Kartu Jakarta Sehat (KJS)

Sesuai janji pasangan Jokowi – Ahok sejak sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jaya sudah dicanangkan mengenai Kartu Jakarta Sehat (JKS).

Kemenangan pasangan Jokowi – Ahok dalam Pilkada DKI Jaya dan terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya bukan hanya semata karena adanya wacana Kartu Jakarta Sehat ini, tetapi memang karena rakyat sudah tidak puas dan tidak bisa menerima dengan kepemimpinan petahana atau Gubernur lama yang ternyata tidak membangun sesuatu yang berarti untuk kota Jakarta. Tanpa pembangunan yang berarti sama saja membuat bom waktu dan menghancurkan masa depan karena tidak bisa menerima perkembangan jaman, perkembangan jumlah penduduk, berkembangnya lalu lintas manusia dan kendaraan di kota Jakarta yang sudah terlanjur macet dan diproyeksikan akan terjadi macet total pada waktunya, yang mana kendaraan akan tidak bisa bergerak lagi karena tidak ada perkembangan pembangunan yang memadai dengan kemajuan dan kebutuhan masyarakat kota Jakarta.

Untunglah terpilihnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru yang mempunyai pemikiran yang sama dengan rakyat yang dipimpinnya, bahwa perlu langkah nyata untuk rakyat, untuk kepentingan rakyat.

Kalau dalam hal lalu lintas, maka diambil langkah nyata untuk mempersiapkan dan membangun monorel, membangun MRT (Mass Rapid Transport), menyelesaikan seluruh jalur busway yang penyelesaiannya terkatung-katung disertai pembenahan busway dan operasionalnya.

Dalam hal mengatasi banjir musiman, juga telah diambil langkah nyata seperti merevitalisasi Waduk Pluit, dengan merelokasi penduduk ke rumah susun sederhana (rusun) Marunda, dan mengeruk,  menggali, serta mengembalikan Waduk Pluit supaya bisa menampung air dalam kapasitas yang semestinya sebagai salah satu solusi mengatasi banjir musiman, selain langkah-langkah pembangunan lainnya, seperti memperbaiki drainase kota, membuat banyak resapan air, serta berbagai langkah inovatif lainnya. Memang kita mesti menghargai semua kerja keras ini, karena semua pekerjaan ini adalah untuk kita dan keturunan kita yang akan bisa dirasakan di masa mendatang.

Walaupun rasanya semua pekerjaan ini sudah sangat terlambat dimulai, tetapi ada yang memulai itu benar-benar mesti diajungi jempol. Karena hanya ada langkah awal lah baru bisa ada langkah lanjutan, ada langkah yang benar dan ada langkah akhir. Tanpa mengerjakan apa-apa tetapi berkoar-koar mengenai ahlinya Jakarta itu hanyalah omong kosong tak berharga untuk jualan pada masyarakat yang sengaja dibikin bodoh saja.

Majunya teknologi informasi, baik berupa media sosial, handphone, blackberry, iphone, dan teknologi internet serta aplikasinya, telah membuat masyarakat menjadi melek dan tidak bisa dibodohi dengan slogan-slogan kosong yang tidak berharga, seperti mengaku ahlinya Jakarta padahal apapun tidak ada yang dikerjakan untuk kemajuan kota Jakarta.

Dalam hal kesehatan dan pengobatan, Gubernur Jokowi langsung memenuhi janjinya dengan meluncurkan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Langkah ini sangat bermanfaat untuk warga Jakarta, terutama untuk warga miskin ataupun warga yang rentan miskin. Banyaknya masyarakat yang memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat tentulah menunjukkan bahwa selama ini memang banyak masyarakat miskin yang selama ini sakit tetapi tidak pernah berobat karena miskin. Melonjaknya pengguna Kartu Jakarta Sehat, dengan penuhnya puskesmas-puskesmas dalam melayani warga Jakarta yang sakit pengguna Kartu Jakarta Sehat membuktikan benarnya pemikiran dan analisa Pak Jokowi.

Pengguna Kartu Jakarta Sehat (JKS) bisa berobat gratis ke Puskesmas, dan bila penyakitnya agak berat dan mesti dirujuk ke rumah sakit, maka dari Puskesmas dokternya akan memberikan rujukan ke rumah sakit, sehingga pasien bisa berobat secara gratis.

Kalau ada yang berfikir negatif dan ingin menyalahkan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini memang sangat tidak rasional. Membludaknya orang berobat ini karena mereka sakit, dan kalau sudah berobat dan sembuh, lama kelamaan akan terjadi keseimbangan, karena orang sakit tak mungkin mau antri di puskesmas atau di rumah sakit untuk berobat dan menerima obat untuk dikonsumsi. Karenanya pada saatnya tidak mungkin akan terjadi antri yang membludak lagi, karena sudah lebih banyak orang sehat dan bukannya seperti dulu lebih banyak orang sakit.

Dan kalaupun ada orang yang kelihatannya mampu, kemudian mau ikut antri berobat gratis, maka bukanlah kesalahan program Kartu Jakarta Sehat (JKS), tetapi berarti memang orang yang berobat itu bukanlah orang kaya, setidaknya bukan orang yang waktunya begitu berharganya karena rela antri, bahkan rela berdesakan bersama orang-orang sakit yang mungkin saja ada yang bisa menular.

Kalau kemudian ada rumah sakit yang tidak mendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) ini dengan alasan rugi dan alasan lainnya, maka memang sangat ironis. Bisnis rumah sakit tentu selama ini sudah cukup banyak untung, kalau merelakan sedikit waktu dan biaya untuk kemanusiaan, apakah tidak rela juga ?

Sedangkan pihak Pemda juga bersiap untuk selalu berdialog untuk mencari solusi “win – win solution”, solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, atau solusi yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Ketika terjadi titik jenuh, terjadi keseimbangan atau equilibrium, maka tidak mungkin akan ada antrian luar biasa lagi orang di puskesmas, karena akan lebih banyak orang sehat yang tidak perlu ke puskesmas ataupun ke rumah sakit.

