang menyenangkan, maka otomatis, orang-orang akan pindah dan memanfaatkan semua kemudahan ini. Sehingga orang-orang yang mencicil kendaraan dengan mengurangi jatah makan keluarga sehari-hari, atau perlu banyak biaya ekstra akibat kerusakan kendaraan, resiko kecelakaan lalu lintas dan capek dalam mengendarai kendaraan akan otomatis beralih dengan sendirinya. Juga tidak perlu lagi orang antri berlama-lama  untuk memarkirkan dan mengeluarkan kendaraan dari gedung-gedung parkir, karena manusia pada dasarnya mau hidup nyaman, aman, dan mudah. Manusia tidak perlu diberikan banyak peraturan dan pengaturan, karena semakin berbudaya dan semakin maju manusia, mereka akan makin sadar dan tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan, bahkan mungkin bisa lebih baik dari yang bisa dibayangkan oleh yang membuat bermacam aneh-aneh peraturan dan pengaturan. Maka harapan kita agar tragedi kemacetan suatu hari akan menjadi kenangan pahit masa lalu dari generasi yang lalu. Dan sementara ini kita cukup menikmati semua pepesan kosong dari omong-omong soal usaha mengatasi kemacetan lalu lintas yang hanya berkutak-katik di atas kertas dan di belakang meja saja, persis seperti cerita kecelakaan pesawat terbang di atas, yang mana sisa manusia yang hidup hanya berkutak dengan dirinya sendiri saja.

Bagaimana pendapat Anda ?? Setujukah ???

Silakan berikan komentar Anda yang bisa membuat kita membangun semangat yang lebih baik. Terima kasih.

Catatan : Gambar karikatur di atas bersumber dari gambar pada Harian “Seputar Indonesia” (kartun editorial) pada kolom Opini halaman 9 terbitan hari Selasa tgl. 22 Februari 2011.