Dan pada saat itu hanya orang yang perlu berobat atau mendesak harus berobatlah yang akan memenuhi puskesmas dan rumah sakit, dan tentunya jumlah itu tidak akan sebanyak pada saat dimulainya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Orang yang sudah sehat kemudian akan bisa bekerja dan berproduksi serta menjadi produktif, dan kemudian akan meningkatkan taraf hidup, dan saat taraf hidup sudah cukup baik, mereka pun akan mencari kemewahan ataupun kemudahan lainnya, sehingga mungkin akan datang ke dokter dan rumah sakit sendiri tanpa memanfaatkan Kartu Jakarta Sehat (KJS) karena tidak butuh lagi pengobatan gratis yang bersifat massal ini.

Kita ambil contoh saja, walaupun mungkin contoh ini sangat jauh dari bahasan di atas. Saat film Iron Man diputar pertama kali di bioskop, orang-orang antri membeli tiket dan ingin cepat-cepat menontonnya. Tetapi ketika sudah masuk minggu kedua, minggu ketiga dan seterusnya, pasti peminatnya akan turun dan bahkan lama-kelamaan, gratis pun orang sudah mulai malas untuk menontonnya karena sudah pernah nonton, atau memang suasana hati dan minat sudah berubah, baik bosan karena sudah pernah nonton ataupun karena sudah ada film baru yang lebih menarik ataupun waktunya lebih sesuai dengan hal yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Jadi jelas Kartu Jakarta Sehat (KJS) merupakan langkah bagus yang harus didukung, dan kalaupun ada hambatan di dalam pelaksanaannya, maka seharusnya kita membantu mendukungnya untuk lebih sukses lagi, dan bukan dengan berwacana aneh-aneh hanya untuk menyalahkan saja tanpa berbuat apa-apa.

Kartu Jakarta Sehat merupakan bentuk pendekatan kemanusiaan yang mestinya kita hargai dan kita dukung bersama. Bila masyarakat sehat, maka kita ada di lingkungan orang sehat, maka kita pun akan lebih mudah mempertahankan diri tetap sehat.

Tidak ada yang sempurna, demikianlah kata-kata yang sering kita dengar, maka kalau ada sedikit plus minus dalam pelaksanaannya dalam tahap awalnya, justru kita yang harus membantu mendukung dan menyukseskannya. Yang penting inti dari semua yang ada, adalah niat baik dan kebaikan dari hati orang yang menjalankan program ini.

Film bioskop Man of Steel

Foto dari poster bioskop di atas ini tentu mudah dikenali. Judul film ini adalah Man of Steel. Sebenarnya lebih dikenal luas oleh masyarakat sebagai Superman.

Pengertian Superman berarti manusia super atau manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Man of Steel berarti manusia dari baja, juga mempunyai arti manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan manusia pada umumnya.

Film bioskop ini cukup panjang juga waktu tayangnya, sekitar 2 jam an. Kebanyakan film-film bioskop waktu tayangnya hanya kurang dari 2 jam. Dan bioskop-bioskop XXI yang mempunyai lebih dari 1 ruang bioskop umumnya memutar film ini pada beberapa ruang bioskop sekaligus, sehingga bisa menyerap animo masyarakat yang ingin nonton.

Saya masih ingat zaman belasan tahun yang lalu, bila ada film bagus dan menarik seperti contoh film 007 diputar di bioskop, hanya 1 bioskop saja yang memutar film tersebut di 1 lokasi bioskop, dan yang terjadi banyak penonton yang gagal mendapatkan tiket bioskop sehingga tidak jadi nonton atau pulang kembali di hari berikutnya. Tetapi saat sekarang, banyak bioskop yang memutar film laris langsung di banyak ruang bioskopnya. Jadi misalnya bioskop dengan 8 ruang biokop bisa saja memutar di keseluruhan 8 ruang bisokop yang ada.Makanya hanya dalam jangka waktu 1 minggu saja para peminat film sudah menonton film nya tanpa kesulitan berarti dalam memperoleh tiket.

Film Man of Steel ini merupakan cerita awal muasal lahirnya Superman.

Ayah dan ibu dari Superman yang merupakan ksatria dari planet Krypton sudah memprediksi akan kehancuran kehidupan di planet Krypton, dan anak yang mereka lahirkan secara normal, mereka luncurkan keluar angkasa dalam kapsul roket yang canggih saat terjadi kekacauan dan pemberontakan di planet Krypton.

Saat persiapan peluncuran roket yang membawa bayi Superman ini, sang ayah terbunuh oleh jenderal pemberontak planet Krypton, bahkan jenderal pemberontak planet Krypton ini saat ditangkap dan dihukum, berjanji akan mengejar sampai ke mana pun bayi Superman ini.

Bayi Superman dengan roketnya akhirnya jatuh ke planet bumi dan akhirnya diketemukan oleh sepasang suami istri petani yang kemudian membesarkan bayi Superman ini seperti anak sendiri.

Ayah dan ibu angkat Superman ini tahu dan menyadari bahwa bayi Superman ini bukanlah berasal dari planet Bumi. Sejak anak-anak, Superman (Man of Steel) ini sudah menunjukkan kelebihan-kelebihannya. Seperti banyak melakukan penyelamatan dan bantuan kepada orang lain dengan kelebihan kekuatannya. Sebenarnya ayah angkat Superman selalu berpesan agar Superman mesti menyembunyikan kelebihan-kelebihannya agar ia tidak dianggap aneh dan bisa hidup dan diterima sebagai manusia biasa di planet bumi ini.

Bahkan saat terjadi angin puyuh (tornado), sang ayah angkat yang nyawanya terancam, melarang Superman untuk menyelamatkannya dengan kekuatannya agar tidak menjadi tontonan dan menarik perhatian masyarakat. Superman pun hanya bisa menyaksikan ayah angkatnya meninggal tanpa ia melakukan apa-apa.

Tetapi rupanya ada seorang gadis wartawan surat kabar yang pernah merasakan kelebihan dari Superman ini dan terus mendatangi dan menyelidiki orang-orang yang diperkirakan pernah mengalami dan menyaksikan kelebihan dari Superman ini, sampai akhirnya Superman menjelaskan bahwa kalau ia membuka rahasia dirinya akan mencelakai dirinya.

Saat Superman sudah dewasa dan kembali masuk ke kapsul roket yang dulu membawa dia ke bumi, akhirnya dia bertemu dengan roh ayah aslinya dan dari sinilah dia mengerti mengenai jati dirinya yang sebenarnya.

Rupanya saat Superman menyalakan kapsul roket tersebut, membuat jenderal pemberontak planet Krypton akhirnya mengetahui jejak Superman, dan akhirnya mengejar ke Bumi dan membuat kekacauan.

Akhirnya Superman terlibat hubungan dengan wartawati yang dijadikan sandera oleh jenderal planet Krypton tersebut. Film Man of Steel ini memperagakan pertempuran yang banyak merusak gedung-gedung, penghancuran pesawat-pesawat tempur canggih dan ketakutan warga yang melihat kehancuran di mana-mana.

Pada akhir cerita, Superman berhasil mengalahkan jenderal planet Krypton yang jahat tersebut dan bahkan karena aksi heroik dan aksi membantu menyelamatkan manusia lain dari Superman, akhirnya Superman pun bisa diterima di planet Bumi karena tidak dianggap sebagai musuh.

Akhirnya Superman dalam kesehariannya bekerja sebagai wartawan sekantor dengan wartawati yang telah dikenalnya tersebut.

Berbeda dengan film-film Superman yang lain, film bioskop Man of Steel ini lebih fokus mengenai diri Superman itu sendiri. Memang baik untuk ditonton agar mengerti siapa Superman itu sebenarnya. Perhatikan jam tayangnya yang sedikit berbeda dari biasanya, karena waktu tayang yang sekitar 2 jam (sedikit lebih lama dari umumnya).

Ingin punya jam dinding atau jam meja yang bagus dan unik (handicraft) ?

Bisa lihat di website : http://angelasalim.com/jam-dinding-dalam-bentuk-seni-yang-unik

dan berikut ini salah contoh jam dindingnya :

Jam dinding besar

Jam dinding besar

Menepati waktu dengan menikmati bentuk jam yang unik

Jam dinding dalam bentuk yang unik dan artistik

Jam dinding dalam bentuk yang unik dan artistik

Ketahuilah bahwa WAKTU merupakan salah satu harta tak terhingga bagi manusia. Selama masih hidup semua orang ingin memiliki banyak waktu yang berharga, juga ingin berusaha memenuhi janji waktu dalam semua kegiatan dan interaksi dengan manusia yang lain.

Mungkin dalam kehidupan kita sehari-hari kita akan menemui manusia lain yang kurang menghargai waktu, sehingga dengan mudah lupa akan janji waktu dengan orang lain, jam karet, ataupun telat dalam melaksanakan pekerjaan ataupun dalam merealisasikan suatu kewajiban.

Tetapi waktu akan berjalan terus, jam akan bergerak terus, tidak mengenal mundur ataupun berhenti. Kita tidak bisa berkompromi dengan jam yang bergerak maju terus. Kita juga tidak bisa berpura-pura tidak mengenal waktu, karena waktu memang terus bergerak maju.

Kalaupun ada cerita perwayangan yang di dalam ceritanya ada seorang ksatria yang ingin menghentikan waktu dengan memanah matahari supaya tidak bergerak, itu hanyalah ada dalam cerita saja, tidak dalam realita.

Waktu digambarkan dalam wujud jam (dalam bahasa Inggeris nya : Clock).

Ada berbagai bentuk dari jam, baik berupa jam tangan, jam meja, ataupun jam dinding. Dan semua orang sangat memerlukan jam ini agar bisa bekerja dengan baik, mengatur waktu dengan baik, membuat janji dengan baik, ataupun tahu kapan harus memulai suatu kegiatan dan kapan harus menghentikan kegiatannya. Dan karenanya jam menjadi penting.

Dengan adanya perkembangan teknik, teknologi, dunia mode, desain (design), dan seni, maka dibuatlah jam dalam berbagai bentuk baik yang sederhana maupun yang bagus (indah) dengan nilai seni yang tinggi.

Nilai seni ini menghasilkan bentuk jam yang indah, sehingga enak untuk dilihat, enak untuk dipandang, bagus untuk memperindah ruangan dan menambah artistik dari suatu ruangan, dan menunjukkan orang yang memilikinya menjadi orang yang menghargai seni dan menginginkan keindahan.

Karenanya kami ingin memperkenalkan jam meja dan jam dinding dengan bentuk yang indah, dengan nilai seni yang indah, yang merupakan hasil kerja anak bangsa Indonesia dan termasuk handicraft, karena dibuat dari bahan kayu yang diukir, dibentuk, dan dibuat dengan ketelitian kerja seni yang akan memberi kepuasan bagi yang memandang jam meja ataupun jam dinding tersebut, karena selain akan memperindah ruangan, juga akan memberi kesan positif bagi yang melihat jam yang dikerjakan dengan design dan teknik seni yang indah ini.

Produk jam meja dan jam dinding yang unik dengan nuansa seni yang indah ini sangat cocok juga untuk dikirimkan kepada orang-orang yang Bapak / Ibu kasihi sebagai hadiah, sebagai tanda kasih maupun sebagai souvenir.

Contoh jam meja nya adalah sebagai berikut :

Jam meja yang artistik.

Jam meja yang artistik.

Contoh jam dinding nya adalah sebagai berikut :

Jam Dinding yang unik dan artistik.

Jam Dinding yang unik dan artistik.

Semua jam yang unik dan artistik ini merupakan karya seni yang merupakan handicraft (hasil kerajinan tangan).

Untuk lebih jelas mengenai Jam Meja dan Jam Dinding yang bagus ini, silakan lihat koleksi gambar dan penjelasannya di website : www.AngelaSalim.com

Di dalam website : www.AngelaSalim.com tersebut terdapat lebih dari 48 gambar koleksi jam yang memiliki nilai seni dan menyejukkan mata yang memandangnya.

Jam dinding (handicraft).

Jam dinding (handicraft).

Jalanan Macet Parkir pun Sulit

Seperti yang kita ketahui, untuk kota Jakarta, saat ini parkir di gedung-gedung atau mall sudah mencapai Rp. 4.000,- per jam. Lewat 1 detik pun sudah mesti bayar tambahan jam. Jadi bila 1 jam 1 detik berarti sudah dihitung 2 jam, yang berarti Rp, 8.000,-. Padahal kadang-kadang dari pengambilan tiket parkir masuk sampai mendapatkan tempat parkir, mungkin saja kita mesti berputar-putar dalam keputusasaan sampai lebih dari setengah jam untuk mendapatkan tempat parkir yang kosong. Keluar dari tempat parkir pun tidak mudah, bisa juga mencapai setengah jam. Tetapi semua kesulitan dari mencari tempat parkir yang kosong dan keluar dari tempat parkir yang mesti antri panjang juga termasuk biaya yang harus dibayarkan saat bayar biaya parkir, di sini jelas ada ketidak adilan. Ada hal yang salah. Gedung parkir dan pengelolanya makin kaya sedangkan konsumen makin tertindas. Apakah ini adalah kebijakan yang baik dan adil ?

Lalu kenapa juga biaya parkir bisa juga dikenakan kepada pemilik rumah, pemilik ruko, pemilik kantor yang parkir di depan rumahnya, di depan rukonya, ataupun di depan kantornya? Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah pusat keramaian. Dimana-mana muncul tukang parkir yang tidak jelas bekerja untuk siapa, kemana saja uang parkir yang didapat, semua uang tersebut tidak jelas pengelolaannya dan berakhir dimana ?

Bahkan di depan sekolah, tempat les buat anak-anak, rumah sakit pun parkir disamakan, padahal tidak ada nilai tambah (tidak ada penghasilan) dari kegiatan menjemput anak di sekolahan, atau mengantar anak ke tempat les, atau berobat di rumah sakit. Bukankah semua ini hanya memberatkan masyarakat. Sepertinya semua orang asal sudah menjaga jalanan, sudah boleh jadi preman jalanan atau raja jalanan dan memungut uang parkir.

Kalau kebijakan menaikkan harga parkir mobil adalah untuk mengurangi mobil pribadi, maka itu sama saja seperti petinju yang sudah terdesak di pojok ring tinju yang tidak bisa mundur lagi dan terus dicecar dengan pukulan-pukulan mematikan, maka petinju itu hanya bisa bertahan tanpa berdaya. Maka demikianlah pengendara mobil pribadi ketika harga parkir dinaikkan hanya bisa bertahan saja seperti petinju yang sudah terpojok di sudut ring tinju. Mau beralih ke kendaraan umum, yang mana? Kan belum siap.

Semrawut dan Macet di Jakarta

Dari foto di atas terlihat di sebelah kanan ada busway (Bus Trans Jakarta) di jalur busway, dan di depan sebelah kiri sebuah bus (Bus Metro Mini) memotong di depan busway (Bus Trans Jakarta) tersebut, dan di belakang bus (Bus Metro Mini) tersebut ada mobil pribadi dengan jarak yang sangat dekat (mepet), dan antara mobil pribadi dan busway (Bus Trans Jakarta) ada sepeda motor sedang memaksa masuk di space sempit antara busway (Bus Trans Jakarta) dan mobil pribadi. Hal ini selain sangat membahayakan nyawa dan juga sangat beresiko pada kerusakan mobil yang akan tergores oleh stang sepeda motor, juga menjadikan jalan raya di Jakarta sangat semrawut.  Tidak ada pemisahan antara mobil dan sepeda motor dan sepeda motor boleh seenaknya menyelonong ke mana-mana. memang nyawa sepertinya kurang berharga dan sulit mempertahankan body dan cat mobil dalam keadaan mulus karena dengan mudahnya disenggol oleh sepeda motor.

Kalau selalu pemerintah atau pejabat berfikir bahwa pengguna mobil adalah orang kaya, maka itu jelas salah besar !

Kenapa salah besar ? Karena mobil di Jakarta bukanlah barang mewah untuk dipamerkan, tetapi kendaraan yang dibutuhkan karena kegagalan pemerintah dalam melayani rakyatnya dengan transportasi massal yang baik, yang murah, dan manusiawi.

Mobil juga ada kelas-kelas nya, baik dari merk nya, dari type nya maupun dari harga nya. Kalau mobil-mobil termurah dari merk-merk biasa dan bukan dari merk-merk yang dikenal sebagai mobil mewah, maka mestinya dikategorikan sebagai mobil biasa, dan tidak layak disamakan ataupun diklasifikasikan sebagai mobil mewah.

Pernah kita mendengar kata-kata sebagai berikut : bisa beli mobil, tetapi tidak sanggup beli bahan bakar minyak (bbm) nya. Jadi mungkin saja ada kelompok kelas masyarakat yang hanya mampu membeli mobil (mungkin juga masih kredit dan belum lunas), tetapi kesulitan membeli bbm (bahan bakar minyak) nya. Dalam kondisi transportasi massal belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, maka terpaksa rakyat mesti membeli mobil walaupun beli dengan terpaksa sehingga menyulitkan likwiditas keuangan.

Memang negara bisa berpesta pora dengan pajak kendaraan yang begitu besar dan menggiurkan, tetapi masyarakat begitu tersiksa, apalagi saat sudah memiliki mobil, terpaksa jadi supir (dengan menyetir mobil sendiri) karena untuk membayar supir belum tentu mampu, lalu ketika masuk ke dalam hiruk pikuk jalanan, ternyata kadang untuk jarak tempuh pendek saja bisa memakan waktu berjam-jam, karena kemacetan yang luar biasa.

Jalanan begitu semrawut, sepeda motor bisa dengan seenaknya memotong di depan mobil, atau memepet dari sebelah kiri, memepet dari sebelah kanan, bahkan kadang kala ada sepeda motor yang dengan seenaknya berjalan berlawan arah arus jalan. Semuanya hanya mencari peluang atau kesempatan untuk berjalan lebih cepat, karena sudah terlalu banyak waktu habis di jalan, sedangkan sudah ditunggu orang, atau sudah terlambat dari janji atau terlambat dari jadwal. Orang-orang pada buru-buru dan cenderung emosional dan stress, hal yang tidak baik untuk kesehatan jiwa tentunya.

Mobil-mobil juga sering sangat berdekatan, kadang-kadang mobil di sebelah kiri atau pun di sebelah kanan bisa bersentuhan kaca spionnya atau bertabrakan kaca spionnya. Kemacetan membuat pengendara mobil sulit memprediksi waktu tempuh. Waktu yang dihabiskan di jalanan begitu lama sehingga membuat waktu produktif sangat tersita, sehingga membuat banyak orang yang kehilangan kesempatan untuk berproduksi, untuk bekerja, untuk mencari penghasilan, dan untuk memiliki waktu bersama keluarga.

Menaikkan uang parkir dengan harapan pemakai kendaraan pribadi (mobil pribadi) beralih ke kendaraan umum itu adalah mustahil bila transportasi umum tidak memadai, tidak aman, dan tidak nyaman. Sering kita menyaksikan jalur busway yang kosong tanpa bus, sedangkan di luar jalur busway begitu macet luar biasa. Tentu hal ini sangat ironis sekali, bahkan banyak penumpang busway yang menumpuk dan antri untuk naik busway. Seharusnya jalur busway yang sudah mengambil lebar jalan sehingga menjadikan jalan makin sempit, agar bisa digunakan secara maksimal, busway mesti ditambah dan tidak seharusnya penumpang antri. Bukankah calon penumpang yang ada saja sudah antri, apalagi kalau pemilik kendaraan pribadi ikut naik busway, maka antrian akan tambah parah? Jadi mestinya busway cukup dan tidak terjadi antri yang menyulitkan di halte-halte busway supaya pengendara mobil pribadi mau beralih dan naik busway.

Pencanangan dimulainya pembangunan MRT (mass rapid transport) oleh Gubernur DKI Jakarta Bapak Jokowi merupakan langkah awal yang baik, walaupun sudah sangat terlambat. Tetapi bagaimanapun juga terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang kita bisa berharap pada Bapak Jokowi karena beliau memiliki pemikiran bahwa transportasi umum mesti lebih diprioritaskan, mesti ditata dan dibangun. Bukan seperti yang selama ini terjadi, rakyat dibiarkan mencari jalan pintas sendiri, sehingga bermunculan sepeda motor – sepeda motor yang membuat lalu lintas makin semrawut dan tidak keruan. Kecelakaan lalu lintas makin tinggi dan banyak yang menjadi korban kecelakaan di jalanan dengan banyaknya sepeda motor, apalagi pengendaranya banyak yang asal bisa saja. Munculnya banyak sepeda motor juga sangat menyulitkan usaha mobil-mobil angkot (angkutan kota) yang menjadi kekurangan penumpang. Konsumsi bahan bakar minyak juga menjadi meningkat luar biasa, karena bila banyak sepeda motor maka konsumsi bahan bakar akan banyak juga, berbeda dengan kendaraan umum, yang tentunya jauh lebih hemat bahan bakar, karena dengan konsumsi bbm (bahan bakar minyak) yang sedikit sudah mampu mengangkut banyak orang. Jadi yang terjadi selama ini sangat bertolak belakang dengan keinginan menghemat bahan bakar minyak (bbm), dengan membiarkan sepeda motor makin banyak dan transportasi massal tidak dikembangkan dengan sewajarnya.

Di samping itu, banyaknya beton-beton pembatas jalan dari beton atau beton-beton yang cuma ditaruh begitu saja di jalanan, sebenarnya juga sangat membahayakan pengendara lalu lintas. Mestinya pembatas-pembatas jalanan menggunakan material-material yang manusiawi juga, sehingga bila secara tidak sengaja disenggol oleh mobil, maka mobilnya tidak rusak. Kita bisa melihat beton-beton pembatas yang tinggi-tinggi di ujung Jalan Diponegoro menuju Jalan Salemba, atau di Jalan Boulevard Barat Kelapa Gading. Sedikit saja mobil menyentuh beton tersebut maka akan rusaklah mobilnya. Beton-beton pembatas jalan ini pun sangat membahayakan terutama saat terjadi banjir, karena beton-beton tersebut tidak terlihat dan tertutup genangan air banjir.

Memang lalu lintas begitu macet dan semrawut, tetapi kita masih berharap hadirnya Gubernur baru DKI Jakarta Jokowi bisa membuka jalan untuk mengatasinya secara bertahap agar generasi mendatang bisa lebih mudah dalam berpergian, dengan lebih banyak alternatif kendaraan umum yang nyaman, aman dan layak serta manusiawi.

Transportasi Umum vs Kendaraan Pribadi

Bila ada pertanyaan, manakah yang anda pilih : Transportasi Umum atau Kendaraan pribadi, maka jawabannya mungkin hampir selaras dengan jawaban pertanyaan : Makan di Restoran atau Memasak sendiri untuk makan.

Hidup sangatlah singkat, apakah anda yakin anda bisa hidup lebih dari 99 tahun ?

Sangat jarang orang yang bisa melewati usia 99 tahun, kalaupun bisa, belum tentu kebahagiaan yang didapat. Kenapa ? karena bila usia sudah di atas 99 tahun mungkin biaya hidup bisa jadi mahal, baik untuk mempetahankan hidup, mengobati penyakit, ataupun merepotkan keluarga dan sanak saudara baik secara materi (uang, obat, dll) maupun secara waktu (waktu untuk menemani, untuk merawat, dll), karena mereka mesti menyisihkan waktu yang sibuk untuk merawat anda.

Tapi bukannya kita tidak menghargai hidup, hanya saja suatu kenyataan bahwa kalau umur sudah lebih dari 99 tahun, maka bukanlah sesuatu yang ideal lagi untuk mereka yang tidak punya kebugaran.

Karena itu, kalau kita anggap saja umur hidup kita adalah 99 tahun, maka kita sudah semestinya menikmatinya dengan baik-baik. Agar hidup punya arti dan makna.

Saat lahir dan saat bayi, kesadaran kita belum seperti orang dewasa. Kesenangan dan kebahagiaan kita diberikan oleh orang tua dan orang yang merawat dan membina kita. Saat kecil, waktu kita banyak dipakai untuk belajar dan bermain. Saat remaja, waktu kita juga banyak dihabiskan untuk belajar, sekolah, dan bermain juga tentunya. Setelah itu kita memasuki masa bekerja, berkarier, berwirausaha, berbisnis, berdagang, berprofesi, ataupun kegiatan mencari penghasilan lainnya.

Lalu sudah sepertiga waktu kita berlalu, dan tinggal sepertiga, setengah, atau dua pertiga dari usia kita bersisa.

Sedangkan dari waktu yang ada pun, kita masih mesti tidur kira-kira 8 jam sehari, lalu berarti waktu kita menjadi sangat singkat di dunia ini yang bisa dinikmati.

Karenanya NIKMATILAH HIDUP DAN USIA ANDA SELAGI BISA.

Tetapi masalahnya ada faktor luar yang menyebabkan kita sulit untuk mewujudkan keinginan kita ini, salah satunya adalah kenyataan kebijaksanaan pemerintah dimana kita hidup dan kemajuan infrastruktur kota yang kita tempati.

Ambil contoh saja kota Jakarta yang merupakan ibukota negara Indonesia.

Kalau anda sudah keluar rumah, baik pergi berbelanja ke mall, pergi ke sekolah, pergi bekerja, apakah masih cocok kalau anda mesti pulang ke rumah hanya untuk masak dan kemudian kembali ke sekolah ataupun ke tempat kerja anda? Tentu sangat kurang realistis, karena untuk pulang pergi selain memakan waktu yang lama, bahan mentah untuk memasak juga mungkin anda belum sempat beli yang masih segar-segar, dan untuk memasak juga perlu waktu. Jadi tentu pilihan yang logis adalah makan di mall, di dekat sekolah, atau di dekat tempat kerja. Betulkah ?

Untuk hidup, anda tidak perlu menanam padi, menanam sayur, memelihara ayam atau hewan lainnya. anda cukup makan di warung makan, rumah makan, atau restoran dan cafe. Ini sangat realistis dan dengan demikian anda bisa juga merasakan bermacam-macam makanan yang enak-enak tanpa perlu tahu bahan bakunya, bahkan tak perlu tahu bagaimana cara memasaknya.  Tidak perlu jadi tukang masak atau cook untuk bisa makan enak.

Dengan pemikiran yang sama, kita tidak perlu jadi supir untuk bisa sampai ke tujuan kita. Itulah yang seharusnya terjadi. Tetapi apa yang terjadi di kota Jakarta kota Metropolitan ini? Sangat banyak supir yang kita lihat setiap hari, baik supir mobil sedan, supir mobil mewah, supir mobil tua, sampai supir motor (supir kendaraan bermotor). Pengendara motor (pengendaraan sepeda motor) juga adalah identik dengan supir, betul kan ?

Apa yang bisa anda banggakan kalau anda mesti jadi supir seperti ini, sedangkan orang-orang di negara maju, bisa kemana-mana cuma dengan MRT (mass rapid transport), dengan kereta listrik, dengan monorel, dengan sky lift, dengan kereta super sonic, taxi, dengan bus mewah ber AC, dan kendaraan umum ataupun transportasi umum yang nyaman, manusiawi, aman, dan tepat waktu (on time).

Maka jawaban pilihan terhadap pertanyaan antara Transportasi Umum versus Kendaraan Pribadi, mestinya orang waras akan memilih Transportasi Umum. Memang kendaraan pribadi tetap berguna, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu, seperti saat acara keluarga, saat rekreasi keluarga, saat acara privat, dan saat acara bisnis tertentu saja. Sedangkan kalau seorang pekerja kalau ke kantor mesti menggunakan kendaraan pribadi (karena transportasi umum belum mendukung atau belum layak), maka bayangkan saja, mungkin harus sudah jalan dari rumah 1 jam lebih awal, kalau tak ada parkir di dalam gedung, maka di parkir di pinggir jalan atau di lapangan parkir, sehingga mobil dijemur dan jadi basah kalau hujan, lalu mobil hanya dijemur panas saja sepanjang hari tanpa dipakai lagi, lalu baru dikendarai lagi melalui macet-macetan saat pulang kerja. Memarkirkan mobil pun tidak mudah, dengan sempitnya lahan parkir dan terbatasnya lahan parkir, maka kadangkala perlu waktu sampai setengah jam untuk memarkirkan mobil. Bayangkan saja, apa sih enaknya seperti itu, bila anda bisa memilih ada transportasi umum, lalu anda naik, misalnya ada MRT, lalu anda naik, dengan ongkos yang lebih murah dari ongkos parkir (bahkan belum dihitung buat bensin atau bahan bakar), maka anda bisa sampai ke kantor lebih cepat, bisa bekerja lebih banyak sehingga lebih produktif, bisa berangkat lebih siang dan pulang lebih cepat sampai di rumah, sehingga waktu buat keluarga lebih banyak.

Orang yang berpergian ke mall juga mesti berputar-putar hanya untuk memarkirkan mobilnya, dan menghabiskan waktu banyak, padahal lewat 1 menit saja sudah bertambah 1 jam bayar parkirnya. Belum lagi di dalam mall, biasanya eskalator sengaja di buat rumit, maksudnya untuk naik turunnya di buat tidak pada jalur yang sama, supaya pengunjung mesti berputar-putar kalau mau naik atau turun eskalator, sehingga lebih banyak waktu terbuang di mall hanya untuk mencapai parkir, membuat orang-orang makin mudah kena stress dan juga membuat waktu untuk hidup senang makin berkurang atau juga menjadi sangat minim. Padahal kalau dengan menggunakan transportasi umum, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memarkirkan kendaraan, tidak perlu repot membawa-bawa kunci mobil yang semuanya memberi beban tambahan pada hidup yang sangat singkat waktunya ini.

Jadi apakah masyarakat masih akan membeli banyak mobil pribadi? Kalau transportasi umum ideal sudah ada, maka tak mungkin orang waras akan membeli banyak mobil pribadi, menjadi supir tanpa mendapatkan gaji dengan resiko menabrak orang bisa jadi masuk penjara, mesti mengurus SIM yang repot dan mahal, bahkan mesti pintar-pintar menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang melintas seenaknya atau memotong seenaknya bahkan menyenggol seenaknya karena sempitnya jalan dan pemerintah tidak mampu mengendalikan kedisiplinan pengendara sepeda motor untuk mengendarai sesuai aturan yang semestinya, bahkan juga karena pemerintah juga tidak menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda motor. Mayoritas pengendara sepeda motor sebenarnya tidak layak mengendarai sepeda motor, bukan saja dari ketidakdisiplinan mereka, tetapi berjalan melawan arah, berbelok seenaknya tanpa tanda-tanda, naik ke trotoar, memotong median jalan, parkir melintang seenaknya di jalan, jalan di jalur tengah yang seharusnya buat mobil, bahkan masuk ke jalur busway. Seringnya dan banyaknya kecelakaan, menyisakan cacat bahkan nyawa hilang bagai tidak ada harganya lagi, apakah tidak jadi bahan evaluasi bagi penguasa dan pemerintah?

Bayangkan saja, berapa besar pemborosan dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari kendaraan pribadi yang banyak, baik mobil dan motor. Dan ini sangat bertentangan dengan kenyataan terbatasnya bahan bakar fosil di bumi ini yang bisa habis pada suatu hari nanti, juga betapa besar polusi yang dihasilkan dan racun di udara yang kita produksi setiap harinya.

Pemerintah yang baik tentu memilih memajukan transportasi umum, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jaya Bapak Jokowi dan Bapak Ahok yang memilih memajukan transportasi umum untuk masyarakat. Walaupun kondisi infrastruktur yang sangat parah dan sangat ketinggalan di kota Jakarta ini akibat dari gubernur-gubernur sebelumnya, kita berharap kepada kedua bapak ini untuk memperbaikinya, dan saya yakin pasti akan bisa berhasil guna, hanya masalah waktu saja.  Mari kita menunggu, dan ikut mendukung program transportasi umum yang baik dan tertib, terintegrasi dan aman serta bukan saja manusiawi bahkan bisa  mengarah ke nyaman dan berkelas.

Majunya transportasi umum juga akan membuka banyak lapangan kerja. Supir taxi, angkot, mokrolet, mini bus, dan bus pun bisa bertahan hidup karena orang-orang tetap membutuhkan jasa mereka. Dan masyarakat tidak perlu jadi supir sendiri, seperti orang yang mau makan tak perlu masak sendiri.

Sehingga harapan kita kendaraan pribadi akan pelan-pelan berkurang sendiri karena sudah adanya transportasi umum yang baik, agar sepeda motor tidak lagi membahayakan jalanan ibu kota Jakarta, lambat laun bisa juga tergantikan dengan sepeda atau sepeda listrik yang ramah lingkungan dan juga baik sebagai bentuk penyehatan masyarakat sebagai bentuk olah raga bersepeda.

Contoh gambar sepeda listrik (sepeda electric)

Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green
Sepeda Listrik (Electric Bicycle) Go Green

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Sepeda Listrik Go Green dengan keranjang pakai tutup

Tragedi Kemacetan Merak – Bakauheni

Kadang-kadang sebuah cerita anak-anak bisa jadi pembanding yang bagus. Saya masih ingat sebuah cerita mengenai menyeberangi suatu sungai, yang mana kita mesti menyusun beberapa ekor buaya supaya bisa melintas di atas punggung buaya sehingga kita bisa menyeberangi sungai tersebut. Karenanya kita mesti bersabar sampai buayanya tersusun dari sisi sungai sebelah sini sampai ke sisi ujung seberang sana. Itupun bisa  saja penyeberangan menjadi gagal kalau ada buaya yang tiba-tiba mengamuk saat dilintasi punggungnya. Wah, selain mesti sabar juga benar-benar nasib rasanya cuma ada di ujung tanduk. Sepertinya sudah tidak ada jalan lain lagi kecuali berharap cemas.

Kalau sebelumnya tulisan kami : “Tragedi Kemacetan” mengenai kenyataan kemacetan lalu lintas di dalam kota Jakarta, maka kali ini kami juga ingin menulis mengenai satu fenomena yang sangat merupakan tragedi juga, yaitu Tragedi Kemacetan di Penyeberangan dari Merak ke Bakauheni. Jarak Merak ke Bakauheni boleh dibilang cukup dekat, karena itu adalah dua titik terdekat dari sisi Barat Pulau Jawa ke sisi Selatan Pulau Sumatera. Hanya dipisahkan oleh sebuah selat yaitu Selat Sunda, yang ombaknya tidak begitu besar dan karenanya tidak begitu membahayakan. Bukan seperti Samudera Hindia yang ombaknya besar dan lebih sulit diduga. Tapi kemudian mengapa ini menjadi masalah ?

Yang jadi masalah bukan ombak atau selatnya, tapi yang masalah adalah kendaraan-kendaraan yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni berbaris antri dalam kemacetan yang luar biasa, bahkan mencapai lebih dari 12,5 km. Angkutan-angkutan yang berisi berbagai komoditas, bahkan banyak juga yang berisi bahan-bahan makanan yang bisa membusuk, baik berupa sayur-mayur, buah-buahan, daging, sampai komoditi bisnis lainnya. Memang belum ada alternatif lain bagi kendaraan angkutan dari Pulau Jawa yang akan menuju ke Pulau Sumatera, semuanya melalui Merak dan menyeberang melalui Selat Sunda dengan menumpang kapal-kapal Ferry menuju Bakauheni, sebelum melanjutkan ke perjalanan yang masih jauh lagi tergantung tujuan akhirnya, bisa saja ada yang sampai ke ujung Sumatera Utara, Medan ataupun Aceh. Supir-supir angkutan tersebut dibekali dengan ongkos yang terbatas, tetapi kemacetan yang luar biasa dan tak bisa diduga kapan baru bisa berhasil menyeberang sampai ke Bakauheni membuat mereka stress, kurang istirahat, capek, kehabisan persediaan bekal, serta khawatir bahan-bahan yang diangkut rusak, busuk, ataupun menjadi sangat lama dijemur di bawah panas terik matahari. Hal ini tentu saja jauh di luar dugaan dan perhitungan para supir tersebut, tetapi telah merusak semua rencana, bahkan waktu pengantaran jadi lama dan menjadi terhambat dan terlambat. Semua itu terjadi dan seolah tidak ada yang bisa dilakukan, hanya menunggu dalam keputus-asaan saja.

Fenomena ini hampir sama seperti contoh cerita di atas, saat harus menunggu buaya untuk berbaris supaya bisa melintas, dan berharap buayanya tidak ada yang mengamuk. Wah, kenapa kejadian seperti ini masih bisa terjadi di dunia nyata dengan teknologi begitu canggih. Di dunia yang sumber daya manusianya begitu besar, hasil alamnya melimpah, peralatan modern mudah didapat dan dibeli dimana-mana, serta teknologi sudah sangat-sangat maju. Zaman sekarang adalah zaman dimana orang bisa dengan mudah mewujudkan angan-angan. Misalnya kalau angan-angannya ingin ada jembatan penyeberangan yang melintas dari Merak sampai ke Bakauheni atau dari sisi Barat Pulau Jawa ke sisi Selatan Pulau Sumatera, maka itu hanyalah masalah niat saja, karena semua itu bisa dibuat, dan kemampuan manusia untuk membuatnya bukan lagi menjadi semcam tantangan, tapi hanya masalah niat, perencanaan, bahan, pembiayaan, manajemen, dan realisasi saja. Jadi bukanlah zamannya lagi kita bermain dengan susunan buaya yang berbaris untuk kita melintas di atasnya.

Kalaupun jembatan penyebarangan belum bisa dibangun dan masih jauh dari angan-angan, tetapi setidaknya hanya mengatasi sebuah selat kecil untuk menyeberangkan mobil-mobil angkutan bagi sebuah negara kepulauan mestinya bukanlah hal besar. Kejadian di atas jelas-jelas sangat merugikan banyak pihak, dan sudah saatnya hal seperti ini tak boleh terjadi lagi di masa yang akan datang. Saat kendaraan belum menumpuk sampai belasan kilometer dan antri tanpa kejelasan jadwal penyebrangan, mestinya semua langkah darurat sudah mesti diambil. Haruskah otoritas hanya memikirkan untung rugi jangka pendek, karena kerugian akibat tragedi kemacetan ini jauh di luar perhitungan akal sehat siapa pun. Bukan hanya sekedar kerugian materi dan uang saja, kerugian akibat keterlambatan pelayanan terhadap konsumen dan nasabah, melibatkan juga masalah kepercayaan dan bonafiditas, serta timbulnya konflik-konflik seperti antara pimpinan perusahaan angkutan dengan para supir angkutan. Rusaknya bahan dan muatan merupakan kerugian material yang tentu di luar perhitungan. Keterlambatan pengantaran pesanan kepada konsumen akan sangat mengecewakan para konsumen dan para pemesan barang. Penghasilan dari perusahaan angkutan pun menurun karena kapasitas angkut dan frekuensi pengangkutan menurun. Supir-supir pun berkurang pemasukan dan penghasilannya karena frekuensi pengangkutan berkurang, bahkan biaya tak terduga menjadi besar akibat semua kemacetan yang menjadi tragedi ini.

Memang kejadian kemacetan pada penyeberangan Merak – Bakauheni tidak selalu terjadi, tetapi tragedi kemacetan ini bukan baru terjadi satu atau dua kali, yang seharusnya sudah bisa diantisipasi untuk waktu-waktu mendatang. Kalau dermaga di sisi pelabuhan Merak memang kurang (hanya 5 unit), seharusnya bisa dibangun lebih banyak atau lebih besar dengan kapasitas yang memenuhi syarat, demikian pula di sisi pelabuhan Bakauheni (hanya 4 unit). Dan kapal-kapal Ferry yang melayani kalau kurang pun (hanya 33 kapal kalau beroperasi semua) seharusnya ditingkatkan jumlah dan kapasitasnya. Dan tentunya mesti dicarikan solusi-solusi lainnya yang bersifat jangka panjang, sehingga semua tragedi kemacetan akan menjadi kenangan pahit di masa lalu.  

Silakan berikan komentar anda yang mungkin bisa menjadi masukan berarti buat kita semua !

Antrian di Merak

Gambar di atas ini bersumber dari foto dari Harian “Kompas” edisi tanggal 21 Februari 2011 halaman 26 pada artikel “Antrean Lagi di Merak” pada rubrik Metropolitan.

(Terlihat dalam foto, seorang supir kelelahan dan tertidur di bawah kolong mobil truknya menunggu kemacetan luar biasa di Merak).